Saya akan mulai dari dua tipe hubungan yang umum ada di
sekitar kita, yaitu hubungan yang sehat (healthy relationship) dan hubungan
tidak sehat (unhealthy relationship). Hubungan yang sehat dicirikan oleh hubungan
yang membuat keduabelah pihak merasa aman, nyaman, memberi ruang ekspresi yang
positif, saling support, tetap berani tampil sebagai diri sendiri.
Sedangkan hubungan
yang tidak sehat, bisa dikatakan memiliki ciri sebaliknya. Biasanya ditandai
dengan rasa tidak aman (insecurity feelings) dalam menjalaninya, dihantui
ketakutan, kecemasan, sulit mengekspresikan diri sendiri.
Perlu digarisbawahi bahwa hubungan yang sehat bukan berarti
hubungan (baik itu pertemanan, asmara, maupun keluarga) yang tanpa konflik lho
ya.
Hubungan yang sehat pun tetap akan menemui konflik, mengalami perdebatan,
menjumpai perbedaan dan gesekan cara pandang. Yang membedakan adalah dalam
hubungan sehat tidak ada sikap-sikap yang meng-undergrade satu sama lain,
melainkan sikap penerimaan bahwa konflik dan perbedaan adalah satu hal yang
natural terjadi dalam hubungan antar manusia.
Nah, sekarang kita akan beranjak menjawab pertanyaan, apa
sih toxic relationship itu?
Toxic relationship merupakan salah satu bentuk dari hubungan
yang tidak sehat. Agak rancu sih kalau kita terjemahkan bulat-bulat menjadi
hubungan beracun, hehe..
Toxic relationship di sini bisa diartikan
sebagai hubungan yang mengkontaminasi kebahagiaan, kenyamanan, cara kita
memandang diri sendiri, dan cara pandang kita terhadap dunia.
Ada kata mengkontaminasi nih, artinya ya udah gak jernih lagi.
Ibarat minuman, kalau sudah terkontaminasi racun tapi kita tetap minum setiap
hari, akan sangat membahayakan kesehatan, bukan? Sama halnya dengan toxic relationship, kalau terus menerus
dijalani, akan mengganggu kesehatan psikofisiologis seseorang.
Memangnya apa sih tanda-tanda dari toxic relationship ini?
Kalau dipereteli secara detil, banyak sekali tanda dari toxic relationship ini. Tanda utama adalah ketika
kita sudah mempertanyakan keberhargaan diri kita yang berlanjut pada
ketidakberanian menjadi diri sendiri dalam menjalani hubungan.
Yes, a matter of self-valueing!
Kalau hubungan kita dengan pasangan, dengan atasan, dengan
rekan kerja, dengan siapapun deh ya, sudah membuat kita bertanya: “gue ini
berharga gak sih?; Gue ini layak dihargai gak sih?” lalu berlanjut ke
statement-statement seperti: “gue emang bukan siapa-siapa; gue terima karena
emang dia lebih baik; gue gak punya potensi” artinya, memang kita sudah
terjebak di sebuah toxic relationship.
Tanda lain yang cukup
banyak terjadi adalah mengalami kecemasan, ketakutan, dan insecurity feelings.
Misalnya merasa ketakutan setiap mau ketemu pacar, teman,
atau orang tua. Merasa cemas ditanya ini itu. Dan merasa tidak aman dalam
menjalani hubungan.
Terjadi perilaku
kekerasan, baik fisik maupun mental.
Sekarang muncul istilah KDP (Kekerasan Dalam Pacaran) dan
KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Dan ini memang banyak terjadi. Banyak remaja
perempuan sampai orang dewasa perempuan yang mengalami kekerasan yang dilakukan
oleh pasangannya sendiri. Hal ini menunjukkan tiga unsur penting yang
menandakan toxic relationship. Pertama, ada pihak yang memegang kendali dalam
hubungan secara berlebihan. Kedua, ada pihak yang merasa tidak aman dalam
menjalani hubungan. Dan yang ketiga, ada perilaku abusive dalam rutinitas menjalani
hubungan.
Oleh karena itu, kalau ada di antara pembaca tulisan ini
yang mengalami KDP atau KDRT, ini artinya sudah fix hubungan anda merupakan
toxic relationship. Dan sangat berbahaya untuk kesehatan fisik dan mental anda.
Apakah toxic relationship ini sangat berbahaya? Lalu
bagaimana cara mengatasinya donk?
Ya, jelas berbahaya apalagi jika tidak segera diatasi. Bahayanya
apa? Banyak yang bisa diakibatkan oleh hubungan yang tidak sehat ini. Saya membaca
beberapa hasil penelitian, sikap dan perilaku negative yang berulang dalam
toxic relationship bisa mengakibatkan memperburuk ketidakmampuan mengelola
emosi, mempengaruhi pencapaian akademik dan karier, sakit secara psikologis
yang juga mempengaruhi kesehatan fisik, depresi, sampai pada ide bunuh diri pada
salah satu atau kedua belah pihak.
Terlebih lagi kalau ini terjadi pada keluarga, maka dapat
memberikan model yang kurang baik pada anggota keluarga lain. Sehingga dapat
mengakibatkan anggota keluarga lain yang lebih muda (seperti anak, adik,
keponakan) meniru cara mengatasi masalah dengan cara-cara yang toxic.
Terus solusinya gimana donk kalau kita sudah terjebak dalam
hubungan yang toxic?
Hmm… I feel you (whoever felt this way), kalau mengatasi
toxic relationship gak semudah ngetik di keyboard lalu jadi blogpost kayak
begini. Tapi percayalah, sesulit-sulitnya kamu keluar dari hubungan yang
merusak, akan lebih sulit lagi kalau kamu tetap meneruskan hubungan itu.
Pertama adalah akui dan sadari bahwa kamu memang berada
dalam hubungan yang tidak sehat. Artinya, kamu harus menyehatkan diri. Feeling is healing.
Kedua, berani menerima tanggung jawab untuk berubah. Terima bahwa
ini bukan sepenuhnya salah kamu ataupun salah pasangan mu. Tapi yang harus
bertanggung jawab atas hidup kita hanyalah diri kita sendiri, bukan?
Ketiga, mulai ambil langkah pertama.
Bisa jadi kamu yang melakukan hal-hal toxic, maka berubah
dari hal-hal terkecil. Sampaikan ke pasangan bahwa kamu ingin berubah. Minta bantuan
untuk mengingatkan dang mengoreksi dengan cara yang membuat kamu nyaman.
Namun jika kamu adalah pihak yang merasa menjadi ‘korban’,
maka mulai tegas menyampaikan bahwa kamu tidak nyaman dengan sikap dan perilaku
pasanganmu. Sampaikan apa yang kamu harapkan untuk berubah.
Jika bisa diperbaiki, perbaiki. Any relationship worth to
fight kok.
Kalau nyatanya masih tidak ada perubahan, maka tinggalkan.
Leave
the circle! Safe yourself.
Dan langkah terakhir, jangan pernah enggan untuk mengakui
dan mencari pertolongan jika kamu sudah tidak sanggup menghadapinya sendirian. Speak
up and seek for help!
Meminta bantuan ke professional seperti konselor, psikolog,
guru, orang tua, dan orang lain yang kamu anggap mampu membantu, adalah sesuatu
yang manusiawi. It is ok to be not ok.
Stay aware kalau hubungan yang sehat hanya akan terjadi jika
kedua belah pihak saling memuliakan, menghargai, dan mendukung. Beri ruang
untuk mencintai satu sama lain, juga untuk mencintai diri sendiri. Dan itu
penting. Karena hubungan tidak akan berhasil jika tanpa rasa cinta pada diri
sendiri yang menjalani hubungan tersebut.
Duh, membahas toxic relationship ini emang seru dan gak bisa
singkat-singkat. Untuk diskusi lebih lanjut, bisa di lain waktu ya.