Tampilkan postingan dengan label my day. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my day. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 November 2017

Beli Kulkas 400 Ribuan


bukan iklan, gambar diambil dari koleksi mbah google :)


Hallo.. 

Disclaimer first

Ada beberapa alasan temen-temen membuka link ini:
⇒Pertama, karena sebelumnya membaca artikel keajaiban rezeki di blogpost saya sebelumnya.
⇒Kedua, karena sedang mencari kulkas murah meriah
⇒Ketiga, karena nyasar atau penasaran aja, hehe..

Apapun alasannya, semoga nggak nyesel buka link nya ya, hehe..
Karena tulisan kali ini dibuat dengan antusiasme yang sangat tinggi. Sebuah blogpost yang akan memuat pengalaman pribadi saya, yang tidak hanya menyenangkan tapi juga menumbuhkan sisi spritual saya. Dan ini real, bukan HOAX :D

Theeeen i am so excited to share it to you:)


***

Is it must be written ?

Iya, karena sekali lagi, saya ingin move (myself) and you to another perspective about REZEKI.

***

Saya dan suami sejak menikah (kurang lebih tiga tahun) sudah pindah beberapa kali. Garis besarnya sejak 2015 sudah pindah tiga kali: Kabupaten Siak, Kabupaten Indragiri Hulu, dan Kota Malang. Kalau di-split lagi, selama di Siak, saya pindah rumah lebih dari tiga kali, bukan karena diusir ibu kontrakan, tapi karena drama persediaan rumah dinas di tempat kerja suami yang panjang kalau diceritakan, haha.. 
(dan pengalaman pindah-pindah ini membuat saya belajar banyaaaaaaaaaak banget) Skip!

Dari dua kali kepindahan saya tercatat sudah 2x membeli kulkas. Setiap pindah, lelang barang. Pelelangan terbesar, ketika pindah ke Kota Malang. Karena hampir nggak memungkinkan boyong AC, Mesin cuci, kulkas, dan segala-segala yang rentan serentan hati para perempuan #eh. Cari aman, lelang saja!

Sesampainya di Malang, tentu kalau emak-emak, berpendapat kalau kulkas adalah barang yang wajib. No reason untuk tidak memprioritaskannya, kan?

Biasanya ketika saya menyerahkan list barang yang jd prioritas, suami saya nggak pernah komplain. Tapi lucunya, sekarang dia pending untuk beli kulkas. Alasannya karena saya jarang masak. Alias masak kalau mood doank. Jadi nggak penting punya atau tidak punya kulkas. Selain itu, di tempat tinggal kami yang sekarang, dekat sekali dengan warung makanan, warung sayuran, abang sayur lewat sampai 5x dalam sehari, tukang ayam potong sampai ikan segar lewat setiap hari.

“Oke beli kulkas, tapi at least rutin masaknya. Gimana?” tawaran suami yang dilematis.

Dan saya tidak mau membuat perjanjian yang menjebak, haha..

Saya tidak panjang lebar menanggapi, hanya bilang, “Ya udah nanti lagi aja deh belinya..”

Selang dua bulan.. 

Saya mulai merasakan semakin perlu kulkas. Karena suka tiba-tiba ingin seblak ceker, cilok, sop iga sapi, bikin nugget, dan macam-macam deh. Akhirnya saya sampaikan ke suami. Dan suami kalah juga, nggak tega liat istrinya, akhirnya kami memutuskan untuk survei ke Hyperm*rt Malang. Karena kemaleman, akhirnya kami memutuskan membelinya keesokan harinya.

Ndilalah, sesampainya di rumah, ada broadcast sebuah event pelatihan yang kami butuhkan untuk bisnis yang sedang kami rintis. Harga pelatihannnya lumayan, dua kali harga kulkas yang kami survei semalam. Mamak dilema.

Setelah bolak balik mikir, akhirnya saya memutuskan untuk ikut pelatihan saja. Kulkasnya pending. Sambil merengek gitu dalam hati: “Ya Allah, tapi saya pengen kulkaaaas”
Hari ke hari dilalui, lupa tuh sama drama si kulkas.

Sampai sebulan kemudian, 

Sepulang kuliah suami excited sekali manggil-manggil saya. Kurang lebih begini dialognya:


Suami : mi, ada yang mau jual kulkas.
Saya   : berapa ?
Suami : 800.000
Saya   : second? Merek apa emangnya?
Suami : Baru, mereknya SH*RP.
Saya   : Murah banget. Penyok kali makanya dijual.
Suami : Temen dapet doorprize dari gerak jalan kampus minggu lalu. Dia bingung makenya gimana kalau di kos. Jadi ditawarin ke kita. Gimana?
Saya : bingung, karena budgetnya baru ada bulan depan.
Suami : iya juga ya. Oke deh nanti dibilangin dulu.


Ya, saya sih nggak terlalu menggebu-gebu, kalau udah rezeki kami, pasti itu kulkas kebeli.
Besoknya suami bilang kalau kita boleh bayar bulan depan, tapi kulkasnya bawa secepatnya, karena bikin kosannya sempit, haha..

Kami tentu saja senang, tanpa banyak menunda langsung membawanya. Dan tentu saja, segera menyiapkan transaksi di bulan berikutnya, hehe.. 

Belum berhenti di situ. Dua minggu kemudian, sang pelelang kulkas (yang tidak ingin disebutkan namanya), menghubungi suami.

He said, “Mas, saya ingin ikut pelatihan sampean. Tapi uangnya dipotong dari uang kulkas, boleh mas?”

Nah kan. Ini nih ajaibnya. Belum juga dibayar, ada aja berita bahagia lagi. Masyaallah,  rezeki Allah datang dari pintu yang tidak disangka-sangka. Karena kebaikan hatinya, kami beri diskon biaya pelatihannya.

Akhirnya, transaksi kejadian juga: Kami  serahkan tiket pelatihan & uang cash 400.000 untuk membayar kulkas seharga kurang lebih 1,7jt (Dan ternyata baru kami sadari kalau tipe dan motifnya sama persis dengan kulkas yang akan kami beli di Hyperm*rt tempo hari)
Begitulah cara Allah membahagiakan hamba-Nya. Entah kapan dan dengan cara yang tak terduga. Benar bahwasanya, kita akan meleleh cinta kepada-Nya ketika menyaksikan betapa cantiknya skenario Allah dalam mengatur urusan kita.

gambar diambil dari media campaign Rumah Zakat.
Jangan lupa zakatnya ya :)

Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzibaan
Nikmat mana lagi yang kau dustakan?









Kamis, 09 Februari 2017

Jembatan Empati : berdamai dengan 'kenyinyiran'

Semenjak memutuskan pindah ke Pulau Jawa, which is tempat asal kami, seringkali ada pertanyaan dan tanggapan yang sebetulnya bernada (sorry to say) “sok tahu” . Hmfh..... zzzzzzz

Lalu kami berusaha membangun dan menapaki jembatan empati untuk mereka-mereka yang sok tahu tersebut, bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk kesejahteraan batin kami, hahay!


Ngomongin apaan sih? Ngomongin ini lho:

Tujuh Januari kami – saya dan suami, resmi pindah dari Riau ke Pulau Jawa lagi. We stay for a while di Malang, Jawa Timur. Untuk kami, kepindahan ini bukan hal yang terjadi begitu saja, bukan sesuatu yang harus dipertanyakan, apalagi jadi perdebatan, yaellah, pindah doank. 
Tapi..... ternyata respon orang mah beda-beda.

Yes, we quit that zone to move-  not to escaping life :) 

Respon terhadap adegan pindah yang menurut saya agak di luar dugaan. 
Well, sengaja saya dokumentasikan lewat tulisan di blog ini, as my personal journal. Mungkin suatu saat saya perlu flashback, atau mungkin ada orang lain yang juga ada di situasi yang sama. 
Niatnya, reinforce myself then share to others in a positive ways.
Tanggapan lucu yang serada mengusik, diantaranya:
  • Apalagi sih yang dicari? Kerjaan udah enak, karir udah sama-sama enak, malah resign. Orang lain malah susah cari kerjaan lho
  •  Ada masalah apa kok resign Pak Kepsek? Padahal istrinya udah enak dapet kampus yang dekat untuk ngajar.
  • Wah sayang ya padahal udah mapan disini, malah pindah.  
  •  Dan sejenisnya semacamnya macam macam.

Dan ketika kami pindah untuk take a breath in the moment, memenuhi hak jiwa untuk bertualang (baca: piknik-piknik alay haha), upload foto di berbagai tempat, upload by a positive caption, tanggapannya lebih aneh lagi, kebanyakan bilang: “jalan-jalan terus pak/bu”, atau  ada yang sampe berani sounding tentang uang pesangon. Pengen banget dengan gaya #agnezmo squarelling like.....
WHAAATTT???!!!
How could you be that rude, meeeeen...!!
You dont even know our plan. you dont even know us personally.
you just focusing on the picture without read the caption,
and you just care to your mind, not on what we do at all. Sigh!
Seingat saya, kami gak pernah sefulgar itu ngurusin hidup orang-orang di sekitar kami. Kecuali ya orangnya minta diurusin, hehe... Kami cukup menyimpan berbagai pandangan tentang apapun hanya untuk kami, gak pernah niat nyenggol-nyenggol hidup orang, kecuali kalo disenggol orang ya maaff kepaksa nyenggol balik, sedikit, hehe...
Saya yang piknik, kok bapak/ibu/mas/mbak yang mumet mikirin duit?
Saya yang jalan-jalan, kok bapak/ibu/mas/mbak yang capek?

Tapiiiii.....

Proses yang berlalu kurang lebih sebulan ini mengajari saya tentang Jembatan Empati yang saya jadikan headline tulisan ini.

Ooooooohh Ternyataaa..... 
"Oh, ternyata ada lho ya orang yang doyan banget ngurusin hidup orang lain. Yang tiba-tiba seolah peduli, padahal cuman kepo."
"Oh, ternyata bentuk-bentuk iri, dengki, di zaman sekarang itu beragam ya. Termasuk dengan cara ekstrem menilai baik-buruk, pantas-tidak pantas tentang keputusan orang lain yang ada hubungan kekerabatan pun nggak alias cuman kenal."
"Oh, ternyata hidup mereka itu sebegitu membosankan ya sampai apa-apa dinilai dengan uang."
"Oh, ternyata kebanyakan orang menyetarakan kebahagiaan dengan jabatan, besaran gaji, status pekerjaan, dan uang uang uang ya."
"Oh, ternyata selain berbeda mereka pun memaksakan nilai-nilai hidup yang sama ke orang lain ya."

Dan saya memilih untuk tidak memaksakan nilai-nilai hidup saya kepada siapapun. Lalu apakah semudah itu? mengingat saya disenggol duluan, hehe...

Jawabannya Tidak! Saya harus membangun jembatan empati yang begitu panjang. Menapaki selangkah demi selangkah perbedaan cara pandang. Diskusi sama suami. Terus berusaha maju untuk berempati pada mereka yang #kurangpiknik #eh #maap #nooffense

Because to be mature is not that easy

Sampai akhirnya tulisan ini diterbitkan di blog pribadi saya. Kami akhirnya semakin maju menapaki jembatan ini untuk berempati pada cara pandang yang jauuuuuh berbeda dengan kami.

Saya memang meninggalkan kemapanan (versi kalian), ninggalin mobil, status, gaji yang lumayan, tunjangan kesehatan yang almost unlimited, potensi bonus tahunan yang lumayan, dan bla bla bla yang ada di pikiran kalian. 

Alasannya? 

Bukan gak suka hidup mapan seperti itu, apalagi cuman buat cari gara-gara, tapi karena kami punya versi kemapanan sendiri. Which is not only about MONEY !
Sorry, my life has no price-tag!
Terima kasih banyak pada kalian semua yang merasa pernah memberikan reaksi-reaksi tak terduga, memberikan perhatian luar biasa, karena itu semua kami jadi lebih banyak belajar.

Kita sama-sama manusia, kita sama-sama hidup, tapi bagaimana kita menjalani kehidupan biarlah itu jadi hak prerogatif masing-masing. Berhentilah jadi manusia yang hobi mengusik apalagi memutuskan mana yang baik-buruk untuk orang lain, karena pada hakikatnya yang kita tahu tentang orang lain sungguh-sangat-sedikit.  Kenal diri sendiri aja belum tentu, kan?

Yuk, bangun jembatan empati, tapaki, nikmati, pelajari, sampai akhirnya mampu mengerti.

i wont give up on my own life. Wish "you" all do the same
Kita saling mendoakan kebaikan satu sama lain daripada nyinyir hehe...

Salam empati, gaeeeesss :*



Selasa, 31 Januari 2017

Perjalanan [?]

Ah konyol, masa iya harus kenalan dengan diri sendiri. Memang konyol. Tapi percayalah, akan lebih konyol lagi kalau ternyata kita bahkan tidak mengenal baik siapa diri kita. 

Akhir-akhir ini saya sering melakukan perjalanan. Perjalanan seolah tumbuh menjadi salah satu obsesi pribadi. Bukan karena jalan-jalan sedang jadi lifestyle yang boom, atau sekedar traveling memperbanyak check point (meskipun awalnya begitu), tapi lebih ke bagaimana membawa oleh cerita dari setiap perjalanan. Ternyata cerita-cerita tak terprediksi yang dialami selama perjalanan mampu membuat kita tumbuh semakin bijak, lebih mengenal siapa kita, dan akan kemana arah tujuan hidup sebenarnya. Bahkan membuat kita terhenti di sebuah persimpangan, sudahkah kita hidup dengan "benar" ?



Perjalanan tak hanya bercerita tentang perpisahan, pertemuan, perasaan, atau persinggahan demi persinggahan; tetapi juga menciptakan kekuatan-kekuatan baru saat kita harus pulang. Menciptakan kedalaman perenungan tentang siapa kita sebenarnya. Sudah pantaskah kita sombong? ketika begitu banyak orang-orang hebat kita temui. Sudah pantaskah kita disebut baik, kuat, santun, dan banyaak lagi gelar-gelar kehidupan yang ingin kita sematkan di raga kita masing-masing.

Dalam perjalanan bukan satu dua orang yang kita temui, mulai dari yang belum dikenal, teman lama semasa SMA bahkan semasa SD, sampai bertemu dengan orang-orang terkasih. 

Dari mereka yang belum kita  kenal, kita bisa sekejap merasa apa saja. Bisa merasa lebih kuat lalu jumawa, semisal ketika melihat gadis diantar mama papanya di bandara, "ah cengeng, ke bandara aja pake dianter!". Sekejap bisa merasa malu, ketika melihat nenek tua salah masuk lorong trolley saat pemeriksaan barang, dia sendirian dengan barang bawaan yang tidak sedikit. Di saat yang sama saya sedang merasa malas membawa barang yang menurut saya banyak dan merepotkan, padahal saya tidak sendirian. Nenek tua yang setulus itu meminta maaf kepada petugas bandara karena kesalahannya, petugas bandara yang mendadak sangat baiiiik hati, mungkin ia tengah membayangkan nenek tua itu ibu atau neneknya sendiri. Nenek itu mungkin menempuh perjalanan jauh hanya untuk menengok cucunya, melepas rindu pada anaknya, dan entahlah. Penerbangan yang berbeda membuat saya dan suami tidak bisa membantunya membawakan barang ke ruang tunggu. Pemandangan sekejap yang membuat saya sembuh dari "lelah" hanya karena hal sepele. "Nggak malu sama nenek tua itu?", batin saya menertawakan raganya sendiri.

Perjalanan yang kita labuhkan di rumah-rumah sahabat, membuat kita semakin paham, bahwa kita punya banyak perhentian saat kita lelah. Rumah mereka terbuka lebar hanya untuk menerima kita, melihat raga kita yang  mungkin tidak seperti dua tahun silam sebelum sama-sama terhanyut dalam kerinduan. Memeluk itu bukan gaya saya mengungkapkan kerinduan, canggung rasanya. Tapi entahlah kala tatap saling bertemu, selalu mampu mencairkan bekuan-bekuan di hati yang bernama rindu. Sahabat bukan hanya teman seperjuangan, mereka adalah salah satu rumah tempat saya pulang.  Padanya saya bisa menumpahkan apapun, bisa jadi apapun yang saya mau, dan mereka menatap penuh maklum. Ya, maklum tanpa batas. Perjalanan jauh bertahun-tahun tanpa satu kalipun pertemuan, tak mengurangi perasaan itu. Saya akan selalu pulang  pada mereka, sahabat-sahabat saya. Hei, kalian semakin kuat dan mempesona saja. Dari kalian, saya belajar kuat tanpa sok-kuat. saya belajar diterima tanpa memaksa. Belajar rela menunggu, meski untuk satu malam saja. Belajar ikhlas, datang dan pergi menjadi satu kepastian.

Keluarga - kata ajaib yang selalu berhasil membuat siapapun menjadi sangat sentimentil. Saya tidak terlalu paham bagaimana menyikapi institusi kecil yang sudah terlanjur terpisah-pisah ini. Kata yang selalu ada dalam impian, tapi tak juga membuat saya ingin pulang. Bukan karena kerinduan tak ada, tapi karena jiwa kadang tak sanggup menahan sesaknya kehilangan jiwa-jiwa mereka yang tenggelam dalam dunianya masing-masing. Ah, lebay. Tapi bukankah hak saya untuk merasa begitu? 
Lagi-lagi perjalanan begitu sakti menyembuhkan segala sesak tentang mereka. Dari perjalanan saya merasa tidak ada tempat kepulangan yang lebih saya rindukan selain ada di tengah-tengah mereka: keluarga saya yang begitu payah dalam mengungkapkan kasih sayang; keluarga yang terlalu kuat sehingga lupa kalau ada saya yang begitu cengeng; keluarga yang pantang menyerah pada takdir, yang kadang lupa untuk pasrah; keluarga satu satunya yang membuat saya menempuh perjalanan spiritual yang tak sedikit; keluarga yang amat sangat sungguh saya cintai; ah kalian ternyata 'rumah' ternyaman, meski kadang seperti sedang naik roller coaster ketika ada di sana, rumah yang bisa membuat tertawa, tegang, teriak, sampai menangis hanya dalam satu waktu. Keluarga yang bagi saya adalah perjalanan itu sendiri. 

Sudahkah anda melakukan perjalanan? bagaimana rasanya? Sudah saya duga, pasti menyenangkan !

Jumat, 04 November 2016

Tentang 411 : Jelaga yang sampai ke ibu kota

Jam dinding di kamar saya menunjukkan Pkl. 23.35 WIB.

Sedari pagi sampai detik ini, pikiran saya melekat pada 411. Begitu riuh pikiran, seolah banyak sekali yang terlihat, terbaca, terdengar, dan terasa.

Terlepas dari segala hal yang mungkin remeh-temeh: suami belum pulang karena lembur, hujan lebat, ponakan yang kritis, rindu keluarga, deadline laporan, utang janji esok, persiapan camping, persiapan mengajar, dan PMS.

Saat ini, entah dada rasanya bergemuruh, marah, kecewa, bukan karena itu semua. Tapi karena rangkaian #AksiDamaiBelaQuran411 yang ramai dibicarakan publik, baik melalui media sosial maupun media massa.

Saya tidak berani mengklaim diri saya sebagai muslim yang taat sehingga merasa berhak menilai atau menghakimi, saya juga bukan pengamat politik yang handal, apalagi seorang aktifis ormas islam.

Saya hanya seorang warga negara Indonesia yang beragama Islam.

Hari ini saya melihat banyak ironi. Aksi damai yang digelar jutaan muslim di ibu kota, dilansir sebagai aksi yang damai, tidak merusak, tidak rusuh, tidak membuat si pelaku aksi lupa kewajibannya sebagai hamba Tuhan, aksi yang mengharukan dengan lantunan shalawat, asmaul husna, sampai gema takbir, aksi yang terorganisasi dengan baik sampai-sampai ada tim pembersih jalan, aksi yang bertolak dari kesakithatian karena ada indikasi negara melakukan pengabaian terhadap kasus penistaan agama yang dilakukan oleh seorang pejabat publik.

Ironi, banyak teman sesama muslim terlihat begitu sibuk menunjukkan sikap sinis. Saya termasuk yang mengerti ketika ada yang tidak sependapat dengan jalan aksi damai ini, tapi sadarkah kita ketika berani menyatakan bersebrangan bahkan 'menghujat' aksi damai, di saat bersamaan bisa jadi kita telah berpihak pada sisi lainnya, dalam hal ini pihak yang dianggap "menistakan" agama yang kita anut.

Ironi, Bapak Negara yang juga muslim, enggan merangkul para ulama muslimin muslimat yang secara damai mendatanginya.

Bapak negara yan terhormat, kami tidak tahu banyak tentang apa yang tengah bapak pikirkan apalagi yang tengah bapak rasakan sekarang.

Tapi...

Pak, kami yang juga seagama dengan bapak tidak menuntut bapak berpihak penuh atas apa yang dituntut oleh aksi damai ini. Tapi bukankah bapak bisa sekedar menyambut dan menyatakan bahwa bapak hadir untuk mereka yang tengah lelah berjuang untuk agamanya, yang juga agama bapak?

Jangan salahkan kami jika kini kami teramat sakit hati. Teramat kecewa.

Hujan kembali turun, mungkin langit sedang berusaha mendamaikan jiwa jiwa yang marah. Atau langit pun mengamini kesedihan para muslim hari ini.

Wallahu'alam bii shawab.


Rindu (tapi)

Aku tidak menyangka akan berdiri lama dalam persimpangan ini.
Menatap perih, memeluk kesakitan yang teramat.
Tertegun dalam tanya, akan sampai kapan?

Duhai wanita, aku tetap menjunjung cinta ini untukmu.
Sampai kapanpun kan tetap begitu.

Andai kau lebih peduli pada relung yang penuh luka kecewa ini.
Mungkin tak sampai hati aku membuang muka.

Duhai wanita, doa akan tetap terpanjat.
Entah Tuhan suka atau tidak, aku masih saja tak usai kecewa.

Duhai wanita, aku rindu. Sangat merindu.
Tapi apa daya, aku terlalu takut kembali terluka.

Semoga kau tetap baik-baik terjaga lindungan Tuhan semesta.

4-11-2016


Sabtu, 22 Oktober 2016

Kucing [?]

Beberapa minggu terakhir, ada kebiasaan baru yang tanpa sadar saya lakukan: mengumpulkan tulang belulang ayam atau rusuk sapi, membuka pintu dapur, then i feed two cats which wait for its moment.

Sampai di suatu malam, suami saya mengatakan, "wah, yammi berubah ya. sayang kucing sekarang"

Oke, well ini bukan cerita yang istimewa mungkin untuk siapapun yang membaca blog ini, hehe..
Tapi di balik tulisan paragraf pertama serupa ada pelajaran untuk saya, si apatis, si pragmatis, dan hanya peduli pada hal-hal yang menurut saya "penting" saja. 

Seringkali...

Ketika suami saya beramah tamah dengan kucing-kucing di warung makan lesehan, saya akan langsung meminta suami untuk menghentikan hal itu. Bagi saya, itu mengganggu.
suami saya yang respectful to his wife biasanya langsung menghentikan "elusan" di punggung kucing yang terkantuk-kantuk nyaman, kucing-kucing lalu tetap mengiba menatap wajah suami saya mengemis belaian, haha.. Meskipun dia tetep nyolong-nyolong ngelempar-lempar tulang ke si kucing. And i dont like that (at that time)! 

Another scene...

Di ruang dosen sering ada kucing meong-meong ketika kami makan. kucing memang ajaib, dari kejauhan aroma ikan, ayam, dan rendang tercium begitu saja. Reaksi saya? ngomel seperti emak-emak ngomelin anaknya. Mungkin dosen lain ngebatin gini: Duh kasian kamu, cing. hahaha...

Special case: malaikat kucing.


Ini terjadi di idul adha lalu, saya dan suami sambangi kerabat suami. Di rumahnya berkeliaran kucing berbijibiji. And you know what? Di ruang tamu bahkan dipajang foto kucing sekeluarga alias kucing semua emak bapak anak cucu, segede gaban. Bukan seperti rumah kebanyakan yang justru majang foto keluarga, hehe..  
Sampai akhirnya saya beranikan bertanya, "suka banget kucing ya, Pak?"
Pertanyaan yang mengundang jawaban berparagraf-paragraf. Singkatnya, yang suka kucing awalnya adalah si bapak. Tapi semakin kesini si ibu lebih cinta sama kucing dibanding dia. 
Yang menarik adalah statement tambahan dari si ibu:
awalnya saya gak suka sama kucing. sering ngusirin kucing. Tapi pas kucing-kucing itu nyambut saya sepulang dari pasar, keliatan seneng saya kasih makan, saya malah jd sayang mereka. 
Whattt??! Sayang?!

Konon katanya, si kucing-kucing itu kalau si ibu alias sang majikan lagi nonton tv ngerubunin badan si ibu, bermanja-manja, dan all the cats has a name! Sampai si ibu dengan cerah ceria menceritakan si anu manja, si anu cuek, si anu anarkis, si anu sensitif, si anu rakus kalo makan, si anu pencemburu.

Helloooooo mem, lagi ngomongin kucing apa ibu-ibu arisan??? But its REAL STORY i've ever heard.

Dan satu klimaks ceritanya: saya begini belum apa-apa bu, tetangga saya pernah nangis gak keluar rumah. matanya bengkak. pas kami ke rumahnya nanyain kenapa karena tumben gak keluar-keluar rumah, ternyata dia nangisin kucingnya yang mati. OMG! Sayaaah speechleesss pemirsa indosiaaarrr.

**

Lalu apa guna saya ceritakan ini semuaaaahhh?? Gak tahu! haha..

Begini...

Manusia hidup dengan rentetan kebutuhan. Banyak ahli juga teoritikus dalam bidang psikologi yang membuat teori tersendiri tentang kebutuhan. Dan saya gak akan bahas teori itu disini hehe..

Sederhananya, kebutuhan kita sebagai manusia diantaranya adalah butuh merasa dicintai dan dibutuhkan. 

Ketika melihat kucing mengeong, sibuk berlari dengan tatapan antusias, lalu lahap menyantap makanan yang kita berikan, ternyata rasanya nikmat. I am happy. saya merasa berguna. saya merasa diakui sebagai manusia #eaaaa.

Bahkan kucing bisa mengubah perasaan "acuh" menjadi "peduli". 

Bayangkan apabila rasa dicintai-mencintai, diakui-mengakui, memberi-terimaksih, saling-peduli itu sampai-tersampaikan dari dan oleh kita, kepada orang-orang yang membutuhkan, kepada orang-orang yang memang haus kasih sayang, haus bimbingan, ingin didengar, rindu kepulangan, mencari ketenangan, mengiba kekuatan.

Ah mungkin tatapan mereka akan lebih indah dari tatapan kucing-kucing itu.

Usahlah sombong wahai manusia,
nyatanya kucing kampung yang berlarian menghampiri saya dan tulang belulang yang tidak seberapa, lebih bisa mengajarkan tentang bagaimana 'membahagiakan' dan menunjukkan cinta juga rasa terima kasih.

Lets make friend, cings! :)

Senin, 12 September 2016

Selamat datang mahasiswa, di sebuah persimpangan kehidupan!

Tulisan ini bisa dikatakan rangkuman jawaban atas pertanyaan yang beberapa kali saya dapatkan dari para mahasiswa, teman, juga kolega: mahasiswa yang baik itu seperti apa?

Didedikasikan untuk siapapun yang sedang duduk di bangku kuliah, bangku yang paling menyenangkan sedunia.

Selayang pandang

konon katanya mahasiswa adalah makhluk defisit dalam rentang 2-5 tahun, bahkan ada yang sampe 7 tahun. Meskipun sekarang negara kita punya kebijakan lain tentang masa studi maksimal di setiap jenjang. Sebetulnya, 'defisit' itu karena sebagian mahasiswa memang tidak menghasilkan apa-apa, aktifitasnya seolah hanya belajar dan meminta uang pada orang tua saat jatah bulanan menipis, laporan harus bayar SPP di tanggal sekian, bayar kosan bagi yang ngekos, dan bayaran bayaran lain di luar dugaan mama papa di kampung. 

Padahal, jika ditilik dari segi usia dan kematangan, mahasiswa seharusnya sudah melakukan 'produksi'. Produksi yang dimaksud semisal menghasilkan ide, menghasilkan uang, dan sudah tidak bergantung pada orang tua untuk urusan ini itu *kecuali restu untuk menikah bagi para jomblo #eh!

Lha, tapi kan mahasiswa tugasnya banyak. Dan kalau kebagi waktu sama kerja, cari uang lewat bisnis, atau apalah apalah gimana donk nanti molor kuliahnya. 

Siapa juga yang nyuruh pontang panting banting tulang pas kuliah? meskipun faktanya banyak tuh yang biayai kuliah sendiri, bahkan sudah berani memutuskan menikah, tanpa minta orang tua, dagang donat, dagang kerupuk, dagang ini itu (yang penting halal), dan lulus cepet dengan nilai sangat memuaskan bahkan Cum Laude! Ini fakta, bukan gurauan, banyaaaaak mahasiswa yang model begini tersebar di kampus-kampus terbaik negeri ini.

Status Mahasiswa 

Sebuah status yang membingungkan. Tidak mudah memang jadi mahasiswa. Disebut sekolah, udah nggak berseragam. disebut nggak sekolah, tetap ada ujian tulisan dan lisan. apalagi disebut dewasa juga belum bisa cari duit sendiri, masih kring kring mama papa.

Kita perjelas aja sendiri. Maha dan siswa, ada kata 'maha' sebelum kata 'siswa'. Kalau boleh saya artikan, mahasiswa itu siswa yang masih butuh diajarin, diarahin, diuji, dan 'disayangi' dengan perlakuan berbeda dengan siswa sekolah. Oleh karena itu, jangan heran kalau 'gurunya' yang sering kita sebut dosen, membutuhkan feedback berbda dengan siswa sekolah.  Level tinggi stimulasi nya, level tinggi juga responnya, perguruan tinggi nama sekolahannya.

Petuah si mantan mahasiswa

Intermezo yaa, saya kalau di kelas, selalu sampaikan ini ke mahasiswa:

"Nilai itu angka. Angka itu tidak selalu mampu menggambarkan kemampuan aktual kita. Kenapa? Karena yang memberi angka itu dosen yang notabene manusia biasa, bisa jadi salah, bisa jadi berlebihan, bisa jadi berkekurangan. Ketika mengejar nilai di level perguruan tinggi, itu nggak banget! "

"Pada akhirnya, yang harus kalian jawab selepas lulus dari perguruan tinggi, bukan pertanyaan: Hei, sarjana, nilai kamu berapa? TETAPI  Hei, sarjana, kamu bisa apa ?!" 

"Kuliah bukan hanya tentang secepat apa kamu membaca buku teks, atau sepintar apa kamu menjelma jadi makhluk jenius. Tapi tentang bagaimana kamu mulai mengenali hidup, meyakini prinsip yang kamu pilih, memperjuangkan tujuan hidup, bagaimana bijaksana terhadap keterbatasan dan kekurangan, serta bagaimana kamu memperkaya PENGALAMAN BELAJAR"

**
saya nyampein paragraf demi paragraf di atas secara random tergantung momen yaa pemirsa indosiar, nggak merepet ala emak-emak marahin anaknya, bukan juga ala motivator kelas dunia yang meletup-letup di panggung. 

aku mah apa atuh, dosen baru yang terus belajar mengenali kehidupan #eaaaaaa!


Mahasiswa yang BAIK

Sukses bagi si rajin. 
Kenal tulisan di atas? Iya, itu tulisan di footer buku tulis zaman saya SD. hehe..
apakah harus selalu rajin biar bisa disebut mahasiswa yang baik? Jawaban saya sebagai si mantan mahasiswa dan dosen muda adalah TIDAK!

Rajin itu harus sebagai wujud konsistensi, tapiii bukan berarti geraknya jadi statis lho. Mahasiswa yang baik itu harus DINAMIS. Bukan melulu baca buku, kuliah, pulang, kuliah, pulang. Duh, ngebosenin!

Mahasiswa yang katanya agent of change, ayo keluar kampus selepas kelas perkuliahan usai. Bangun keahlian, bangun relasi, bangun jiwa kepimpinan kalian!! Dunia butuh makhluk berkompetensi, bukan hanya memiliki potensi yang 'impoten'. Aktualisasikan diri sebelum dunia merenggut kebebasan kalian. *ngomong ala-ala proklamator!

Kejar lulus cepat, dengan cara yang hebat! 


Jadi.... in my humble opinion, mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang bisa menjawab:
  • Apa tujuan hidup saya?
  • Kenapa saya harus kuliah?
  • Berapa lama saya harus kuliah?
  • Apa yang bisa saya lakukan dalam perkuliahan?
  • Apa yang bisa saya lakukan selama saya tidak kuliah di kelas perkuliahan?
  • Apa yang tidak boleh saya lakukan selama saya kuliah?
  • Apa kekurangan dan kelebihan saya? 
  • Bagaimana cara saya meng-upgrade diri?


Epilog

Hari ini, hari pertama masuk kelas lagi di semester baru. Selalu ada harapan dan doa baru bagi para mahasiswa semester anyar. Berharap mereka yang hari ini masuk ke perguruan tinggi, bisa lulus dan keluar sebagai makhluk yang memiliki kemampuan untuk hidup dan menghidupi. 


Ruang Dosen, 13-09-2016









Sajak Hujan di Awal September

Carut marut sepekan yang membuat perempuan ini hampir gila.

**
dia, yang masih meninggalkan genangan kenangan.

pagi ini, lagi lagi secangkir kepahitan masa lalu dan harapan yang menggantung harus kuseruput dalam diam.
sejenak menatap jelaga yang tak ayal menghantam luka yang selalu aku coba sembuhkan.
serupa telaga merah pekat yang tak mengering, dia terus menjelma menjadi sosok yang tetap tinggal di tepi ujung pandangan.
ah, kapan semesta kan merelakan kisah ini mengalir saja tanpa bekas.

**
dia, yang terus menerus menaburkan garam di atas hamparan darah segar yang mengalir karena kebencian akan takdir. Kenapa dia tak jua mengerti dan memohonkan ampun!

dia bersalah, Tuhan.

kuadukan segala perih ini padamu hampir di setiap malam, bukan?

bodohnya aku hanya mampu berteriak dan menggemakan amarah di mimpi, 
ah, betapa sulitnya keluar dari lingkaran memuakkan ini.

**
dia, yang entah apa yang dia lakukan. penuh sia-sia dan memupuk rasa bersalah di pelupuk senja yang aku punya. aku telah dan tengah meminta maaf. tapi benarkah, dia telah memaafkan?
sungguh aku telah terjebak dalam permainan yang tak menyenangkan. 

**
kamu, malaikat gagah yang tetiba datang dalam sepi. tubuhmu hangat menghangatkan. tatapanmu membuat gemuruh jiwa mereda. aku teduh dalam menatapmu. aku merasa sembuh. 

sesekali sakit demi sakit itu terasa lagi. dan kamu datang serupa pahlawan menenangkan dengan sebuah pelukan. 

kau tak membungkam mulutku kala aku hilang kendali berteriak di penjuru lamunan, kamu kokoh berdiri di hadapan sembari tersenyum dan tak bosan membisikkan - kamu akan baik-baik saja bersamaku, perempuanku!

Tuhan, apa lagi ini?! teganya kau hadirkan perempuan sepertiku dalam kehidupan lelaki sebaik  kamu. 

jiwaku memberontak tak tega melihatmu, lelaki. Luka ini takkan pernah sembuh!
dengan penuh yakin kau sampaikan, "kau tak perlu sembuh, karena aku tak pernah melihatmu sakit. kau hanya terluka. dan takkan kubiarkan luka itu bertambah. aku tak akan membuat luka itu terus menganga kesakitan. aku akan membuatmu hilang ingatan tentang masa lalu apapun di kedalaman luka-luka yang kau punya, perempuanku!" 

Aku bisa apa ketika aku kini serupa perempuan yang sibuk menimbun lubang-lubang luka dengan kebahagiaan yang sejak awal kamu janjikan. 

Ternyata ada kamu yang tidak seperti dia, dia, dan dia yang sesekali datang bersama genangan kenangan yang memilukan. 

Kamu, terima kasih banyak!
Kamu benar, aku akan baik-baik saja, selama kamu ada. Tetaplah di situ, jangan pernah menjelma menjadi mereka yang menyakiti.


- Teras Kenangan, 13 September 2016


Jumat, 09 September 2016

Rindu kamu, dik!

Dik, sedang apa? 

tadi malam kamu datang di mimpi kakak. entah karena sudah terlalu rindu kakak padamu, atau karena kamu sedang memanggil-manggil entah siapa untuk memeluk sepimu di sana. 

dik, tadi malam kamu datang dengan penuh senyum, seakan senang kita bisa kembali bertemu. kita mengobrol di balkon, kamu bilang kamu lapar. lalu kakak buatkan makanan untukmu. kamu bilang kamu lelah menempuh perjalanan jauh. kamu terlihat penurut sekali, langsung membersikan seisi rumah kakak. 

kamu menjelaskan banyak hal. kamu bilang kamu ingin berubah lebih baik. kamu ingin menuruti semua yang kakak minta. senyummu, manis sekali dik. semanis harapan dan doa kakak untukmu. 

di sofa balkon, kakak memarahi kamu seperti biasa. kakak begitu lihai menunjukkan betapa cerewetnya kakak. begitu panik menunjukkan kepedulian kakak padamu. malam tadi kamu tidak marah atau melengos seperti biasanya, kamu malah menunjukkan simpul senyum. kamu terlihat mengamini semua kalimat yang kakak sampaikan. 

Sebangun tidur, ada sesak di dada. Ternyata hanya mimpi. 
Dik, mungkin kita saling merindu. Dan terus berusaha untuk melawan perasaan yang terus tumbuh meronta menuntut temu. Tapi kita telah pandai saling membunuh rindu dengan menenggelamkan jiwa pada dunia kita masing-masing. 

Dik, jaga diri baik-baik, dimanapun kamu berada dan apapun yang kamu lakukan. 
Kakak pun disini akan menjaga diri baik-baik. Dan tak pernah lelah mendoakan kebaikanmu, dik. 

Atas nama cinta yang mungkin tak pernah genap tunai padamu, dik. Kakak sungguh berharap segala kebaikan menyelimuti hidupmu dan akhiratmu, kelak.

- the day, 10-09-2016

Minggu, 28 Agustus 2016

Untukmu, Ra. Terima kasih banyak!

Kita bertegur sapa hanya sesekali, tak ada romantisme dalam persahabatan kita. 
Tapi kau sudah membantuku banyak, sangat banyak.

Kali ini kita begitu lancar saling menguatkan. Kita berada pada pijakan yang sama. Sama-sama sulitnya, sama membingungkan, juga teramat pelik untuk kita bahasakan.

Kita sama-sama menerjemah rasa. Kita tengah sakit. Kita tengah merintih berusaha kuat menjalani hidup. Bukan karena kita tidak bahagia, tapi karena ada yang menuntut kebahagian lain yang justru membuat kita tersakiti.

Ra, kau jauh disana. Tapi aku merasa kita sangat dekat sore ini. kamu memeluk erat segala curahan hatiku juga menggenggam erat curahan hatimu.

Ah, kau memang lebih pandai memaknai hidup. 
Ini bukan kali pertama aku menghubungimu ketika aku butuh sandaran.
Tapi kali ini ada rasa yang berbeda. Kau pun menghadapi persimpangan yang sulit. 

Aku tahu kau jauh lebih kuat. Nyatanya memang begitu. 
Dengan badai perasaan seperti itu, kau masih bisa berdiri tegak, menggemakan prinsip sepercaya diri biasaya. Ketenanganmu, selalu saja bisa membuatku iri.

Ra, kamu benar, kita tak boleh salah arah. Kapal yang sedang kita naiki adalah kapal yang begitu kokoh juga baik. Tak usah lagi kita terlalu peduli dengan kapal-kapal lain. 
Sekalipun itu kapal tempat kita dibesarkan.

Nyatanya, Tuhan punya titah lain untuk kita. Sebuah titah yang lebih harus kita tunaikan: hidup sebagai ratu yang menjadi pakaian dan pendamping setia raja; taat padanya; juga rela atas semua perjalanannya.

Kita tak lagi harus memikirkan arah lain selain sebuah arah yang sekarang kita tuju.

Aku bangga padamu, juga meyakini obrolan kita sore ini akan menjadi saksi betapa patuh kita pada amanah untuk setia mengumpulkan kekuatan demi kekuatan, keyakinan demi keyakinan, menuju tempat keabadian [nanti].

Doaku menyertaimu, Ra. 
Meski mungkin tak sebanding dengan lirih doamu untukku.


Selasa, 16 Agustus 2016

Todays Circle

sorry, i am not in your circle.

**
such a running text on mind,
you who has full of hatred to others happiness,
as if you know anything but not at all,
you who really like to criticize and never look back to how bad you are
you who trap into a full of hatred to others happiness,

**
well, i act like there's nothing's wrong between people like you and me.
i just pretend to...
because you're not powerful enough, and doesn't give any significant influence that can make me show something the same or opposite with what you do.

**
yes, i am sorry. because we're not in the same circle.
go on with your bad attitude, so do i go on my own way to always do a good life.

i am just a peace maker and will always try to find my own piece.


Minggu, 31 Juli 2016

Moment to Remember: Dua Puluh Tiga Juli

Siapapun yang muslim, pasti sependapat bahwa pesta ulang tahun bukan bagian dari ajaran islam. meniup lilin, potong kue, nyanyi-nyanyi, dan serangkaian lain yang kita semua tahu. sering kita sebut pesta ulang tahun. 
kenapa harus pesta, ketika jatah hidup semakin berkurang dan semakin dekat dengan kematian.
begitu kata mereka yang intoleran, pernah dengar kan?

Minggu, 20 Juli 2014

Rute hidup, somehow too mainstream :)

Perjalanan serius dimulai dari status 'mahasiswa'. 

Makin dramatis transisinya kalau kuliahnya dj luar kota alias merangkap jadi anak kos. Cerita balada 'mahasiswa' 
 --> mulai serius pacaran. Meskipun makna 'serius' dalam pacaran itu BLURED. 
 ---> skripsi. Banyak yang galaunya parah ancur-ancuran pas ngerjainnya. Hehe.. pertarungan mental. ---> lulus jadi sarjana. Eh senengnya bentar. Kenapa? 
Soalnya Kudu ----> nyari kerja. Atau kalau masih males kerja bisa juga ---> lanjut S2. Udah lah ya pasti ada alasan personal di tahap setelah lulus sarjana, mw kerja atw lanjut studi. 

Termasuk alasan berikut ini! 
 ---> menikah. Banyak yang terlalu banyak pertimbangan bahkan perfectionis milih pasangan. Akhirnya pending agenda menikah. Banyak juga yang ambil keputusan cepat menikah. Bahkan sebelum lulus kuliah. It's all OK. Banyak yang menikah karena udah malu ditanyain "kapan nikah?" Sama tetangga/teman/sopir angkot #apeuuusih. Ini alasan yg Duh, memprihatinkan. 
Pernikahan terlalu serius untuk dilandasi ini doankkk... come on! 
Percayalah, pernikahan itu fase yang harus diseriusi. Mulai dari memilih pasangan, merancang visi dan misi, pahami ilmunya.
Kenapa??? Simplenya, karena pernikahan bukan untuk sehari dua hari. Dan bukan cerita yang bisa semudah ditulisin di skenario FTB yg seepisode selesai. So please, cari alasan yang lebih valuable ketika memutuskan menikah. Setelah menikah?

----> punya anak. Insyaallah. Apa bisa alasan abal-abal semisal nikah gara-gara udah nggak nyaman ditanya orang-orang membuat kita bisa mendidik anak? 

Orang tua alias kita calon orang tua itu adalah pihak pertama dan utama yang membangun peradaban. Anak-anak kita kelak perlu orang tua yang luas ilmunya, keras kerjanya, dan tak berbatas keikhlasannya. Ah berat ya. Tapi untuk hal istimewa dan luar biasa memang perlu usaha yang nggk biasa. Semoga kita semua termasuk calon-calon orang tua yang mampu menyiapkan diri untuk jadi orang tua terbaik. Sejak saat ini. Amiin 

Jumat, 18 Juli 2014

#LDR - an ? Siapa takut? Saya!!

Cerita tentang LDR yang lumayan ngobrak ngabrik ketenangan jiwa. Banyak pelajaran yang bisa diambil lho. Kyaknya, hehe...

Jadi begini. Tulisan ringan kali ini mau ngomongin tentang kisa saya dengan suami bergenre #LDR alias Long Distance Relationship. Fiuh!

Saya dan suami ketemuan di forum rapat salah satu organisasi jurusan tingkat nasional gitu. Jadi peserta forumnya biasanya universitas lintas provinsi, lintas pulau, lintas jiwa juga, ciyeee.....

Episode pertama, kami temen biasa. Profesional aja gitu ya. But #FYI dia panitia yang jemput saya dan kakak tingkat di Terminal Kota Malang. Tahun 2008 kejadiannya.

Episode kedua, si suami PDKT pas kami sama-sama jadi steering committee untuk acara di Jember. Tahun 2010 kejadiannya. Jadi kemana ajjeee mas selama 2 tahun baru PDKT-an ?? Hehehe...

Episode ketiga, kami jadian via telepon. Tahun 2010 kejadiannya, tepatnya di bulan #Oktober. Kami resmi #LDR-an. Ehm! Pasang status "in a relationship with" gitu di facebook. Masa masa alay gitu deh ya. Hihi..
*banyak fans kecewa kala itu hahahaha..

Episode keempat, putus via telepon di bulan Desember 2010. It means kami jadian dan kami putus via telepon tok! Cuman 3 bln dah itu status "in a relationship with" dipajang. #FYI waktu itu saya minta putus gara-gara dia nggk telepon saya seharian di hari saya akan seminar proposal skripsi. Niat bercanda minta putus untuk gretak sambel doank, eh dianya malah setuju putus. Jlebbbb nya emejiiiinggg gan/sist! Wkwkwk
*fans yang kecewa ngetawain kyaknya. Duh. Pedih.

Episode kelima, kami berteman. Meski masih ada perasaan #ngarep #malesbalikan #salingmodus. Di tahun 2011 dia ke Bandung menghadiri acara LPJ-an saya. Profesional reason ceritanya. Dan di tahun yang sama saya ke Malang (lagi) untuk liburan ke Bromo juga wktu itu. Yaa... banyak modus lah. Hehe.. episode ini seru. Kami akhirnya larut dalam pertemanan yang juga sebagian besar dijalani #LDR. Dia partner diskusi dan becanda yang super duper seru. Nyambung lah ya kalo kata orang-orang mah. Hihiiww..
Di episode ini juga ada pengakuan kalau dia nggk punya pacar setelah putus di bulan desember lalu. Wow!!! Katanya sih gara-gara nggk minat pacaran. Tapi sampai sekarang masih agak nggk percaya jg hahahhaha... sorry honey :*
Kalau saya? Ya menyeleksi beberapa lah dan gagal. Haha...
Intinya temenan lah gitu. Best friend hehe..

Episode keenam, dia sms saya kalau dia udah kerja dan ganti nomor. Ya sms-an chitchat gitu deh. Si saya lagi galau putus cinta. Dia datang di waktu yang tepat gitu deh. Wkwk...
Lucunya. #Oktober dia bilang mau serius sama saya. Nggk mau pacaran nggl jelas. agak trauma sih karena harus #LDR an lagi. Riau - Bandung. Beda pulau. Hmfhh... akhirnya memutuskan untuk "istikharah" lah. Nyebelinnya dia tdk melakukan hal yang sama. Shalat sunah yang diamalkan di Riau sana malahan shalat hajat. "Udah yakin" katanya. Ah, tersanjung 8 lah rasanya. Wkwkwk.

Tapi saya tetap harus istikharah, karena laki-laki jangan dulu dipercaya kalo belom akad nikah. Entah beneran religius atau kapok digombalin. Haha..
Alhamdulillah, hati rasanya yakin dan mantap. Akhirnya saya said Yes! LDR-an lagi mameeeeeeeeen. Argh!

Episode keenam ini cukup unik. Januari dia ke bandung. Kami menghadiri pernikahan teman. Di acara itu orang tuanya juga hadir. Dan menanyakan keseriusan saya. Aneh ya? Kok perempuan yang ditanya serius apa nggk, haha...but no problem. Intinya, saya yang masih semester 2 untuk studi S2 cukup shock. Nggk kepikiran nikah sebelum lulus mammmmm. Tapi etapiii No reason to ignore the good will of the question.
And then, #LDR an lagi.

Agustus 2013 pas lebaran dia dan keluarga datang melamar. Jarang ketemu, tiba-tiba lamaran. Dan setelah itu? #LDR an lagi.

Pertemuan selanjutnya: kami menikah di bulan Januari 2014.

Alhamdulillah episode keenam ini ditutup dengan pernikahan. Unbelievable. But awesome feelings!!!

Selamat datang episode ketujuh.

Episode ketujuh, saya yang masih harus menyelesaikan Tesis harus kembali ke Kota Kembang 2 minggu setelah pernikahan. Episode dengan #LDR paling bikin jlebbbb! Rasanya beda. Kangennya pooollll. Pedihnya aduh. Lebay ya? Hehe...

Pelajaran pertama: jangan #LDRan kalau nggk kuat. Haha..

Ya.. gitu deh. Segitu dulu ya.
To be continue....... :)

Salam #LDR.



Menengok Mimpi

Tentang mimpi yang masih belum tunai aku sampaikan, "aku akan tetap dengan harapan dan keyakinan bisa memelukmu kelak. Ketika Tuhan mengizinkan"

Seperti kamu, aku pun punya list mimpi. Berderet panjang mengisi lembaran-lembaran yang menanti "checked-list".
Ya, meskipun tidak bisa dipungkiri telah banyak mimpi yang sudah berhasil ditunaikan.

Hm.. mungkin list mimpi itu yang akan membuat kehidupan kita selalu hidup.

Mimpi.

Aku sudah tidak asing lagi dengan kata-kata itu. Sudah akrab bahkan sudah sering berdialog tentang dinamika perjalanan menujunya.
Gagal? Cukup sering. Berhasil meraihnya? Alhamdulillah beberapa.
Aku termasuk yang meyakini, tidak ada yang tidak bisa dilakukan dan ditaklukan. Asalkan kita mau mengupayakannya secara maksimal!
Meskipun nyatanya keyakinan itu "blured", kalah oleh hal-hal lain yang kurang penting. Tak apa kalo itu terjadi sesekali mungkin?

Hmmm..
Tulisan ini penting nggk penting, hehe..
Sudah lama tidak menulis. Hanya ingin merasakan lagi nafas "pemimpi" yang sudah cukup lama tertidur pulas tanpa mengindahkan langit mimpinya.

Jari jemari kembali kaku. Pikiran terasa kaget. Enggan menoleh masa lalu yang nyatanya lebih hidup, karena punya harta karun yang sempat terabaikan bernana "mimpi"

Semangat kembali ketika suamiku berkata, "never too late to follow your dream."
Yes honey, i'll find a bigger dreams ever!

Insyaallah.

Uly.

Kamis, 13 Februari 2014

Ah, dasar manusia!

Adakah hidupku lebih sulit dibanding hidup orang lain? Atau sebaliknya?
atau...
Adakah hidup mereka lebih indah dibanding hidupku? Atau mungkin sebaliknya?
atau...
Kehidupan siapa yang lebih layak untuk diinginkan?

*
Sederet perbandingan kehidupan seringkali hadir tanpa diundang dalam keseharian kita. Pertanyaan yang seolah membenarkan bahwa kehidupan seseorang lebih mudah dari orang lainnya. Kehidupan satu lebih membahagiakan dibanding dengan kehidupan lainnya. Hingga sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kehidupan seseorang adalah kehidupan impian setiap orang.
Ilustrasi yang tidak seharusnya terjadi, tapi seringkali tercatat di alam bawah sadar seseorang, bahkan sampai menjadi sebuah keyakinan.

*
Jika sudah diyakini bahwa kita layak membandingkan tingkat kemudahan, kesulitan, dan kebahagiaan antara satu kehidupan dengan kehidupan lainnya. Lalu bagaimana dengan keyakinan kita bahwa Tuhan itu Maha Adil?
Dan bagaimana dengan sebuah keyakinan bahwa satu-satunya yang perlu disyukuri adalah kehidupan itu sendiri.

Ah, dasar manusia!

*
Berhentilah tergiur dengan sketsa euphoria semata. Sungguh, kehidupan tidak hanya tentang mengejar dan mendapatkan candu-candu yang semarak mengundang gelak tawa dan pesta. Cintailah kenyataan bahwa satu-satunya yang layak ditinggikan adalah kenyataan dalam senja dan mimpi di setiap pagi yang kita miliki; bukan atap langit ataupun taman bumi milik orang lain.

*

...rasanya tak pantas mencederai kesempurnaan hidup kita dengan keinginan memiliki hidup orang lain. Nyatanya, tak ada hidup yang lebih sulit ataupun lebih mudah. Tuhan tak sebercanda itu memasangkan sebuah takdir atas sebuah kehidupan."


- Bandung, 13 Februari 2014.

Senin, 10 Februari 2014

KEYEUP IS MY GANK!

Pernah ngerasain susah move on? Yakin deh, hampir pasti, semua pernah ngerasainnya. Kalau disurvei, susah move on dari pacar itu pasti menduduki nomor wahid, juaraaa umum keknya.
But, see me! Sampe sekarang si aku masih sungguh sangat susah move on dari Keyeup – my gank. Hiks.. Heiii! I’m serious. Bukan susah move on dari mantan apalagi gebetan, tapi dari mereka semua. These are Keyeup. I miss them so badly.. T.T

kiri ke kanan: hasyonk, pionk, malcok, uly (Me), oozh, qisthi, anis. ^^





Ngomong-ngomong soal move-on, berkaitan erat dengan kehilangan, kepergian, disakiti, menyakiti, atau perpisahan. In my case, yang terakhir itu alasannya. Kami dipaksa berpisah. Dipisahkan oleh masa studi yang berakhir, mudik ke tempat masing-masing, menata masa depan masing-masing, nyari jodo masing-masing (untuk yang satu ini emang nggk boleh rebutan, hehe...), merelakan diri masing-masing untuk menjalani kehidupan baru sebagai orang dewasa. Sigh!

Sebelum lanjut cerita, i’ll put some notes: aku termasuk orang gengsian, tapi entahlah Keyeup ini bisa meruntuhkan kegengsian ini. Dan menggiringku untuk mempublikasikan tulisan bernada kerinduan mendalam kek gini. Tapi yaaa mereka di  somewhere out there bisa jadi merasakan perasaan yang lebih akut malahan, :p
**
Malem ini entah malem keberapakalinya ngerasain kangen akut sama mereka. Dan akhirnya daripada depresi, aku tulis aja semua memori yang mengikat di otak ini. Nggk semua denk, sebagian kecil aja tepatnya. Kalau semua memori tentang kami ditulis, nggk akan kuat jari jemari ini mengetiknya, huoooooo~
***
Keyeup! Nama yang absurd untuk gank perempuan di era modern  abad century ini. Ada yang tau artinya apa? Keyeup itu bahasa sundanya Yuyu, modelnya kek kepiting tapi body-nya agak minimalis gitu lah nyak, sukanya idup di selokan. Kek ginilah kurang lebih. Cekidot!
Singkatnya: masih belum jelas kenapa milih nama itu. Yang jelas ada beberapa laskar keyeup yang berfilosofi keyeup bisa nyembuhi berbagai penyakit akut, keyeup bisa disingkat key-up: kunci kenaikan, keyeup nggk mainstream, dan banyak lagi, dan semuanya NGARANG. Haha.. but we’re all enjoy those fake philosophy.. :D
**
Kami jadian #eh bareng-bareng maksudnya sudah hampir tujuh tahun, sejak 2007. Kalau cerita tentang sejarahnya, bakalan lama. Lagian, kurang suka ngomongin sejarah, hehe..
Banyak hal yang sudah dijalani, bersama. Dari kebersamaan yang sudah dilewati kami banyak menciptakan filosofi-filosofi hidup yang kadang fiktif belaka, kekonyolan yang luar biadab, saling menunjukkan kehebatan, saling menertawakan, traveling, backpacking, kerja kelompok juga sering, mengikuti mentoring (red. Kajian keagamaan), dan banyak lagi yang nggk bisa dibahasain. There’s a lot of memorable things...
**

Here they are..
#1 Anis

Dari anis, aku banyak belajar tentang bagaimana jadi perempuan yang baik-baik. Bisa dikatakan, anis ini adalah laskar keyeup yang paling waras jasmani dan rohani. Beberapa keyeup memanggilnya “mama anis” bukan karena dia tua, tapi karena sosoknya yang keibuan. Hal-hal positif hampir abis sama laskar keyeup yang satu ini.
*) Btw kenapa daritadi aku sebut ‘laskar’ ya? Ah biarin lah, masa iya nyebut ‘anggota atau peserta keyeup. Kurang greget lah. Biar aja lah biar serada gagah, laskar keyeup. Jangan pada protes lho ya!
Lanjut lagi. Tentang anis, arti kata ‘baik’ itu bukan formalitas. Anis banyak ngajarin kebaikan tanpa menggurui. Syukurlah masih terselip makhluk yang hati dan otaknya bercahaya di tengah-tengah kekacauan gank kami – Keyeup. Anis jarang keliatan panik, hampir nggk pernah ngerepotin orang, lembut tapi mandiri, kalo deket anis berasa ada di mesjid: tenang rasanya. I Heart u so, anis..
Lanjut ke..

#2 Lia – Hasyonk.

Lia yang hampir selalu dipanggil hasyonk ini keyeup yang paling ababil kali ya. #eh. Kenapa ababil? Karena dialah satu-satunya keyeup yang kalau suka sama sesuatu itu sumpah ya, kayak orang kecanduan. Dulu waktu kami S1, mahasiswa lho, tapi dia bisa kecanduan K-Pop. Dan parahnya dia menularkan candunya itu ke seluruh gank. Aku juga hampir aja kena, dan kena akhirnya. Tapi bisa segera bertobat. Selain itu, yang terbaru dia suka sama motif apalah itu kek bunga-bunga vintage. Sama juga kyak kecanduan. Hadeuuh.. tapi ya itulah dia. Dia juga termasuk keyeup yang paling lucuuu sedunia, Sule aja bisa kalah lucu sama laskar keyeup yang satu ini. Apalagi kalau udah berpose ala model, atau berperan jadi penyanyi dangdut. Nendang Gan! Hahaa.. Dan dari dia, aku belajar tentang bagaimana menikmati hidup, belajar enaknya jadi anak kecil, dan menyukai hal-hal yang nggk formal. Semoga kehidupanya selalu dilimpahkan segala candu yang baik-baik. Sebuket sayang untuk kamu, Shyonk.
Lalu..
#3 Mala
Mala ini sering dipanggil malcok di periode terakhir-terakhir, hhi.. laskar keyeup yang satu ini penggila warna ungu. Kadang aku mikir  kalau dia ini salah pilih warna kesukaan. Karena gara-gara suka ungu ini kali ya dia masih aja jomblo ampe sekarang. Bwhahahahaa... Piiiss Cok.. ^^)v 
Ganti warna gih. Bwehehehe..
Hmmm.. laskar satu ini nggk ada yang ngalahin keras kepalanya. Hadeuh, entahlah harus pake apa biar kepalanya agak lentur dikit aja. Tapi di balik kekeraskepalaannya, dia temen yang baik, berjiwa melayani. Bisa dikatakan, teman yang siaga. Kapanpun kita minta anter, pasti mau. Dan paling rajin traktir. Berarti loe paling tajir donk cok? Wah waah waaah, kok baru  nyadar gini ya. -__-
Satu lagi, dari laskar yang satu ini aku belajar berani nekad. Saking nekadnya dia berani memutuskan ikut jadi pejuang SM3T. Really proud of you! Hug.. puk puk!
Kemudian tentang...
#4 Oozh
Namanya outstanding ya? Itu nama panggungnya, nama aslinya Rosna. Nama aslinya emang kurang gimana gitu ya, haha..
Temen yang bisa ngebuat kita tampil seadanya, yang rela jadi pendengar setia meskipun ceritaku membosankan, yang bakalan jadi orang yang ngerasa sakit juga pas aku patah hati, yang nggk pernah bisa nolak keinginan atau pendapatku. Temen yang paling setia kawan. Oozh serupa baby sitter yang dikasih Tuhan secara gratis, nggk pernah komplain, jarang banget ngeluh. Inilah dia sosok yang banyak ngajarin aku tentang menjadi anak baik-baik, nurut sama orang tua, menjadi anak teladan, memberi pengabdian tanpa pamrih, dan kuat dalam pengorbanan. love you ozh!
dan tentang....
#5 Pionk

Hmmm... pionk itu kek profesor buat aku. Dia banyak ngajarin gimana ngejalanin idup yang bener. Usianya mngkn boleh jadi lebih muda, tapi dia tau gimana caranya idup yang seharusnya. Selama kenal, nggk pernah aku liat dia marah. Dari laskar yang satu ini aku belajar kesederhanaan, hidup yang bijak, setia kawan, sabar, ketulusan, dan kuat dalam kesendirian. Ah jadi pengen nangis aja deh, kenapa juga yaaa... ZzzZzzz...
Tapi jangan salah, dibalik hal-hal yang serius di atas, dia ini ahli konyol yang luar biasa. Loading lama untuk ngerti hal-hal absurd, banyak lah yang di luar pemikiran manusia normal tentang standar normanya, bwahahaha..
Miss you so much, yonk!

Sampe ke..

#6 Qisthi
Fiuh.. ini laskar keyeup yang alfabet inisialnya paling akhir. Qisthi.. seringkali kita manggil dia Qisya (Qisthi syarappp). Pernah denger tagline “be your self”? Nah, orang inilah yang sepanjang hidup aku paling bisa jadi diri sendiri, dimanapun kapanpun sama siapapun. Cuman dia yang fanatik suka warna orange, dari underwear #upz maap, sampai kerudung warna orange! Dan cuman dia yang nggk pernah berusaha pake topeng-topeng pencitraan. Dari kegilaan-kegilaan dia aku belajar tentang kerennya jadi diri sendiri. Terlepas dari itu, hidup yang dia jalani membuat laskar keyeup yang satu ini super duper kuat. Dan dia keknya termasuk laskar keyeup yang jarang banget ngeluh. Ah, entah dia nyadar apa nggk, aku punya kekaguman tersendiri sama dia. Ya, kagum uly sama qisti. (cocwiiiiiiiiiittt #ihiiiirr)

***
Basah deh matanya. Bukan sedih, tapi kangennya emang lagi akut. Mereka berenam lebih dari temen. Merekalah orang-orang pertama yang ingin kukabari apapun yang penting dalam hidupku setelah keluarga. Merekalah orang-orang yang tanpa diminta akan menyediakan diri untuk membasuh sepi. Sumpah, beruntung punya mereka. 
Nothing’s perfect, but all of them perfect my life.
Tentang move on, sama sekali nggk mau move on dari kalian.
Semoga kita bisa kumpul lagi, melakukan kedonoan-kedonoan baru yang lebih fresh dan outstanding. Mmmmmuuuaachhh..!!!


Menikah dan Pernikahan

Pernikahan. Sebuah kata yang sangat tidak asing di masyarakat kita. Tak perlulah rasanya kita membahas definisi pernikahan menurut KBBI, UU Pernikahan, atau landasar teoritik lainnya, karena yang ingin aku bahas adalah tentang sebuah persepsi pribadi. Persepsi yang bisa juga kusebut sebuah refleksi pengantin baru, hehe...

**

Di tulisanku beberapa hari lalu aku menuliskan campur aduknya perasaan setelah berstatus sebagai istri. Mungkin tulisan yang judulnya "to be a good wife" itu serada aneh, ya memang begitulah adanya.. :))
Pernikahan yang hari ini berusia satu bulan lima hari menggiringku pada sebuah perenungan tentang pernikahan. dan betapa ingin aku berbagi. jeng jeng jeng jeeeeng... semoga ada sedikit manfaat di tulisan ini. yuk cekidot!

**

#0 Awalnya aku takut menikah....

Ya, sebelumnya aku termasuk perempuan yang begitu takut menikah karena fenomena perceraian. Perceraian orang tua dan beberapa saudara-saudaraku memberikan gambaran kelam tentang pernikahan. Diperkuat lagi dengan banyak kasus perceraian yang dipublikasikan di tv-tv nasional kita.
'Ketika pacaran seolah takkan pernah putus, ketika menikah mengapa sebegitu mudah memutuskan bercerai?' kurang lebih itu pertanyaan yang seringkali muncul. Di infotainment banyak artis yang mengungkap statement cliche, semisal: "kami sudah tidak ada kecocokan lagi"; "terdapat perbedaan prinsip" dan bla bla bla. ungkapan-ungkapan pembenaran. 

Ketakutan inilah  yang mendorongku untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang pernikahan. jujur saja, aku tertarik dengan tema 'pernikahan' sejak usia 21 tahun. referensi agama, psikologi pernikahan, referensi sosial, dan banyak lagi campur aduk di otakku, ada yang melemahkan juga menguatkan ketakutan yang kurasakan. dulu aku sering sok tahu menganalisis bahwa penyebab perceraian itu bisa jadi gara-gara: laki-laki dan wanita memang kurang mampu menampilkan diri yang apa adanya, jadi pas nikah ya shock satu sama lain, menolak untuk mengerti, apalagi menerima. Selain itu bisa juga gara-gara perjodohan, atau mungkin gara-gara ada cinta pelarian di salah satu pihak, dan banyak analisis lain yang kebanyakan ‘ngawur’ hehe.. maklum modal sok tahu thok.

Tapi ada satu hal yang menjadi sebuah keyakinan, setidaknya sampai aku memutuskan untuk berani menikah. Satu hal itu adalah kegagalan rumah tangga akan terjadi ketika tidak ada pemimpin yang baik. Aku sudah memandang pernikahan bak sebuah organisasi yang akan kacau ketika pimpinannya tidak tahu arah, tidak mengerti SOP berorganisasi, mudah goyah, mudah patah. Lebih parah lagi ketika pemimpin dihadapkan pada anggota yang jauh lebih kuat. Ya, mungkin itu analisis yang paling aku anggap benar. Keyakinan ini yang akhirnya mempengaruhi caraku mencari pasangan hidup.
#1 Pasangan Hidup
Pasangan hidup, seringkali disebut istri dan suami. Ini adalah point pertama yang super duper penting dalam sebuah pernikahan. Dalam Islam, mempelai pria & wanita juga diposisikan sebagai rukun nikah, atau sesuatu yang membatalkan pernikahan kalau tidak dipenuhi. Ya iyalaaah.. kalo nggk ada salah satu ya gimana ceritanye? *LOL*
Ada beberapa kriteria yang aku tetapkan. Bukan dalam rangka ‘sok-pilih-pilih’. Aku hanya melakukan tindakan preventif alias pencegahan terhadap potensi kekisruhan rumah tangga. Kriterianya: laki-laki normal, berjiwa kepemimpinan, bertanggung jawab, dan tidak merokok. Nggk aneh-aneh kan? Ya, selebihnya kalo boleh aku ingin laki-laki yang humoris, ngobrolnya nyambung, ganteng juga gak apa-apa. Masalah kaya miskin aku bukan tipe yang tergiur dengan itu, karena dolar bisa kita cari bareng-bareng setelah nikah. Percaya atau nggk, kriteria ini sudah aku tetapkan sedari SMA kelas 2, long long time ago bukan?!
Kriteria ini yang secara tidak sadar mengarahkan sikapku pada setiap laki-laki yang ‘mendekati’. Alhamdulillah, sepanjang sejarah aku tidak pernah punya pacar yang merokok, meskipun sebagian besar mantanku yang yaaa berjiwa keanggotaan bukaan kepemimpinan, haha.. #jokes!
Pencarian panjang akhirnya dijawab Allah dengan pertemuan jodoh dengan teman baikku. I married my best friend, gitulah kira-kira. Segala puji bagi Allah, yang memberiku pasangan hidup yang lebih dari ekspektasiku. Suamiku memenuhi kriteria yang aku tetapkan: laki-laki normal, berjiwa kepemimpinan, bertanggung jawab, dan tidak merokok. Plus bonusnya banyaaaaaak.. 
Kenapa harus ada kriteria? Jelas harus! Karena pasangan hidup adalah partner kita melewati apapun yang terjadi dalam hidup kita, seumur hidup! Bukan seminggu, sebulan, setahun, atau sewindu thok. Seumur hidup! 
we are married for life.

#2 Niat – fix ur will!
Niat menikah akan melemahkan atau menguatkan pernikahan itu sendiri. Kalau niat menikah untuk memenuhi tuntutan sosial, maka pernikahan akan dipelihara selama sosial menuntut begitu. Hambar mungkin rasanya. Ketika niat menikah gara-gara takut kehilangan pacar yang cantik/gantengnya minta ampun, maka pernikahan akan menjadi sebuah keposesifan belaka. Ketika niat menikah adalah karena terlanjur tua, maka penghargaan terhadap pernikahan itu pun menjadi sangat sepele. Dan niat-niat lain.

Banyak pasangan yang menikah dengan niat membangun romantisme tiada berujung. Kalau sudah menikah kan enak, mesra-mesraan jadi halal, manggil umi-abi, suap-suapan, sun tangan pas suami kerja, dan adegan-adegan manis lainnya. Setelah menikah, ternyata tidak semua adegan semanis itu bukan? Jawabanku: iya. Ketika niat kita tidak tepat, maka hanya akan ada frustrasi ketika harus menjalani adegan-adegan pernikahan yang di luar ekspektasi. Muncullah pertanyaan-pertanyaan semisal: kok dia beda ya? Kok suamiku nggk romantis ya? Eh kok dia nggk nyuapin aku lagi sih? Ooooh come on, it’s reality. Banyak agenda penting lainnya dalam pernikahan ini guys.

Bukan sentimentil apalagi dilarang membayangkan yang indah-indah tentang pernikahan. Yang ingin aku bagi disini adalah kesadaran akan kompleksitas kehidupan pernikahan. Banyak yang akhirnya lemah karena hanya terfokus pada indah-indahnya. Shock ketika suami gajinya minus, menyesal ketika ternyata suaminya tidak seromantis yang diharapkan.

Pernikahan itu indah. Indah bukan kepalang. Aku pun merasakannya. Banyak yang bilang, menikahlah biar banyak rejeki. Itu jelas haditsnya. Ada lagi yang bilang, menikah itu menyatukan dua sumber rejeki lho. Nambah keluarga. Nambah yang merhatiin. Setuju!

Tapi satu hal yang jarang disebut-sebut, ketika menikah kita pun akan menghadapi pertambahan masalah. Yang asalnya kita bisa fokus ke masalah kita saja, setelah menikah masalah hidup pun jadi double lho. Tanggung jawab jadi double pula. Nah, jangan jadi takut gitu donk. Ini aku ungkapkan bukan buat nakut-nakutin nikah. Kerangka berpikir yang realistis sudah harus dikedepankan. Niat yang kurang tangguh, akan melahirkan pasangan-pasangan lemah kala menghadapi realita ini. So, niatkan bahwa menikah itu adalah proses belajar yang panjang untuk meningkatkan kualitas diri. Menikah adalah romantisme yang juga dibalut oleh keunikan masalahnya tersendiri. Jadi, harus kuat dulu niatnya ya....
Dan bagi muslim niat terbaik menikah adalah ibadah. Apapun yang dihadapi jadi bernilai ibadah. Enaknya jadi ibadah, nggk enaknya juga jalan ibadah. Semoga kita benar-benar memasuki pernikahan dengan niat terbaik ini ya guys, amiin.

#3 Kampanye Menikah Muda!
Ini refleksi terakhir di tulisan kali ini. Asli guys, sangat direkomendasikan menikah muda. Aku nggk akan terlalu membahas bahaya pacaran, de el el. Kalian juga udah pada ahli tentang ini.
Terlepas dari itu, alasan kenapa harus menikah muda adalah biar kita bisa cepat memulai. Lebih cepat dimulai berumah tangga, lebih cepat pula kita belajar. Lebih cepat belajar, lebih cepat juga berhasilnya toh?
Kalimat di atas memang sangat kampanye, hehe..

Tapi let me explain about the reason.
Usiaku cenderung tidak muda lagi saat memutuskan menikah. Beberapa bulan lagi menginjak 26 tahun. Ya udah well-done untuk menikah lah ya... (kyak steak aja, pake well done segala, haha..) Dari aspek kepribadian, aku sudah cukup ‘terbentuk’. Aku sudah menjadi seseorang yang menentukan arah, berprinsip, berpandangan kokoh terhadap berbagai hal, dan hal-hal lain yang sudah “terbentuk”. Jadi ibarat adonan kue, seusiaku ini sudah jadi kue yang bentuknya jelas (misal: bulet, persegi, oval). Berbeda dengan usia yang 20 tahun misalnya, kecenderungannya masih fleksibel dan mudah untuk diarahkan.

Nah, udah tahu belum arahnya kemana? Hehe..

Kalau dalam pernikahan, laki-laki dan perempuannya itu sudah ‘terbentuk’ dua-duanya. Posisinya laki-laki harus menjadi sosok yang memimpin. Namun bagaimana kalau si istri sudah ‘terbentuk’ sebagai sosok yang tidak suka dipimpin? Ini yang banyak terjadi akhir-akhir ini. Perempuan menjadi sama dominannya dengan laki-laki dalam rumah tangga, tidak jarang bahkan lebih dominan dari suaminya. Banyak istri yang dengan mudah menyatakan “saya biasa begini” atau “saya bisa melakukan semuanya sendiri”  dan lainnya. Semoga kita diselamatkan dari kaum perempuan yang ‘terbentuk’ seperti itu. Amiin.
Meskipun tidak jarang, semakin matang, perempuan tumbuh menjadi makhluk yang paling bijaksana. Sekali lagi, ini adalah analisis subjektifku dalam rangka pencegahan saja. Karena aku juga termasuk orang yang sepakat, bahwa kadang usia hanyalah masalah angka. Kedewasaan dan pemaknaan hidup seringkali tidak berkorelasi positif dengan angka usia.
Tapi, yaa kalau memang sudah siap, kenapa ditunda?
Aku pun menyesal mengapa tidak dari dulu menyatakan siap. Karena learning by doing selalu lebih menyenangkan dan lebih bermakna dibanding learning by reading or listening only.


***
Semoga bermanfaat. Maaf kalau banyak yang ngaco. Maklum masih penganten baru, hihihi...