Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2017

Jembatan Empati : berdamai dengan 'kenyinyiran'

Semenjak memutuskan pindah ke Pulau Jawa, which is tempat asal kami, seringkali ada pertanyaan dan tanggapan yang sebetulnya bernada (sorry to say) “sok tahu” . Hmfh..... zzzzzzz

Lalu kami berusaha membangun dan menapaki jembatan empati untuk mereka-mereka yang sok tahu tersebut, bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk kesejahteraan batin kami, hahay!


Ngomongin apaan sih? Ngomongin ini lho:

Tujuh Januari kami – saya dan suami, resmi pindah dari Riau ke Pulau Jawa lagi. We stay for a while di Malang, Jawa Timur. Untuk kami, kepindahan ini bukan hal yang terjadi begitu saja, bukan sesuatu yang harus dipertanyakan, apalagi jadi perdebatan, yaellah, pindah doank. 
Tapi..... ternyata respon orang mah beda-beda.

Yes, we quit that zone to move-  not to escaping life :) 

Respon terhadap adegan pindah yang menurut saya agak di luar dugaan. 
Well, sengaja saya dokumentasikan lewat tulisan di blog ini, as my personal journal. Mungkin suatu saat saya perlu flashback, atau mungkin ada orang lain yang juga ada di situasi yang sama. 
Niatnya, reinforce myself then share to others in a positive ways.
Tanggapan lucu yang serada mengusik, diantaranya:
  • Apalagi sih yang dicari? Kerjaan udah enak, karir udah sama-sama enak, malah resign. Orang lain malah susah cari kerjaan lho
  •  Ada masalah apa kok resign Pak Kepsek? Padahal istrinya udah enak dapet kampus yang dekat untuk ngajar.
  • Wah sayang ya padahal udah mapan disini, malah pindah.  
  •  Dan sejenisnya semacamnya macam macam.

Dan ketika kami pindah untuk take a breath in the moment, memenuhi hak jiwa untuk bertualang (baca: piknik-piknik alay haha), upload foto di berbagai tempat, upload by a positive caption, tanggapannya lebih aneh lagi, kebanyakan bilang: “jalan-jalan terus pak/bu”, atau  ada yang sampe berani sounding tentang uang pesangon. Pengen banget dengan gaya #agnezmo squarelling like.....
WHAAATTT???!!!
How could you be that rude, meeeeen...!!
You dont even know our plan. you dont even know us personally.
you just focusing on the picture without read the caption,
and you just care to your mind, not on what we do at all. Sigh!
Seingat saya, kami gak pernah sefulgar itu ngurusin hidup orang-orang di sekitar kami. Kecuali ya orangnya minta diurusin, hehe... Kami cukup menyimpan berbagai pandangan tentang apapun hanya untuk kami, gak pernah niat nyenggol-nyenggol hidup orang, kecuali kalo disenggol orang ya maaff kepaksa nyenggol balik, sedikit, hehe...
Saya yang piknik, kok bapak/ibu/mas/mbak yang mumet mikirin duit?
Saya yang jalan-jalan, kok bapak/ibu/mas/mbak yang capek?

Tapiiiii.....

Proses yang berlalu kurang lebih sebulan ini mengajari saya tentang Jembatan Empati yang saya jadikan headline tulisan ini.

Ooooooohh Ternyataaa..... 
"Oh, ternyata ada lho ya orang yang doyan banget ngurusin hidup orang lain. Yang tiba-tiba seolah peduli, padahal cuman kepo."
"Oh, ternyata bentuk-bentuk iri, dengki, di zaman sekarang itu beragam ya. Termasuk dengan cara ekstrem menilai baik-buruk, pantas-tidak pantas tentang keputusan orang lain yang ada hubungan kekerabatan pun nggak alias cuman kenal."
"Oh, ternyata hidup mereka itu sebegitu membosankan ya sampai apa-apa dinilai dengan uang."
"Oh, ternyata kebanyakan orang menyetarakan kebahagiaan dengan jabatan, besaran gaji, status pekerjaan, dan uang uang uang ya."
"Oh, ternyata selain berbeda mereka pun memaksakan nilai-nilai hidup yang sama ke orang lain ya."

Dan saya memilih untuk tidak memaksakan nilai-nilai hidup saya kepada siapapun. Lalu apakah semudah itu? mengingat saya disenggol duluan, hehe...

Jawabannya Tidak! Saya harus membangun jembatan empati yang begitu panjang. Menapaki selangkah demi selangkah perbedaan cara pandang. Diskusi sama suami. Terus berusaha maju untuk berempati pada mereka yang #kurangpiknik #eh #maap #nooffense

Because to be mature is not that easy

Sampai akhirnya tulisan ini diterbitkan di blog pribadi saya. Kami akhirnya semakin maju menapaki jembatan ini untuk berempati pada cara pandang yang jauuuuuh berbeda dengan kami.

Saya memang meninggalkan kemapanan (versi kalian), ninggalin mobil, status, gaji yang lumayan, tunjangan kesehatan yang almost unlimited, potensi bonus tahunan yang lumayan, dan bla bla bla yang ada di pikiran kalian. 

Alasannya? 

Bukan gak suka hidup mapan seperti itu, apalagi cuman buat cari gara-gara, tapi karena kami punya versi kemapanan sendiri. Which is not only about MONEY !
Sorry, my life has no price-tag!
Terima kasih banyak pada kalian semua yang merasa pernah memberikan reaksi-reaksi tak terduga, memberikan perhatian luar biasa, karena itu semua kami jadi lebih banyak belajar.

Kita sama-sama manusia, kita sama-sama hidup, tapi bagaimana kita menjalani kehidupan biarlah itu jadi hak prerogatif masing-masing. Berhentilah jadi manusia yang hobi mengusik apalagi memutuskan mana yang baik-buruk untuk orang lain, karena pada hakikatnya yang kita tahu tentang orang lain sungguh-sangat-sedikit.  Kenal diri sendiri aja belum tentu, kan?

Yuk, bangun jembatan empati, tapaki, nikmati, pelajari, sampai akhirnya mampu mengerti.

i wont give up on my own life. Wish "you" all do the same
Kita saling mendoakan kebaikan satu sama lain daripada nyinyir hehe...

Salam empati, gaeeeesss :*



Selasa, 31 Januari 2017

Perjalanan [?]

Ah konyol, masa iya harus kenalan dengan diri sendiri. Memang konyol. Tapi percayalah, akan lebih konyol lagi kalau ternyata kita bahkan tidak mengenal baik siapa diri kita. 

Akhir-akhir ini saya sering melakukan perjalanan. Perjalanan seolah tumbuh menjadi salah satu obsesi pribadi. Bukan karena jalan-jalan sedang jadi lifestyle yang boom, atau sekedar traveling memperbanyak check point (meskipun awalnya begitu), tapi lebih ke bagaimana membawa oleh cerita dari setiap perjalanan. Ternyata cerita-cerita tak terprediksi yang dialami selama perjalanan mampu membuat kita tumbuh semakin bijak, lebih mengenal siapa kita, dan akan kemana arah tujuan hidup sebenarnya. Bahkan membuat kita terhenti di sebuah persimpangan, sudahkah kita hidup dengan "benar" ?



Perjalanan tak hanya bercerita tentang perpisahan, pertemuan, perasaan, atau persinggahan demi persinggahan; tetapi juga menciptakan kekuatan-kekuatan baru saat kita harus pulang. Menciptakan kedalaman perenungan tentang siapa kita sebenarnya. Sudah pantaskah kita sombong? ketika begitu banyak orang-orang hebat kita temui. Sudah pantaskah kita disebut baik, kuat, santun, dan banyaak lagi gelar-gelar kehidupan yang ingin kita sematkan di raga kita masing-masing.

Dalam perjalanan bukan satu dua orang yang kita temui, mulai dari yang belum dikenal, teman lama semasa SMA bahkan semasa SD, sampai bertemu dengan orang-orang terkasih. 

Dari mereka yang belum kita  kenal, kita bisa sekejap merasa apa saja. Bisa merasa lebih kuat lalu jumawa, semisal ketika melihat gadis diantar mama papanya di bandara, "ah cengeng, ke bandara aja pake dianter!". Sekejap bisa merasa malu, ketika melihat nenek tua salah masuk lorong trolley saat pemeriksaan barang, dia sendirian dengan barang bawaan yang tidak sedikit. Di saat yang sama saya sedang merasa malas membawa barang yang menurut saya banyak dan merepotkan, padahal saya tidak sendirian. Nenek tua yang setulus itu meminta maaf kepada petugas bandara karena kesalahannya, petugas bandara yang mendadak sangat baiiiik hati, mungkin ia tengah membayangkan nenek tua itu ibu atau neneknya sendiri. Nenek itu mungkin menempuh perjalanan jauh hanya untuk menengok cucunya, melepas rindu pada anaknya, dan entahlah. Penerbangan yang berbeda membuat saya dan suami tidak bisa membantunya membawakan barang ke ruang tunggu. Pemandangan sekejap yang membuat saya sembuh dari "lelah" hanya karena hal sepele. "Nggak malu sama nenek tua itu?", batin saya menertawakan raganya sendiri.

Perjalanan yang kita labuhkan di rumah-rumah sahabat, membuat kita semakin paham, bahwa kita punya banyak perhentian saat kita lelah. Rumah mereka terbuka lebar hanya untuk menerima kita, melihat raga kita yang  mungkin tidak seperti dua tahun silam sebelum sama-sama terhanyut dalam kerinduan. Memeluk itu bukan gaya saya mengungkapkan kerinduan, canggung rasanya. Tapi entahlah kala tatap saling bertemu, selalu mampu mencairkan bekuan-bekuan di hati yang bernama rindu. Sahabat bukan hanya teman seperjuangan, mereka adalah salah satu rumah tempat saya pulang.  Padanya saya bisa menumpahkan apapun, bisa jadi apapun yang saya mau, dan mereka menatap penuh maklum. Ya, maklum tanpa batas. Perjalanan jauh bertahun-tahun tanpa satu kalipun pertemuan, tak mengurangi perasaan itu. Saya akan selalu pulang  pada mereka, sahabat-sahabat saya. Hei, kalian semakin kuat dan mempesona saja. Dari kalian, saya belajar kuat tanpa sok-kuat. saya belajar diterima tanpa memaksa. Belajar rela menunggu, meski untuk satu malam saja. Belajar ikhlas, datang dan pergi menjadi satu kepastian.

Keluarga - kata ajaib yang selalu berhasil membuat siapapun menjadi sangat sentimentil. Saya tidak terlalu paham bagaimana menyikapi institusi kecil yang sudah terlanjur terpisah-pisah ini. Kata yang selalu ada dalam impian, tapi tak juga membuat saya ingin pulang. Bukan karena kerinduan tak ada, tapi karena jiwa kadang tak sanggup menahan sesaknya kehilangan jiwa-jiwa mereka yang tenggelam dalam dunianya masing-masing. Ah, lebay. Tapi bukankah hak saya untuk merasa begitu? 
Lagi-lagi perjalanan begitu sakti menyembuhkan segala sesak tentang mereka. Dari perjalanan saya merasa tidak ada tempat kepulangan yang lebih saya rindukan selain ada di tengah-tengah mereka: keluarga saya yang begitu payah dalam mengungkapkan kasih sayang; keluarga yang terlalu kuat sehingga lupa kalau ada saya yang begitu cengeng; keluarga yang pantang menyerah pada takdir, yang kadang lupa untuk pasrah; keluarga satu satunya yang membuat saya menempuh perjalanan spiritual yang tak sedikit; keluarga yang amat sangat sungguh saya cintai; ah kalian ternyata 'rumah' ternyaman, meski kadang seperti sedang naik roller coaster ketika ada di sana, rumah yang bisa membuat tertawa, tegang, teriak, sampai menangis hanya dalam satu waktu. Keluarga yang bagi saya adalah perjalanan itu sendiri. 

Sudahkah anda melakukan perjalanan? bagaimana rasanya? Sudah saya duga, pasti menyenangkan !

Jumat, 04 November 2016

Tentang 411 : Jelaga yang sampai ke ibu kota

Jam dinding di kamar saya menunjukkan Pkl. 23.35 WIB.

Sedari pagi sampai detik ini, pikiran saya melekat pada 411. Begitu riuh pikiran, seolah banyak sekali yang terlihat, terbaca, terdengar, dan terasa.

Terlepas dari segala hal yang mungkin remeh-temeh: suami belum pulang karena lembur, hujan lebat, ponakan yang kritis, rindu keluarga, deadline laporan, utang janji esok, persiapan camping, persiapan mengajar, dan PMS.

Saat ini, entah dada rasanya bergemuruh, marah, kecewa, bukan karena itu semua. Tapi karena rangkaian #AksiDamaiBelaQuran411 yang ramai dibicarakan publik, baik melalui media sosial maupun media massa.

Saya tidak berani mengklaim diri saya sebagai muslim yang taat sehingga merasa berhak menilai atau menghakimi, saya juga bukan pengamat politik yang handal, apalagi seorang aktifis ormas islam.

Saya hanya seorang warga negara Indonesia yang beragama Islam.

Hari ini saya melihat banyak ironi. Aksi damai yang digelar jutaan muslim di ibu kota, dilansir sebagai aksi yang damai, tidak merusak, tidak rusuh, tidak membuat si pelaku aksi lupa kewajibannya sebagai hamba Tuhan, aksi yang mengharukan dengan lantunan shalawat, asmaul husna, sampai gema takbir, aksi yang terorganisasi dengan baik sampai-sampai ada tim pembersih jalan, aksi yang bertolak dari kesakithatian karena ada indikasi negara melakukan pengabaian terhadap kasus penistaan agama yang dilakukan oleh seorang pejabat publik.

Ironi, banyak teman sesama muslim terlihat begitu sibuk menunjukkan sikap sinis. Saya termasuk yang mengerti ketika ada yang tidak sependapat dengan jalan aksi damai ini, tapi sadarkah kita ketika berani menyatakan bersebrangan bahkan 'menghujat' aksi damai, di saat bersamaan bisa jadi kita telah berpihak pada sisi lainnya, dalam hal ini pihak yang dianggap "menistakan" agama yang kita anut.

Ironi, Bapak Negara yang juga muslim, enggan merangkul para ulama muslimin muslimat yang secara damai mendatanginya.

Bapak negara yan terhormat, kami tidak tahu banyak tentang apa yang tengah bapak pikirkan apalagi yang tengah bapak rasakan sekarang.

Tapi...

Pak, kami yang juga seagama dengan bapak tidak menuntut bapak berpihak penuh atas apa yang dituntut oleh aksi damai ini. Tapi bukankah bapak bisa sekedar menyambut dan menyatakan bahwa bapak hadir untuk mereka yang tengah lelah berjuang untuk agamanya, yang juga agama bapak?

Jangan salahkan kami jika kini kami teramat sakit hati. Teramat kecewa.

Hujan kembali turun, mungkin langit sedang berusaha mendamaikan jiwa jiwa yang marah. Atau langit pun mengamini kesedihan para muslim hari ini.

Wallahu'alam bii shawab.


Rindu (tapi)

Aku tidak menyangka akan berdiri lama dalam persimpangan ini.
Menatap perih, memeluk kesakitan yang teramat.
Tertegun dalam tanya, akan sampai kapan?

Duhai wanita, aku tetap menjunjung cinta ini untukmu.
Sampai kapanpun kan tetap begitu.

Andai kau lebih peduli pada relung yang penuh luka kecewa ini.
Mungkin tak sampai hati aku membuang muka.

Duhai wanita, doa akan tetap terpanjat.
Entah Tuhan suka atau tidak, aku masih saja tak usai kecewa.

Duhai wanita, aku rindu. Sangat merindu.
Tapi apa daya, aku terlalu takut kembali terluka.

Semoga kau tetap baik-baik terjaga lindungan Tuhan semesta.

4-11-2016


Jumat, 07 Oktober 2016

Jurus Jitu IRT Pemula di Dapur :D


Happy Friday..!

selamat hari jumat.
kembali ke dapur. lho kok?

Yess, Jum'at is my work day off. 

ketika orang lain libur hari minggu, saya liburnya malah hari jumat (dan hari minggu).
so, dapurnya trang treng trong, berfungsi jadi laboratorium eksperimen masak di dua hari itu. Selebihnya, hanya trang treng tanpa trong hehe.. apasih!

seperti janji saya di artikel sebelumnya (baca: Harus ya bisa masak)
Let me share jurus jitu perbumbuan biar nggak panik pas masak.

seperti hidup, masak juga butuh proses. dan bisa masak pun perlu proses. 
hanya saja, emang kalau yang udah punya bakat masak, mau salah bumbu juga biasanya enak aja gitu masakannya. Beda sama yang total nggak ada bakat masak, mau bener bumbunya juga, tetep aja susah enak, haha..

saya? termasuk yang tidak berbakat dan juga pemalas. Tapiiii  saya termasuk yang meyakini, bakat itu akan kalah hanya dengan satu resep: HATI!
terbukti lho ini, kalo masaknya pake perasaan, itu masakan bisa enak aja gitu #tsaaaah 
tapi kalo kepaksa, terus unmood, kemungkinan besar itu makanan will taste such a disaster di mulut. 

eh  kok jadi kemana-mana ngemengnyaaa..

lanjut yaaa, nah saya punya jurus warisan leluhur alias mama saya yang nggak doyan-doyan amat nongkrong di dapur, tapi patut dicoba untuk kaum pemula, tadaaaaaaa~

 Jurus CBT (Cabe Bawang Tomat)

Saya sudah membuktikan dari tiga bumbu ini kita bisa membuat rupa-rupa menu. Cekidot!

*Sebelumnya, cabe disini bebas ya, bisa diartikan cabe merah, cabe ijo, cabe rawit, atau pun paprika. Bawang disini ada dua kategori bawang merah/bawang bombay dan bawang putih. Terakhir tomat, bisa tomat cherry, ataupun tomat gede segede alaihim gambreng. Semuanya sesuai selera dan sesuai stok ya buibuuuu #eh

1. Tumis-tumisan

Tumis itu kan sejenis masakan yang nggak pake air. karena kalo pake air namanya sayur #eh.. Tumis ini bisa tumis sayuran atau daging. Jadi dari tiga bumbu CBT bisa dibuat tumisan tersebut. 
gampang banget: 

  • iris-iris cabe nya, bawang nya, tomatnya.
  • panaskan minyak goreng (secukupnya, sedikit aja, jangan sampe kebanyakan)
  • lalu masukkan bawang merah, setelah harum masukkan bawang putih, lalu masukkan cabe. tomat terakhir. 
  • masukkan bahan utamanya: misal kangkung, kailan, atau bahkan ayam.
  • lalu masukkan tomat. 
  • beri garam dan gula (3:1) 
  • beri penyedap kalau biasa pake ya. kalau saya sih lagi berusaha jadi enema penyedap instan. karena dari kombinasi gula, garam, dan CBT juga sudah enak kok :D

2. Sambal 

Sambal? Duh ini tuh menu yang favorit di seluruh nusantara. apalagi yang dapet suami maniak sambal, wajib bin kudu bisa bikin sambel. 

Ssssssttt... FYI yaaa, laki itu nggak akan mau tahu itu sambel komposisinya apa, yang penting rasanya pedas harmonis di lidah! haha..
kecuali lakinya yang hobi kepoin dapur #eh

Nah, untuk pemula, cukup pake rumus (rumus doooooonk) ini:
Sambel = CBT + Gula + Garem + Penyedap (optional)
Kalau suka sambel terasi, tambahin aja terasi secukupnya (dikit aja, asal ada aroma, kalo kebanyakan nanti enek dan baunya itu bikin patah idung #eh)
kalau nggak suka terasi, murni CBT aja juga udah enak! 

ada beberapa opsi untuk kasus (((KASUS))) sambel ini:
  1. goreng dulu baru ulek
  2. bakar dulu baru ulek
  3. rebus dulu baru ulek 
  4. rebus dulu baru ulek lalu digoreng
  5. mentahan aja seadanya baru digoreng setelah diulek
  6. mentahan aja langsung lahap

3. Tim Ikan Asin

Ada yang suka ngetim? ngetim ikan asin peda misalnya?
Atau tim apaan gitu yaa, asal jangan tim sepak bola.

caranya:

  • iris-iris CBT
  • Panaskan minyak goreng dikit aja.
  • masukkan CBT bersamaan.
  • masukkan air sedikit
  • Masukkan ikan asin/peda nya
  • seasoning: Gula, garem, penyedap (optional)

DONE :)

4. Bumbu Kecap semur ala-ala

Panjang bener nama menuny. Ini dikarenakan saya nggak tahu ini menu masuk kategori semur atau apa, haha..

Bahan yang bisa diolah antara lain: ayam, daging sapi, telur, tahu, tempe, ati ampela.
Caranya:

  • Siapkan bahan tambahan: Serai, daun salam, dan lada bubuk
  • ulek (manual atau pake blender CBT + jahe 
  • Panaskan minyak goreng secukupnya
  • Tumis bumbu yang sudah halus + daun salam + serai
  • masukkan deh bahan utama (kalau saya biasanya itu ayam/daging/dll sudah direbus atau digoreng terlebih dahulu, biar empuk.)
  • masukkan air secukupnya
  • Nah, kalau air sudah mendidih, kecilkan api, masukkan kecap manis.
  • biarkan meresap. sesekali aduk, khawatir gosong. 
  • seasoning: gula, garem, lada bubuk, penyedap (optional)

DONE :)

5. Sayur berkuah

Kuah disini maksudnya menu berair kayak sayuran ya, hehe..
Bahan yang bisa diolah: bayam, kangkung, dan sejenisnya deh.


  • Caranya: 
  • CBT iris-iris. 
  • Siapkan minyak goreng secukupnya. 
  • Masukkan irisan CBT (kecuali tomat)
  • Setelah wangi, masukkan air.
  • Setelah mendidih, masukkan bahan utama
  • kalau sudah terlihat matang baru deh masukkan tomat

DONE :)

Gampang kan? Nah, eksperimen berikutnya kita bisa sesuaikan dengan taste masing-masing. Sungguh ya, semua berawal dari CBT haha..

Ini pengalaman pribadi saya ya, jadi kalau ada yang pengalamannya berbeda, jangan sungkan share yaa!
Jangan sampe fenomena IRT pemula yang panik di pojokan dapur semakin merajalela hihi..

Salam semangat eaaa kakaakks :p

**

Hasil belajar yang terdokumentasikan :) 


Bubur ayam

Tahu isi alias Gehu
Nugget ayam (abaikan kegosongannya wkwk)



seblak ala ala 
sop buntut :)

soto ayam pake telor :d

Sambal pete ikan serai 

Tumis Manisa Tempe





Jumat, 23 September 2016

hidup dalam sebuah celoteh

ketika sudah tidak bisa mengalahkan, mungkin saatnya untuk mengalah.
ketika sudah tidak bisa melawan, mungkin sudah saatnya untuk berkawan.
ketika sudah merasa menang, mungkin sudah saatnya untuk tenang dan senang.
ketika sudah semakin jengah, mungkin sudah saatnya untuk menengadah ke langit yang indah.

ah, begitulah.
nyatanya tak ada yang mudah.
nyatanya tak ada yang terlalu susah.

hidup oh hidup, kau memang rangkaian kosmik yang pelik untuk dibahasakan.
lelah saja aku ketika aku memaksa menaklukan apalagi mengalahkanmu

biarlah jejak ini aku buat setenang dan sesenang mungkin.

hidup oh hidup, aku tak akan lagi memakimu.
karena kau bukan lawan yang sepadan.

hidup oh hidup, malam ini dan seterusnya, kunamai kau 'kebebasan'.
hidup oh hidup, apapun wujudmu, kunamai kau 'petualangan'
biarkan aku aku memilih berkawan dan mengalah saja.
aku ingin tenang dan senang menikmati kebebasan petualangan.


Kamar, 23 September 2016






Sabtu, 03 September 2016

Perempuan dan Pendidikan

Pendidikan perempuan harus baik. Saya pake istilah ‘baik’ ya, bukan ‘tinggi’, karena kalau saya pake istilah pendidikan tinggi, orang bakal langsung mikir perempuan harus kuliah, harus sarjana, harus master, de el el embel-embel lainnya.

Ada panggilan dari dalam diri untuk share personal opinion saya disini tentang perempuan dan pendidikan yang kadang langsung serta merta diasosiasikan dengan SEKOLAH, padahal pendidikan itu pengertiannya tidak sesempit gedung dan kurikulum yang ada di sekolah.

Banyak pendapat, opini, pemikiran, pandangan yang nampaknya perlu diklarifikasi, semisal:
  • ·         Zaman sekarang perempuan harus sekolah tinggi, biar bisa dapet kerja enak, mapan finansial.
  • ·         Zaman sekarang perempuan harus mandiri, biar nggak bergantung sama laki-laki.
  • ·         Perempuan berhak bebas, kalo punya penghasilan tinggi.
  • ·         Sayang ya sekolah tinggi hanya jadi ibu rumah tangga, ujung-ujungnya ke dapur mah gak usah sekolah keleus.
  • ·         Ibu rumah tangga dipandang “pengangguran” dan tidak bernilai ekonomis dalam rumah tangga.
  • ·         De el el.. silahkan isi sendiri hehe..

Well.. semua pendapat di atas tidak sepenuhnya salah, tapi tidak sepenuhnya benar. Saya setuju kalau perempuan sebaiknya sekolah setinggi-tingginya, tapi bukan semata untuk penghasilan, apalagi melepaskan kebergantungan pada pria sepenuhnya.

Alangkah bijaksana ketika sekolah tinggi yang berujung perolehan gelar akademik justru bisa meningkatkan martabat perempuan itu sendiri. Kenapa saya bilang martabat? Karena perempuan bermartabat itu tidak pernah menggunakan satu sisi dirinya untuk melemahkan sisi dirinya yang lain.
Sisi pertama, perempuan memiliki kebutuhan aktualisasi diri, semisal: mengembangkan diri di dunia bisnis, memiliki jaringan sosial, memperoleh pendapatan, memiliki komunitas berbagi, bekerja di dunia pendidikan, bekerja di perusahaan sesuai bidang minatnya.

Sisi lainnya, perempuan memiliki fitrah sebagai makhluk yang wajib menjaga kemuliaanya, seperti: menjaga kehormatan, mematuhi etika pergaulan, menjadi istri yang taat sama suami, menjadi ibu yang memastikan anak-anaknya tumbuh berkembang dengan baik, taat pada aturan Tuhan.

Pendidikan tinggi bukan lisensi untuk melanggar sisi fitrah dari perempuan itu sendiri. Apalagi untuk muslimah, kita tidak diajarkan untuk melepaskan kebergantungan pada laki-laki (a.k.a ayah dan suami). Dan sama sekali tidak diaajarkan untuk menuhankan kebebasan.

Prihatin sekali kan ketika ada perempuan dengan pendidikan tinggi berperilaku bebas tak berbatas, merasa mandiri jadi tidak menghargai aturan sosial, merasa mapan menjadi mudah menentang aturan pernikahan, merasa mampu membayar mahal pengasuh akhirnya menyerahkan pengasuhan anak sepenuhnya pada pengasuh, dan melegalkan diri untuk tidak harus melayani keluarga dengan baik.

"Tapi ada kok mbak yang pendidikan rendah juga kelakukannya begitu."

Nah makanya saya bilang di awal, yang saya maksud adalah perempuan harus memiliki pendidikan yang BAIK, tinggi rendah bukan lagi jadi ukuran.

Ada beberapa perempuan yang tidak mengenyam pendidikan tinggi tapi memiliki pendidikan yang baik. Dia mampu menjadi istri dan ibu yang mengurus rumah tangga dengan baik, membantu mencari penghasilan tambahan tanpa terpaksa, dan memiliki rasa ingin belajar hal-hal baru. Wanita ini bukan sarjana apalagi master.

Ada juga [banyak] perempuan yang saya kenal berpendidikan tinggi, bahkan lulusan universitas ternama di negeri ini yang menunjukkan pendidikan tinggi nya berhasil meng-upgrade kebaikan diri. Meskipun memiliki pendidikan tinggi, tetap semangat belajar menjadi istri yang patuh pada suami, tidak congkak meskipun pendapatan di atas gaji suami, merawat anak-anaknya dengan baik, bahkan mampu berbagi dengan sesamanya.

Nah lho, pada akhirnya tinggi rendah menjadi kurang penting, karena yang jadi penting bagi perempuan adalah pendidikan yang BAIK. Pendidikan yang terus mendorong perempuan belajar mengembangkan potensinya tanpa mematikan fitrahnya, apapun statusnya – bekerja, ibu rumah tangga, maupun keduanya.

Lalu, apa pentingnya pendidikan yang BAIK itu? (Baca: Pendidikan BAIK bagi Kaum Hawa)


pict-source: google.com


- on my desk, 03-09-2016.





Rabu, 31 Agustus 2016

Jalan-jalan ilmiah : Shortcourse Riset Pemula

Tanggal 18-20 Agustus lalu saya dapet rezeki untuk berangkat ke Bandung. Sayangnya bukan untuk lanjut mudik ke kampung halaman (a.k.a. Tasikmalaya), tapi untuk menghadiri acara Seminar Bantuan Penelitian dan Publikasi Ilmiah yang diadakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kemenag.

Saya hadir sebagai salah satu nominator penerima bantuan dana penelitian. Jadi, dateng kesana bukan untuk piknik leha-leha, tapi untuk memperesentasikan proposal penelitian yang saya ajukan beberapa bulan sebelumnya. Sebenernya agak nggak PD sih dengan proposal yang saya buat, karena genre yang nggak masuk kategori Islamic Studies. Tapi ya dicoba aja, karena memang background keilmuan dan pendidikan saya berada di ranah pendidikan umum. Alhamdulillahnya lolos juga jadi nominasi, semoga jebol juga di tahap ini ya, mohon doa ya pemirsa yang budiman :D

**
Oke, lets begin the journey..
Saya berangkat Pkl. 04.00, yes, sebelum subuh kami berdua dengan teman dosen berangkat menuju Bandara SSQ II di Pekanbaru. Kok sesubuh itu berangkat? Gimana lagi, we have no choice karena jarak tempat tinggal kami dengan bandara lumayan jauh, jarak tempuh perlu waktu sekitar 3-4 jam. Selain itu jadwal penerbangan Pekanbaru – Bandung hanya 2 kali sehari, dan jadwal yang kami pilih itu sudah jadwal yang paling siang, haha..

Sesampainya di Bandung, kami disambut oleh keramahtamahan pegawai Hotel Travello siapa tau diendorse nginep gratis gitu, saya sebut brand hahaha.. koper temen saya dibawain sama si aa-aa ganteng (semoga suami saya nggak salah paham #apasih ). Setelah itu kami diarahkan untuk makan siang. Kami belum bisa melakukan check-in kamar. Alasannya karena panitia dari DIKTIS Kemenag belum sampe hotel. Hmfh!


Setelah makan siang, kami masih belum bisa check in. Dan baru di Pkl. 14.00 kami dipersilakan melakukan registrasi di meja panitia. Dan diarahkan untuk lanjut ke meeting room di lantai 2. Ya, kami masih belum bisa masuk kamar. Kelelahan, pasti. Karena untuk peserta yang berasal dari luar Bandung pasti sudah menempuh perjalanan panjang. Peserta dari Halmahera bahkan sudah lebih dari seharian di jalan. 

**

Ajaibnya, dalam kondisi lelah sekali, ruangan kembali berenergi karena di meeting room kami disajikan materi dari seorang profesor yang keren pake banget!
Yeay, belajar lagiiiiii....
Bye bye capek, bye bye lelah..

**
Materi yang dibawakan oleh profesor tersebut berat sebenernya, tapi kok sampenya enak aja gitu ya. Bicara riset seperti sedang minum teh hangat sama pisang goreng di perkebunan teh #eaaa

Prof. Fuada Jabali in action
Oyaa lupa ngenalin beliau. Beliau adalah Prof. Fuad Jabali, guru besar di UIN Jakarta. Beliau menempuh studi magister dan doktornya di luar negeri. So eye catchy, karena beliau memakai jaket casual + celana longgar + sepatu slip on. Belakangan setelah acara selesai menjelang magrib, terlihat beliau menggunakan backpack dari bahan kanvas, so casual. santai banget. Honestly, cukup langka sih profesor pake outfit model begini, hehe.. and i do like it. Nggak kaku, nggak gimana gitu yaa #apasiihmaksudmuyul??!

Dari dialek bicara, kita bisa langsung tahu, bahwa beliau keturunan sunda asli. Lokal punya, tapi mindsetnya udah global! Dan ternyata bener, beliau putra daerah Jawa Barat. Yeay sesama USA (Urang Sunda Asli) :D

**
Dari sekian banyak pemaparan beliau, berikut ini yang melekat di kepala saya. Hal-hal yang memang sangat harus kita renungkan.

  • ·  Indonesia sedang berupaya untuk menyuarakan Islam Nusantara. Kajian keislaman butuh referensi lain selain islam timur tengah. Faktanya, hal ini belum bisa dicapai, karena Indonesia baru terkenal sebagai negara dengan penduduk mayoritas islam. So what? Sudah sesignifikan apa kontribusi si mayoritas ini untuk kemajuan negeri? Sebagai muslim saya kesindir abis. saya udah ngapaiiin aja? #Jleebbb!
  •      Betul bahwa Indonesia  memiliki kekayaan luar biasa, ditambah dengan label penduduknya yang mayoritas islam, tapi kita masih perlu hal yang ‘menjelaskan’ kehebatan yang kita punya ini pada dunia. Bukan jadi 'jago kandang'. Salah satu upaya yang bisa ditempuh adalah melalui riset, riset, dan riset!   
  •        Sudah saatnya Indonesia dikenal sebagai mayoritas islam yang  berdaya GLOBAL! Tidak hanya sibuk mengelu-elukan satu golongan tertentu. Terbebas dari nafas fanatisme yang memblock imajinasi keilmuan.

·         Dalam sesi shortcourse yang beliau bawakan, kami didorong untuk bisa membuahkan riset yang tidak lokal, tidak subjektif, juga tidak terkenal, haha..      

Sontak banyak yang tersindir. Dan rasanya ingin pulang saja tidak ingin melanjutkan presentasi, HAHAHA...

Tapii saya memilih berani, berani belajar, dan berdoa semoga reviewer proposal saya adalah beliau. Lanjutan ceritanya ada di tulisan saya yang bertajuk bedah proposal riset, belajar lagi, belajar terus..




Minggu, 28 Agustus 2016

Tiga Kali ke Bali, Kangennya ber-KALIKALI

Jejak pertama

Pertama kali ke Bali tahun 2010. Berangkat bukan untuk liburan, tapi mengikuti rapat kerja nasional organisasi IMABKIN (Ikatan Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Indonesia). Yaa... namanya rapat, meskipun ada alokasi field trip, waktu terbatas.

Sebelum sampai di Bali, dipikir bisa jajal seluruh tempat hanya dalam satu hari. Ternyata tidak. Sehari di Bali hanya bisa ke beberapa spot saja. Kita harus mempertimbangkan kesesuaian rute.

Nah, untuk kamu  yang akan berangkat ke Bali untuk pertama kali, pastikan waktu nggak mepet-mepet dan sudah menentukan destinasi yang ingin dituju. Setelah itu pertimbangkan akses, jarak tempuh, dan waktu tempuh dari Bandara Ngurah Rai atau Pelabuhan Gilimanuk. For your information, jarak tempuh dari pelabuhan itu bisa berjam-jam sampai Denpasar. Apalagi kalau sudah sampai Denpasar, siap-siap ketemu macet layaknya ibu kota lainnya :/ 

Singaraja

Undiksha - Singaraja adalah tempat diadakannya rapat kerja kali itu. Konon katanya daerah Singaraja termasuk daerah dengan mayoritas penganut muslim. Tapi meskipun begitu, bangunan kampus dan perumahan sekitar tetap mengusung arsitek khas ala-ala pura. And it's beautiful!

Kami para peserta yang berasal dari luar Bali (apalagi yang baru nginjek Bali seperti saya) dibuat terkagum-kagum dengan arsitektur kampus Undiksha yang Bali banget. 
Bisa dikatakan, kearifan lokal sangat dijunjung tinggi di sana.
Wangi dupa dan sesajen bunga-bunga ada di setiap gedung. Seakan tak ingin sedetikpun membuat kita lupa akan eksotika wewangian Bali #eaaaaa.

Di perjalanan ke Bali untuk pertama kali itu, saya jadi tahu kalau untuk jajal Bali kita perlu kendaraan pribadi. Karena untuk masuk ke spot wisata, lokasinya biasanya agak masuk-masuk ke dalam. . Jalannya berkelok-kelok, layaknya jalan menuju pantai.

Waktu itu, memanfaatkan alokasi field trip setelah agenda rapat selesai, saya dan teman-teman memutuskan rental mobil bareng-bareng. Kami menggunakan APV plus bapak sopir yang baik hati. Waktu itu kami merogoh kocek 400rb. Karena memang tidak seharian full. Kami harus kembali ke pelabuhan sore harinya. Bisa dibilang, kami hanya rental setengah hari aja.

Ada kejadian lucu, ketika di perjalanan menuju Pantai Sanur, kami tersadar hanya berputar-putar di tempat itu-itu saja. Sampai akhirnya bapak sopir nyuruh kita tobat dan bersihkan pikiran kotor, hahahaha...

Entah mitos atau bukan, tapi emang kejadian. Setelah bapak sopir bilang gitu, temen-temen langsung koreksi pikiran kali ya, dan tadaaaa sampailah kita ke tempat tujuan.

Bapak sopir nampak seperti penganut Hindu yang taat. Beliau menyampaikan kalau di Bali ini hidup tenang dan alam akan menghukum siapapun yang berbuat kerusakan. Meskipun saya berbeda agama dengan beliau, tetep saya salut! Ciyee..

Danau Kintamani

Kunjungan ke danau ini sebenernya cuman di area atas aja. Karena kalo ke danau nya harus muter-muter lagi kata bapak sopir.  Tapi dari arah atas malah bagus view danaunya. Udaranya sejuuuk. Di sepanjang jalan banyak anak-anak dan remaja yang berjualan gantungan kunci secara asongan.




Pasar Seni Sukowati

Kemanapun destinasinya, pasti mikir harus bawa oleh-oleh donk. Nah, ketika ke Bali pertama kali, yang saya pikirkan adalah bisa beli apapun yang murah tapi ada tulisan Bali – nya. Hahhaha..

Karena kocek para mahasiswa ini terbatas, hampir serombongan belanjaannya sama: gantungan kunci, dan kaos. Saya menambahkan sarung bali dan udeng dalam list.

Di Pasar Sukowati ini tempatnya belanja murah. Cocok banget sama budget kami waktu itu. Bentuk pasarnya tradisional, kayak pasar kebanyakan. Hanya yang diperjualbelikan mostly adalah souvenir.
Pasarnya luas. Dan item-item nya pun nggak kalah bagus sama yang di toko-toko ntu tuuh (nunjuk toko sembarang, haha.. ) Di pasar ini, pinter-pinter aja nawar. Inshaallah mabrur. Wkwkwk...

view Pasar Seni Sukowati dari parkiran (dok.pribadi)


Pantai Sanur

Setelah belanja oleh-oleh, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Sanur. Pantainya waktu itu ramai sekali. Mungkin efek weekend. Di Sanur juga berderet penjual baju-baju pantai dan souvenir, selayaknya pantai pada umumnya.

Ssst... ada kejadian lucu lagi nih. Dari parkiran kami berjalan ke arah pantai. Lumayan jauh, lebih dari 30 meter. Di perjalanan, salah satu teman saya termasuk orang yang agamis, sibuk istighfar. Saya bingung kenapa. ternyata dia melihat bule pake baju bikini two pieces. Ow ow! Itu rejeki, jangan ngedip. Haha *joking. Maappp bapak ibu ustadz ustadz/ah. :D

aktifis yang serada salah kostum haha..
**

Jejak kedua

Kali kedua ke Bali Tahun 2012. Beberapa hari setelah resepsi pernikahan di kampung saya dan ngunduh mantu di kampung suami. Pernikahan maraton, ngos-ngosan. Jadi trip ke Bali kali itu kurang pas kalau disebut bulan madu, karena mepet banget waktunya. Kejar-kejaran dengan jatah cuti suami dan tiket ke Pekanbaru Riau. Kami hanya dua hari di Bali include perjalanan Gilimanuk – Denpasar.
Pantai Kuta lah destinasi terdekat yang bisa dituju. Setelah check in di penginapan, kami baru bisa keluar jam 11 maleman. Tapi ada hal unik, kami keliling di sekitaran Kuta, Hard Rock Cafe, Legian, sampai ke pusat oleh-oleh Krisna pake sepeda ontel bermotif warna warni pelangi punyanya temen suami yang stay di Bali. So romantic..! meskipun pegel juga pinggang, haha..

honeymoon in a rush!
**

Kali Ketiga...

Nah, kali ketiga kunjungan ke Bali kami lakukan di Tahun 2015. Setahun lalu ya. Kala itu trip berjalan sangat seru (((MEMUASKAN))) ! Haha..

Meskipun masih banyak tempat terlewatkan. Kembali lagi, karena keterbatasan waktu ya. Jadi kalo mau ke Bali emang perlu berminggu-minggu biar semua terjajal, tapi siap-siap aja nggk bisa move on :D

Pulau Menjangan 

Kami memulai trip dari Banyuwangi (kampung suami). Eksplor Banyuwangi aja udah bikin seneng. Eh dilanjut trip ke Bali Barat. Kami dapet akomdasi gratis menuju Pulau Menjangan. Katanya, destinasi keren untuk snorkling. Kenyataannya, kereeeen banget!

Nama Pulau Menjangan diambil dari hewan endemik di pulau tersebut: Menjangan, yang artinya rusa. dari kunjungan ke pulau ini saya jadi tahu kalau rusa ternyata bisa kuat berenang menyebrang lautan, lho.

Pulau Menjangan masih termasuk wisata eksklusif. Belum terlalu ramai. Kita bisa nyebrang melalui Banyuwangi, atau Bali. Kami tentu menyebrang dari Banyuwangi. Kali itu kami menggunakan kapal kecil. Saya tidak hanya pergi berdua, tapi bersama dua bule pasangan kekasih dari Switzerland, pengemudi kapal beserta asistennya haha.., plus adek ipar dan suaminya sang sponsor. Suami adik ipar kebetulan bekerja sebagai Polisi Air Laut yang juga investasi alat-alat Snorkling. That’s why perjalanan kami GRATIS!! *rejeki anak sholeha pemirsa*

Tapi si Gratis ini tetep ada syaratnya, saya dan suami diminta jadi translator selama perjalanan. Gak apa-apa lah, sing penting liburan gretong!

kami yang bahagia

Actually, its our first snorkle experience. Iya, saya mah apa atuh baru kali itu berani snorkling, karena bersama si penjaga hati #eaaaa

Sayangnya kamera underwater si ade ipar ketinggalan dan kamera underwater si bule pun agak rusak gitu. Kamera underwater kami? Masih di toko! Haha

But the moments was captured in our hearts. Uhuk!

welcome to Pulau Menjangan

si ade ipar sama kakak iparnya selfie euy!

Di Pulau Menjangan ini ada beberapa spot untuk snorkling, tour guide udah tahu spot-spotnya. Kami waktu itu menjajal 3 spot. Ombak cukup besar di perjalanan. di spot pertama, saya diajarkan mengambil dan membuang nafas ketika snorkle. Jadi ngambil dan buang nafas lewat mulut. Hidung nggak difungsikan. Dan saya murid yang teladan, langsung bisa donks. Ade ipar malah sempet gelagapan dan kapok nyebur. Tapi ketika melihat gelapnya lautan dari arah dalam (area untuk diving) saya sempat panik. Dan dari pengalaman ini, nampaknya saya nggak akan pernah berani jajal Diving, atuuuuut! Kebayang film Shark. Kita nyelem tau tau dilahap hiu. Amit-amiiit dah!

ciyee couple snorkle ciyee
Pertama kali snorkling, langsung di salah satu spot snorkle terbaik di negeri ini, ketemu clown fish semodel si Nemo, liat bintang laut, ikan biru, ikan warna warni, sampe bisa nyaksiin sendiri yang namanya bulu babi. Awesome!

Trip bareng mertua

Keesokan harinya kami lanjut menuju Bali dari Gilimanuk. Kali ini asiknya  saya dan suami keliling Bali pake sepeda motor. Bersama papa mama mertua yang juga pake motor. Family touring kitaaa~ yuhuuu!

Enaknya pake motor adalah kita bisa masuk ke pantai-pantai yang dilewatin dengan bebas, bayar parkir nggak mahal, dan lebih fleksibel. Nggak enaknya, kalo hujan turun perjalanan harus tertunda. Tapi kalau nyaman lanjut pake jas hujan, silakan :)

mampir, nemu pantai asik di perjalanan

Sssstttt.... enaknya touring sama mertua apa coba?? Apa-apa dibayarin. Mau ini itu dijabanin, bwahahahaha #menantukurangajaaaarrr!

Saya menjelma bak ratu dalam perjalanan, alias sang penentu destinasi. Haha.. nggak mau tahu itu dimana dan gimana, pokoknya harus sampe! Nah kan emang dasar #menantukurangajaaaarrr!
Untungnya mertuanya baik nggak ketulungan *salim, sungkem sama si mama papa mertue!

Sunset di Tanah Lot

Keberuntungan tengah memeluk kami. Sore hari kami sampai di Tanah Lot. Papa  agak lupa lupa rute, tapi demi mantu kesayangan, ketemu juga itu lokasi Tanah Lot. Di sana kami sibuk foto-foto. Menatap indahnya laut lepas. Ombak berkejaran, semakin menggapai-gapai ke arah dalam sekitaran Batu Bolong.

Pada kesempatan kali itu, kami melihat ular suci yang dijaga oleh bapak kuncen di sebuah gua. Kirain ulernya gede, ternyata kecil. Kurang tahu juga kenapa disebut ular suci, anyone knows?

ular suci alias holy snake di Tanah Lot

Dan puji syukur, kami beruntung menyaksikan sang surya tenggelam di Tanah Lot. Romantis!

Sunset di Tanah Lot

Semakin gelap, air semakin pasang. Ketika beristirahat, belakangan kami tahu malam itu ada pertunjukkan Tari Kecak. Ah, itu kan impian si saya yang belum kesampean. Suami pun tahu itu. dasar suami sholeh ya, dia langsung ngajak ke lokasi. Papa mama mertua memilih menunggu di sekitaran ruko oleh-oleh – belanja. Berlarian kami menuju lokasi pertunjukkan, sampe lepas sandal, karena memang pertunjukkan akan dimulai dalam waktu kurang dari 10 menit. Sedangkan lokasi pertunjukkan dengan tempat kami duduk itu ujung ke ujung, jauuuuh.,

sampai di loket langsung beli tiket (Rp. 50.000/org). pertunjukkan sudah dimulai kurang lebih 10 menit kata si mbak penjaga loket.

Finally, we made it!

part of performance

Selepas dari Tanah Lot, kami lanjut cari penginapan. Semua buta arah. Haha..

Destinasi kedua yang ingin sekali didatangi adalah Pantai Pandawa. Papa mertua sibuk mikir harus di daerah mana menginap, agar tidak terlalu jauh dari lokasi yang saya sebutkan. Beliau tidak tahu pantai itu tepatnya dimana, hanya tahu daerahnya saja.

Sambil mikir, kami mampir ke sebuah kedai bakso. Dunia emang kadang terlihat sempit banget ya.. ternyata penjual bakso sekampung sama papa mama mertua. Dari obrolan kami malam itu, kami diarahkan ke sebuah penginapan. Katanya dekat Pantai Pandawa dan murah! Ternyata benar, murah dan searah ke Pantai Pandawa.

kami di depan kamar penginapan, and it was my birthday! :D

Pantai Pandawa

Tadaaaa... sampailah esoknya kami di Pantai Pandawa. Eksotis! Tebing-tebing alami menjulang tinggi, dibelah kayak belahan puding. Dari arah atas, laut lepas bak primadona yang tengah ranum.

Memasuki kawasan pantai, kita akan disambut patung-patung tokoh pewayangan mulai dari Dewi Kunti sampai Pandawa Lima.

salah satu patung di area kedatangan: Dewi Kunti

Waktu saya kesana masih ada pembangunan di arah belakang pantai, mungkin sekarang udah lebih ketje yaa.


full team in action :D


pantai nya hijauuuuu~ indah

Setelah kenyang santap aroma Pantai Pandawa, kami lanjut menuju Garuda Wisnu Kencana (GWK). Waktu tempuh sekitar 1 jam kalo nggak salah. Di perjalanan ke arah GWK sebenarnya melewati beberapa destinasi seperti Pantai Nusa Dua Bali dan banyak spot wisata lain. Tapi kami nggak mampir, alasannya: waktu!

Garuda Wisnu Kencana (GWK)                                                                                               

Sampai di GWK, kita nggak langsung ketemu patung raksasa Wisnu dan Burung Garuda nya. Tapi kita memasuki kawasan seperti mau masuk ke area real estate.

GWK merupakan destinasi wisata kontemporer. Di dalam area GWK kita bisa melihat pertunjukkan teater, tari-tarian, wisata belanja, juga memasuki galeri-galeri seni.

Icon di GWK ini adalah patung-patung besar. Dua patung terbesar adalah Patung Wisnu dan Garuda. Konon katanya (baca di brosur) nanti dua patung itu akan disatukan jadi satu patung raksasa Wisnu bersama Burung Garuda utuh. Seniman patung yang terlibat adalah seniman-seniman terbaik Indonesia. Salah satu penggagasnya adalah lulusan ITB. Megaproyek yang indah.

what is he doing? haha

Tapii dibanding destinasi lain, GWK termasuk mahal. Karena ada beberapa pertunjukkan atau wahana yang harus dibayar terpisah di dalam. Kami waktu itu hanya berfoto di depan patung-patung, makan di area bazar, dan nonton sendratari.

take a picture after performance, bareng penari dan mama mertua kesayangan :*

Setelah itu kami kembali pulang. Di perjalanan pulang papa mertua mengajak kami silaturahmi ke tempat sobat lamanya. Makan-makan lagi. Kemudian pulang menuju rumah mbah uti yang pasti udah kangen saya #eh.

Ssstt...! ada cerita seru dan inspiratif tentang sobat papa mertua ini. Next time saya tulis :)

**
ketika Bali menjelma serupa kekasih yang tak lekang kerinduan terhadapnya. Tuhan, izinkan kami untuk kembali ke Pulau Dewata ini sekali lagi, sekali lagi, lagi, dan lagi.