Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 September 2016

Andrea di sebuah sore

"aku lapar"
aku makan dan aku kenyang.

"aku haus"
aku minum dan aku senang.

"aku ketakutan"
aku pulang, dan aku tenang.

**

ah Andrea, hidup bukan hanya tentang itu semua.
kadang kau bisa terjebak dalam sebuah adegan yang kau sendiri pun tidak tahu harus bagaimana.

kau merasa cemas, tapi entah mencemaskan apa.
kau merasa bingung, bukan tentang memilih tapi tentang merasakan apa
kau merasa senang, juga entah karena apa
kau merasa sedih, tapi tidak bisa menangis.
kau merasa hampa.

hampa, seperti yang kau rasakan sekarang, bukan?

Andrea, jalani saja. kau hanya perlu terus berjalan. sampai kau menemukan.



Jumat, 08 April 2016

KUSEBUT IA: CINTA TANPA PENJELASAN


Sudah beberapa malam tidak bisa tidur nyenyak. Kepala terasa lebih crowded dari biasanya. Sayangnya ini bukan tentang pekerjaan kantor yang belum dan mungkin tidak akan pernah ada selesainya. Ini tentang hal lain, yang lebih rumit dan berhasil membuat jantung kembang kempis tak beraturan.
**
Entah apa yang direncanakan langit padaku yang sudah lupa bagaimana caranya membuka hati. Sejak gagal menjalani hubungan dengan Reno, rasanya hati ini kebal dari rasa tertarik apalagi naksir-naksiran. Tak perlu diingatkan lagi tentang usia, aku sepenuhnya sadar usiaku tidak muda lagi. Apalagi jika dibandingkan dengan anak kelas 2 SMP yang sekarang aku ajar setiap hari. Pertanyaan rekan kerja, teman sebaya, bahkan tetangga sudah tidak mempan membuatku depresi. Ya pertanyaan kapan menikah atau sekedar sudah punya calon belum.
Reno dan sebuket sakit hati yang ia bawa tempo hari membuatku resisten dari hasrat memenuhi keinginan para kepo-ers itu. Keinginan untuk menikah pun nyaris tenggelam bersama bangkai-bangkai serangga yang usianya hanya 24 jam itu. Tenggelam berkali-kali, nyaris tak bisa kembali.
**
Sudah hampir tiga tahun aku mengadu nasib menjadi pengajar di sekolah milik salah satu perusahaan perkebunan di Sumatera.  Bukan tempat yang popular apalagi favorit. Kalau bukan karena nominal gaji dan fasilitas yang layak, tidak akan ada yang mau bekerja dan menghabiskan kesehariannya di tengah kebun sawit yang luasnya berhektar-hektar. Jalan raya saja bisa ditempuh setelah melalui perjalanan 20 menit. Jalan bukan menggunakan trotoar atau semen, seluruh jalan di dalam perkebunan terbuat dari pasir dan batu. Untuk yang pertamakali menempuh medan jalan pasir batu ini akan merasa seperti naik bemo atau bajay yang sudah uzur, membuat bergetar sekujur badan, dan pegal linu setelahnya. Tapi bagiku – dan siapapun, yang sudah terbiasa ini bukan hal istimewa lagi.
Mimpi menyekolahkan adik dan membantu orang tua, dan sepotong hati yang tak kembali, yang membuatku sampai dan bertahan disini. Terbiasa membuat banyak alasan untuk tetap tertawa, sesekali menertawakan diri sendiri.
Sudah hampir tiga tahun juga rasa sakit itu tenggelam, selama itu juga pintu hati ini tak pernah bisa terbuka lagi. Ya, satu nama dengan sakit hati yang dalam. Entah apa yang membuatnya terlalu dalam.
**
Hampir setiap malam kala pekerjaan harian sudah rampung, aku mengakses internet, sekedar untuk mengupdate status FB– yang sebenarnya tidak terlalu penting, mengomentari status teman, mengupload foto di instagram, dan mengintip akun-akun orang lain. Hiburan yang kadang berujung penderitaan. Mulai dari menertawakan status-status alay; me-like foto-foto bayi teman, pernikahan teman, dan momen yang membahagiakan; mengutuk status rasis  yang orang-orang posting. Hampir selalu diakhiri dengan keluh kesah terselubung, mereka udah punya bayi aja gue nya masih terdampar di tengah kebun. Destinasi selanjutnya tidak lain tidak bukan adalah exit dari semua aplikasi – tidur – bangun – melakukan rutinitas.

Tapi malam itu berbeda. Ada pesan pribadi di massanger FB yang membuatku cukup kaget.

“Apa kabar?”

Kalimat biasa, hanya apa kabar. Pertanyaan lumrah yang diberikan oleh seseorang kepada orang lainnya yang sudah lama tidak ditemui, bukan? Kaget bukan pesannya, tapi pengirimnya.

Alhamdulillah baik. Kak Rai gmn kbrnya?

Rai adalah senior di kampus dulu. Bukan sembarang senior, dia idola. Banyak wanita yang mengaku fansnya. Aktifis yang tidak hanya ganteng, tapi juga kharismatik. IPK yang cumlaude saat dia lulus membuat para fansnya semakin meleleh. Aku mengenalnya hanya sekilas. Karena aku bukan aktifis sekaliber dia. Kenal dia pun karena kami pernah satu kelompok ketika jurusan mengirimkan delegasi untuk lomba karya tulis ilmiah  tingkat universitas. Ya, kami menang Juara 2 waktu itu. Itu sebabnya aku punya foto bareng dia, ketika wakil rektor menyerahkan hadiah. Foto pertama dan terakhir. Foto berjas almamater berwajah lusuh. Bukan foto alay apalagi mesra sambil melet-melet. Foto yang sampai sekarang aku simpan. Betul, aku salah satu fansnya, kala itu. 

Pertanyaan apa kabar berlanjut menjadi obrolan santai yang seru, setiap hari. Aku lupa sensasi iri ketika melihat foto-foto pernikahan atau bayi teman-teman. Aku tidak lagi manyun merengut sebelum tidur. Percakapan berlanjut melalui BBM. Bukan hanya malam hari, pagi dan siang hari pun kami rajin mengobrol. Sekedar menanyakan sudah makan atau belum, saling mengomentari status BBM, dan menutup malam dengan kalimat selamat tidur. Ya, rutinitas yang lebih menyenangkan.
**
Rai tidak banyak berubah. Ia tetap sang idola. Dia melanjutkan pendidikan sembari menjadi asisten dosen di kampus kami dulu. Entah apa yang membuatnya mengirimkanku pesan apa kabar dan berlanjut dengan komunikasi yang lebih intens. Dia belum punya istri, entah tentang pacar. Enggan aku menanyakannya. Mungkin lebih tepatnya, aku belum siap dengan jawaban terburuk semisal ‘ya, aku sudah punya pacar’. Aku melarang diri berharap terlalu dalam pada Rai. Tapi aku pun rajin memupuk rasa ini. Sesekali merasa ingin memperjelas kedekatan. Tapi lagi lagi takut dengan kenyataan yang mungkin tidak akan sesuai harapan. Dan tetap aku rajin memupuk rasa. Memberikan perhatian, menerjemahkan perhatiannya.

Sampai pada malam itu, percakapan aneh di BBM.

Aku sekarang rajin berdoa
Emang dulu nggk?
Yang sekarang doanya beda
Apaan emang kak? #kepogila
Itu rahasia.
Ih nyebelin. Ngasih tau setengah-setengah.
Mending jangan sekalian. T.T
Kakak takut kamu semaput kalau tahu.
Hahaha.. will never lah kak. I’m ready to keep standing. :D
Belum waktunya. Kakak ngajar dulu ya. Sampai jumpa, dek.
Yee. Nyebelin maksimal ah.

Kalimat-kalimat Rai berhasil membuatku GR.  Aku tak bisa mengontrol translator di otak yang menyatakan bahwa Rai menyayangiku. Padahal logikaku jelas-jelas berteriak kalau tidak ada pernyataan selugas itu dalam kalimat Rai. Alhasil setiap malam aku dikuasai rasa penasaran. Rasa penasaran yang diperparah dengan Rai yang tidak menghubungiku selama tiga hari terakhir.

Selamat pagi kak.
Udah siang ni, selamat lunch kak Rai.

Itu sepotong kalimat BBM tak berbalas. Berulang aku kirim. Di ujung kiri kalimat hanya ada huruf D dilingkari warna biru, belum jua berubah jadi R. Ya, artinya pesan belum dibaca oleh penerima pesan di seberang sana. Entah apa alasannya. Kalau HP nya hilang, bukankah dia bisa mengakses internet lalu menghubungiku via FB? Tanpa sadar, aku telah tumbuh menjadi gadis posesif. Aku kehilangan rutinitas. Produktifitas kerja pun turut terancam. Khawatir, cemas, dan curiga bercampur satu. Semua tentang Rai. Bisa jadi aku beri judul drama setiap malam ini dengan Rais insomnia.

Insomnia yang mendorong jari jemari untuk stalking akun FB kak Rai. Dari FB nya aku menemukan banyak cerita yang belum aku tahu tentang kak Rai. Ternyata ibunya meninggal beberapa bulan lalu, adiknya kuliah di Malaysia, ia juga mengajar anak kurang mampu, dan ada akun perempuan yang sering sekali muncul komentarnya di postingan kak Rai. Informasi terakhir membuat rasa yang aneh, ya namanya cemburu. Eh tapi bukankah aku dan kak Rai hanya teman, kenapa harus cemburu?   

Tangan otomatis mengklik akun perempuan itu, semakin porak poranda rasanya karena tanpa diperintah otak menyatakan perempuan ini sangat cantik, islami, dan melihat profilnya dia melanjutkan S2 di kampus ternama. Telak aku kalah pamor. Dan yang lebih menyempurnakan kekacauan hati malam itu, banyak juga kutemui postingan kak Rai di beranda wanita ini. Sound system di otakku sibuk komat kamit : Oke fix, aku harus mundur. Aku harus membuat batasan. Kak Rai bukan kelasku. Kak Rai tak mungkin menyukaiku apalagi sayang. Bye maksimal Kak Rai.
Komat kamit yang useless, karena nyatanya Kak Rai memang tidak ada kabar sudah berhari-hari, mencipta jarak lebih dulu. Membuat batasan lebih awal.

**
Genap seminggu sejak peristiwa stalking malam itu. Usahaku membunuh harapan dan menutup kembali pintu hati sedikit berhasil. Hanya sedikit, nyatanya sampai hari ini masih saja berharap ada pesan meskipun sesederhana apa kabar dari Rai.

Cinta, serumit itu kah rupamu dalam hidupku?
Harus dengan bahasa apa ku menerjemahkannya.Nyatanya, aku tak bisa untuk merindu.

Kalimat yang kutulis di kertas buram, sembari mengawasi muridku ulangan harian. Coretan melas yang menunjukkan betapa lebaynya seorang guru. 

Tanpa sepenuhnya disadari, aku memotret tulisan itu, mengedit dengan gaya vintage, dan mempostingnya di BBM. Tersadar setelah sampai di rumah, notifikasi bbm lebih banyak dari biasanya. Sebagian besar mengomentari foto profil yang kupajang, foto tulisan-tulisan curhat. Puitis tapi memalukan. Aku tidak terbiasa mengumbar hal semellow ini di sosial media. Otomotis hal ini mengundang teman-teman meledek habis-habisan. Ada yang hanya mengirimkan emoticon melet alias menjulurkan lidah yang berarti mengejek, ada yang mengirimkan kata ‘ciye ciyee’, ada yang membalas dengan puisi dengan nada yang juga meledek, sampai ada yang menanggapi dengan serius- mengirimkan pesan motivasi beraura Mario Teguh.

Aku pun turut menertawakan diri sendiri. Senyam senyum malu ketika mengetik bbm balasan untuk mereka. Chit-chat yang membuat badan terjebak bak menempel di atas tempat tidur berjamjam menggunakan seragam ngajar. Sampai teman serumah [dinas] memanggil-manggil dari luar, mengingatkan jadwal piket memasak.

HP kugeletakkan seenaknya, merespon panggilan sembari mengganti baju. Terburu-buru menuju dapur dan memasak.
**
Sekembalinya ke kamar, seperti biasa HP adalah benda pertama yang disentuh. Entah sejak kapan kebiasaan ini ada, era digital katanya, hal pertama dan utama bukan lagi sembako tapi gadget dan signal.

Aplikasi bbm yang pertama dibuka. Scrol atas bawah dengan cepat digerakkan jempol tangan kanan. Obrolan seru ledek meledek masih berlanjut. Dan terputus oleh panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Tidak berniat menjawab, alasannya simple: malas berhubungan dengan perusahaan asuransi yang sudah sering gonta-ganti nomor HP. Niat mengabaikan terkalahkan oleh rasa terganggu, berulang kali nomor tersebut menghubungi. Akhirnya aku mengalah, mengangkat teleponnya.

Hallo.
Hallo dek. Sedang sibuk?

Suara yang sama sekali tidak asing. Kak Rai. Aku langsung berusaha menguasai diri, komat kamit dalam hati: santai, jangan keliatan seneng, biasa-biasa saja. Dan berhasil untuk sekedar pura-pura biasa.

Eh kak Rai. Iya ni, aku lagi nyiapin materi untuk ngajar besok. Kenapa kak?
Sekarang saya ada di depan rumah.
Ah becandanya jangan kebangetan kak. Nggak mungkin lah.
Sekarang saya sedang berusaha mewujudkan do’a saya.
Kak Rai apa maksudnya? Jangan ngebuat aku bingung deh.
Aku hanya ingin minta doa agar usahaku lancar. Sekarang aku sedang di rumahmu dek.

Aku pun keluar kamar dengan buru-buru karena mendengar Rai yang meyakinkan bahwa dia ada di rumah [dinas]. Bodoh saja aku sudah percaya, dia tidak disana. Mana mungkin dia bisa tiba-tiba ada di dalam kebun. Apalagi malam hari begini. Rasa kesal membuat aku langsung menutup teleponnya. 
Dengan cepat mengetik SMS,

“jangan suka main-main sama perasaan perempuan. Saya bukan mainan.”
Rasanya ingin marah, menangis, dan teriak sekencang-kencangnya. Merasa sangat dipermainkan. Sudah berhari-hari tidak ada kabar. Sekalinya ditelepon hanya untuk dipermainkan seperti ini, siapa yang tak geram- pikirku.

Sepersekian detik dari terkirimnya SMS, ada telepon dari ibu. Aku tidak langsung mengangkat teleponnya, karena takut ketahuan ibu kalau aku sedang sedih kesal atau apalah namanya. Berusaha menguasai diri, bahkan terpikir untuk mengabaikannya. Tapi ibu pun tidak seperti biasanya, dering telepon tak juga berhenti, mendesak minta diangkat. Terpaksa segera diangkat sembari berusaha setenang mungkin.

Assalamu’alaikum Bu.
Kok lama sekali diangkatnya, nduk?
Maaf bu, ini tadi sedang di luar. Ada apa ibu tumben teleponnya tidak sabaran begitu?
Ini, nak Rai datang ke rumah. sekarang lagi ngobrol sama ayah dan ibu. Kamu kenal dengan nak Rai?
Iya, kenal.

Terbata-bata menjawab, percaya tak percaya dengan kalimat yang baru saja ibu katakan. Apa maksud semuanya.

Nduk? Nduk?

Ibu memanggil-manggil di ujung sana, mungkin karena aku nyaris tak bersuara, - karena shock masih tak percaya.

Oh iya bu, iya aku kenal. Ada apa Kak Rai kesitu bu? Ada masalah apa tho?
Katanya nak Rai mendapat beasiswa ke Amerika. Mau berangkat enam bulan lagi.
Terus apa hubungannya sama ibu tho?
Ibu belum selesai ceritane nduk. Ya mbok didengerin dulu sampai selesai.
Nggih, monggo. Maaf bu.
Nak Rai datang kesini ingin meminta izin ibu sama bapak.
Lha kenapa minta izinnya sama ibu bapak tho?
Ibu belom selesai nduk.

Suara ibu meninggi, geram tidak suka kalimatnya dipotong oleh anaknya yang dikuasai penasaran.

Iya aku heran soale bu, monggo. Maaf.
Kamu udah ndak sabaran ae. Iku Nak Rai kesini melamar kamu jadi istrinya dan minta izin untuk membawamu ikut ke opo ke Amerika nemenin sekolah di sana. Ibu ndak bisa memutuskan, kalau kamu setuju yo kami setuju ae. Gimana?
Opo bu? Maksudnya kak Rai melamarku gitu toh bu?
Iya nduk. Ibu harus jawab apa ini.
Menurut ibu bagaimana?
Ibu bapak terserah kamu nduk. Tapi perasaan ibu mengatakan kalau nak Rai ini anaknya baik. Tapi kan kamu lebih kenal daripada ibu bapak

Sejenak aku menatap langit. Tak percaya. Apa maksud Tuhan atas semua ini. Sembari terbata-bata, menahan tangis. Aku berusaha menjawab.
"I i iya bu. Laila mau terima. Insyaallah Laila bersedia. Asal ibu dan bapak merestui.
**
Teman serumahku, Irma dan Yani sudah mematung di depan pintu. Dari tadi menyaksikan keanehan temannya: mulai dari keluar kamar mendadak, komat kamit sambil mengetik SMS, dan berwajah geram serupa Hulk yang siap berubah warna. Sampai menonton adegan dramatis loncat loncat sembari bilang ‘alhamdulillah’ seusai menutup telepon ibu.

Aku berusaha menguasai diri. Ketika mereka bertanya aku kenapa. aku hanya menjawab, 
“aku menang undian chiki ball. Besok kalian aku traktir.”

Teman-teman semakin nyinyir, bingung dengan kelakuanku.
Setibanya di kamar, otomatis aku melakukan adegan salah tingkah. Berbaring di tempat tidur sembari senyam senyum. Adegan yang kemudian terpotong oleh notifikasi BBM - dari Rai,
“doa itu adalah semoga adek ikhlas untuk mendampingi hidup kak Rai sampai maut menjemput. Terima kasih sudah membuatnya terwujud.”
**
Sajak kertas buram kurevisi. Kali ini di atas sebuah kertas lipat berwarna pink.

Begitu cantik rupa cinta,
Kala kau menyapa.

Aku bahagia, melebihi bahagianya gadis cilik yang diberi permen gratis. Tak bisa selesai bahagia, bermalam-malam. Ah, cinta. Sepotong hati kini purnama.


- yulinurmalasari (2015)







Kamis, 29 November 2012

Dengarlah, Tuan


Tuan, aku ingin bercerita.

Entah sudah berapa malam, waktu ku terhisap cemas.
Sepanjang jalan yang kulewati setiap malam tak berhenti bercerita.
Memang aku suka cerita, tapi bukan cerita ini.
Anak dan balita kian akrab saja dengan temaram meredup, kadang tenggelam dalam gelap.
Aspal, tanah, bercampur debu menyeruak pedih di sela-sela harinya.
Sesekali, bulir-bulir hujan menyapa. Hujan yang turun serupa waterboom tanpa wahana bermain, sakti mencipta gigil berkepanjangan.
Terbaring juga remaja, lelaki dan wanita paru  baya, sampai orang  tua. Mereka semakin akrab dengan langit dan angin. Mereka dipaksa berteman.
Gemericik aliran serupa air pekat di selokan tiada bosan menyenandungkan lagu serupa nina bobo.

Tuan, apakah kau pernah mendengar cerita ini sebelumnya ?
Bagaimana perasaanmu, Tuan?

Dipan-dipan mereka adalah pijakan ketika orang-orang mengangkut berkantong-kantong sepatu dan baju bermerek.
Dipan yang harus mereka rapikan sebelum mentari menyapa kota. Mereka tak boleh terlambat bangun. Semenit saja terlalu nyenyak,  serial makian pagi akan mereka santap dari sosok penguasa. Belum lagi adegan cibiran dan tatapan para pejalan bak raja yang terhalang laju singgasananya.
Kembali terbangun, tanpa peduli berapa gigitan yang melukis bulatan kemerahan di kulit tangan, kaki, dan wajahnya. Mereka tak mengenal wewangian di kamar mandi. Mereka tak tahu pesona aroma di dapur, saat pagi menyapa. Yang mereka tahu hanyalah kembali mengais ladang penghidupan. Kembali memanjakan lambung terkadang hanya dengan menikmati basi-basi di nasi.

Ah, tak tahulah. Apa yang telah aku perbuat di atas pijakan bumiku yang penuh gemerlap. Tetiba semua memekat, membuatku tercekat.
Tuan, bolehkah aku bertanya?
Bagaimana perasaanmu, Tuan?

Kontemplasi berjudul 'hehe'

Dua bulan terakhir mungkin dua bulan yang tak biasa. Meski langit tak menghadiahkan hujan pada bumi, hari-hariku tak bisa lepas dari basah di pipi. Berlebihan dan dramatis memang. Tapi itulah yang terjadi. Genre kisahnya tak lepas dari terminologi 'putus cinta'. Dua bulan ini alih-alih aku bisa jadi termasuk nominasi makhluk yang paling irasional di muka bumi, hehe..

Bab-bab ilmiah yang disajikan di sela-sela hari membuatku merasa semakin konyol. Sulit sekali untuk bisa memahami dan mengunyahnya sebagaimana mestinya. Deretan kalimat yang terbaca dan tertulis hanyalah sastra kosong yang menggambarkan kekosongan rasa. Berlebihan atau bisa juga disebut 'lebay,' tapi itulah yang terjadi, hehe..

Serangkaian senyum tasire hadir mengiringi tingkah laku, di kampus, di kosan, di jalan, atau ketika melakukan adegan jual beli dengan abang bakso. Rutinitas, hanya serupa rutinitas yang menjadi kekayaanku dua bulan terakhir ini. 

Aku dengan setia melontarkan beberapa pertanyaan di jeda waktu menonton sinetron dan mengerjakan tugas-tugas kuliah di kosan. Pertanyaan yang mungkin  sebetulnya tidak akan pernah berjodoh dengan jawaban yang pasti. pertanyaan yang lebih pantas disebut penyesalan, penghujatan, dan penggalauan tak berkesudahan, hehe..

mengapa aku harus disakiti? mengapa aku harus dibohongi saat aku memberikan sebuah totalitas? mengapa aku? mengapa harapan itu sebegitu tinggi? mengapa aku begitu mencintai? mengapa sesakit ini? mengapa dia? mengapa seperti ini?

itulah kurang lebih pertanyaan-pertanyaan yang berulang. syaraf-syaraf di otakku hanya mematung tak bergeming. tak mampu berikan jawaban. hanya tercipta sekomunitas 'hehe' di ujung pertanyaan yang kemudian diasumsikan sebagai sebuah jawaban yang paling tepat. ya, apalagi yang bisa kulakukan selain berusaha menertawakan keganjilan rasa dan hampa yang bisa dikatakan akut ini.

hingga sampai pada hari ini. ini adalah bulan ke tiga setelah bencana besar dunia kalbu si gadis pemimpi yang tak lain dan tak bukan bernama: Aku.

di perjalanan, yang lumayan berbelok. aku bertemu banyak orang. tak usahlah kusebut satu persatu para penjual makanan yang setia menantiku sepulang dari kampus. orang-orang lama yang kunamai sahabat ternyata begitu menanti aku sembuh. mereka merindukan aku yang berdiri tegak dan menengadah menatap langit. aku yang tak pernah takut jatuh. aku yang katanya pandai menyembunyikan pilu dan sendu. aku yang lebih dikenal perempuan pemikir dan rasional. mereka mengaku kesakitan melihatku yang berubah menjadi pujangga tolol tak bersambut cahaya. orang-orang baru, yang hanya berjumlah dua dan tiga, yang belum sempat kunamai pun tengah membelai-belai bulir-bulir kognisiku untuk kembali berbinar menjalani mimpi. Ya, begitulah, ternyata aku cukup punya arti untuk setetali manusia. Sekabar baik untuk hidupku, hehe..

ah, terimakasihlah yang hanya mampu terhembus bersama nafas pagi ini. di samping buku-buku yang sengaja atau tidak sengaja digeletakkan di samping peraduan. aku begitu berterimakasih. aku seakan terbangun dari pingsan yang cukup panjang. aku tengah menikmati hujan yang tak lagi menorehkan lamunan gulita. aku tengah mencatat kutipan-kutipan hikmah di balik ketidaksadaran yang cukup lama kunikmati. 

aku kembali, aku pulang. 

Jika M dalam film Skyfall menyebut "Penyesalan tidaklah profesional," begitu aku sangat menyetujuinya. Baik di mata Tuhan ataupun makhluknya, penyesalan memang tak pernah profesional. Penyesalan tak pernah bisa menjadi pendongkrak terwujudnya keindahan hidup. Biarlah penyesalan atas ceritaku dalam konteks kemanusiawian, aku posisikan dalam terminologi kontemplasi bernama refleksi, bukan narasi.

Tuhan, izinkan aku memaafkan diriku atas segala ketololan yang membuatku kian kerdil. Izinkan aku pulang dan kembali menjadi makhluk yang tak henti merayu-Mu untuk memeluk semua mimpi. Ah, aku serupa mentari yang begitu bahagia menyapa bumi di pagi hari. Serupa sunrise, yang dinantikan banyak manusia di puncak gunung. Terima kasih.


Mari kembali mendaki, mari kembali berlari. :)


Selasa, 20 November 2012

Bisakah kau jelaskan?


Dalam kisah ini kita sangat pandai bermonolog. Aku menjadi sering bercerita dan bercengkrama dengan diriku sendiri. Mencoba melupakan sosok yang pernah ada dan mampu memberiku ketenangan. 
 --
Dari pagi ke pagi aku berjanji untuk berhenti mencari dan menunggu sosok engkau. Tapi janji itu tak pernah bisa aku tepati. Aku dan segelas kopi masih saja setia pada harapan akan kedatanganmu. 
kau dengan lenggang khasmu sembari tersenyum.
menanti kembali saling bercerita tentang mimpi-mimpi kita. 
 --
Begitu juga dengan kau. Di istanamu, kau pun mungkin tengah menggemakan monolog. Yang entah kalimat apa saja yang tengah kau untai. Entah kisah apa yang tengah kau urai.

Kini, kita telah sama-sama menjauh dari titik temu. aku berjalan mundur, dan kau berjalan maju setelah berbalik memunggungiku. aku masih setia menatapmu berjalan menjauh.
--
Tahukah kau?
 --
aku begitu kacau setelah kau memutuskan untuk pergi. Meja kerjaku berantakan tak pernah rapi. Pekerjaanku? Semakin banyak aku harus merevisi pekerjaanku. Entahlah, konsentrasi menjadi hal tersulit untukku. 
 --
Debu yang sudah terlalu tebal di atas tv pun tak pernah aku peduli. Aku tak lagi lahap menyantap sarapan, makan siang, dan makan malamku. Kantung mataku semakin gelap, kau lihat itu kan? aku tak lagi suka mematut-matut diri di depan cermin. Aku tak peduli. 
Nyatanya aku memang tak peduli hal lain, selain ingin kau bisa kembali.  
Tapi apakah kau masih peduli? Aku tak tahu pasti. 
Yang aku tahu, kau tidak ada di sini, kau bahkan tak membantuku membalut kesakitan ini.
--
Aku yang berusaha untuk terlihat kuat, setidaknya di matamu. Nyatanya hanya sosok yang terlalu rapuh untuk sekedar berjalan perlahan. Kau hebat, kau memang yang terhebat. Aku tak begitu. aku terlalu, ah entahlah ini perasaan apa. 
Cinta? Bukan, ini lebih dari sekedar itu. 
--
Mungkin kau marah, mungkin kau benci, mungkin kau kecewa atas aku yang kalah. Marah sajalah, bencilah, dan kecewalah. Dengan atau tanpa kemarahan, kebencian, dan kekecewaanmu padaku yang begitu lemah, aku tetaplah perempuan yang  tak bisa menghindar dari memuja, menanti dan merindukanmu. 
Marah sajalah, bencilah, dan kecewalah! Nyatanya aku memang terlalu lemah.
--
Jendela yang dibasahi embun setiap pagi, begitu berusaha empati terhadap tatapan kosongku. Ia kerapkali memaksaku bercerita. Entahlah, aku tak tahu caranya. Aku bingung, bagaimana aku harus menjelaskannya. 

Bisakah kau jelaskan aku harus bagaimana? wahai orang hebat yang kupuja.


 (monolog di penghujung gelap, November 2012)