Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 November 2017

Pesan Tiket Kereta #JadiBisa Lebih Mudah, Cepat, dan Menyenangkan Tanpa Antre Lagi


Hallo, para petualang!

Suka jalan-jalan atau bepergian juga donk? Reservasi atau pemesanan tiket menjadi hal penting untuk kita yang sering bepergian. Saat ini kita disuguhkan berbagai pilihan untuk melakukan pemesanan tiket, yaitu secara online dan juga offline.

Bagi yang masih suka melakukan pemesanan tiket secara offline itu sah-sah saja. Tapi kadang kala kita terbentur oleh padatnya jadwal kegiatan dan sedikitnya waktu luang untuk mengantre. Oleh karena itu, saya sarankan mulai bersahabatlah dengan pemesanan online untuk mengefektifkan waktu dan energi tentunya.

Sejak 2013, waktu zamannya harus bolak balik Bandung – Pekanbaru karena Long Distance Marriage (LDM), saya adalah pelanggan setia aplikasi Traveloka, hampir semua fitur dalam aplikasinya sudah saya coba. 

"Kisah cinta LDM #JadiBisa lebih mudah gara-gara aplikasi ini #tsaah. Dan kesannya tetap sama: simple, praktis, tidak ribet, dan lebih murah."

Semenjak pindah ke Kota Malang dan terbebas dari LDM, saya dan suami lebih sering menggunakan moda transportasi kereta api untuk bepergian, baik itu untuk berlibur, mudik, maupun urusan pekerjaan. Sudah bukan rahasia lagi, kalau dulu kita harus mengantri di stasiun untuk membeli tiket beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi, saat ini kita tidak perlu melakukannya lagi. Pemesanan bisa dilakukan di rumah, sambil dasteran, minum kopi, dan dengan santai klak klik handphone melalui aplikasi Traveloka.


source: web traveloka

Kisah Saya dan Traveloka


Cukup banyak pengalaman saya dan keluarga bersama Traveloka. Salah satu  pengalaman yang sulit dilupakan adalah ketika saya reservasi dan uang yang ditransfer tidak sesuai dengan angka unik yang diminta oleh aplikasi Traveloka. Akhirnya E-tiket tidak terbit-terbit. Tentu saja hal tersebut berhasil membuat saya panik, karena takut uang saya tidak kembali. Kemudian saya menghubungi customer service Traveloka melalui e-mail. Di luar dugaan saya mendapat respon yang tidak hanya baik tapi juga cepat. Sehingga saya bisa mendapat uang kembali tanpa potongan sama sekali yang ditransfer melalui rekening yang saya lampirkan melalui email tersebut, dan direkomendasikan untuk melakukan pemesanan ulang.

Pengalaman ini sih yang membuat saya susah beranjak dari aplikasi yang satu ini. Trusted  dan membuat saya sebagai customer merasa aman melakukan transaksi online.

Bagi saya dan keluarga, Traveloka bukan hanya wujud dari perkembangan teknologi, tapi tentang bagaimana teknologi memberikan kemudahan dalam keseharian.

Kenapa harus pake Traveloka?


Kenapa saya lebih suka menggunakan aplikasi ini? Literally, TRAVELOKA punya beberapa keunggulan yang sangat memudahkan kita sebagai penggunanya

Partner resmi KAI

Traveloka merupakan salah satu penyedia jasa penjualan tiket resmi yang berpartner resmi dengan PT Kereta Api Indonesia. Jadi kita tidak perlu khawatir penipuan, tiket tidak valid, atau nomor kursi ganda. Karena jaringannya langsung terkoneksi dengan PT KAI. Sehingga jumlah kursi tersedia, jadwal keberangkatan, rute perjalanan, sama persis dengan data yang dikeluarkan oleh PT KAI.

Passanger QuickPick

Nah, fitur passanger quickpick ini yang menurut saya sangat memudahkan kita sebagai passanger yang seringkali bepergian. Kita bisa menggunakan data yang sudah kita input sebelumnya untuk melakukan pemesanan tiket pada jadwal berikutnya. Jadi, untuk saya yang hampir sebulan sekali (sampai tiga kali) harus memesan tiket untuk urusan bisnis bersama suami, rasanya sangat dimudahkan, karena kita tidak lagi harus nyontek Nomor KTP lagi saat melakukan pemesanan tiket.

Bisa pilih kursi

Kemudahan lainnya adalah saat pemilihan kursi. Secara visual kita bisa mengklik nomor kursi sesuai dengan posisi yang kita inginkan. Tentu saja selama nomor kursi tersebut masih tersedia. Kan lucu juga kalau kita pergi berdua, lalu tidak bisa memilih tiba-tiba duduknya terpisah, hehe..

Last minute booking sampai 3 jam sebelum keberangkatan

Kebayang nggak kalau tiba-tiba kita harus berangkat ke suatu tempat secara mendadak. Sedangkan jarak antara rumah dan stasiun cukup jauh, ditambah harus mengantre saat reservasi tiket? Yah, saya pernah mengalami ini. Tiketnya untuk suami saya, rumah kami cukup jauh dari stasiun, sedangkan suami saya masih harus kuliah. Akhirnya fitur last minute booking ini penyelematnya. Saya bisa memesan tiket dari rumah, melakukan pembayaran, dan mengirimkan E-Tiket Kereta Api ke suami saya. As simple as that.
Semua #JadiBisa lebih mudah dan #JadiBisa lebih menyenangkan dengan Traveloka.

6 Langkah Mudah Memesan Tiket Melalui Traveloka


Nah, untuk temen-temen yang baru pertama kali menggunakan atau memesan tiket kereta api melalui Traveloka, saya share tutorial menggunakannya ya,gampang banget kok!

1. Masuk ke website traveloka atau unduh aplikasinya di playstore. 

Pembelian tiket melalui traveloka bisa dilakukan melalui websitenya atau aplikasi mobile. Duaduanya sama praktisnya kok. Kelebihan menggunakan aplikasi, kita bisa lebih cepat lagi mengaksesnya dan lebih cepat tahu kalau Traveloka mengeluarkan berbagai promo-promo menariknya. 

Selain itu, kita bisa menggunakan fitur Passanger QuickPick, jadi tidak usah ribet dengan memasukkan data berulang-ulang kali.

Step 1. Pilih tiket Kereta 

2. Pilih Tiket Kereta Api, lalu Pilih Rute dan Jadwal Keberangkatan.

Klik Pulang Pergi jika ingin membeli kereta untuk pulang dan pergi dengan rute yang sama.

Step. 2 Pilih Rute, Jadwal, dan Jumlah Penumpang

3. Pilih Kereta yang diinginkan.

Dan di aplikasi traveloka kita bisa mengurutkan pilihan berdasarkan harga, baik dari yang termurah maupun yang termahal. Selain itu, bisa juga memfilter pilihan berdasarkan jadwal, kelas kereta, maupun nama kereta.


4.Isi data penumpang dan Pilih Kursi

Untuk mengisi data penumpang kita hanya perlu menyiapkan Nomor KTP atau SIM, Paspor, Kartu identitas lainnya.
Step 4. Bisa langsung klik nama-nama yang ada jika sudah pernah pesan 
Pilih kursi yang masih tersedia

5. Lanjut ke Pembayaran, Pilih Metode Pembayaran dan Lakukan pembayaran sesuai pilihan.

Tips dari saya, pilih metode pembayaran yang paling memudahkan. kalau saya biasanya menggunakan fitur transfer menggunakan mbanking :)




6.Terbit deh E-Tiket

Nah, ini contoh e-tiket kereta api saya yang terbaru. Hitungan menit sudah bisa pesan tiket tanpa antri.
contoh e-tiket yang mudah untuk dishare


"Traveloka dulu, senang-senang kemudian."

Jumat, 24 Februari 2017

My FREAK My ADVENTURE Part. 2 : Nyasar ke Pantai Painan Padang

Hallooo...
ketemu lagi di lanjutan cerita My FREAK My ADVENTURE :'D


di akhir tulisan bagian pertama ada kalimat:
"percaya deh, perjalanan yang seru itu ternyata perjalanan yang entah direncanakan oleh siapa, tapi kita yang harus mengeksekusinya"
iya kadang emang gitu kan? Apa yang kita rencanakan malah terealisasi dalam kehidupan si A. Tapi sebaliknya, si A pun punya rencana yang mungkin terealisasikan oleh si B, C, dll.

sebaik apapun rencana kita as a human, tetep aja Tuhan selalu punya rencana yang lebih baik. Dan Tuhan pasti lebih tahu siapa yang lebih layak mengeksekusi sebuah rencana, jadi ya bersyukur aja. Nikmati apapun yang ada di depan mata #tsaaaaah


**

Lanjut ke perjalanan camping TNBT. 
Setelah semua well-packed di dua ransel kami. Suami sibuk telepon temen-temennya, memastikan spot penjemputan, dan lain sebagainya. Salah satu telepon mengabarkan kalau dua anggota trip tidak bisa bergabung, karena harus lembur di kantor. Dan salah satu yang membatalkan adalah pemilik kendaraan yang akan kami pakai. Artinya, ada PR untuk mencari kendaraan alternatif.

Belum tuntas urusan kendaraan, HUJAN DERAS turun. Bukan kepalang dag dig dug. Hujan yang membuat salah satu anggota trip mengabarkan kalau tidak jadi ikut karena hujan. Tersisa empat anggota yang harap-harap cemas menanti hujan reda.

Hujan reda beberapa saat, kemudian turun lagi. Duh, rasanya gimana gitu ya, mengingat semua sudah masuk ransel dan dua ekor ayam sudah panggang-able di keresek.

Sampai jam dua siang, hujan tetap istiqamah. Kami pun pasrah, tidak mungkin memaksakan kehendak. Karena kalau memaksa pergi di jam 2, kami baru sampai lokasi jam 4 sore. dan diperkirakan waktu tempuh hiking 3 jam. Cuaca di sana pun (sumber: Ibu Sri penduduk lokal sekitar TNBT) mendung sekali. Bahkan Ibu Sri merekomendasikan untuk menunda perjalanan. Yasudahlah....


Gimana kalau kita pasang tenda depan rumah aja sambil manggang ayam? 
Gimana kalau kita pasang tenda di samping sekolah?
Gimana kalauu kita pasang tenda di taman?

Pertanyaan yang jawabannya hanya: KETAWA NGENES! 

Sampai saya dan suami sepakat: terserah deh kita pasang tenda dan panggang ayam dimana, pokoknya kita harus pergi! *senyum devil kompakan*

Tiba-tiba... suami ingat tawaran salah seorang temannya (a.k.a Pak Andre) yang mengajak suami ke Pantai Cerocok Padang. Iseng memfollow-up ajakan itu sebetulnya, karena besar kemungkinan Pak Andre tersebut tidak mengiyakan, karena Padang itu jauh dan beliau punya anak balita. Kami hanya punya waktu 24 jam + 15 jam saja sebelum hari Senin. Perjalanan ke Padang bisa ditempuh paling cepat 8 jam tanpa henti. Kalau berhenti-berhenti? bisa moloor itu estimasi waktu. 

So, bisa dikatakan untuk perjalanan PP saja bisa seharian. Nggak mungkin donk ambil cuti dadakan cuman gegara urusan ayam panggang sama tenda? haha.. 

There is a will, there is a way


Dimana ada kemauan pasti ada jalan, bukan?
Kalau ada kemauan, nggak ada jalan? Ya ayo kita BIKIN JALAN! #Maksa haha
Di luar dugaan....
Tanpa basa basi, Pak Andre mengiyakan 'follow-up' suami. 
Tanpa bongkar apa apa lagi, kami langsung berangkat angkut ransel, ayam sang tokoh utama, dan panggangan.

Pencarian Arang 

Kami memulai obrolan dengan tema: ayam mau dipanggang dimana?
Segitunya, karena kalau si ayam ini tidakk segera dipanggang terancam basi. T.T
Ketidaktersediaan arang membuat sepanjang perjalanan kami mencari arang di warung dan pasar yang ditemui di sepanjang lintas sumatera. dan hasilnya nihil..

Di perbatasan Riau-Padang, kami hanya mendapat batok kelapa yang belum kering-kering amat. Dan belakangan baru tahu kalau orang-orang lokal daerah tersebut emang terbiasa membakar sate (minang) tanpa arang, tapi pake batok kelapa gitu. Ooooh yayayyayaya~

Pasrah deh, arang juga gak ada. Next question: MANGGANGNYA DIMANA? 


Hari udah gelap banget, #eh malem ya namanya kalo udah gelap. 
Rencana bakar-bakar ayam di sebuah taman dengan manis sudah bisa dipastikan GAGAL haha.. Again and again...
Tapi si ayam akan mubazir kalau gak dipanggang malam itu juga. karena kondisinya agak basah pasca diungkeb kan sodara sodara sebangsa setanah air. 
Oke, selalu ingat, kalau Niat baik pasti ketemu jalan yang baik #tsaaah..

Tadaaaa.... Akhirnya kita manggang ayamnya di pinggir jalan Lintas Sumatera

......VICTORY. HISTORY......
bakar ayam di lintas sumatera. kapan lagiiiiiii :'D

Mendadak ngerasa keren kalau lagi ceritain part yang ini. Berasa banget deh antimainstreamnya, Haha..

Oke, selama manggang agak susah ya nyalain api dari batok kelapa yang belum totally dried gitu. Akhirnya si pak suami mengeluarkan sekeresek plastik. Lalu si minyak tanah agak lebay itu diguyur ke sekitaran batok kelapa. 

saya   : Pii, ngambil keresek itu dari mana?
suami : Dari tong sampah sekitaran tukang sate tadi. Tapi bukan sampah basah kok, aman.
saya    : ngomong dalem hati Huex! Gini amat ya takdir hahaha
Sudahlah akhirnya drama ayam panggang selesai. Pak suami sibuk manggang, Pak Fifan sibuk bikin kopi item, Pak Andre sibuk istirahat karena Padang masih jauh, haha.. Dan kami para weceu sibuk makan dan ngopi hehe..

Perjalanan lanjut sekitar jam 1 malem. Btw Dede Kyra - member balita  satusatunya ini setrooong banget udah bakat banget bolang. Nggak ada rewel-rewelnya, malah menikmati ayam panggang yang sejarahnya ..... ah sudahlah. semoga sistem imunnya kuat hehehe...


Salame Pagiiii Padang

Yeay. Bangun-bangun sudah disambut hawa segar dingin pegunungan. Transit shalat subuh di sebuah mesjid. Sebelum lanjut menikmati pemandangan alam yang aduhai. Kebun teh, air terjun, pesawahan, dan  of course LAUT.

CAMPING [?]

ngopi depan tenda :)

Masih inget kan kalau kami sama sekali gak edit alias bongkar lagi barang bawaan yang sebelumnya kami niatkan untuk ke Bukit Tiga Puluh. Oke, dampaknya baru terasa setelah sampai pantai.
Mau berenang pake celana gunung?
Tenda? 
de el el yang sama sekali gak compatible untuk 'mantai' haha

But trust me, kalau udah ikhlas go with the flow, piknik akan jadi ciaaaamiiiik dah.

Ini hasilnya jeng jeng jeeeeng ~


otw Pantai Painan

Add caption



snorkling di Pantai Painan, Carocok. Pake sandal gunung, baju gunung, haha..

Our Bolang :)


Freak adventure family :)
somehow life should be a lil bit FREAK for being Extraordinary ! 






Rabu, 08 Februari 2017

My FREAK My ADVENTURE Part. I : Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) Riau

Iya, kamu nggak salah baca, this is My Freak My Adventure.
Karena memang sungguh sangat freaky cerita perjalanan yang bakal diceritakan di jurnal ini
Cekidot eaa kakaaks :D

**

Rencananya...

Saya, suami, dan teman-teman suami berencana camping di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) di daerah Seberida, Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Nggak lain dan nggak bukan, dalam rangka refreshing. 

sumber foto header: wisatanegerimelayu.blogspot.com


Lokasi TNBT tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami, dua jam perjalanan saja jika ditempuh menggunakan mobil dengan kecepatan rata-rata 80-90 km/jam. 

Berhubung belum pernah ada yang pergi camping ke lokasi tersebut, kami memutuskan untuk survei lokasi seminggu sebelum hari H. Perjalanan menuju Seberida tidak ada masalah. Bermodal pengetahuan surveyor dan internet, sampailah di persimpangan jalan. Kami memutuskan berbelok setelah melihat plang besar bertuliskan TNBT bla bla bla (saya nggak hafal tulisannya, hehe.. 
Yang jelas dari plang tersebut, kami mendapat informasi kalau TNBT berjarak 12KM dari jalan raya.

Jalannya berupa tanah merah, agak lembek, karena memang akhir-akhir ini hampir setiap hari Riau diguyur hujan. Dua kilometer pertama mobil yang kami naiki masih bisa dikatakan baik-baik saja. Tapi semakin ke atas kondisi jalan semakin tidak bersahabat. Mobil Inova yang kami naiki soak. Jalan bukan hanya bertanah merah yang lembek, tapi konturnya semakin tidak beraturan, banyak sekali lubang-lubang. Awalnya para laskar surveyor masih memaksa optimis, tapi setelah terjebak di jalan yang tidak lagi mungkin dilewati, mau tidak mau harus mundur teratur. Mengalah pada kondisi jalan T.T

Saya, suami, Pak Fifan, dan Pak Tepu memutuskan turun, untuk menghindari resiko mobil terbalik. Sedangkan Pak Adit stay di balik kemudi, berusaha keras memundurkan mobil perlahan. Selain curam, licin juga jalannya. 

Mobil terpaksa diajak mundur T.T
dug dug serrrr

Kami berhenti di sebuah warung milik warga. Ada beberapa ibu-ibu yang sedang berkumpul. Ya, minimal dapat informasi tentang track ke puncak, meskipun tidak berhasil survei sampai sana, batin kami. Obrolan kesana kemari pun berlangung epic, ditemani kopi hitam, dan cuaca yang mendung. 
Ibu-ibu di sana menegaskan kalau tidak mungkin bisa ke puncak jika menggunakan mobil semodel Inova yang kami bawa. Bisa dikatakan, perlu kendaraan yang sangar, tahan banting, nggak gampang baper kali ya, haha.. 

Selain informasi tentang kendaraan yang compatible, kondisi puncak, kondisi track, harga sewa ojek (100.000 PP), cerita hantu, dan lain-lain yang tidak bisa diceritakan disini, kami pun mendapat nomor kontak Ibu Sri. Alhamdulillah... Meskipun gagal survei, silaturahmi bisa tetap terjalin #eeaaa

Gagal survei ini akhirnya membawa kami ke sate yang cukup melegenda di daerah Belilas Riau: Sate Pak Dono

Para lelaki memesan sate kambing plus kuah gulai, saya sendiri memesan sate ayam. Satenya enak. Bumbunya tidak seperti sate kebanyakan, hanya menggunakan kecap, rempah, dan irisan bawang merah. Recomended!

Di Warung Sate Pak Dono inilah kami melanjutkan imajinasi pendakian menuju TNBT. Rencana demi rencana digagas, dari rencana absurd semodel mendorong teman ke jurang ketika kelelahan, sampai rencana yang bisa diterima: menggelundungkan teman yang kelelahan dan merepotkan, hahaha....

Mostly, rencananya gak ada. Becanda doank! Maklum, masih belum bisa menerima kenyataan karena hanya bisa menempuh 2KM dari 10KM 
Hellllooooooooooowwww!!!!! 
#LOL

Seminggu kemudian ...

Persiapan demi persiapan dilakukan menjelang keberangkatan. Semua disiapkan sesimple mungkin, karena kami semua memutuskan untuk tidak menyewa ojek, tapi akan hiking sejauh 12 KM. 

Saya si pemalas olahraga, mulai memikirkan untuk stretching, jangan sampai rempong pas pendakian. Hari jumat suami mendadak dinas luar, alhasil saya was was tidak jadi pergi. Tapi suami memastikan jadi pergi. Melalui telepon suami mengkoordinasikan menu perbekalan apa yang harus dibawa. Berhubung seluruh personel menunjuk secara sepihak seksi konsumsi: saya. Wajar sih, karena hanya saya personel yang berstatus IRT, yang dianggap capable urusan begituan, padahal mah NGGAK! 

Ransel, pakaian, action cam, power bank, sleeping bag, mie instan, mie gelas, roti,  sosis siap santap semua sudah ready. Packing selesai. Semua sudah well-prepared. 

Saya pulang dari kampus siang hari, membawa ayam ungkeb  (yang diungkeb sama mama asuh di kantin kampus), membawa tenda pinjeman temen dosen, exiceted sekali. Langsung berganti pakaian kaos, celana gunung, sandal gunung, sampai kacamata plus topi sudah siap. 

Let me say, "I am READY, mameeeen!"

And Theeeeen, 

tulisannya berlanjut ke My FREAK My ADVENTURE Part. 2 ya ya yaaa~ 

percaya deh, perjalanan yang seru itu ternyata perjalanan yang entah direncanakan oleh siapa, tapi kita yang harus mengeksekusinya, haha... 











Selasa, 31 Januari 2017

Perjalanan [?]

Ah konyol, masa iya harus kenalan dengan diri sendiri. Memang konyol. Tapi percayalah, akan lebih konyol lagi kalau ternyata kita bahkan tidak mengenal baik siapa diri kita. 

Akhir-akhir ini saya sering melakukan perjalanan. Perjalanan seolah tumbuh menjadi salah satu obsesi pribadi. Bukan karena jalan-jalan sedang jadi lifestyle yang boom, atau sekedar traveling memperbanyak check point (meskipun awalnya begitu), tapi lebih ke bagaimana membawa oleh cerita dari setiap perjalanan. Ternyata cerita-cerita tak terprediksi yang dialami selama perjalanan mampu membuat kita tumbuh semakin bijak, lebih mengenal siapa kita, dan akan kemana arah tujuan hidup sebenarnya. Bahkan membuat kita terhenti di sebuah persimpangan, sudahkah kita hidup dengan "benar" ?



Perjalanan tak hanya bercerita tentang perpisahan, pertemuan, perasaan, atau persinggahan demi persinggahan; tetapi juga menciptakan kekuatan-kekuatan baru saat kita harus pulang. Menciptakan kedalaman perenungan tentang siapa kita sebenarnya. Sudah pantaskah kita sombong? ketika begitu banyak orang-orang hebat kita temui. Sudah pantaskah kita disebut baik, kuat, santun, dan banyaak lagi gelar-gelar kehidupan yang ingin kita sematkan di raga kita masing-masing.

Dalam perjalanan bukan satu dua orang yang kita temui, mulai dari yang belum dikenal, teman lama semasa SMA bahkan semasa SD, sampai bertemu dengan orang-orang terkasih. 

Dari mereka yang belum kita  kenal, kita bisa sekejap merasa apa saja. Bisa merasa lebih kuat lalu jumawa, semisal ketika melihat gadis diantar mama papanya di bandara, "ah cengeng, ke bandara aja pake dianter!". Sekejap bisa merasa malu, ketika melihat nenek tua salah masuk lorong trolley saat pemeriksaan barang, dia sendirian dengan barang bawaan yang tidak sedikit. Di saat yang sama saya sedang merasa malas membawa barang yang menurut saya banyak dan merepotkan, padahal saya tidak sendirian. Nenek tua yang setulus itu meminta maaf kepada petugas bandara karena kesalahannya, petugas bandara yang mendadak sangat baiiiik hati, mungkin ia tengah membayangkan nenek tua itu ibu atau neneknya sendiri. Nenek itu mungkin menempuh perjalanan jauh hanya untuk menengok cucunya, melepas rindu pada anaknya, dan entahlah. Penerbangan yang berbeda membuat saya dan suami tidak bisa membantunya membawakan barang ke ruang tunggu. Pemandangan sekejap yang membuat saya sembuh dari "lelah" hanya karena hal sepele. "Nggak malu sama nenek tua itu?", batin saya menertawakan raganya sendiri.

Perjalanan yang kita labuhkan di rumah-rumah sahabat, membuat kita semakin paham, bahwa kita punya banyak perhentian saat kita lelah. Rumah mereka terbuka lebar hanya untuk menerima kita, melihat raga kita yang  mungkin tidak seperti dua tahun silam sebelum sama-sama terhanyut dalam kerinduan. Memeluk itu bukan gaya saya mengungkapkan kerinduan, canggung rasanya. Tapi entahlah kala tatap saling bertemu, selalu mampu mencairkan bekuan-bekuan di hati yang bernama rindu. Sahabat bukan hanya teman seperjuangan, mereka adalah salah satu rumah tempat saya pulang.  Padanya saya bisa menumpahkan apapun, bisa jadi apapun yang saya mau, dan mereka menatap penuh maklum. Ya, maklum tanpa batas. Perjalanan jauh bertahun-tahun tanpa satu kalipun pertemuan, tak mengurangi perasaan itu. Saya akan selalu pulang  pada mereka, sahabat-sahabat saya. Hei, kalian semakin kuat dan mempesona saja. Dari kalian, saya belajar kuat tanpa sok-kuat. saya belajar diterima tanpa memaksa. Belajar rela menunggu, meski untuk satu malam saja. Belajar ikhlas, datang dan pergi menjadi satu kepastian.

Keluarga - kata ajaib yang selalu berhasil membuat siapapun menjadi sangat sentimentil. Saya tidak terlalu paham bagaimana menyikapi institusi kecil yang sudah terlanjur terpisah-pisah ini. Kata yang selalu ada dalam impian, tapi tak juga membuat saya ingin pulang. Bukan karena kerinduan tak ada, tapi karena jiwa kadang tak sanggup menahan sesaknya kehilangan jiwa-jiwa mereka yang tenggelam dalam dunianya masing-masing. Ah, lebay. Tapi bukankah hak saya untuk merasa begitu? 
Lagi-lagi perjalanan begitu sakti menyembuhkan segala sesak tentang mereka. Dari perjalanan saya merasa tidak ada tempat kepulangan yang lebih saya rindukan selain ada di tengah-tengah mereka: keluarga saya yang begitu payah dalam mengungkapkan kasih sayang; keluarga yang terlalu kuat sehingga lupa kalau ada saya yang begitu cengeng; keluarga yang pantang menyerah pada takdir, yang kadang lupa untuk pasrah; keluarga satu satunya yang membuat saya menempuh perjalanan spiritual yang tak sedikit; keluarga yang amat sangat sungguh saya cintai; ah kalian ternyata 'rumah' ternyaman, meski kadang seperti sedang naik roller coaster ketika ada di sana, rumah yang bisa membuat tertawa, tegang, teriak, sampai menangis hanya dalam satu waktu. Keluarga yang bagi saya adalah perjalanan itu sendiri. 

Sudahkah anda melakukan perjalanan? bagaimana rasanya? Sudah saya duga, pasti menyenangkan !

Senin, 29 Agustus 2016

Mengejar Sunrise Bromo

Untuk para pendaki, mungkin judul tulisan ini bakal jadi bahan tertawaan. Kenapa? karena sekarang akses menuju puncak Pananjakan dan Bromo sudah bisa ditempuh tanpa mendaki. Sudah bisa menggunakan Hard Top via Malang, dan kota-kota sekitarnya. Kalau tidak, kita bisa menempuhnya dengan ojek juga kuda.

Tapi untuk saya dan teman-teman (Pia dan Mas Dani), ini adalah pengalaman berharga. Karena kami mencapai puncak Pananjakan dengan jalan kaki. Yeay!!



**
Naik gunung adalah salah satu obsesi saya. Tapi berhubung izin orang tua tak pernah turun, selalu gagal untuk bisa memenuhi obsesi ini. sampai pada bulan Juli di Tahun 2011. Di  bulan itu saya melepas berhasil menyelesaikan skripsi dan lengser dari satu jabatan di sebuah organisasi. Menuju Bromo semacam selebrasi untuk dua hal tersebut.

Setelah tiga hari di Malang (baca: ke Malang, kembali Pulang), kami ditemani Mas Dani menuju Bromo. Mas Dani yang notabene orang asli Probolinggo pun baru pertama kali ke sana. Kesimpulannya tiga anak manusia: saya, Pionk, dan Mas Dani sama-sama buta track! Haha

Dari Malang kami menaiki bus menuju Probolinggo. Waktu itu kami naik bus AC. Kami nggak tahu harga tiket bus berapa, karena si ade-ade ini dibayarin masnya. Rejeki mojang sholeha #eh. Semoga Mas Dani nggak nagih, haha..
Bus yang siap dinaiki di Terminal Probolinggo

kami sudah di dalam bus, cekrek!

Seperti biasa, kami bermodal artikel blogger. Di sebuah blog dituliskan, kami harus berjalan ke arah kiri terminal Probolinggo, agar bisa menemukan spot pemberhentian mobil jenis colt menuju desa terdekat Bromo. Dengan gaya petualang, Pionk menunjukkan arah. Dan ternyata jarak antara terminal Probolinggo dengan spot pemberhentian mobil-mobil colt itu hanya beberapa meter saja, hahahaha.. Gayamu yooonk yooonk!

So, kalau kamu mau ke Bromo dengan rute dari Terminal Probolinggo, silahkan belok kiri, dan akan ditemukan sekumpulan mobil jenis colt (red. Oplet) beserta sopirnya. Nggak jauh. Deket banget.

Oplet-oplet yang berjejer di depan warung-warung kecil itu hanya akan berangkat menuju desa terdekat Bromo, yakni Desa Cemoro Lawang, apabila satu mobil sudah penuh. Kalau hanya 1-2 orang, tidak akan mereka angkut. Jam keberangkatan random, berangkat kalau mobil penuh. Hanya saja, kalau malam mereka tidak beroperasi, kata salah satu sopir.
Karena kami adalah tiga penumpang pertama (di jam itu), kami harus menunggu calon penumpang lainnya. Sambil menunggu, kami transit cemal cemil di warung terdekat. Pionk sempat charge HP nya di warung itu.

Satu dua berdatangan, termasuk bule-bule dengan ransel besar. Mobil penuh, cuussss menuju Cemoro Lawang.

Pionk di dalem oplet

**
Jalan menuju Desa Cemoro Lawang dari Terminal Probolinggo berkelok-kelok dan kecil. Kami yang menumpangi oplet saat hari menggelap cukup ketar ketir. Karena si pak sopir mengemudi dengan kecepatan tinggi sambil menelepon. Seolah punya nyawa tambahan. Pengalaman seru deh pokoknya. Mungkin kalau ditanya, Pionk punya semacam ‘permintaan terakhir’ waktu itu, haha..
Mas Dani memanfaatkan momen di dalam oplet untuk mengobrol dengan kernetnya. Mencari info penginapan. Dari kernet itu, akhirnya kami mendapatkan penginapan.

**
Penginapan berbentuk rumah dengan 3 kamar. 1 kamar di bawah dan 2 kamar di atas. Fasilitas lengkap, mulai dari tempat tidur, kursi di ruang tamu, TV, kulkas, dan AC alami yang dinginnya sampe ke tulang. Oiya, harga penginapan kalau tidak salah 250rb.

Kami memilih kamar bawah. Suasana malam di sekitar penginapan sepi sekali. Tapi berhubung banyak penginapan, kita tidak akan sulit menemukan makanan. Pedagang keliling aktif membunyikan pentongan ajaibnya untuk mengundang pembeli. Kami pun beruntung sempat menikmati bakso panas di tengah-tengah dinginnya malam #tsaah.

Sebelum menuju kamar masing-masing untuk istirahat, kami menyepakati mulai mendaki jam 02.00 pagi. Membawa barang seperlunya dan persiapan mental sebanyak-banyaknya haha..

**
Jam 02.00 teng kami sudah siap dengan kupluk, jaket tebal, syal, sepatu, dan ransel bawaan. 

ready to climb hihiw

Keluar dari rumah, kami terhenyak merasakan hawa yang begitu dingin. Bandung pun tak pernah sedingin waktu itu rasa-rasanya. Disambung dengan decak kagum ketika melihat bintang gemintang di hamparan langit yang hitam pekat. Allah, masih terekam betapa indahnya suasana pagi itu.

nahan takut, pose dulu

Berjalan langkah demi langkah menuju Bromo. Perkiraan kami bisa sampai tepat saat matahari muncul. Tak habis-habis hati memuji keindahan suasana malam itu.

Di perjalanan, lolongan anjing terdengar saling bersahutan. Saya dan pionk beberapa kali saling berpegangan tangan, takut dikejar anjing, haha.. dan suasana semakin mencekam ketika melewati sebuah pos kosong, terpampang sebuah papan pemberitahuan agar berhati-hati karena banyak berkeliaran rampok juga hewan buas. (((MALING DAN HARIMAU JUGA TEMAN SEGENG SINGA)))

Mas Dani sibuk meyakinkan kalau kami dalam kondisi aman. Meskipun saya yakin, kala itu, dia pun ketakutan, hahaha... (peace Mas ^^v )

Jarak demi jarak berhasil kami taklukan, sebelum mendaki kita akan melewati dataran. Kami berpapasan dengan ojek kuda yang awalnya menawarkan jasanya. Tapi kami menolak. Kami ingin mendaki pake kaki sendiri! hehe..  Akhirnya kami dan ojek kuda menjadi teman seperjalanan, kami baru berpisah sesampainya di track pendakian.

pionk with the horse, kudanya males foto yonk :D


Ketika medan sudah berubah menjadi lereng-lereng, kami mulai gugup. Karena banyak ranting pepohonan yang runtuh ke arah lereng untuk pendaki. Karena waktu kami ke sana, Bromo sempat aktif. Belakangan kami bisa melihat masih ada abu-abu vulkanik di ranting pohon.

Setelah di pendakian, kami menemui banyak turis asing. Ada juga pendaki domestik seperti kami. Semakin atas semakin ramai. Ternyata bukan hanya kami bertiga yang berjalan menyusuri lereng yang gelap. Dakian cukup curam untuk pemula seperti kami. Dan kondisi gelap cukup memacu adrenalin (maklum newbie unyu-unyu).

Sampai di Pananjakan pertama, di sana ada pedagang minuman yang stand by. Pionk mengaku kelelahan. Kami pun beristirahat disitu. Karena waktu tersisa cukup banyak sebelum matahari terbit. Kami memesan minuman hangat juga berbincang-bincang dengan mbak-mbak pedagang.



Pionk menanyakan seberapa lama lagi kami bisa sampai puncak. Dan konyolnya dia pun seolah menanyakan: haruskah kita sampai puncak??

Saya dan mas dani tidak bisa memaksa. Mau lanjut ayo, tidak pun tidak apa-apa. Karena kondisi pionk waktu itu sangat ‘mengenaskan’ hhahahahaha..

Jawaban si mbak pedagang sontak membuat kami tergelak, saya tidak bisa menahan tawa, begini jawabnya: “disini juga nanti kelihatan matahari terbit. Tapi tidak sebagus di puncak Pananjakan. Dan biasanya ORANG-ORANG TUA yang melihat matahari terbit dari sini” *ORANG TUA DI BOLD DIUNDERLINE hahahahhahaha

Jawaban yang melecut gengsi seorang Pionk. Kami pun melanjutkan pendakian sampai puncak. Lanjut ke kekonyolan kedua.

Pionk kembali menunjukkan kelelehan. Dan kami tidak lagi bisa memaksa. Tapi sebetulnya saya juga sudah merasa lelah sih. (maappp ya pionk, kamunya jadi kambing hitam, :P)

Kelelahan datang bersama ojek yang mengatakan puncak masih sangat jauh dan kami nggak akan keburu sampai puncak sebelum matahari terbit jika mengandalkan jalan kaki. Kami yang terobsesi dengan Sunrise Bromo, tentu saja panik. Dan akhirnya memutuskan menggunakan ojek.

You know WHAT?! Palingan kurang dari 5 menit kami sudah sampai puncak Penanjakan. Ternyata sudah dekat dengan sekali. Ah! Menyebalkan, ojek gombal gambul. Ngakak lah kami kalau bahas itu. Tapi yasudahlah, rejeki mamang ojek kali ya berhasil ngangkut mojang kumal #eh.

kami di Gerbang Penanjakan

**
Di puncak ramaaaiii sekali pemburu matahari terbit. Beberapa dari mereka terlihat bukan kali pertama menyaksikan sunrise di Bromo. Terdengar beberapa orang menyebut mahari sebagai Jago Raksasa. Kami melepas lelah sambil berfoto dan menanti sunrise. Indah sekali alam sekitar Gunung Bromo. Perlahan lahan matahari terbit. Dan semua orang di pananjakan waktu itu berteriak kala matahari mulai menyapa pagi - memecah kegelapan.

hamparan awan yang keren banget


para pemburu mentari

Benar apa kata para pendaki itu, melewati lereng-lereng gunung menuju puncak membuat kita belajar menaklukan diri sendiri. Pendakian bisa membuat kita bijak untuk tidak mudah menyepelekan sebuah perjalanan.

Finally i can see it: the sun!

latar favoritt, best angle.

sedi, tugunya banyak coretan T.T

Kami belajar banyak, kami pendaki ala-ala yang berhasil dibius indahnya perjalanan, asiknya mengejar matahari!

**
Selanjutnya kami berburu spot-spot terkenal sesuai petunjuk mamang ojek. Kami berfoto di hamparan pasir luas berlatar belakang gunung-gunung, bukit teletubbies, juga pasir berbisik.
Sssttt.... Kami bertanya-tanya apa istimewanya Pasir berbisik yang ditunjukkan mamang ojek, ternyata dinamakan pasir berbisik karena pada spot tersebut dilakukan shooting film Pasir Berbisik. Tempat shooting titik ! haha..

Pionk dan kembarannya, haha

Celebrate celebrate!

eksotisnya alam!


bersama mamang ojek

**
Sampai jumpa di pendakian selanjutnya, kawan!



Minggu, 28 Agustus 2016

Ke Malang, kembali Pulang

Malang, terkenal dengan apelnya. Selain itu, ia pun dikenal sebagai kota sejuta kenangan untuk sebagian orang. Saya terdampar di komunitas sebagian orang tersebut #tsaah!
**

Kenalan sama cinta Alun-Alun Kota Apel 

Saya pertamakali menapaki Kota Malang pada Tahun 2008. Rangkaian Rapat Kerja Nasional IMABKIN. Berangkat menggunakan bus Pahala Kencana bersama tiga delegasi lain. Berangkat dibayarin kampus, sama persis seperti pertamakali ke Bali, hehe.. saya dan rombongan berangkat menggunakan bus Pahala Kencana rute Bandung-Malang dan dijemput panitia di Terminal Arjasari Malang.

foto bareng Rizki - panitia yang jemput rombongan (2008)

Kunjungan yang biasa saja. Tidak ada sentuhan rasa apa-apa. Karena waktu itu, datang memang untuk menunaikan tugas kenegeraan (((kenegaraan))), apppaasiiihh...!

rombongan UPI bareng panitia Rakernas di UM
(ada dua pasang yang akhirnya berjodoh di foto ini, lho :D )

(2008)
bareng musisi jalanan di Pasar Minggu deket Museum Brawijaya :D


pertama kali kenalan sama tugu Alun-Alun Malang
bareng temen dari UNJ dan Untad Sulawesi(2008)

**

Sudah kenal, bertamu  kembali 

Kali kedua, dateng ke Malang lagi pada tahun 2011. Kunjungan kali itu  bukan dalam rangka rapat-rapat lagi, tapi murni untuk ngebolang. Hiiiiihaaa...! Kali itu  saya ditemani Pia (red. Pionk- salah satu temen segeng (baca: Keyeup is My Gank )

Saya dan Pionk mengusung konsep backpacker ala ala. Maklum no money, tapi ingin main haha #jiwamuda! Kami berangkat sehari setelah rangkaian acara Musyawarah IMABKIN Wilayah II yang digelar di kampus saya sendiri - Bandung. Kali itu kami berangkat bareng Rizki, salah satu delegasi dari Universitas Negeri Malang, menggunakan kereta ekonomi Kahuripan dengan rute Bandung – Kediri.

Rizki yang berangkat dari rumah salah satu eyangnya di Riung Bandung, menunggu kami di Stasiun Kiara Condong. Karena jarak tempuh Riung Bandung ke stasiun lebih dekat, jadi mau nggak mau dia yang membelikan tiket untuk kami. Hihi..
Kalau tidak salah harga tiket Kahuripan Bandung-Kediri waktu itu masih Rp.50.000. Murah sekali. Sekarang harga tersebut udah nggak berlaku lagi. Karena semua kereta ekonomi sudah dibenahi fasilitasnya. Tiket dengan rute serupa sekarang sudah jadi Rp. 100.000.

**
Sesampainya di Kiara Condong, Rizki sudah menunggu kami lengkap dengan ransel dan topi. Dia dengan apik mengawal dua mojang bandung yang agak kumal waktu itu karena keringetan. Kami berkeringat parah karena berkejaran dengan waktu, nyaris telat.

Waktu itu, penumpang kereta ekonomi bebas menentukan tempat duduk, tidak bernomor khusus seperti sekarang. Jadi siapa cepat dia dapat. Dan bisa jadi kita hanya duduk di koridor kereta. Bertumpuk dengan kardus dan barang bawaan.

Untuk saya dan pionk, kali itu adalah pengalaman pertama naik kereta ekonomi. Kami cukup shock. Karena benar-benar padet. Kita bisa saja duduk dan tertidur di paha orang. Anak-anak terancam terjepit. Mirisnya lagi, pedagang asongan masih pantang menyerah untuk menerobos koridor yang sudah penuh oleh penumpang.

[intermezo] Saat melihat penampakan sesesak dan sepadat itu, dua bolang ini langsung sepakat: pulangnya kita pake Malabar aja yuk? Haha #GagalTangguh!

Syukurnya kami tidak perlu duduk di koridor atau berdiri sesak. Karena pemberangkatan pertama adalah dari stasiun tempat kami naik. Pionk duduk di window seat alias samping jendela, saya di sebelahnya, dan Rizki di sebelah saya.

Saya dan rizki yang waktu itu dalam posisi CLBK – Cinta Lama Belom Kelar, tapi nggak niat ngelarin, agak gimana gitu ya duduk sebelahan. Tapi  gimana lagi, kita nggak punya pilihan selain menikmati perjalanan *pionk mendadak hilang, dunia serasa milik berdua, yang lain NGEKOS! haha..

Sepanjang perjalanan kami berusaha menikmati pemandangan berupa hamparan sawah hijau yang luas. Sesekali pemandangan berubah jadi hutan, perkebunan, jalan raya, sampai perkampungan. Naik kereta selalu asik [kecuali malem-malem, gelap semua!]

**
Sesampainya di stasiun Kediri, kami transit di warung makan. Setelah santap makan, Rizki memutuskan mandi (saya dan pionk nggak kepikiran mandi, ribet dan males, :D ). Lalu lanjut perjalanan ke Malang dengan Kereta Penataran. Lima tahun lalu tiket masih seharga Rp. 5.000. sekarang harganya menjadi Rp. 15.000. Kereta dengan rute ini memiliki jadwal pemberangkatan 4 kali dalam sehari.

Jarak tempuh Kediri – Malang sekitar 1 jam. Kereta tidak terlalu padat. Jadi kami bebas selonjoran. Rizki memilih tidur di satu seat penuh. Dia udah kenyang melek, giliran dia tidur dan kita yang melek.

**
saya & Pionk, kumal tapi bahagia :D

Sesampainya di Malang, kami dijemput oleh Mas Dani (senior di IMABKIN dan kakak tingkat Rizki di UM). Mas Dani yang baik hati sudah mencarikan kami tempat menginap. Kami langsung diantar ke kosan Mbak Weni (teman sekelas Mas Dani) di daerah sekitaran kampus UM. Sesampainya di kosan Mbak Weni, ia pamit untuk pulang dan menyuruh kami beristirahat. Rizki pun kembali ke kosannya, setelah sebelumnya janjian untuk ketemuan sore harinya #uhuk!

Mbak Weni sudah menyiapkan satu kamar kosong, dua bed yang sudah rapi, satu meja yang diatasnya penuh oleh makanan ringan, dan kamarnya wangiiiii. Kami diminta istirahat. Tapi tidak lama, Mbak Weni mengetuk pintu, mengantarkan jus jambu dan makanan kiriman Mas Dani.
Entah apa kebaikan yang pernah kami buat, hingga mendapat kebaikan bertubi-tubi: pengawalan di kereta ekonomi, kamar gratis, jemputan gratis, makanan gratis pula *HATRICK!

**
Sebenernya tujuan utama kami adalah Bromo, tapi sebelum ke sana kami memutuskan jajal Malang dulu. Selama di Malang kami mengunjungi alun-alun Kota Malang dan sekitarnya. Lalu lanjut ke Jatim Park di daerah Kota Batu.

Sayangnya kami tidak sempat eksplor kulinernya. Dan juga belum sempat mengunjungi kebun kebun apel di Batu. hiks! Next time kali ya, Aamin..!

Alun-Alun Malang (lagi)


Lima tahun lalu tentu berbeda dengan kondisinya sekarang. Tapi suasana menyenangkan ketika: melihat merpati beterbangan, ngasih merpati makan, foto-foto di rerumputan, sejuk memandangi air mancur, minum es kelapa muda di bawah beringin tua, menikmati cangkir demi cangkir persahabatan bersama manisnya es potong, rasanya masih sama: membahagiakan.

persahabatan bagai kepompong

es potong rasa cinta

pionk lagi ngasih makan merpati alun-alun, *pencitraan! haha


Alun-alun Malang waktu itu ramai tapi tidak terlalu padat. Kami bebas berfoto. Selfie belum terlalu booming waktu itu, tapi kami sudah narsis jepret sana sini. Beruntungnya lagi, Mbak Weni si malaikat kenalan baru kami suka fotografi. Dan dia memboyong Kamera DSLRnya. Jadi model buluk dadakan deh akhirnya, haha..

fotografer: Oke, Kamera: Oke, Model: apalah apalah! haha

Jatim Park

Untuk menuju Jatim Park, kita bisa menggunakan mobil atau motor. Untuk kendaraan umum bisa ditempuh dengan menggunakan angkutan AL Arjosari – Landungsari menuju Terminal Landung Sari, Batu. Setelah itu baru deh pake angkot BJL (Batu – Junrejo – Landungsari) menuju Jatim Park. Waktu tempuh yang dibutuhkan dari  pusat Kota Malang ke Kota Batu sekitar satu jam.

Jatim Park di Malang terbagi dua: Jatim Park 1 adalah kawasan wisata taman edukasi dan wahana-wahana semodel di Dufan. Sedangkan  Jatim Park 2 Secret Zoo yaitu serupa komplek kebun binatang dan museum satwa. Jatim Park 2 juga bertemakan wisata edukasi. Selain Jatim Park ada juga BNS (Batu Night Square), katanya sih asik. Cocok banget kalau mau ke tiga destinasi ini bareng sama keluarga bawa anak-anak. Yuk mas kesana sama anak-anak! #eh anaknya belum ada. Haha

**
Dikarenakan Mas dani sibuk di kampus, ada jadwal mengajar de el el., pun dengan Mbak Weni ada agenda sehingga tidak bisa ikut ke Jatim Park. That means, kami perlu mencari orang lain untuk mengantar ke Jatim Park. Pilihan sampai pada sebuah nama: Tedi biasa dipanggil Tedjo, teman SD pionk di Malang dulu. Pionk menghubungi Tedjo, dan ia bersedia. Sekalian reunion hihi. Clear!

Finally, kami berempat – saya, Pionk, Rizki, dan Tedjo, hanya memilih Jatim Park 1. Harga tiket masuk waktu itu masih Rp. 50.000 [sekarang: weekday: Rp.60.000 & weekend: Rp. 80.000). Di dalam Jatim Park 1 ada banyak taman, labirin, patung-patung, dan wahana permainan. Wahana permainan serupa dengan yang ada di Dufan Jakarta, tapi dengan ukuran yang lebih kecil. Jatim Park konon katanya mengusung konsep edukasi juga. Jadi, bisa kita temui lokasi-lokasi yang mempertunjukkan percobaan-percobaan ilmiah, hasil-hasil eksperimen, patung Enstein, rumus-rumus kimia, de el el.

trip-mate

naek beginian aja, kami mah pucet!

water park di Jatim Park

masih inget ini apaan? yes, itu yang agak-agak bikin pening waktu SMA. 

nah, banyak display beginian di dalem Jatim Park.
Representasi dari wisata edukasi 

salah satu wahana permainan, lupa namanya apa. 

Nah, waktu beli tiket, kita akan dikasih gelang-gelangan model begini. 

Balai Kota Malang, katanya sih spot wajib buat foto #maksa


Info tambahan untuk harga tiket Jatim Park 2, berkisar Rp.40.000 untuk weekday, dan Rp. 50.000 untuk weekend. Dan tersedia juga paket hemat untuk masuk Jatim Park 1 dan 2 sekaligus, harga sesuai paket yang berlaku di season waktu kita datang.

Saya dan pionk cukup penakut untuk menaiki wahana serupa roller coaster dan apalah apalah ya. Tapi rizki dan tedjo memastikan semua baik-baik aja. Akhirnya kami pun menyerah untuk ikut naik beberapa wahana. Dan kejadian kaaaaan,  saya dan Pionk STRES dan nyaris JANTUNGAN ((((faktor USIA))))

But it was totally so FUN!

**

Special thanks to 

ini juga nih maksud nulisin perjalanan ke Malang. Banyak ketemu saudara, temen, sahabat, serta belahan jiwa di kota itu. 
  • Mia (temen sekelas S1 yang rela minjemin kamera digital unyu0unyunya selama seminggu, kamu mah emang michu (miaw cuuuaeum :D)
  • Mbak Weni, yang udah baik banget, mulai dari nyiapin kamar yang nyaman, traktir makan, minuman dingin saat kehausan, dan kasih sayang sampe sekarang masih kerasa, Miss you mbakyuku :*
  • Mas Dani, bukan cuman senior yang sabar banget ngarahin ade-adenya di organisasi dulu tapi juga baik karena rela mendampingi para adenya yang terobsesi naik gunung. padahal kami tahu, itu bukan kamu banget, mas. Tapi gara-gara kami, mas bisa jadi selfie di Pananjakan juga kan, haha .
  • Temen-temen UM lain yang turut menyambut, menyambangi, dan menyambung silaturahmi :D
  • Thanks ya Tedjo sudah mengantar kami dan membiarkan Pionk memenuhi hasrat reuniannya haha
  • Thanks juga ya Rizki sudah mau menikahi aku #eh. Takdir tidak ada yang tahu ya. Kunjungan kali kedua ke Malang ternyata jadi cikal bakal ketemu jodoh. Hahaha..  
Tuuh kan gara-gara Malang jadi bisa dipinang. #ihiiiirrr!!

Kunjungan yang biasa menjadi tidak biasa, sekarang Malang serupa tempat kepulangan yang manis.  Ketiga kalinya datang ke sana sudah bersama si dia, uhuk! Yuk, diminum dulu tehnya pemirsa indosi*rrr..

Selamat larut dalam kenangan dan berbahagialah, kita!

makan bareng mama papa mertua, adde ipar, afam, dan si cinta
di Malang Town Square

Take a selfie at pusat oleh-oleh Malang

**

P.S. untuk kamu yang mau ke Malang dari Bandung. Bisa pake kereta Malabar (Malang – Bandung Raya). Kereta ini menempuh rute langsung dengan tiga pilihan kelas: ekonomi, bisnis, dan eksekutif. Yang membedakan adalah fasilitas duduk dan AC. Bisnis dan eksekutif sudah menggunakan AC. Tempat duduk eksekutif lebih nyaman, serupa tempat duduk kereta eksekutif lain. Untuk kelas ekonomi, dibandrol lebih mahal dibanding kelas ekonomi lain. Karena meskipun ekonomi, waktu tempuh (16 jam) sama dengan kelas eksekutif.
Dilansir PT KAI, tarif untuk Malabar Ekonomi : berkisar 160.000 – 250.000, Bisnis: berkisar 270.000 – 355.000, Eksekutif: 360.000 – 465.000.