Tampilkan postingan dengan label backpacker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label backpacker. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Agustus 2016

Mengejar Sunrise Bromo

Untuk para pendaki, mungkin judul tulisan ini bakal jadi bahan tertawaan. Kenapa? karena sekarang akses menuju puncak Pananjakan dan Bromo sudah bisa ditempuh tanpa mendaki. Sudah bisa menggunakan Hard Top via Malang, dan kota-kota sekitarnya. Kalau tidak, kita bisa menempuhnya dengan ojek juga kuda.

Tapi untuk saya dan teman-teman (Pia dan Mas Dani), ini adalah pengalaman berharga. Karena kami mencapai puncak Pananjakan dengan jalan kaki. Yeay!!



**
Naik gunung adalah salah satu obsesi saya. Tapi berhubung izin orang tua tak pernah turun, selalu gagal untuk bisa memenuhi obsesi ini. sampai pada bulan Juli di Tahun 2011. Di  bulan itu saya melepas berhasil menyelesaikan skripsi dan lengser dari satu jabatan di sebuah organisasi. Menuju Bromo semacam selebrasi untuk dua hal tersebut.

Setelah tiga hari di Malang (baca: ke Malang, kembali Pulang), kami ditemani Mas Dani menuju Bromo. Mas Dani yang notabene orang asli Probolinggo pun baru pertama kali ke sana. Kesimpulannya tiga anak manusia: saya, Pionk, dan Mas Dani sama-sama buta track! Haha

Dari Malang kami menaiki bus menuju Probolinggo. Waktu itu kami naik bus AC. Kami nggak tahu harga tiket bus berapa, karena si ade-ade ini dibayarin masnya. Rejeki mojang sholeha #eh. Semoga Mas Dani nggak nagih, haha..
Bus yang siap dinaiki di Terminal Probolinggo

kami sudah di dalam bus, cekrek!

Seperti biasa, kami bermodal artikel blogger. Di sebuah blog dituliskan, kami harus berjalan ke arah kiri terminal Probolinggo, agar bisa menemukan spot pemberhentian mobil jenis colt menuju desa terdekat Bromo. Dengan gaya petualang, Pionk menunjukkan arah. Dan ternyata jarak antara terminal Probolinggo dengan spot pemberhentian mobil-mobil colt itu hanya beberapa meter saja, hahahaha.. Gayamu yooonk yooonk!

So, kalau kamu mau ke Bromo dengan rute dari Terminal Probolinggo, silahkan belok kiri, dan akan ditemukan sekumpulan mobil jenis colt (red. Oplet) beserta sopirnya. Nggak jauh. Deket banget.

Oplet-oplet yang berjejer di depan warung-warung kecil itu hanya akan berangkat menuju desa terdekat Bromo, yakni Desa Cemoro Lawang, apabila satu mobil sudah penuh. Kalau hanya 1-2 orang, tidak akan mereka angkut. Jam keberangkatan random, berangkat kalau mobil penuh. Hanya saja, kalau malam mereka tidak beroperasi, kata salah satu sopir.
Karena kami adalah tiga penumpang pertama (di jam itu), kami harus menunggu calon penumpang lainnya. Sambil menunggu, kami transit cemal cemil di warung terdekat. Pionk sempat charge HP nya di warung itu.

Satu dua berdatangan, termasuk bule-bule dengan ransel besar. Mobil penuh, cuussss menuju Cemoro Lawang.

Pionk di dalem oplet

**
Jalan menuju Desa Cemoro Lawang dari Terminal Probolinggo berkelok-kelok dan kecil. Kami yang menumpangi oplet saat hari menggelap cukup ketar ketir. Karena si pak sopir mengemudi dengan kecepatan tinggi sambil menelepon. Seolah punya nyawa tambahan. Pengalaman seru deh pokoknya. Mungkin kalau ditanya, Pionk punya semacam ‘permintaan terakhir’ waktu itu, haha..
Mas Dani memanfaatkan momen di dalam oplet untuk mengobrol dengan kernetnya. Mencari info penginapan. Dari kernet itu, akhirnya kami mendapatkan penginapan.

**
Penginapan berbentuk rumah dengan 3 kamar. 1 kamar di bawah dan 2 kamar di atas. Fasilitas lengkap, mulai dari tempat tidur, kursi di ruang tamu, TV, kulkas, dan AC alami yang dinginnya sampe ke tulang. Oiya, harga penginapan kalau tidak salah 250rb.

Kami memilih kamar bawah. Suasana malam di sekitar penginapan sepi sekali. Tapi berhubung banyak penginapan, kita tidak akan sulit menemukan makanan. Pedagang keliling aktif membunyikan pentongan ajaibnya untuk mengundang pembeli. Kami pun beruntung sempat menikmati bakso panas di tengah-tengah dinginnya malam #tsaah.

Sebelum menuju kamar masing-masing untuk istirahat, kami menyepakati mulai mendaki jam 02.00 pagi. Membawa barang seperlunya dan persiapan mental sebanyak-banyaknya haha..

**
Jam 02.00 teng kami sudah siap dengan kupluk, jaket tebal, syal, sepatu, dan ransel bawaan. 

ready to climb hihiw

Keluar dari rumah, kami terhenyak merasakan hawa yang begitu dingin. Bandung pun tak pernah sedingin waktu itu rasa-rasanya. Disambung dengan decak kagum ketika melihat bintang gemintang di hamparan langit yang hitam pekat. Allah, masih terekam betapa indahnya suasana pagi itu.

nahan takut, pose dulu

Berjalan langkah demi langkah menuju Bromo. Perkiraan kami bisa sampai tepat saat matahari muncul. Tak habis-habis hati memuji keindahan suasana malam itu.

Di perjalanan, lolongan anjing terdengar saling bersahutan. Saya dan pionk beberapa kali saling berpegangan tangan, takut dikejar anjing, haha.. dan suasana semakin mencekam ketika melewati sebuah pos kosong, terpampang sebuah papan pemberitahuan agar berhati-hati karena banyak berkeliaran rampok juga hewan buas. (((MALING DAN HARIMAU JUGA TEMAN SEGENG SINGA)))

Mas Dani sibuk meyakinkan kalau kami dalam kondisi aman. Meskipun saya yakin, kala itu, dia pun ketakutan, hahaha... (peace Mas ^^v )

Jarak demi jarak berhasil kami taklukan, sebelum mendaki kita akan melewati dataran. Kami berpapasan dengan ojek kuda yang awalnya menawarkan jasanya. Tapi kami menolak. Kami ingin mendaki pake kaki sendiri! hehe..  Akhirnya kami dan ojek kuda menjadi teman seperjalanan, kami baru berpisah sesampainya di track pendakian.

pionk with the horse, kudanya males foto yonk :D


Ketika medan sudah berubah menjadi lereng-lereng, kami mulai gugup. Karena banyak ranting pepohonan yang runtuh ke arah lereng untuk pendaki. Karena waktu kami ke sana, Bromo sempat aktif. Belakangan kami bisa melihat masih ada abu-abu vulkanik di ranting pohon.

Setelah di pendakian, kami menemui banyak turis asing. Ada juga pendaki domestik seperti kami. Semakin atas semakin ramai. Ternyata bukan hanya kami bertiga yang berjalan menyusuri lereng yang gelap. Dakian cukup curam untuk pemula seperti kami. Dan kondisi gelap cukup memacu adrenalin (maklum newbie unyu-unyu).

Sampai di Pananjakan pertama, di sana ada pedagang minuman yang stand by. Pionk mengaku kelelahan. Kami pun beristirahat disitu. Karena waktu tersisa cukup banyak sebelum matahari terbit. Kami memesan minuman hangat juga berbincang-bincang dengan mbak-mbak pedagang.



Pionk menanyakan seberapa lama lagi kami bisa sampai puncak. Dan konyolnya dia pun seolah menanyakan: haruskah kita sampai puncak??

Saya dan mas dani tidak bisa memaksa. Mau lanjut ayo, tidak pun tidak apa-apa. Karena kondisi pionk waktu itu sangat ‘mengenaskan’ hhahahahaha..

Jawaban si mbak pedagang sontak membuat kami tergelak, saya tidak bisa menahan tawa, begini jawabnya: “disini juga nanti kelihatan matahari terbit. Tapi tidak sebagus di puncak Pananjakan. Dan biasanya ORANG-ORANG TUA yang melihat matahari terbit dari sini” *ORANG TUA DI BOLD DIUNDERLINE hahahahhahaha

Jawaban yang melecut gengsi seorang Pionk. Kami pun melanjutkan pendakian sampai puncak. Lanjut ke kekonyolan kedua.

Pionk kembali menunjukkan kelelehan. Dan kami tidak lagi bisa memaksa. Tapi sebetulnya saya juga sudah merasa lelah sih. (maappp ya pionk, kamunya jadi kambing hitam, :P)

Kelelahan datang bersama ojek yang mengatakan puncak masih sangat jauh dan kami nggak akan keburu sampai puncak sebelum matahari terbit jika mengandalkan jalan kaki. Kami yang terobsesi dengan Sunrise Bromo, tentu saja panik. Dan akhirnya memutuskan menggunakan ojek.

You know WHAT?! Palingan kurang dari 5 menit kami sudah sampai puncak Penanjakan. Ternyata sudah dekat dengan sekali. Ah! Menyebalkan, ojek gombal gambul. Ngakak lah kami kalau bahas itu. Tapi yasudahlah, rejeki mamang ojek kali ya berhasil ngangkut mojang kumal #eh.

kami di Gerbang Penanjakan

**
Di puncak ramaaaiii sekali pemburu matahari terbit. Beberapa dari mereka terlihat bukan kali pertama menyaksikan sunrise di Bromo. Terdengar beberapa orang menyebut mahari sebagai Jago Raksasa. Kami melepas lelah sambil berfoto dan menanti sunrise. Indah sekali alam sekitar Gunung Bromo. Perlahan lahan matahari terbit. Dan semua orang di pananjakan waktu itu berteriak kala matahari mulai menyapa pagi - memecah kegelapan.

hamparan awan yang keren banget


para pemburu mentari

Benar apa kata para pendaki itu, melewati lereng-lereng gunung menuju puncak membuat kita belajar menaklukan diri sendiri. Pendakian bisa membuat kita bijak untuk tidak mudah menyepelekan sebuah perjalanan.

Finally i can see it: the sun!

latar favoritt, best angle.

sedi, tugunya banyak coretan T.T

Kami belajar banyak, kami pendaki ala-ala yang berhasil dibius indahnya perjalanan, asiknya mengejar matahari!

**
Selanjutnya kami berburu spot-spot terkenal sesuai petunjuk mamang ojek. Kami berfoto di hamparan pasir luas berlatar belakang gunung-gunung, bukit teletubbies, juga pasir berbisik.
Sssttt.... Kami bertanya-tanya apa istimewanya Pasir berbisik yang ditunjukkan mamang ojek, ternyata dinamakan pasir berbisik karena pada spot tersebut dilakukan shooting film Pasir Berbisik. Tempat shooting titik ! haha..

Pionk dan kembarannya, haha

Celebrate celebrate!

eksotisnya alam!


bersama mamang ojek

**
Sampai jumpa di pendakian selanjutnya, kawan!



Minggu, 28 Agustus 2016

Tiga Kali ke Bali, Kangennya ber-KALIKALI

Jejak pertama

Pertama kali ke Bali tahun 2010. Berangkat bukan untuk liburan, tapi mengikuti rapat kerja nasional organisasi IMABKIN (Ikatan Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Indonesia). Yaa... namanya rapat, meskipun ada alokasi field trip, waktu terbatas.

Sebelum sampai di Bali, dipikir bisa jajal seluruh tempat hanya dalam satu hari. Ternyata tidak. Sehari di Bali hanya bisa ke beberapa spot saja. Kita harus mempertimbangkan kesesuaian rute.

Nah, untuk kamu  yang akan berangkat ke Bali untuk pertama kali, pastikan waktu nggak mepet-mepet dan sudah menentukan destinasi yang ingin dituju. Setelah itu pertimbangkan akses, jarak tempuh, dan waktu tempuh dari Bandara Ngurah Rai atau Pelabuhan Gilimanuk. For your information, jarak tempuh dari pelabuhan itu bisa berjam-jam sampai Denpasar. Apalagi kalau sudah sampai Denpasar, siap-siap ketemu macet layaknya ibu kota lainnya :/ 

Singaraja

Undiksha - Singaraja adalah tempat diadakannya rapat kerja kali itu. Konon katanya daerah Singaraja termasuk daerah dengan mayoritas penganut muslim. Tapi meskipun begitu, bangunan kampus dan perumahan sekitar tetap mengusung arsitek khas ala-ala pura. And it's beautiful!

Kami para peserta yang berasal dari luar Bali (apalagi yang baru nginjek Bali seperti saya) dibuat terkagum-kagum dengan arsitektur kampus Undiksha yang Bali banget. 
Bisa dikatakan, kearifan lokal sangat dijunjung tinggi di sana.
Wangi dupa dan sesajen bunga-bunga ada di setiap gedung. Seakan tak ingin sedetikpun membuat kita lupa akan eksotika wewangian Bali #eaaaaa.

Di perjalanan ke Bali untuk pertama kali itu, saya jadi tahu kalau untuk jajal Bali kita perlu kendaraan pribadi. Karena untuk masuk ke spot wisata, lokasinya biasanya agak masuk-masuk ke dalam. . Jalannya berkelok-kelok, layaknya jalan menuju pantai.

Waktu itu, memanfaatkan alokasi field trip setelah agenda rapat selesai, saya dan teman-teman memutuskan rental mobil bareng-bareng. Kami menggunakan APV plus bapak sopir yang baik hati. Waktu itu kami merogoh kocek 400rb. Karena memang tidak seharian full. Kami harus kembali ke pelabuhan sore harinya. Bisa dibilang, kami hanya rental setengah hari aja.

Ada kejadian lucu, ketika di perjalanan menuju Pantai Sanur, kami tersadar hanya berputar-putar di tempat itu-itu saja. Sampai akhirnya bapak sopir nyuruh kita tobat dan bersihkan pikiran kotor, hahahaha...

Entah mitos atau bukan, tapi emang kejadian. Setelah bapak sopir bilang gitu, temen-temen langsung koreksi pikiran kali ya, dan tadaaaa sampailah kita ke tempat tujuan.

Bapak sopir nampak seperti penganut Hindu yang taat. Beliau menyampaikan kalau di Bali ini hidup tenang dan alam akan menghukum siapapun yang berbuat kerusakan. Meskipun saya berbeda agama dengan beliau, tetep saya salut! Ciyee..

Danau Kintamani

Kunjungan ke danau ini sebenernya cuman di area atas aja. Karena kalo ke danau nya harus muter-muter lagi kata bapak sopir.  Tapi dari arah atas malah bagus view danaunya. Udaranya sejuuuk. Di sepanjang jalan banyak anak-anak dan remaja yang berjualan gantungan kunci secara asongan.




Pasar Seni Sukowati

Kemanapun destinasinya, pasti mikir harus bawa oleh-oleh donk. Nah, ketika ke Bali pertama kali, yang saya pikirkan adalah bisa beli apapun yang murah tapi ada tulisan Bali – nya. Hahhaha..

Karena kocek para mahasiswa ini terbatas, hampir serombongan belanjaannya sama: gantungan kunci, dan kaos. Saya menambahkan sarung bali dan udeng dalam list.

Di Pasar Sukowati ini tempatnya belanja murah. Cocok banget sama budget kami waktu itu. Bentuk pasarnya tradisional, kayak pasar kebanyakan. Hanya yang diperjualbelikan mostly adalah souvenir.
Pasarnya luas. Dan item-item nya pun nggak kalah bagus sama yang di toko-toko ntu tuuh (nunjuk toko sembarang, haha.. ) Di pasar ini, pinter-pinter aja nawar. Inshaallah mabrur. Wkwkwk...

view Pasar Seni Sukowati dari parkiran (dok.pribadi)


Pantai Sanur

Setelah belanja oleh-oleh, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Sanur. Pantainya waktu itu ramai sekali. Mungkin efek weekend. Di Sanur juga berderet penjual baju-baju pantai dan souvenir, selayaknya pantai pada umumnya.

Ssst... ada kejadian lucu lagi nih. Dari parkiran kami berjalan ke arah pantai. Lumayan jauh, lebih dari 30 meter. Di perjalanan, salah satu teman saya termasuk orang yang agamis, sibuk istighfar. Saya bingung kenapa. ternyata dia melihat bule pake baju bikini two pieces. Ow ow! Itu rejeki, jangan ngedip. Haha *joking. Maappp bapak ibu ustadz ustadz/ah. :D

aktifis yang serada salah kostum haha..
**

Jejak kedua

Kali kedua ke Bali Tahun 2012. Beberapa hari setelah resepsi pernikahan di kampung saya dan ngunduh mantu di kampung suami. Pernikahan maraton, ngos-ngosan. Jadi trip ke Bali kali itu kurang pas kalau disebut bulan madu, karena mepet banget waktunya. Kejar-kejaran dengan jatah cuti suami dan tiket ke Pekanbaru Riau. Kami hanya dua hari di Bali include perjalanan Gilimanuk – Denpasar.
Pantai Kuta lah destinasi terdekat yang bisa dituju. Setelah check in di penginapan, kami baru bisa keluar jam 11 maleman. Tapi ada hal unik, kami keliling di sekitaran Kuta, Hard Rock Cafe, Legian, sampai ke pusat oleh-oleh Krisna pake sepeda ontel bermotif warna warni pelangi punyanya temen suami yang stay di Bali. So romantic..! meskipun pegel juga pinggang, haha..

honeymoon in a rush!
**

Kali Ketiga...

Nah, kali ketiga kunjungan ke Bali kami lakukan di Tahun 2015. Setahun lalu ya. Kala itu trip berjalan sangat seru (((MEMUASKAN))) ! Haha..

Meskipun masih banyak tempat terlewatkan. Kembali lagi, karena keterbatasan waktu ya. Jadi kalo mau ke Bali emang perlu berminggu-minggu biar semua terjajal, tapi siap-siap aja nggk bisa move on :D

Pulau Menjangan 

Kami memulai trip dari Banyuwangi (kampung suami). Eksplor Banyuwangi aja udah bikin seneng. Eh dilanjut trip ke Bali Barat. Kami dapet akomdasi gratis menuju Pulau Menjangan. Katanya, destinasi keren untuk snorkling. Kenyataannya, kereeeen banget!

Nama Pulau Menjangan diambil dari hewan endemik di pulau tersebut: Menjangan, yang artinya rusa. dari kunjungan ke pulau ini saya jadi tahu kalau rusa ternyata bisa kuat berenang menyebrang lautan, lho.

Pulau Menjangan masih termasuk wisata eksklusif. Belum terlalu ramai. Kita bisa nyebrang melalui Banyuwangi, atau Bali. Kami tentu menyebrang dari Banyuwangi. Kali itu kami menggunakan kapal kecil. Saya tidak hanya pergi berdua, tapi bersama dua bule pasangan kekasih dari Switzerland, pengemudi kapal beserta asistennya haha.., plus adek ipar dan suaminya sang sponsor. Suami adik ipar kebetulan bekerja sebagai Polisi Air Laut yang juga investasi alat-alat Snorkling. That’s why perjalanan kami GRATIS!! *rejeki anak sholeha pemirsa*

Tapi si Gratis ini tetep ada syaratnya, saya dan suami diminta jadi translator selama perjalanan. Gak apa-apa lah, sing penting liburan gretong!

kami yang bahagia

Actually, its our first snorkle experience. Iya, saya mah apa atuh baru kali itu berani snorkling, karena bersama si penjaga hati #eaaaa

Sayangnya kamera underwater si ade ipar ketinggalan dan kamera underwater si bule pun agak rusak gitu. Kamera underwater kami? Masih di toko! Haha

But the moments was captured in our hearts. Uhuk!

welcome to Pulau Menjangan

si ade ipar sama kakak iparnya selfie euy!

Di Pulau Menjangan ini ada beberapa spot untuk snorkling, tour guide udah tahu spot-spotnya. Kami waktu itu menjajal 3 spot. Ombak cukup besar di perjalanan. di spot pertama, saya diajarkan mengambil dan membuang nafas ketika snorkle. Jadi ngambil dan buang nafas lewat mulut. Hidung nggak difungsikan. Dan saya murid yang teladan, langsung bisa donks. Ade ipar malah sempet gelagapan dan kapok nyebur. Tapi ketika melihat gelapnya lautan dari arah dalam (area untuk diving) saya sempat panik. Dan dari pengalaman ini, nampaknya saya nggak akan pernah berani jajal Diving, atuuuuut! Kebayang film Shark. Kita nyelem tau tau dilahap hiu. Amit-amiiit dah!

ciyee couple snorkle ciyee
Pertama kali snorkling, langsung di salah satu spot snorkle terbaik di negeri ini, ketemu clown fish semodel si Nemo, liat bintang laut, ikan biru, ikan warna warni, sampe bisa nyaksiin sendiri yang namanya bulu babi. Awesome!

Trip bareng mertua

Keesokan harinya kami lanjut menuju Bali dari Gilimanuk. Kali ini asiknya  saya dan suami keliling Bali pake sepeda motor. Bersama papa mama mertua yang juga pake motor. Family touring kitaaa~ yuhuuu!

Enaknya pake motor adalah kita bisa masuk ke pantai-pantai yang dilewatin dengan bebas, bayar parkir nggak mahal, dan lebih fleksibel. Nggak enaknya, kalo hujan turun perjalanan harus tertunda. Tapi kalau nyaman lanjut pake jas hujan, silakan :)

mampir, nemu pantai asik di perjalanan

Sssstttt.... enaknya touring sama mertua apa coba?? Apa-apa dibayarin. Mau ini itu dijabanin, bwahahahaha #menantukurangajaaaarrr!

Saya menjelma bak ratu dalam perjalanan, alias sang penentu destinasi. Haha.. nggak mau tahu itu dimana dan gimana, pokoknya harus sampe! Nah kan emang dasar #menantukurangajaaaarrr!
Untungnya mertuanya baik nggak ketulungan *salim, sungkem sama si mama papa mertue!

Sunset di Tanah Lot

Keberuntungan tengah memeluk kami. Sore hari kami sampai di Tanah Lot. Papa  agak lupa lupa rute, tapi demi mantu kesayangan, ketemu juga itu lokasi Tanah Lot. Di sana kami sibuk foto-foto. Menatap indahnya laut lepas. Ombak berkejaran, semakin menggapai-gapai ke arah dalam sekitaran Batu Bolong.

Pada kesempatan kali itu, kami melihat ular suci yang dijaga oleh bapak kuncen di sebuah gua. Kirain ulernya gede, ternyata kecil. Kurang tahu juga kenapa disebut ular suci, anyone knows?

ular suci alias holy snake di Tanah Lot

Dan puji syukur, kami beruntung menyaksikan sang surya tenggelam di Tanah Lot. Romantis!

Sunset di Tanah Lot

Semakin gelap, air semakin pasang. Ketika beristirahat, belakangan kami tahu malam itu ada pertunjukkan Tari Kecak. Ah, itu kan impian si saya yang belum kesampean. Suami pun tahu itu. dasar suami sholeh ya, dia langsung ngajak ke lokasi. Papa mama mertua memilih menunggu di sekitaran ruko oleh-oleh – belanja. Berlarian kami menuju lokasi pertunjukkan, sampe lepas sandal, karena memang pertunjukkan akan dimulai dalam waktu kurang dari 10 menit. Sedangkan lokasi pertunjukkan dengan tempat kami duduk itu ujung ke ujung, jauuuuh.,

sampai di loket langsung beli tiket (Rp. 50.000/org). pertunjukkan sudah dimulai kurang lebih 10 menit kata si mbak penjaga loket.

Finally, we made it!

part of performance

Selepas dari Tanah Lot, kami lanjut cari penginapan. Semua buta arah. Haha..

Destinasi kedua yang ingin sekali didatangi adalah Pantai Pandawa. Papa mertua sibuk mikir harus di daerah mana menginap, agar tidak terlalu jauh dari lokasi yang saya sebutkan. Beliau tidak tahu pantai itu tepatnya dimana, hanya tahu daerahnya saja.

Sambil mikir, kami mampir ke sebuah kedai bakso. Dunia emang kadang terlihat sempit banget ya.. ternyata penjual bakso sekampung sama papa mama mertua. Dari obrolan kami malam itu, kami diarahkan ke sebuah penginapan. Katanya dekat Pantai Pandawa dan murah! Ternyata benar, murah dan searah ke Pantai Pandawa.

kami di depan kamar penginapan, and it was my birthday! :D

Pantai Pandawa

Tadaaaa... sampailah esoknya kami di Pantai Pandawa. Eksotis! Tebing-tebing alami menjulang tinggi, dibelah kayak belahan puding. Dari arah atas, laut lepas bak primadona yang tengah ranum.

Memasuki kawasan pantai, kita akan disambut patung-patung tokoh pewayangan mulai dari Dewi Kunti sampai Pandawa Lima.

salah satu patung di area kedatangan: Dewi Kunti

Waktu saya kesana masih ada pembangunan di arah belakang pantai, mungkin sekarang udah lebih ketje yaa.


full team in action :D


pantai nya hijauuuuu~ indah

Setelah kenyang santap aroma Pantai Pandawa, kami lanjut menuju Garuda Wisnu Kencana (GWK). Waktu tempuh sekitar 1 jam kalo nggak salah. Di perjalanan ke arah GWK sebenarnya melewati beberapa destinasi seperti Pantai Nusa Dua Bali dan banyak spot wisata lain. Tapi kami nggak mampir, alasannya: waktu!

Garuda Wisnu Kencana (GWK)                                                                                               

Sampai di GWK, kita nggak langsung ketemu patung raksasa Wisnu dan Burung Garuda nya. Tapi kita memasuki kawasan seperti mau masuk ke area real estate.

GWK merupakan destinasi wisata kontemporer. Di dalam area GWK kita bisa melihat pertunjukkan teater, tari-tarian, wisata belanja, juga memasuki galeri-galeri seni.

Icon di GWK ini adalah patung-patung besar. Dua patung terbesar adalah Patung Wisnu dan Garuda. Konon katanya (baca di brosur) nanti dua patung itu akan disatukan jadi satu patung raksasa Wisnu bersama Burung Garuda utuh. Seniman patung yang terlibat adalah seniman-seniman terbaik Indonesia. Salah satu penggagasnya adalah lulusan ITB. Megaproyek yang indah.

what is he doing? haha

Tapii dibanding destinasi lain, GWK termasuk mahal. Karena ada beberapa pertunjukkan atau wahana yang harus dibayar terpisah di dalam. Kami waktu itu hanya berfoto di depan patung-patung, makan di area bazar, dan nonton sendratari.

take a picture after performance, bareng penari dan mama mertua kesayangan :*

Setelah itu kami kembali pulang. Di perjalanan pulang papa mertua mengajak kami silaturahmi ke tempat sobat lamanya. Makan-makan lagi. Kemudian pulang menuju rumah mbah uti yang pasti udah kangen saya #eh.

Ssstt...! ada cerita seru dan inspiratif tentang sobat papa mertua ini. Next time saya tulis :)

**
ketika Bali menjelma serupa kekasih yang tak lekang kerinduan terhadapnya. Tuhan, izinkan kami untuk kembali ke Pulau Dewata ini sekali lagi, sekali lagi, lagi, dan lagi. 


Jumat, 26 Agustus 2016

Jejak di Tanah Minang : Jam gadang, Puncak Lawang, sampai Danau Maninjau

Hello, ada yang niat piknik ke sumatera barat? Ke Padang? Atau kemana?


Through this journal, saya mau cerita pengalaman berangkat ke Sumatera Barat di bulan Agustus Tahun 2014 lalu. Udah lama sih, tapi baru ada strong will untuk nulis ini,haha.. maapp yak!

Perjalanan ke Sumbar mendadak kami tempuh karena sedih harus berlebaran di Kebun Sawit tanpa sanak saudara. Semodel pelarian anak rantau, hihi..

waktu itu kami baru beberapa bulan menikah, penganten baru gitu ceritanya. Saya yang masih bolak-balik Bandung-Riau, memilih berlebaran di Riau nemenin suami. Kami tidak bisa mudik karena alasan cuti yang terbatas (karena sudah habis untuk acara nikahan). Dan dramatisnya, waktu itu saya masih dihantui drama ujian tesis, yang jadwalnya maju mundur mengerikan, :D

tapii semua terlalui dengan keren, Allah emang gitu, baik banget sama saya. makanya saya bisa nulis cerita ini. semoga aja menginspirasi untuk jadi manten baru, diburu jadwal tesis, lebaran di rantau, #eh #nyumpahin ini namanya haha..


**
Seperti biasa, perjalanan ini juga modal nekad. Kenekadan pertama, kami melakukan perjalanan dengan motor tanpa plat nomor. Karena waktu itu plat nomor motor suami belum keluar. kenekadan kedua, tanpa kenalan.

Tujuan utama perjalanan adalah Danau Maninjau. Efek baca novel apa ya lupa judulnya. Saya bujuk suami untuk ngetrip kesana. Suami nanya, “kuat pake motor? Karena kalo pake angkutan umum pasti macet dan lama”, dengan tegas saya jawab: i am setroooooooooong beibiiii.

Sekitar satu jam setelah shalat ied kami meluncur ke Pekanbaru. Waktu tempuh sekitar 1 jam. Kami jalan-jalan ngemall dulu disana. Lalu keesokan harinya, H+1 lebaran, kami meluncur menuju Sumbar.

Saya dan suami sama sekali tidak tahu rute pasti menuju Sumbar. Modal kami adalah kemampuan membaca plang-plang arah jalan, akses internet, niat baik, doa dan harapan, hihiw!

**
Jalanan macet, karena ternyata banyak yang mudik ke arah Sumbar di H+1. Untungnya kami pake motor, jadi bisa nyalip sana sini. Di jalan sempat kehujanan, karena manten baru kali ya, berasa lagi shooting pilem india aja gitu, :D

Baju kering di badan, karena nggak mau wasting-time cuman untuk berhenti-berhenti. Kecuali udah deras banget, baru deh kami transit di warung atau tempat teduh terdekat.

salah satu moment transit, makan!


Perhentian pertama: Kelok Sembilan

Dua tahun lalu mungkin beda ya kondisinya sama sekarang. Waktu itu banyak pengendara berhenti, padahal jelas ada plang berisi tulisan: dilarang berhenti. Kami memilih untuk ikut-ikutan berhenti, haha..

Kelok sembilan ini mungkin salah satu megaproyek di Sumatera, jalan berkelok-kelok cantik banget. Meskipun waktu itu masih ada pembangunan di beberapa sisi jalan.

Di sisi-sisi jalan ada para penjual makanan ringan dan minuman. Kami memilih santap cemilan dan kopi hangat. Enaaaaak!

kelok sembilan, one of view.

kelok sembilan sang mega proyek

dia, bahagia :)

Lanjut perjalanan, sambil menikmati pemandangan berkelok-kelok. Setelah Kelok Sembilan dilewati, pemandangan berubah jadi hutan-hutan. Setelah itu ada keramaian lagi, hutan lagi, keramaian lagi. Ada banyak tebing menjulang sepanjang perjalanan. Eksotis, tapi sedikit ngeri juga kalau ngebayangin itu tebing runtuh. Amit-amit yak!

Lalu sampailah kami di sebuah titik keramaian yang rame nya itu nggak ketulungan. Jalanan crowded banget. Kami penasaran, ini ada apa?!

Akhirnya kami memutuskan mendekati seorang tukang parkir, “Ada apa ini bang kok ramai sekali?”, “inda ado apa-apa.” Jawabnya. “Lha kok ramai?” tanya kami masih penasaran. “Jam Gadang memang ramai kalau libur.”

Jengjengjeeeng...!!!!!

Perhentian kedua: Jam Gadang


ternyata kami sudah sampai Bukit Tinggi. Tempat salah satu situs bersejarah, Jam Gadang. Kami memutuskan memarkir kendaraan. Dan tadaaaa... untuk pertamakalinya bisa menyaksikan Jam Gadang dari dekat, bukan di Atlas jaman SD lagi, hehe..

asiknya petualangan adalah saat kita menemukan tanpa memaksa dan berencana. Ah, bahagia!
see, kita sampe sini liat Jam Gadang juga!

suasana Magrib di sekitaran Jam Gadang
 **

Setelah puas foto-foto, kami lanjut mencari penginapan. Percaya atau tidak, semua penginapan dengan range harga maksimal 500Rb, FULL! Sisa hotel berbintang-bintang.

Waktu itu memang sudah sore menjelang magrib. Karena sudah lumayan kelelahan, Kami memilih transit istirahat dan makan mie ayam. Sambil cari-cari info penginapan.

Abang mie ayam menyajikan dan merespon pesanan, kental sekali dialeknya bukan orang Minang. Betul prediksi saya, si abangnya keturunan USA (Urang Sunda Asli). Yeay!! Ketemu sodara #apasih! Ngarep ditolongin, hehe..

Tapi benar kata para ustadz, berharap itu harus sama Allah jangan sama mamang mie ayam. Mamang mie ayam merekomendasikan hotel yang sudah kami cek semua sebelumnya. USA tinggal USA. Wkwk

Setelah shalat magrib dan bla bla bla, kami masih penasaran keliling Bukit Tinggi. Tidak berubah, yang tersisa memang kamar-kamar mahal. Kami merasa rugi kalau harus menginap dengan range di atas 500RB, karena esok kami akan lanjut perjalanan. Dan nggak butuh-butuh amat kamar yang gede sama mewah :D Padahal emang dasarnya penghematan keleuus, wakwaw!

**
Nekad lagi aja deh, lanjut Danau Maninjau. Kami memutuskan reservasi online salah satu hotel di sekitaran Danau Maninjau, dengan memilih fitur bayar di tempat.

Tanya sana sini, liat plang, kami lanjut perjalanan. Banyak orang yang mewanti-wanti kalau ke sana hati-hati karena gelap. Termasuk mamang mie ayam USA tadi. Kami jadi dugdugser juga. Seolah akan memasuki rumah hantu.

Dan ternyata benar, jalanan termasuk sepi. Gelap. Penerangan masih terbatas. Yaa maju mundur kena donks. Alaah paling nyasar, gitu batin kami waktu itu.

Tapi kami menemukan keseruan saat kami menemukan sekumpulan pengendara motor lain yang nampak sedang touring. Sayangnya mereka berbeda arah. Sampai pada satu pertigaan, kami mendadak berhenti, karena si kelompok sepeda motor itu ke arah yang sangat gelap. Kami curiga itu bukan arah ke Maninjau. Akhirnya kami memutuskan balik arah. Sebelum balik arah, tetiba ada yang menyapa dari arah kanan, kakek-kakek tua!
Hiiiiyyyhh.. merinding.

Suami mendadak sulit memundurkan motor, si kakek terus ngomong pake bahasa yang entah bahasa apa,


Saya berusaha mengendalikan pikiran biar nggak panik.
Berbisik ke suami: “yammi turun dulu ya, langsung puter balik motornya, tapi jangan ninggalin lho!”
Suami mengangguk cepat. 
Dan akhirnya kami meluncur sambil menganggukan kepala ke arah si kakek yang entah dia ngomong apa dan ngapain tiba-tiba muncul di tengah kegelapan sendirian. Haha.. horor!

**

Danau Maninjau


Setelah kejadian si kakek, kami fokus cari penginapan yang sudah kami reservasi. Jalanan berkelok-kelok. Di petunjuk sebuah blog, kami sudah sampai danau maninjau kalau sudah melewati Kelok 44. Suami bertanya, sudah lewat kelok 44 nya belum sih? Dengan rasa takut karena emang gelap sekali waktu itu, saya jawab: udah lebih dari 44 kali. Mungkin di blog itu salah tulis, harusnya kelok ratusan~lebiih!!
Ngakak lah kami di motor, mengalahkan ketakutan masing-masing.

**
Dan ketemu juga itu kelok 44. Tempatnya berkelok, keloknya curam dan pendek-pendek. Harus atur kecepatan, jangan sampe lost. Di setiap kelok ada plang bertuliskan kelok ke berapa. Mulai dari kelok 44, 43, sampai ke kelok 1.
Nah kalo udah liat tulisan kelok 1, sampailah kita di sekitaran Danau Maninjau.

**
Kami sampai di sana sekitar pukul 21.30. penginapan yang kami reservasi nampaknya sudah bangkrut atau fiktik, karena nggak ada batang hidungnya sama sekali, haha..
Kami dapat penginapan yang murah, asalnya 700rb, kami tawar jadi 300Rb aja donks. Suamiku emang hebring deuh...
300Rb dengan fasilitas bath-tub, air panas, teras kamar, sarapan pagi, kasur yang nyaman, daaaaaan view langsung ke danau maninjau. Resto hotel tepat ada di atas perairan danau. Bahagia. Lelah terbayar!

ini dia front space hotelnya

sarapan keindahan :)


**
Esoknya kami lanjut menuju Puncak Lawang. Biasanya kita bisa foto seolah di atas awan. Tapi waktu kami datang awannya masih jauh di atas, jadi nggk bs ambil angel di atas awan.

Sepanjang jalan, pemandangan hijau membentang. Rumah-rumah tradisional Minang masih banyak berdiri indah. Sawah luas. Sejuk udara yang keluar masuk tubuh. Ah, surga!

Rumah Gadang cantik, kan?


one of view dari Puncak Lawang

our selfie!

Oleh-oleh Nyasar!

Pulangnya kami nyarasar-nyasar. Tapi nyasar membawa berkah. berkat nyasar jadi sampe ke tempat wisata: Janjang Seribu & Goa Jepang!
tapi kami tidak singgah lama-lama, karena harus segera pulang :)


Goa yang kami temukan saat nyasar hihi..

Janjang Saribu 


Refreshed! Bahagia. Dan merasa perjalanan nekad kali itu sangat Worth It!

**
Yuk nyoba ngetrip ke Sumbar. siap-siap jaket. Siap-siap jatuh cinta sama alamnya :)