Tampilkan postingan dengan label myday. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label myday. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 November 2017

Sebuah kontemplasi: Keajaiban Rezeki



Dulu, zaman-zamannya anak sampai dewasa awal, saya mengartikan rezeki sebagai materi. Materi dalam arti hal yang berupa uang atau berupa barang. Tidak ada yang salah dengan itu, hanya saja ternyata belum sepenuhnya tepat.

Sekarang, seiring berjalannya waktu menua. Saya semakin paham kalau ternyata rezeki adalah sesuatu yang tidak selalu berwujud materi. Dimensi dengan level yang lebih tinggi dari sebuah prinsip kebendaan. Rezeki adalah segala hal yang kita terima untuk hidup, jalan untuk bertahan hidup, jalan kebahagiaan, jalan kesenangan, jalan menuju zona yang aman, signal-signal kasih sayang Tuhan di keseharian kita.

Dulu, ketika membaca buku-buku atau artikel tentang keajaiban rezeki, rasanya percaya tidak percaya. Apa iya? Logika kemanusiaan saya sibuk mempertanyakan. Logika terbatas yang tidak sebanding dengan logika matematis Tuhan.

Sekarang, saya sadar kalau tidak semua hal bisa dihitung jumlah keluar masuknya rezeki dengan hitungan matematis. Karena nyatanya, semakin rinci menghitung, semakin tidak balance hitungannya. Hitungan matematis cenderung menunjukkan inbalance (tidak seimbang) antara yang masuk dengan yang tidak. Ketika rezeki disejajarkan dengan hitungan CASH, pasti balance (sama) atau kurang (minus), kalaupun surplus, tidak seberapa. Iya kan?

Sedang kalau kita hitung REZEKI dalam arti sebenarnya (misal, bernafas bebas tanpa tabung oksigen, kesehatan, keluarga yang harmonis, kendaraan gak pernah rusak, dapat kado dari teman, ditraktir bos/teman, mendapat promosi jabatan, dapat voucher diskon, dll) pasti kesimpulannya adalah: yang kita terima selalu lebih besar dari yang kita keluarkan.

Ah, tapi saya perlunya uang. Emangnya bisa beli barang pake syukur?

Hati-hati, ketika kalimat itu bersarang di kepala, artinya sudah merendahkan kuasa Tuhan, lho.

Yuk, kita sama-sama renungkan dua case ini:

Si A punya uang untuk membeli sebuah kulkas merek X. Si A pergi ke toko elektronik, membayar, dan akhirnya memiliki kulkas merek X tersebut.

Lalu 

Si B tidak punya uang untuk membeli sebuah kulkas merek X. Si B berusaha menabung. Si B terus berusaha memenuhi target tabungannya. Selain berusaha, si B melibatkan DOA. Dan tanpa disangka-sangka, si B bertemu dengan temannya alias si C yang mendapat doorprize kulkas dari gerak jalan santai. Si C tidak menggunakan kulkasnya, karena tidak butuh. Akhirnya melelang ke si B, dengan harga sangat murah. Si B berhasil memiliki kulkas merek X meski tabungannya jauh dari target hitungan matematis di toko elektronik.
Dari kedua ilustrasi tersebut, saya ingin berbagi tentang betapa ajaibnya mekanisme rezeki sampai di tangan kita. Si A dan si B menargetkan kulkas yang sama. Tentu saja harganya pun sama. Kalau rezeki selalu didefinisikan dengan uang, tentu si B masih harus menunggu dalam waktu yang lama sampai tabungannya mencukupi. Iya kan? Nyatanya dua duanya bisa mendapat kulkas yang sama, dengan nominal harga yang berbeda. Tapi memang, jalan si B agak lebih panjang dari si A.

Emang ada ya yang begitu? Banyak! Saya saksi hidup dari bagaimana ilustrasi itu terjadi pada saya. lengkap saya ceritakan di artikel saya yang berjudul: Beli Kulkas dengan 400 ribu aja!

Semakin yakin bahwa rezeki lebih dari sekedar level CASH. Pada dasarnya selalu ada transaksi, tapi tidak semua transaksi melibatkan tangan kita langsung, seringkali yang bertransaksi membayar segala keinginan kita adalah DIA – The Invisible hand, Tuhan Semesta Alam.


Rezeki itu ajaib, rezeki itu lebih hebat dari sekedar currency.






Senin, 26 September 2016

Harus ya bisa masak?

Zaman sekarang, perempuan sama dapur nggak selalu jadi dua hal yang otomatis terhubung. Beda dengan zaman ketika sarjana perempuan atau wanita karier belum banyak, masih bisa dihitung jari.
Bahkan sudah banyak yang berani sounding, kalau perempuan masa kini nggak wajib bisa masak, yang penting bisa cari duit. O ow!! *wrong way detected :D

Lalu apakah saya sebagai perempuan masa kini setuju? 

Awalnya setuju banget,
sekarang? Absolutely, No!
Saya yang belum tua-tua amat, harus menyerah pada nasihat orang-orang tua, perempuan mau nggak mau harus bisa masak.

Tapiii dengan beberapa catatan ya. Here we go~

Bisa masak, bukan berarti harus masak setiap hari #eh.
Sekarang, tidak bisa dinafikkan banyak perempuan berkarir, bekerja from 8 to 5, perempuan berbisnis, and so many things.
Harus diakui oleh siapapun, kadang perempuan yang berada dalam multi-peran tidak bisa 'selalu' bisa memasak setiap hari. Apalagi kalau si perempuan harus melakukan dinas luar, gimana masaknya?!

Kenapa sih harus bisa masak?

masakan adalah makanan kan? makanan yang akan dikonsumsi keluarga, yang menentukan kondisi kesehatan dan tumbuh kembang keluarga.
kita semua tahu kalau di luar sana, sekarang jaminan atas makanan yang "4 sehat 5 sempurna 6 gaya" itu minim sekali. Boleh jadi, memang higienis, tapi termasuk junkfood- or fast food yang notabene digadang-gadang sebagai pemicu kanker. Hiiyh!
Makan di tenda-tenda, logis banget kan penyebaran kuman itu udah kayak laju mobil balap di film fast and furious.

Tapi bukan berarti terlalu membatasi diri untuk nggak 'jajan' juga, karena kalau secara langsung distop juga nggak baik ke kondisi mental hahaha.. Pelan-pelan saja, like what i am doing now :D
Lama-lama pemikiran itu akan mendarah daging kok.

Selain urusan kesehatan dan tumbuh kembang, masak memasak juga akan menjadi bagian dari aktifitas penghematan. PROVED! alias terbukti ampuh.
Coba deh seminggu penuh makan di rumah alias masak sendiri, itu akan setara dengan 1-2 kali makan di luar :D

Lalu gimana kalau sama sekali nggak bisa masak?

Saya juga yang nulis ini nggak pinter-pinter amat masak. Awal nikah modal kemampuan masak hanya 5 menu: masak air, telor ceplok, telor dadar, masak mie, tumis sayur.

Tapi setelah sering ngalamin suka galau nggak penting karena kangen makanan kampung yang nggak ada di perantauan, gampang baper kalau suami lebih excited makan yang dibeli di warung, gampang sedih kalau suami sakit, juga suka sedih akut kalau dompet gampang terkuras habis akhirnya perlahan mau belajar, perlahan bisa menentukan solusi. 

Solusinya adalah: LATIHAN dan BERANI EKSPERIMEN!

practice makes perfect! 
Sama halnya dengan masak. Kemampuan-kemampuan dasar serupa mengingat resep, kemampuan menentukan takaran bumbu, penemuan strategi-strategi nyetok sayuran mingguan tanpa busuk, strategi atur jadwal masak sama jadwal kerja, dan macem-macemnya bisa semakin dikuasai dengan berlatih setiap hari :D

Selain ahli, kita serupa memasukan roh-roh pembiasaan ke dalam diri. Agar keinginan memasak ter-maintain. Karena bagi perempuan yang nggak terbiasa masak sejak dulu, ini SUSAH. jadi harus selalu DIASAH.

Eksperimen yang dimaksud adalah berani memadupadankan bumbu-bumbu. Just think out of the box.
Kalau gagal, nggak usah baper. Itu mah biasa, namanya aja eksperimen. Coba lagi kakaks!
Dapur berantakan dan males beresin? Nanti aja beresinnya, nggak berantakan nggak belajar kakaks!
Butuh konsultan nih?! Alesan. Buka google. Kalau memungkinkan tanya tetangga yang senior di dapur kakaks!

Nah, next article saya mau share bumbu ajaib dan tips stok kulkas seminggu buat pemula.

Rangkaian artikel ini sama sekali have no intention untuk menggurui, lho. Tapi sekedar chit chat bahas solusi buat siapapun yang sedang mengalami kegagapan tak berujung di pojok dapur, haha..

salam pemula, kakaks! :D

Jumat, 23 September 2016

hidup dalam sebuah celoteh

ketika sudah tidak bisa mengalahkan, mungkin saatnya untuk mengalah.
ketika sudah tidak bisa melawan, mungkin sudah saatnya untuk berkawan.
ketika sudah merasa menang, mungkin sudah saatnya untuk tenang dan senang.
ketika sudah semakin jengah, mungkin sudah saatnya untuk menengadah ke langit yang indah.

ah, begitulah.
nyatanya tak ada yang mudah.
nyatanya tak ada yang terlalu susah.

hidup oh hidup, kau memang rangkaian kosmik yang pelik untuk dibahasakan.
lelah saja aku ketika aku memaksa menaklukan apalagi mengalahkanmu

biarlah jejak ini aku buat setenang dan sesenang mungkin.

hidup oh hidup, aku tak akan lagi memakimu.
karena kau bukan lawan yang sepadan.

hidup oh hidup, malam ini dan seterusnya, kunamai kau 'kebebasan'.
hidup oh hidup, apapun wujudmu, kunamai kau 'petualangan'
biarkan aku aku memilih berkawan dan mengalah saja.
aku ingin tenang dan senang menikmati kebebasan petualangan.


Kamar, 23 September 2016