Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 April 2016

Lupa diri

sebut saja aku si pelupa yang mengais-ngais ingatan.
aku rela kau sebut tak waras serupa linglung berkepanjangan.

**
jalanan berserak daun kering tak mengingatkan aku apa-apa.
apalagi desir angin yang berpelukan dengan dedaunan di pucuk ranting pohon, hanya membuat aku semakin lupa.

**
lakukan apa saja, karena aku pun tak ingat apa-apa.
lunglai jiwa aku pun tak mengerti mengapa.

**
aku serupa mereka yang berduyun menuju jalan seadanya. 
semisal aliran air yang mengikuti liuk sungai, yang belum tentu sampai ke lautan.
aku lupa apa itu angkasa, pun dengan bumi. 

**
sebut saja aku si pelupa, yang kini bahkan lupa diri.

@uly_napitu.

Minggu, 10 Mei 2015

Lukisan kehidupan

Seorang anak berceloteh pada ibunya yang sedang melukis, "Bunda, aku suka lukisan bunda. Warna dan bentuknya indah. Aku bisa nggak ya ngelukis bagus seperti bunda?"
 ** 
Serupa celotehan anak kecil itu, kita seringkali mengagumi lukisan [kehidupan] orang lain. Gradasi warna indah, proporsi bentuk yang dibuat apik, indah sempurna. Ada yang sebatas melihat, ada juga yang sangat mengagumi dan ingin memilki, juga ada yang serius memikirkan perjalanan tangan hebat sang pelukis sampai mewujud menjadi karya yang memesona. Ya, banyak dari kita yang mengagumi sebuah lukisan tapi lupa ada yang lebih layak dikagumi: perjalanan panjang sang pelukis yang sempat salah menggoreskan bentuk, menuangkan warna, gagal mengeksekusi ide kreatif di kepalanya. entah sudah berapa kanvas yang [terpaksa] harus dibuang karena kegagalannya. panjang, bahkan sangat panjang. tidak ada kata 'simsalabim' kala membuatnya. 
 ** 
Ketika setiap kita adalah pelukis. Bisa jadi kita telah menjadi hebat atau menyedihkan. Pelukis hebat senang sampai lupa segalanya - memperbaiki kesalahan warna dan bentuk lukisannya. Menemukan warna juga gradasi baru. sejak awal ia telah tahu apa yang harus ia lukis. Tidak peduli nanti akan dinilai indah atau tidak oleh yang melihat. Ia juga mengagumi lukisan orang lain, tapi tidak menjadikan konsep lukisannya berubah mengikuti lukisan yang ia kagumi. 

Sekali lagi, ia tahu apa yang harus ia lukis, warna apa yang ingin ia torehkan, gradasi apa yang ingin ia ciptakan. Pelukis lain, yang menyedihkan. Ia sibuk sekali mengamati, mengagumi,mengikuti. Ia tidak tahu akan melukis apa. Sibuk mengutuk diri ketika lukisannya berbeda dengan lukisan yang ia sukai. Sibuk mengganti lukisan ketika tidak ada yang menyukai lukisannya. Ia hanya tahu: lukisan yang indah adalah yang ia kagumi. Ia lupa mengagumi lukisannya sendiri. 
 ** 
Sang bunda tersenyum dan menjawab, "kamu bisa membuat lukisan yang lebih indah di mata bunda. Nanti, kamu akan temukan bentuk yang lebih bagus juga lebih indah warnanya. Mulailah melukis, mulailah cintai lukisanmu, nak." 

Bumi lancang kuning, 10 Mei 2014.

Selasa, 26 November 2013

Kepada Biru


Biru, kau pasti sedang mendengar lagu bersyair indah milik kita, dulu.
Baiklah, aku  ralat. Lagu yang sama, tapi indahnya bukan milik kita lagi.
Tapi aku begitu tahu kau masih suka mendengar lagu itu. Meskipun aku tak tahu pasti kenapa kau masih senang melakukannya. Bisa jadi karena kau masih merindukan kisah-kisah indah kita, dulu. Atau mungkin juga karena kau hanya sebatas menyukainya sebagai musik ber-chord abadi. Ya, kau pernah bilang padaku dulu. Kau suka lagu itu karena chordnya, bukan syairnya. Kita menyukai lagu yang sama dengan alasan yang berbeda.
Kita memang berbeda. ah, aku telat menyadarinya.

Biru. Aku selalu merasa senang memanggilmu , Biru. Serupa senang kala melihat langit tanpa awan, luas tanpa warna lain, hanya biru.
Kamu ingat tidak, ketika kita sama-sama melukis kelinci dan kuda terbang di langit biru itu?

Aku bahkan masih mengingat semuanya tak terkecuali. Tawamu kala menonton Tom & Jerry, sungging senyummu seusai membacakanku puisi, pujianmu akan masakanku, belai lembutmu kala menyapu peluh lelahku, dan punggungmu yang tak kalah memesona kala kau pergi – tak kembali.

Biru- seluruh hatiku. Tak perlulah kau sekejam ini. bolehkah aku memintamu melawat hatiku yang hanya berwarna biru? Sekali saja.
Setelah itu, kembalilah pergi tanpa memunggungiku seperti itu.
Ah, aku memang terlalu banyak menuntut. Betapa aku merindu Biru.

Fiksi, 05 Juli 13

Senin, 25 November 2013

Selesai? Entahlah!


Selesai? Entahlah!

Ketika sayap-sayap kenangan bernada kerinduan menyapa sebuah siang.

Aku sampai di hari ini membawa banyak cerita yang belum selesai. Orang-orang yang mengerti psikologi psikodinamik menyebutnya sebagai unfinished business. Ah , itu teori yang selalu aku tak suka. Teori yang menggiring analisis panjang dan selalu berujung dengan kalimat - iya, ini belum selesai.

Banyak nama, tempat, dan adegan yang sampai hari ini belum bisa kubuang lepas di tong sampah. Semua masih rapi kusimpan di gudang kenangan yang bersiap menggerogoti furniture  dan seluruh bagian rumah serupa rayap lapar yang merusak kayu.
Banyak hal  masih piawai mencipta denting dan tarian yang membuat aku menyungging senyum dan kembali menatap luka.

Kamu, salah satunya. Ya, kamu.

Kamu yang begitu gemilang. Satu-satunya sumber inspirasi yang terpaksa harus kupunggungi. Kamu yang dulu sempat begitu memesona seluruh isi jiwa. Kamu yang menapaki karpet merah bersamaku, menuju singgasana mimpi. Kamu yang juga punya mimpi yang sama. kamu yang sempat begitu pandai membuat keindahan di taman, mengalahkan harmoni rumput hijau-bunga-angin-dan kupu-kupu. Kamu yang bersuara biasa tapi pandai mendendangkan lagu-lagu yang kusuka. Kamu dan nada-nada gitar yang masih terdengar indah, sampai hari ini! kamu yang tak berhenti memanggil-manggil, meski kita tak menapaki jalan yang sama lagi. Kamu yang begitu luwes bak gerakan tarian burung kala melepaskan genggaman tangan - yang semula begitu mesra. Kamu yang sampai hari ini masih membayangi istana mimpi. Kamu, cerita yang masih menuntut ujung yang entah apa. kamu yang masih mampu memesona labirin-labirin kepala. Kamu yang tak juga menyelesaikan nyanyian di jiwa-jiwaku. Ah, mengapa sebegini dalam di saat jarak terlalu jauh.

Bisakah kamu selesaikan ini?

Meski entah dengan apa kita mampu selesaikannya. Karena nyatanya, selesai adalah apa yang pernah kamu ucapkan, tapi selalu aku hindari untuk mendengarnya. Tuhan, mengapa aku hanya bisa berkata.. entahlah! 

Kamis, 05 September 2013

Bukan luka, hanya rindu.

Sudah berderet afirmasi yang menggemakan ketidakberdayaan, bahkan mendekati keputusasaan. Bukan tanpa alasan, Tentu semua berasal dari sebuah perenungan dan titik awal bernama 'alasan', meski alasan logis atau tidak.

Di kamar ini, masih tertata rapi benda sejarah masa lalu - setidaknya dalam enam tahun terakhir. Benda-benda ajaib yang mampu berceloteh, menceritakan yang telah terjadi. Cerita yang kadang sangat berhasil memerangkap masa kiniku di masa lalu. Sigh.. menyebalkan ketika itu seringkali terjadi akhir-akhir ini. 

Dengan mudah, foto-foto keceriaan enam tahun yang lalu memanggil-manggil jiwa untuk kembali mengalaminya. Catatan yang selalu senang kutengok, kubahas. Dan berakhir pada sebuah kerinduan yang tak miliki kemungkinan bertemu.

Boneka dan sekedar gelas kopi pun ternyata memiliki kekuatan ajaib untuk mengoyak batin. Bukan terluka apalagi cedera, hanya menguak kerinduan tak dinyana. Kemana aku harus mencari temu, aku tak tahu. Apalagi tentang bagaimana menjelaskannya, dan kepada siapa - aku tak tahu.

Tuhan, mengapa masa lalu itu tak bisa kubiarkan berlalu saja? setelah itu sembuhlah rindu ini.

Bisakah aku memaksa-Mu untuk melakukannya untukku, Tuhan?

- 06 September 2013.


Sabtu, 08 Juni 2013

Melodi Kenangan


Ingin sekali aku mengetuk pintu masa dimana kau memutuskan untuk pergi dan aku tetap tinggal. Dari kisah itu, aku mengenal sisi lain diriku yang tak mampu bertransaksi. Aku mencintaimu, memimpikanmu setiap malam, menyelipkan namamu di setiap cita dan harapan. Aku melakukannya tanpa ada jaminan kau melakukan yang sama. Aku tak peduli!

Malam itu, kau mengabarkan pamit atas kisah ini. dan kau memintaku untuk berbahagia. Bagaimana bisa aku menerima semuanya dengan senyuman bahagia, kala yang kau kabarkan adalah kepergian yang tanpa pulang. Itu hanya permintaan gila.

Sekisah yang tak pernah bisa hilang kelekatannya dari ingatan. Aku tak bisa lupa. Bait-bait sakitnya bahkan masih terasa hingga hari ini. tak hanya itu, elegi bahagia saat kau rengkuh citaku dengan cinta yang kau simpan perlahan pun aku ingat, selalu.

Bagaimana denganmu di sana? Itu sekalimat tanya yang hanya mencipta jeda berakhir titik tanpa koma apalagi sebuah kata lanjutan.

Ku tak pernah berbalik memunggungi kisah ini sedetikpun. Aku hanya tertunduk tak mampu menatap kau yang melaju pergi begitu cepat. Aku hanya tak ingin melepasmu yang penuh keyakinan.
Entah sudah berapa detik aku mengiba untuk mematri elegi kita berdua yang indah. Ah cinta, kau memang kepalsuan yang indah tak bernyawa. 

Lelakiku


: Rizki Erdiantoro.

Mungkin aku termasuk perempuan yang hanya pandai menceritakan kepedihan. Sastra begitu mudah kusenandungkan kala duka, patah, sendu, pun merana. Tapi tetiba aku lupa diksi dan intonasi,  kala jiwa diliputi sukacita bahagia. Menulis ini pun aku memaksa. Rasanya tak adil saja jika ku menyerah untuk tak menuliskan indahnya rasa terhadapmu: lelakiku.

Aku tak pernah menyangka, kalau rasa sesakral ini bisa kuletakkan di genggamanmu. Aku tak merasa mabuk, aku tak tenggelam. Rasa yang kuduga lebih dari sekedar ‘cinta’ ini membuatku suka dan pandai berenang, bukan tenggelam lalu hilang kesadaran. Senyumanku sederhana, aku tak begitu tergila-gila. Meski sederhana, aku tersenyum setiap hari: bahagia.

Sebelumnya aku menemui banyak laki-laki, tapi yang kupanggil lelaki itu hanya kamu. Lelaki bagiku itu satu, tak ada setara apalagi setala. Kau satu yang kucintai sebagai lelakiku. Bukan berarti mereka tak baik hinggaku begitu meninggikan derajatmu, tapi karena kau memang yang terbaik. Beberapa memang lebih tampan dan perlente, tapi kau adalah yang paling berharga.

Kala ku mematut diri di cermin yang tak terlalu besar – tapi cukup untuk memantulkan seluruh wajah hingga tiga perempat tubuhku, ternyata aku tak terlalu cantik, dan ajaibnya kau pun tak terlalu memujaku karena ku cantik. Entah sudah berapa kali kau sebut aku perempuan berparas biasa saja, tapi aku tak merasa tercela. Aku bahagia. Rasa bahagia kala tak dipuja atas kecantikan bukan karena logikaku tak bernyawa, tetapi karena aku menangkap isyarat bahwa kau bukan pendusta. Aku memang berparas biasa.

Ini perjalanan kita yang kedua. Sebelumnya, kita gagal. Dunia perlu tahu, kegagalan yang kita alami kala itu bukan karena ada yang tak setia atau mendua. Tapi memang kita belum bisa menemukan elegi yang sama: aku seperti orang tua dan kau sangat anak muda. Kita sama-sama masih mencari sesuatu yang orang bilang jati diri remaja. Sekarang aku adalah aku, kamu juga adalah kamu. Kita tetap berbeda, tapi kita berada di nada dasar dan melodi yang sama: kita sudah dewasa.

Lelakiku, ingin sekali kuhadiahkan cermin yang tak hanya mampu pantulkan paras dan ragamu. Aku ingin menghadiahkan cermin ajaib yang mampu menggambarkan rasaku padamu: rasa bersiluet sempurna.

Katamu, aku perempuan penggombal. Ya itulah aku. Kadang aku berpikir aku terlahir untuk itu. Pasti kau tersenyum, senyummu tetap yang termanis dan ini bukan gombal. Senyummu memang yang paling kusuka, ingin selalu kujaga, dan kuimpikan. Dengan segala pengakuanku atas keahlianku menggombal, percayalah bahwa aku setia terhadapmu. Tidak ada sangat atau pun kurang di depannya, aku hanya setia terhadapmu.

Aku memujamu bukan karena kau bermahkota atau bertongkat sihir ajaib. Aku tak bisa menghindar untuk melakukannya karena kau tak pernah sertakan arogansimu kala kau memapah, kau genggam tanganku seadanya, dan keberanianmu berikrar bahwa hanya aku ratu di hatimu, kalbumu.

Kau memperlakukan hatiku selayaknya kaca yang rapuh, kau begitu apik menjaganya. Ah, kau benar-benar membuatku terpesona.

Lelakiku, lihatlah, tulisan ini sama sekali aku tak suka. Ia sama sekali tak sanggup mengungkap betapa bahagianya aku memiliki dan dimilikimu. Tapi percayalah, aku tetap pujangga. Meski hanya pujangga yang tak lagi mampu memilih kata puitis untuk mengungkapkan cinta padamu. Mungkin karena ada bahasa lain yang belum bisa aku bahasakan dengan tulisan: cintaku untukmu.

Lelakiku, biarlah aku berlayar di samudra rindu dan citamu. Bukan untuk pulang atau tenggelam. Aku ingin tinggal, menikmati apapun di samudera itu: kehidupanmu.

Lelakiku, aku telah miliki langit dan pelangiku sendiri. Biarlah aku memadukannya dengan langit dan pelangimu. Aku berjanji, pelangiku hanya akan melebur di langitmu, memperindah pelangimu. Aku dan kamu akan menatap langit dengan pelangi dan biru yang lebih purnama.

Lelakiku, aku tidak terlalu lemah dan mudah patah. Tapi aku pun tak begitu kuat apalagi perkasa. Percayalah, aku denganmu adalah sempurna. Dengan kesungguhan doa, semoga kau pun memiliki rasa yang sama.  

Tentang hujan


Hujan. Ia kembali memecah sunyi menjadi sepi yang lebih hening. Kembali mengingatkan ribuan kalimat yang pernah ditulis tentang kehidupan; untaian kenangan yang tak usang untuk diceritakan; rangkaian kata-kata cinta yang membahagiakan, mengharukan, menguatkan, bahkan menjatuhkan.

Tertegun begitu khusyu membaca, bukan sekedar membaca.

Hujan, setia menyaksikan banyak teriakan yang tidak sempat didengar siapapun. Setia mendampingi jiwa yang tersandar lemah memejam luka yang tidak sempat diketahui siapa-siapa. Setia menerjemahkan rasa yang tak sempat dipandangi siapa-siapa.

Aku tengah bersama hujan,ingin selalu dengan hujan, selamanya.


- pematang rindu, 26 Mei 2013

Selasa, 25 Desember 2012

magenta


pikiran yang berbalut kalut mewujud abstraksi rasa. entah bermula darimana, pun entah menuju kemana. menyisir aliran nadi berharap temui magenta. lalu untuk apa semua itu? lagi-lagi, entah.

tercenung menatap langit yang menguning di ufuk barat, menyaksi berjuta tanya yang kian riuh. andai aku tahu, sedikit saja. mungkin ia takkan seriuh ini.

dialog jelaga membentuk antologi tak berbatas. sesekali mencipta desau yang menyapa kedalaman jiwa. sapa yang tak mungkin berbalas.

lalu apa yang bisa digenggam sekarang? hanya tak ada. tetap tak ada. akan tiada.

Senin, 03 Desember 2012

Sekisah tentang Senin

Senin. Ya, satu senin berasa setara dengan dua dan tiga selasa. Di semester ini, senin menduduki peringkat pertama dalam menghisap energi.

Prediksiku di awal semester mengenai hari senin ini benar adanya. Awalnya jadwal kuliah di hari senin hanya tiga mata kuliah. Tapi karena berbagai kepentingan, jadwal dipadatkan di hari Senin. Dari tujuh mata kuliah yang dikontrak, lima diantaranya terjadwal di hari senin, satu lainnya di hari selasa, dan satu lainnya lagi di hari Kamis. Entahlah, bioritme kognisiku benar-benar tidak bisa meng-cover kebutuhan konsentrasi lima mata kuliah di setiap senin.

Dimulai Pkl. 07.00 (biasanya aku terlambat masuk 10-15 menit), hehe..
jeda di Pkl. 09.30 - 10.20, lima puluh menit lah ya.. lumayan untuk sarapan atau sekedar jajan-jajan. And then, mulai lagi di 10.20 - 12.00, terus biasanya dilanjut shalat dzuhur plus makan siang kadang-kadang, terus lanjut lah dua mata kuliah non-stop sampai 15.30. Yap..! And you know what? mata kuliah yang bertengger di jadwal terakhir itu adalah FILSAFAT. Gosh! ketika psychophysiologic-ku mengalami regresi, aku dipaksa bercengkrama dengan mata kuliah yang sampai hari ini, entahlah, belum bisa kutemukan sisi manis atau sisi centilnya. Jujur (tanpa lebay), otakku enggan sekali merespon, sulit sekali mengunyah sajian dari mata kuliah yang satu ini. Kenapa ya? Wallahu'alam bi shawwab.. (T.T)

Tentang senin, tentang upayaku bertahan. Juga tentang bagaimana aku berlatih. Hm... tentang aku berteman dengan sesuatu yang tidak favorable, desirable, dan sejenisnya lah. Senin di semester ini, yang setia menyajikan kuliah pagi (sekali), memaksaku melepaskan pelukan mesraku pada guling lepek plus boneka monyet kucel ku; melahap filsafat di petang melayang; mengurung dan menahanku di kelas; dan memaksaku menikmati setiap tik-tak di sela-sela bosan membahas Kurt Lewin, Sheldon, dan teman-temannya yang kadang tidak bisa kumengerti jalan pikirannya.

Apapun yang terjadi pada setiap senin. Inilah catatan sejarah sang pengejar mimpi. pada episode kali ini, aku tak mau senin kecewa. meski aku tak suka filsafat, meski aku tak bisa bangun pagi, aku ingin mencoba setia pada janjiku, janji untuk menjadi juara di kehidupan ini. ini bukan hanya tentang senin, mungkin tentang selasa, rabu, kamis, jumat, dan sabtu juga minggu yang akan lebih berat. 

biarlah senin dengan semua yang ia sajikan, mungkin nanti tak lagi bisa kutemui senin.
 

(Gubuk pemimpi, 03 Desember 2012)

Kamis, 29 November 2012

Kembali (lagi)


Seperti langit yang tak enggan menumpahkan ribuan jarum beningnya ke bumi. Serupa aku yang tak pernah enggan menjejali angin dengan tangis dan tawa di hari-hari. Ketika benar-benar ingin, atau pun tidak.
Di setiap celah berupaya mencari-cari ujung sinar. Yang kerlap kerlipnya tak henti menarik batin terkagum-kagum dalam tatapnya. Meski hening, tanpa kata dan nada.
Tapi celah tinggal celah, ia hanya menyajikan lelah dan sedikit gundah. Aku kembali dan memunggungi cahaya. Berjalan menunduk menikmati bau basah tanah. Sesekali menatap pepohonan yang tak jua mampu menghapus kecewa.
Aku pulang, aku kembali. Entah karena ingin, atau pun tidak.

(Rumah mungil pinjaman, 30 November 2012)

Dengarlah, Tuan


Tuan, aku ingin bercerita.

Entah sudah berapa malam, waktu ku terhisap cemas.
Sepanjang jalan yang kulewati setiap malam tak berhenti bercerita.
Memang aku suka cerita, tapi bukan cerita ini.
Anak dan balita kian akrab saja dengan temaram meredup, kadang tenggelam dalam gelap.
Aspal, tanah, bercampur debu menyeruak pedih di sela-sela harinya.
Sesekali, bulir-bulir hujan menyapa. Hujan yang turun serupa waterboom tanpa wahana bermain, sakti mencipta gigil berkepanjangan.
Terbaring juga remaja, lelaki dan wanita paru  baya, sampai orang  tua. Mereka semakin akrab dengan langit dan angin. Mereka dipaksa berteman.
Gemericik aliran serupa air pekat di selokan tiada bosan menyenandungkan lagu serupa nina bobo.

Tuan, apakah kau pernah mendengar cerita ini sebelumnya ?
Bagaimana perasaanmu, Tuan?

Dipan-dipan mereka adalah pijakan ketika orang-orang mengangkut berkantong-kantong sepatu dan baju bermerek.
Dipan yang harus mereka rapikan sebelum mentari menyapa kota. Mereka tak boleh terlambat bangun. Semenit saja terlalu nyenyak,  serial makian pagi akan mereka santap dari sosok penguasa. Belum lagi adegan cibiran dan tatapan para pejalan bak raja yang terhalang laju singgasananya.
Kembali terbangun, tanpa peduli berapa gigitan yang melukis bulatan kemerahan di kulit tangan, kaki, dan wajahnya. Mereka tak mengenal wewangian di kamar mandi. Mereka tak tahu pesona aroma di dapur, saat pagi menyapa. Yang mereka tahu hanyalah kembali mengais ladang penghidupan. Kembali memanjakan lambung terkadang hanya dengan menikmati basi-basi di nasi.

Ah, tak tahulah. Apa yang telah aku perbuat di atas pijakan bumiku yang penuh gemerlap. Tetiba semua memekat, membuatku tercekat.
Tuan, bolehkah aku bertanya?
Bagaimana perasaanmu, Tuan?

Kontemplasi berjudul 'hehe'

Dua bulan terakhir mungkin dua bulan yang tak biasa. Meski langit tak menghadiahkan hujan pada bumi, hari-hariku tak bisa lepas dari basah di pipi. Berlebihan dan dramatis memang. Tapi itulah yang terjadi. Genre kisahnya tak lepas dari terminologi 'putus cinta'. Dua bulan ini alih-alih aku bisa jadi termasuk nominasi makhluk yang paling irasional di muka bumi, hehe..

Bab-bab ilmiah yang disajikan di sela-sela hari membuatku merasa semakin konyol. Sulit sekali untuk bisa memahami dan mengunyahnya sebagaimana mestinya. Deretan kalimat yang terbaca dan tertulis hanyalah sastra kosong yang menggambarkan kekosongan rasa. Berlebihan atau bisa juga disebut 'lebay,' tapi itulah yang terjadi, hehe..

Serangkaian senyum tasire hadir mengiringi tingkah laku, di kampus, di kosan, di jalan, atau ketika melakukan adegan jual beli dengan abang bakso. Rutinitas, hanya serupa rutinitas yang menjadi kekayaanku dua bulan terakhir ini. 

Aku dengan setia melontarkan beberapa pertanyaan di jeda waktu menonton sinetron dan mengerjakan tugas-tugas kuliah di kosan. Pertanyaan yang mungkin  sebetulnya tidak akan pernah berjodoh dengan jawaban yang pasti. pertanyaan yang lebih pantas disebut penyesalan, penghujatan, dan penggalauan tak berkesudahan, hehe..

mengapa aku harus disakiti? mengapa aku harus dibohongi saat aku memberikan sebuah totalitas? mengapa aku? mengapa harapan itu sebegitu tinggi? mengapa aku begitu mencintai? mengapa sesakit ini? mengapa dia? mengapa seperti ini?

itulah kurang lebih pertanyaan-pertanyaan yang berulang. syaraf-syaraf di otakku hanya mematung tak bergeming. tak mampu berikan jawaban. hanya tercipta sekomunitas 'hehe' di ujung pertanyaan yang kemudian diasumsikan sebagai sebuah jawaban yang paling tepat. ya, apalagi yang bisa kulakukan selain berusaha menertawakan keganjilan rasa dan hampa yang bisa dikatakan akut ini.

hingga sampai pada hari ini. ini adalah bulan ke tiga setelah bencana besar dunia kalbu si gadis pemimpi yang tak lain dan tak bukan bernama: Aku.

di perjalanan, yang lumayan berbelok. aku bertemu banyak orang. tak usahlah kusebut satu persatu para penjual makanan yang setia menantiku sepulang dari kampus. orang-orang lama yang kunamai sahabat ternyata begitu menanti aku sembuh. mereka merindukan aku yang berdiri tegak dan menengadah menatap langit. aku yang tak pernah takut jatuh. aku yang katanya pandai menyembunyikan pilu dan sendu. aku yang lebih dikenal perempuan pemikir dan rasional. mereka mengaku kesakitan melihatku yang berubah menjadi pujangga tolol tak bersambut cahaya. orang-orang baru, yang hanya berjumlah dua dan tiga, yang belum sempat kunamai pun tengah membelai-belai bulir-bulir kognisiku untuk kembali berbinar menjalani mimpi. Ya, begitulah, ternyata aku cukup punya arti untuk setetali manusia. Sekabar baik untuk hidupku, hehe..

ah, terimakasihlah yang hanya mampu terhembus bersama nafas pagi ini. di samping buku-buku yang sengaja atau tidak sengaja digeletakkan di samping peraduan. aku begitu berterimakasih. aku seakan terbangun dari pingsan yang cukup panjang. aku tengah menikmati hujan yang tak lagi menorehkan lamunan gulita. aku tengah mencatat kutipan-kutipan hikmah di balik ketidaksadaran yang cukup lama kunikmati. 

aku kembali, aku pulang. 

Jika M dalam film Skyfall menyebut "Penyesalan tidaklah profesional," begitu aku sangat menyetujuinya. Baik di mata Tuhan ataupun makhluknya, penyesalan memang tak pernah profesional. Penyesalan tak pernah bisa menjadi pendongkrak terwujudnya keindahan hidup. Biarlah penyesalan atas ceritaku dalam konteks kemanusiawian, aku posisikan dalam terminologi kontemplasi bernama refleksi, bukan narasi.

Tuhan, izinkan aku memaafkan diriku atas segala ketololan yang membuatku kian kerdil. Izinkan aku pulang dan kembali menjadi makhluk yang tak henti merayu-Mu untuk memeluk semua mimpi. Ah, aku serupa mentari yang begitu bahagia menyapa bumi di pagi hari. Serupa sunrise, yang dinantikan banyak manusia di puncak gunung. Terima kasih.


Mari kembali mendaki, mari kembali berlari. :)


Minggu, 25 November 2012

Selamat Hari Guru, Indonesiaku

Guru. Pekerjaan atau pengabdian kah?
entahlah, aku tak tau pasti yang mana yang lebih merepresentasikan apa itu Guru.
Guru. bagiku, lebih dari sekedar pekerjaan.
tak layak rasanya jika seseorang menyandang lencana Guru, jika ia bukanlah pengabdi.

Guru, selamat hari guru.
tak ayal dunia ini bisa seperti sekarang jika tanpamu.
Guru, Selamat, kamu adalah Guru yang terpatri nama mulianya di Istana Pengabdian.

(Kelas, satu hari setelah Hari Guru Nasional Indonesia )

Selasa, 20 November 2012

Bisakah kau jelaskan?


Dalam kisah ini kita sangat pandai bermonolog. Aku menjadi sering bercerita dan bercengkrama dengan diriku sendiri. Mencoba melupakan sosok yang pernah ada dan mampu memberiku ketenangan. 
 --
Dari pagi ke pagi aku berjanji untuk berhenti mencari dan menunggu sosok engkau. Tapi janji itu tak pernah bisa aku tepati. Aku dan segelas kopi masih saja setia pada harapan akan kedatanganmu. 
kau dengan lenggang khasmu sembari tersenyum.
menanti kembali saling bercerita tentang mimpi-mimpi kita. 
 --
Begitu juga dengan kau. Di istanamu, kau pun mungkin tengah menggemakan monolog. Yang entah kalimat apa saja yang tengah kau untai. Entah kisah apa yang tengah kau urai.

Kini, kita telah sama-sama menjauh dari titik temu. aku berjalan mundur, dan kau berjalan maju setelah berbalik memunggungiku. aku masih setia menatapmu berjalan menjauh.
--
Tahukah kau?
 --
aku begitu kacau setelah kau memutuskan untuk pergi. Meja kerjaku berantakan tak pernah rapi. Pekerjaanku? Semakin banyak aku harus merevisi pekerjaanku. Entahlah, konsentrasi menjadi hal tersulit untukku. 
 --
Debu yang sudah terlalu tebal di atas tv pun tak pernah aku peduli. Aku tak lagi lahap menyantap sarapan, makan siang, dan makan malamku. Kantung mataku semakin gelap, kau lihat itu kan? aku tak lagi suka mematut-matut diri di depan cermin. Aku tak peduli. 
Nyatanya aku memang tak peduli hal lain, selain ingin kau bisa kembali.  
Tapi apakah kau masih peduli? Aku tak tahu pasti. 
Yang aku tahu, kau tidak ada di sini, kau bahkan tak membantuku membalut kesakitan ini.
--
Aku yang berusaha untuk terlihat kuat, setidaknya di matamu. Nyatanya hanya sosok yang terlalu rapuh untuk sekedar berjalan perlahan. Kau hebat, kau memang yang terhebat. Aku tak begitu. aku terlalu, ah entahlah ini perasaan apa. 
Cinta? Bukan, ini lebih dari sekedar itu. 
--
Mungkin kau marah, mungkin kau benci, mungkin kau kecewa atas aku yang kalah. Marah sajalah, bencilah, dan kecewalah. Dengan atau tanpa kemarahan, kebencian, dan kekecewaanmu padaku yang begitu lemah, aku tetaplah perempuan yang  tak bisa menghindar dari memuja, menanti dan merindukanmu. 
Marah sajalah, bencilah, dan kecewalah! Nyatanya aku memang terlalu lemah.
--
Jendela yang dibasahi embun setiap pagi, begitu berusaha empati terhadap tatapan kosongku. Ia kerapkali memaksaku bercerita. Entahlah, aku tak tahu caranya. Aku bingung, bagaimana aku harus menjelaskannya. 

Bisakah kau jelaskan aku harus bagaimana? wahai orang hebat yang kupuja.


 (monolog di penghujung gelap, November 2012)