Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Agustus 2016

Tiga Kali ke Bali, Kangennya ber-KALIKALI

Jejak pertama

Pertama kali ke Bali tahun 2010. Berangkat bukan untuk liburan, tapi mengikuti rapat kerja nasional organisasi IMABKIN (Ikatan Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Indonesia). Yaa... namanya rapat, meskipun ada alokasi field trip, waktu terbatas.

Sebelum sampai di Bali, dipikir bisa jajal seluruh tempat hanya dalam satu hari. Ternyata tidak. Sehari di Bali hanya bisa ke beberapa spot saja. Kita harus mempertimbangkan kesesuaian rute.

Nah, untuk kamu  yang akan berangkat ke Bali untuk pertama kali, pastikan waktu nggak mepet-mepet dan sudah menentukan destinasi yang ingin dituju. Setelah itu pertimbangkan akses, jarak tempuh, dan waktu tempuh dari Bandara Ngurah Rai atau Pelabuhan Gilimanuk. For your information, jarak tempuh dari pelabuhan itu bisa berjam-jam sampai Denpasar. Apalagi kalau sudah sampai Denpasar, siap-siap ketemu macet layaknya ibu kota lainnya :/ 

Singaraja

Undiksha - Singaraja adalah tempat diadakannya rapat kerja kali itu. Konon katanya daerah Singaraja termasuk daerah dengan mayoritas penganut muslim. Tapi meskipun begitu, bangunan kampus dan perumahan sekitar tetap mengusung arsitek khas ala-ala pura. And it's beautiful!

Kami para peserta yang berasal dari luar Bali (apalagi yang baru nginjek Bali seperti saya) dibuat terkagum-kagum dengan arsitektur kampus Undiksha yang Bali banget. 
Bisa dikatakan, kearifan lokal sangat dijunjung tinggi di sana.
Wangi dupa dan sesajen bunga-bunga ada di setiap gedung. Seakan tak ingin sedetikpun membuat kita lupa akan eksotika wewangian Bali #eaaaaa.

Di perjalanan ke Bali untuk pertama kali itu, saya jadi tahu kalau untuk jajal Bali kita perlu kendaraan pribadi. Karena untuk masuk ke spot wisata, lokasinya biasanya agak masuk-masuk ke dalam. . Jalannya berkelok-kelok, layaknya jalan menuju pantai.

Waktu itu, memanfaatkan alokasi field trip setelah agenda rapat selesai, saya dan teman-teman memutuskan rental mobil bareng-bareng. Kami menggunakan APV plus bapak sopir yang baik hati. Waktu itu kami merogoh kocek 400rb. Karena memang tidak seharian full. Kami harus kembali ke pelabuhan sore harinya. Bisa dibilang, kami hanya rental setengah hari aja.

Ada kejadian lucu, ketika di perjalanan menuju Pantai Sanur, kami tersadar hanya berputar-putar di tempat itu-itu saja. Sampai akhirnya bapak sopir nyuruh kita tobat dan bersihkan pikiran kotor, hahahaha...

Entah mitos atau bukan, tapi emang kejadian. Setelah bapak sopir bilang gitu, temen-temen langsung koreksi pikiran kali ya, dan tadaaaa sampailah kita ke tempat tujuan.

Bapak sopir nampak seperti penganut Hindu yang taat. Beliau menyampaikan kalau di Bali ini hidup tenang dan alam akan menghukum siapapun yang berbuat kerusakan. Meskipun saya berbeda agama dengan beliau, tetep saya salut! Ciyee..

Danau Kintamani

Kunjungan ke danau ini sebenernya cuman di area atas aja. Karena kalo ke danau nya harus muter-muter lagi kata bapak sopir.  Tapi dari arah atas malah bagus view danaunya. Udaranya sejuuuk. Di sepanjang jalan banyak anak-anak dan remaja yang berjualan gantungan kunci secara asongan.




Pasar Seni Sukowati

Kemanapun destinasinya, pasti mikir harus bawa oleh-oleh donk. Nah, ketika ke Bali pertama kali, yang saya pikirkan adalah bisa beli apapun yang murah tapi ada tulisan Bali – nya. Hahhaha..

Karena kocek para mahasiswa ini terbatas, hampir serombongan belanjaannya sama: gantungan kunci, dan kaos. Saya menambahkan sarung bali dan udeng dalam list.

Di Pasar Sukowati ini tempatnya belanja murah. Cocok banget sama budget kami waktu itu. Bentuk pasarnya tradisional, kayak pasar kebanyakan. Hanya yang diperjualbelikan mostly adalah souvenir.
Pasarnya luas. Dan item-item nya pun nggak kalah bagus sama yang di toko-toko ntu tuuh (nunjuk toko sembarang, haha.. ) Di pasar ini, pinter-pinter aja nawar. Inshaallah mabrur. Wkwkwk...

view Pasar Seni Sukowati dari parkiran (dok.pribadi)


Pantai Sanur

Setelah belanja oleh-oleh, perjalanan dilanjutkan ke Pantai Sanur. Pantainya waktu itu ramai sekali. Mungkin efek weekend. Di Sanur juga berderet penjual baju-baju pantai dan souvenir, selayaknya pantai pada umumnya.

Ssst... ada kejadian lucu lagi nih. Dari parkiran kami berjalan ke arah pantai. Lumayan jauh, lebih dari 30 meter. Di perjalanan, salah satu teman saya termasuk orang yang agamis, sibuk istighfar. Saya bingung kenapa. ternyata dia melihat bule pake baju bikini two pieces. Ow ow! Itu rejeki, jangan ngedip. Haha *joking. Maappp bapak ibu ustadz ustadz/ah. :D

aktifis yang serada salah kostum haha..
**

Jejak kedua

Kali kedua ke Bali Tahun 2012. Beberapa hari setelah resepsi pernikahan di kampung saya dan ngunduh mantu di kampung suami. Pernikahan maraton, ngos-ngosan. Jadi trip ke Bali kali itu kurang pas kalau disebut bulan madu, karena mepet banget waktunya. Kejar-kejaran dengan jatah cuti suami dan tiket ke Pekanbaru Riau. Kami hanya dua hari di Bali include perjalanan Gilimanuk – Denpasar.
Pantai Kuta lah destinasi terdekat yang bisa dituju. Setelah check in di penginapan, kami baru bisa keluar jam 11 maleman. Tapi ada hal unik, kami keliling di sekitaran Kuta, Hard Rock Cafe, Legian, sampai ke pusat oleh-oleh Krisna pake sepeda ontel bermotif warna warni pelangi punyanya temen suami yang stay di Bali. So romantic..! meskipun pegel juga pinggang, haha..

honeymoon in a rush!
**

Kali Ketiga...

Nah, kali ketiga kunjungan ke Bali kami lakukan di Tahun 2015. Setahun lalu ya. Kala itu trip berjalan sangat seru (((MEMUASKAN))) ! Haha..

Meskipun masih banyak tempat terlewatkan. Kembali lagi, karena keterbatasan waktu ya. Jadi kalo mau ke Bali emang perlu berminggu-minggu biar semua terjajal, tapi siap-siap aja nggk bisa move on :D

Pulau Menjangan 

Kami memulai trip dari Banyuwangi (kampung suami). Eksplor Banyuwangi aja udah bikin seneng. Eh dilanjut trip ke Bali Barat. Kami dapet akomdasi gratis menuju Pulau Menjangan. Katanya, destinasi keren untuk snorkling. Kenyataannya, kereeeen banget!

Nama Pulau Menjangan diambil dari hewan endemik di pulau tersebut: Menjangan, yang artinya rusa. dari kunjungan ke pulau ini saya jadi tahu kalau rusa ternyata bisa kuat berenang menyebrang lautan, lho.

Pulau Menjangan masih termasuk wisata eksklusif. Belum terlalu ramai. Kita bisa nyebrang melalui Banyuwangi, atau Bali. Kami tentu menyebrang dari Banyuwangi. Kali itu kami menggunakan kapal kecil. Saya tidak hanya pergi berdua, tapi bersama dua bule pasangan kekasih dari Switzerland, pengemudi kapal beserta asistennya haha.., plus adek ipar dan suaminya sang sponsor. Suami adik ipar kebetulan bekerja sebagai Polisi Air Laut yang juga investasi alat-alat Snorkling. That’s why perjalanan kami GRATIS!! *rejeki anak sholeha pemirsa*

Tapi si Gratis ini tetep ada syaratnya, saya dan suami diminta jadi translator selama perjalanan. Gak apa-apa lah, sing penting liburan gretong!

kami yang bahagia

Actually, its our first snorkle experience. Iya, saya mah apa atuh baru kali itu berani snorkling, karena bersama si penjaga hati #eaaaa

Sayangnya kamera underwater si ade ipar ketinggalan dan kamera underwater si bule pun agak rusak gitu. Kamera underwater kami? Masih di toko! Haha

But the moments was captured in our hearts. Uhuk!

welcome to Pulau Menjangan

si ade ipar sama kakak iparnya selfie euy!

Di Pulau Menjangan ini ada beberapa spot untuk snorkling, tour guide udah tahu spot-spotnya. Kami waktu itu menjajal 3 spot. Ombak cukup besar di perjalanan. di spot pertama, saya diajarkan mengambil dan membuang nafas ketika snorkle. Jadi ngambil dan buang nafas lewat mulut. Hidung nggak difungsikan. Dan saya murid yang teladan, langsung bisa donks. Ade ipar malah sempet gelagapan dan kapok nyebur. Tapi ketika melihat gelapnya lautan dari arah dalam (area untuk diving) saya sempat panik. Dan dari pengalaman ini, nampaknya saya nggak akan pernah berani jajal Diving, atuuuuut! Kebayang film Shark. Kita nyelem tau tau dilahap hiu. Amit-amiiit dah!

ciyee couple snorkle ciyee
Pertama kali snorkling, langsung di salah satu spot snorkle terbaik di negeri ini, ketemu clown fish semodel si Nemo, liat bintang laut, ikan biru, ikan warna warni, sampe bisa nyaksiin sendiri yang namanya bulu babi. Awesome!

Trip bareng mertua

Keesokan harinya kami lanjut menuju Bali dari Gilimanuk. Kali ini asiknya  saya dan suami keliling Bali pake sepeda motor. Bersama papa mama mertua yang juga pake motor. Family touring kitaaa~ yuhuuu!

Enaknya pake motor adalah kita bisa masuk ke pantai-pantai yang dilewatin dengan bebas, bayar parkir nggak mahal, dan lebih fleksibel. Nggak enaknya, kalo hujan turun perjalanan harus tertunda. Tapi kalau nyaman lanjut pake jas hujan, silakan :)

mampir, nemu pantai asik di perjalanan

Sssstttt.... enaknya touring sama mertua apa coba?? Apa-apa dibayarin. Mau ini itu dijabanin, bwahahahaha #menantukurangajaaaarrr!

Saya menjelma bak ratu dalam perjalanan, alias sang penentu destinasi. Haha.. nggak mau tahu itu dimana dan gimana, pokoknya harus sampe! Nah kan emang dasar #menantukurangajaaaarrr!
Untungnya mertuanya baik nggak ketulungan *salim, sungkem sama si mama papa mertue!

Sunset di Tanah Lot

Keberuntungan tengah memeluk kami. Sore hari kami sampai di Tanah Lot. Papa  agak lupa lupa rute, tapi demi mantu kesayangan, ketemu juga itu lokasi Tanah Lot. Di sana kami sibuk foto-foto. Menatap indahnya laut lepas. Ombak berkejaran, semakin menggapai-gapai ke arah dalam sekitaran Batu Bolong.

Pada kesempatan kali itu, kami melihat ular suci yang dijaga oleh bapak kuncen di sebuah gua. Kirain ulernya gede, ternyata kecil. Kurang tahu juga kenapa disebut ular suci, anyone knows?

ular suci alias holy snake di Tanah Lot

Dan puji syukur, kami beruntung menyaksikan sang surya tenggelam di Tanah Lot. Romantis!

Sunset di Tanah Lot

Semakin gelap, air semakin pasang. Ketika beristirahat, belakangan kami tahu malam itu ada pertunjukkan Tari Kecak. Ah, itu kan impian si saya yang belum kesampean. Suami pun tahu itu. dasar suami sholeh ya, dia langsung ngajak ke lokasi. Papa mama mertua memilih menunggu di sekitaran ruko oleh-oleh – belanja. Berlarian kami menuju lokasi pertunjukkan, sampe lepas sandal, karena memang pertunjukkan akan dimulai dalam waktu kurang dari 10 menit. Sedangkan lokasi pertunjukkan dengan tempat kami duduk itu ujung ke ujung, jauuuuh.,

sampai di loket langsung beli tiket (Rp. 50.000/org). pertunjukkan sudah dimulai kurang lebih 10 menit kata si mbak penjaga loket.

Finally, we made it!

part of performance

Selepas dari Tanah Lot, kami lanjut cari penginapan. Semua buta arah. Haha..

Destinasi kedua yang ingin sekali didatangi adalah Pantai Pandawa. Papa mertua sibuk mikir harus di daerah mana menginap, agar tidak terlalu jauh dari lokasi yang saya sebutkan. Beliau tidak tahu pantai itu tepatnya dimana, hanya tahu daerahnya saja.

Sambil mikir, kami mampir ke sebuah kedai bakso. Dunia emang kadang terlihat sempit banget ya.. ternyata penjual bakso sekampung sama papa mama mertua. Dari obrolan kami malam itu, kami diarahkan ke sebuah penginapan. Katanya dekat Pantai Pandawa dan murah! Ternyata benar, murah dan searah ke Pantai Pandawa.

kami di depan kamar penginapan, and it was my birthday! :D

Pantai Pandawa

Tadaaaa... sampailah esoknya kami di Pantai Pandawa. Eksotis! Tebing-tebing alami menjulang tinggi, dibelah kayak belahan puding. Dari arah atas, laut lepas bak primadona yang tengah ranum.

Memasuki kawasan pantai, kita akan disambut patung-patung tokoh pewayangan mulai dari Dewi Kunti sampai Pandawa Lima.

salah satu patung di area kedatangan: Dewi Kunti

Waktu saya kesana masih ada pembangunan di arah belakang pantai, mungkin sekarang udah lebih ketje yaa.


full team in action :D


pantai nya hijauuuuu~ indah

Setelah kenyang santap aroma Pantai Pandawa, kami lanjut menuju Garuda Wisnu Kencana (GWK). Waktu tempuh sekitar 1 jam kalo nggak salah. Di perjalanan ke arah GWK sebenarnya melewati beberapa destinasi seperti Pantai Nusa Dua Bali dan banyak spot wisata lain. Tapi kami nggak mampir, alasannya: waktu!

Garuda Wisnu Kencana (GWK)                                                                                               

Sampai di GWK, kita nggak langsung ketemu patung raksasa Wisnu dan Burung Garuda nya. Tapi kita memasuki kawasan seperti mau masuk ke area real estate.

GWK merupakan destinasi wisata kontemporer. Di dalam area GWK kita bisa melihat pertunjukkan teater, tari-tarian, wisata belanja, juga memasuki galeri-galeri seni.

Icon di GWK ini adalah patung-patung besar. Dua patung terbesar adalah Patung Wisnu dan Garuda. Konon katanya (baca di brosur) nanti dua patung itu akan disatukan jadi satu patung raksasa Wisnu bersama Burung Garuda utuh. Seniman patung yang terlibat adalah seniman-seniman terbaik Indonesia. Salah satu penggagasnya adalah lulusan ITB. Megaproyek yang indah.

what is he doing? haha

Tapii dibanding destinasi lain, GWK termasuk mahal. Karena ada beberapa pertunjukkan atau wahana yang harus dibayar terpisah di dalam. Kami waktu itu hanya berfoto di depan patung-patung, makan di area bazar, dan nonton sendratari.

take a picture after performance, bareng penari dan mama mertua kesayangan :*

Setelah itu kami kembali pulang. Di perjalanan pulang papa mertua mengajak kami silaturahmi ke tempat sobat lamanya. Makan-makan lagi. Kemudian pulang menuju rumah mbah uti yang pasti udah kangen saya #eh.

Ssstt...! ada cerita seru dan inspiratif tentang sobat papa mertua ini. Next time saya tulis :)

**
ketika Bali menjelma serupa kekasih yang tak lekang kerinduan terhadapnya. Tuhan, izinkan kami untuk kembali ke Pulau Dewata ini sekali lagi, sekali lagi, lagi, dan lagi. 


Jumat, 26 Agustus 2016

Jejak di Tanah Minang : Jam gadang, Puncak Lawang, sampai Danau Maninjau

Hello, ada yang niat piknik ke sumatera barat? Ke Padang? Atau kemana?


Through this journal, saya mau cerita pengalaman berangkat ke Sumatera Barat di bulan Agustus Tahun 2014 lalu. Udah lama sih, tapi baru ada strong will untuk nulis ini,haha.. maapp yak!

Perjalanan ke Sumbar mendadak kami tempuh karena sedih harus berlebaran di Kebun Sawit tanpa sanak saudara. Semodel pelarian anak rantau, hihi..

waktu itu kami baru beberapa bulan menikah, penganten baru gitu ceritanya. Saya yang masih bolak-balik Bandung-Riau, memilih berlebaran di Riau nemenin suami. Kami tidak bisa mudik karena alasan cuti yang terbatas (karena sudah habis untuk acara nikahan). Dan dramatisnya, waktu itu saya masih dihantui drama ujian tesis, yang jadwalnya maju mundur mengerikan, :D

tapii semua terlalui dengan keren, Allah emang gitu, baik banget sama saya. makanya saya bisa nulis cerita ini. semoga aja menginspirasi untuk jadi manten baru, diburu jadwal tesis, lebaran di rantau, #eh #nyumpahin ini namanya haha..


**
Seperti biasa, perjalanan ini juga modal nekad. Kenekadan pertama, kami melakukan perjalanan dengan motor tanpa plat nomor. Karena waktu itu plat nomor motor suami belum keluar. kenekadan kedua, tanpa kenalan.

Tujuan utama perjalanan adalah Danau Maninjau. Efek baca novel apa ya lupa judulnya. Saya bujuk suami untuk ngetrip kesana. Suami nanya, “kuat pake motor? Karena kalo pake angkutan umum pasti macet dan lama”, dengan tegas saya jawab: i am setroooooooooong beibiiii.

Sekitar satu jam setelah shalat ied kami meluncur ke Pekanbaru. Waktu tempuh sekitar 1 jam. Kami jalan-jalan ngemall dulu disana. Lalu keesokan harinya, H+1 lebaran, kami meluncur menuju Sumbar.

Saya dan suami sama sekali tidak tahu rute pasti menuju Sumbar. Modal kami adalah kemampuan membaca plang-plang arah jalan, akses internet, niat baik, doa dan harapan, hihiw!

**
Jalanan macet, karena ternyata banyak yang mudik ke arah Sumbar di H+1. Untungnya kami pake motor, jadi bisa nyalip sana sini. Di jalan sempat kehujanan, karena manten baru kali ya, berasa lagi shooting pilem india aja gitu, :D

Baju kering di badan, karena nggak mau wasting-time cuman untuk berhenti-berhenti. Kecuali udah deras banget, baru deh kami transit di warung atau tempat teduh terdekat.

salah satu moment transit, makan!


Perhentian pertama: Kelok Sembilan

Dua tahun lalu mungkin beda ya kondisinya sama sekarang. Waktu itu banyak pengendara berhenti, padahal jelas ada plang berisi tulisan: dilarang berhenti. Kami memilih untuk ikut-ikutan berhenti, haha..

Kelok sembilan ini mungkin salah satu megaproyek di Sumatera, jalan berkelok-kelok cantik banget. Meskipun waktu itu masih ada pembangunan di beberapa sisi jalan.

Di sisi-sisi jalan ada para penjual makanan ringan dan minuman. Kami memilih santap cemilan dan kopi hangat. Enaaaaak!

kelok sembilan, one of view.

kelok sembilan sang mega proyek

dia, bahagia :)

Lanjut perjalanan, sambil menikmati pemandangan berkelok-kelok. Setelah Kelok Sembilan dilewati, pemandangan berubah jadi hutan-hutan. Setelah itu ada keramaian lagi, hutan lagi, keramaian lagi. Ada banyak tebing menjulang sepanjang perjalanan. Eksotis, tapi sedikit ngeri juga kalau ngebayangin itu tebing runtuh. Amit-amit yak!

Lalu sampailah kami di sebuah titik keramaian yang rame nya itu nggak ketulungan. Jalanan crowded banget. Kami penasaran, ini ada apa?!

Akhirnya kami memutuskan mendekati seorang tukang parkir, “Ada apa ini bang kok ramai sekali?”, “inda ado apa-apa.” Jawabnya. “Lha kok ramai?” tanya kami masih penasaran. “Jam Gadang memang ramai kalau libur.”

Jengjengjeeeng...!!!!!

Perhentian kedua: Jam Gadang


ternyata kami sudah sampai Bukit Tinggi. Tempat salah satu situs bersejarah, Jam Gadang. Kami memutuskan memarkir kendaraan. Dan tadaaaa... untuk pertamakalinya bisa menyaksikan Jam Gadang dari dekat, bukan di Atlas jaman SD lagi, hehe..

asiknya petualangan adalah saat kita menemukan tanpa memaksa dan berencana. Ah, bahagia!
see, kita sampe sini liat Jam Gadang juga!

suasana Magrib di sekitaran Jam Gadang
 **

Setelah puas foto-foto, kami lanjut mencari penginapan. Percaya atau tidak, semua penginapan dengan range harga maksimal 500Rb, FULL! Sisa hotel berbintang-bintang.

Waktu itu memang sudah sore menjelang magrib. Karena sudah lumayan kelelahan, Kami memilih transit istirahat dan makan mie ayam. Sambil cari-cari info penginapan.

Abang mie ayam menyajikan dan merespon pesanan, kental sekali dialeknya bukan orang Minang. Betul prediksi saya, si abangnya keturunan USA (Urang Sunda Asli). Yeay!! Ketemu sodara #apasih! Ngarep ditolongin, hehe..

Tapi benar kata para ustadz, berharap itu harus sama Allah jangan sama mamang mie ayam. Mamang mie ayam merekomendasikan hotel yang sudah kami cek semua sebelumnya. USA tinggal USA. Wkwk

Setelah shalat magrib dan bla bla bla, kami masih penasaran keliling Bukit Tinggi. Tidak berubah, yang tersisa memang kamar-kamar mahal. Kami merasa rugi kalau harus menginap dengan range di atas 500RB, karena esok kami akan lanjut perjalanan. Dan nggak butuh-butuh amat kamar yang gede sama mewah :D Padahal emang dasarnya penghematan keleuus, wakwaw!

**
Nekad lagi aja deh, lanjut Danau Maninjau. Kami memutuskan reservasi online salah satu hotel di sekitaran Danau Maninjau, dengan memilih fitur bayar di tempat.

Tanya sana sini, liat plang, kami lanjut perjalanan. Banyak orang yang mewanti-wanti kalau ke sana hati-hati karena gelap. Termasuk mamang mie ayam USA tadi. Kami jadi dugdugser juga. Seolah akan memasuki rumah hantu.

Dan ternyata benar, jalanan termasuk sepi. Gelap. Penerangan masih terbatas. Yaa maju mundur kena donks. Alaah paling nyasar, gitu batin kami waktu itu.

Tapi kami menemukan keseruan saat kami menemukan sekumpulan pengendara motor lain yang nampak sedang touring. Sayangnya mereka berbeda arah. Sampai pada satu pertigaan, kami mendadak berhenti, karena si kelompok sepeda motor itu ke arah yang sangat gelap. Kami curiga itu bukan arah ke Maninjau. Akhirnya kami memutuskan balik arah. Sebelum balik arah, tetiba ada yang menyapa dari arah kanan, kakek-kakek tua!
Hiiiiyyyhh.. merinding.

Suami mendadak sulit memundurkan motor, si kakek terus ngomong pake bahasa yang entah bahasa apa,


Saya berusaha mengendalikan pikiran biar nggak panik.
Berbisik ke suami: “yammi turun dulu ya, langsung puter balik motornya, tapi jangan ninggalin lho!”
Suami mengangguk cepat. 
Dan akhirnya kami meluncur sambil menganggukan kepala ke arah si kakek yang entah dia ngomong apa dan ngapain tiba-tiba muncul di tengah kegelapan sendirian. Haha.. horor!

**

Danau Maninjau


Setelah kejadian si kakek, kami fokus cari penginapan yang sudah kami reservasi. Jalanan berkelok-kelok. Di petunjuk sebuah blog, kami sudah sampai danau maninjau kalau sudah melewati Kelok 44. Suami bertanya, sudah lewat kelok 44 nya belum sih? Dengan rasa takut karena emang gelap sekali waktu itu, saya jawab: udah lebih dari 44 kali. Mungkin di blog itu salah tulis, harusnya kelok ratusan~lebiih!!
Ngakak lah kami di motor, mengalahkan ketakutan masing-masing.

**
Dan ketemu juga itu kelok 44. Tempatnya berkelok, keloknya curam dan pendek-pendek. Harus atur kecepatan, jangan sampe lost. Di setiap kelok ada plang bertuliskan kelok ke berapa. Mulai dari kelok 44, 43, sampai ke kelok 1.
Nah kalo udah liat tulisan kelok 1, sampailah kita di sekitaran Danau Maninjau.

**
Kami sampai di sana sekitar pukul 21.30. penginapan yang kami reservasi nampaknya sudah bangkrut atau fiktik, karena nggak ada batang hidungnya sama sekali, haha..
Kami dapat penginapan yang murah, asalnya 700rb, kami tawar jadi 300Rb aja donks. Suamiku emang hebring deuh...
300Rb dengan fasilitas bath-tub, air panas, teras kamar, sarapan pagi, kasur yang nyaman, daaaaaan view langsung ke danau maninjau. Resto hotel tepat ada di atas perairan danau. Bahagia. Lelah terbayar!

ini dia front space hotelnya

sarapan keindahan :)


**
Esoknya kami lanjut menuju Puncak Lawang. Biasanya kita bisa foto seolah di atas awan. Tapi waktu kami datang awannya masih jauh di atas, jadi nggk bs ambil angel di atas awan.

Sepanjang jalan, pemandangan hijau membentang. Rumah-rumah tradisional Minang masih banyak berdiri indah. Sawah luas. Sejuk udara yang keluar masuk tubuh. Ah, surga!

Rumah Gadang cantik, kan?


one of view dari Puncak Lawang

our selfie!

Oleh-oleh Nyasar!

Pulangnya kami nyarasar-nyasar. Tapi nyasar membawa berkah. berkat nyasar jadi sampe ke tempat wisata: Janjang Seribu & Goa Jepang!
tapi kami tidak singgah lama-lama, karena harus segera pulang :)


Goa yang kami temukan saat nyasar hihi..

Janjang Saribu 


Refreshed! Bahagia. Dan merasa perjalanan nekad kali itu sangat Worth It!

**
Yuk nyoba ngetrip ke Sumbar. siap-siap jaket. Siap-siap jatuh cinta sama alamnya :)


Kamis, 25 Agustus 2016

Mendadak jual batu akik di Danau Toba :D

Danau Toba, tempat melegenda di negeri Indonesia. Siapa yang tak tahu. Sejak kecil saya termasuk yang terobsesi ingin menginjakkan kaki di Danau Toba dan Pulau Samosir. Mungkin darah nenek moyang memanggil-manggil, hehe..

Iya, darah Batak mengalir di tubuh mungil ini. Pernah denger marga Napitu? Kalo pernah, alhamdulillah. Kalau belum, mari kita kenalan!

Napitu, sebuah marga yang saya dapat dari garis keturunan papah. Salah satu marga asli dari Batak Toba. Yes, batak itu banyak klannya, Batak Toba, Batak Karo, Batak Tapanuli, dan lain sebagainya. Maaappp nenek moyang saya nggak hafal :D

**
Salah satu destinasi yang selalu masuk resolusi tiap tahun, akhirnya bisa terealisasi di 15 Mei 2015. Yeay..!!

Menyempatkan nekad berangkat di sela-sela tanggal merah. Waktu itu saya nya sih free, tapi suami tidaks!

Hampir seluruh perjalanan memang bermodal nekad. Jenis kenekadan di perjalanan menuju Toba ini adalah mepetnya waktu dan budget. Saking udah suntuk sama rutinitas di kebun sawit. Duit pas-pasan dan waktu yang pepet-pepetan tidak mengurungkan kami untuk goooooow. 

Kami berangkat tanggal 15 Mei sore dan tanggal 17 Mei sudah harus sampai rumah lagi. Keren banget deh rasanya bisa traveling in a rush semodel begini. Maksa banget! Alasannya simple: kapan lagi kalau nggak sekarang, hihi..

**
Seminggu sebelum berangkat kami sibuk browsing sana sini, salah satunya jalur tempuh  dari Riau menuju Danau Toba. Dan hasil pencarian nyaris nihil. Mungkin karena orang-orang Riau yang ke Toba jarang share di blog :D

So, this one of the reason kenapa saya tulis cerita ini meskipun telat. Siapa tahu ada orang Riau yang mau ke Danau Toba. Hehe..

**

Kami berangkat dari kebun menuju terminal di Perawang sekitar jam 12 siang (salah satu pusat keramaian di Kabupaten Siak). Tragedi pertama, ternyata terminal perawang pindah!  Alhasil sejam lebih kami muter-muter nyari terminal baru yang nyempil di tengah-tengah tanah lapang yang belum terbangun. Daaaaaaan sesampainya di terminal kami senang. Tapi, ada tragedi kedua, motor kami dititip dimana? Haha..

But always there is an invisible hand, setelah kami muter-muter cari bus dengan rute menuju Toba tawar menawar dan bla bla bla akhirnya solusi ditawarkan oleh penunggu loket, “Dititip di kami aja honda nya bang!” dengan jaminan KTP nya kami bawa. Legaaaa...

[ intermezo ] Oiya, disini apapun merek sepeda motor kita, semuanya disebut HONDA :D

**
Bus yang akhirnya berjodoh dengan kami adalah bus PMH kelas ekonomi non-AC. Seriously, kami berangkat menuju toba tanpa bus AC. Karena memang bus ini satu-satunya bus yang rutenya berujung di Parapat. We have no choice!

Kami  adalah dua orang pertama yang masuk bis yang kosong melongpong. Dengan PD duduk di bagian paling depan. Bahagia, menghela nafas lega. Sebelum kebahagiaan itu selesai kami santap, kondektur menanyakan tiket. Lalu dengan dialek batak yang kental, dia meminta kami pindah ke kursi bagian belakang. What?!

Belakangan kami tahu kalau di tiket sudah tertera nomor kursi. Semua tertib mengikuti nomor di tiket masing-masing. Tragedi ketiga terjadi, ternyata depan kami perokok, di sisi belakang toilet (kelas ekonomi), dan di kanan kami perokok juga membawa dua ekor ayam. Yes, just imagine how hard to be us. Haha..

**

Kami berangkat Pkl. 17.30 dan menempuh perjalanan yang lebih lama dari biasanya, karena ada banyak perbaikan jalan dan jalan rusak di perbatasan Riau - Sumut. Kami baru sampai Parapat  pukul 11.00, setelah sebelumnya sempat transit paksa di Siantar. Total waktu tempuh 18 jam.

Bayangkan selama itu kami harus stay dengan asap rokok, bau ayam, dan bau toilet. Dibumbui perangai penumpang yang teriak teriak curhat karena macet. Kami berlaga lebay, berpegangan erat sepanjang jalan bak romeo dan juliet yang enggan dipisahkan, bukan karena romantis semata, tapi karena kami menahan diri untuk tidak mabuk bahkan pingsan. 
Ah, betapa mahal pengalaman ini, HAHA
Tidur pun tidak tenang, karena sebelum berangkat sudah banyak yang mewanti-wanti kalau sepanjang perjalanan rawan copet.

Sempat tertidur, ketika bangun ditanya oleh bapak-bapak di sebelah kanan kami, “mau kemana kilian?” dengan dialek Batak yang kental dan dramatis karena bangun tidur haha... karena panik dan kaget, suami menjawab “mau ke Batu Aji”, sontak si bapak merespon “dimana itu?!” semua bingung.
Gimana nggak bingung, karena yang suami maksud bukan Batu Aji, tapi AJIBATA. Hahaha...

So, kalo bangun tidur tenangin diri aja dulu, jangan kepancing pertanyaan, apalagi dengan nada ngebentak #eh maaappkan saya duhai nenek moyang :D

**
Sesampainya di Parapat kami menuju pelabuhan Ajibata. Nah, dari Ajibata ini lah kita bisa naik kapal melewati Danau Toba menuju Pulau Samosir. Ada tiga jenis kapal yang bisa dipilih: kapal turis eksklusif yang biayanya fantastis, kapal tumpangan biasa, dan kapal feri yang lebih besar bisa ngangkut kendaraan roda empat. Kami memilih kapal tumpangan biasa. Harganya murah, waktu itu hanya Rp. 6.000,-

semodel ini kapal yang kami tumpangi menuju dan dari Parapat - Ajibata


**
Decak kagum mulai muncul niii. Meeeen, danau toba asli besaaaaarrr banget. Kami menempuh 30 menitan untuk sampai ke Pulau Samosir. Ombaknya serupa lautan. Dan asli, luaass membentang. Semua perjuangan [ di bus ] seakan terbayar lunas! 6 ribu doank bisa nikmatin perjalanan melintasi danau, took for granted bakalan happy!

ini selayang pandang dari kapal

**

Sepanjang perjalanan kami memilih ke luar kapal. Karena masih norak pengen melototin sekeliling yang emang mempesona. Setelah selfie sukaesih, kami pun ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang juga nongkrong di luar. di luar kapal ada banyak jerigen yang saya pikir isinya itu minyak, ternyata bukan. Isinya tuak. Ya, tuak adalah minuman favorit di tanah batak, termasuk Toba.

Asik ngobrol sana sini, suami tiba-tiba menjurus membicarakan batu akik sama si pedagang aksesoris. Batu akik lagi hits banget waktu itu. Si abang pedagang nampak antusias ngobrolnya, si suami nampak seperti ahli batu akik dadakan. Saya asik nyimak. 

Tiba-tiba si abang pedagang menyampaikan keinginannya untuk membeli batu akik yang sedang dipakai oleh suami saya. Dengan PD suami menceritakan kalau si batu akik yang dipakai akan berubah warna mengikuti kondisi tubuh si pemakai. Itu yang membuat batu akik ini keren. Si abang pedagang nampak tersihir dan menawar dengan harga yang lumayan.

Berlaga nggak butuh duit, si suami menanggapi, “saya tanya istri saya dulu ya.”
Padahal apa hubungannya coba istri sama batu akik #gubrak!

Karena saya melihat sebentar lagi kapal menepi, dan saya tahu kalau batu akik itu masih ada potongannya di rumah, juga tahu modalnya berapa, saya acungi jempol sebagai tanda setuju.
Dengan kata lain, itu balik modal bangettt kalo kejual, haha..

Tadaaaa... batu akik dengan modal gosok doank kejual 300rb. Kami jadi punya budget tambahan buat main di Samosir, hihiw...!
**

Nah, sesampainya di Tomok. Kalian bisa mulai hunting rental motor dan penginapan. Selain Tomok ada juga Tuk-Tuk. Kalau mau ke Tuk-Tuk kita harus pake boats lagi. Kami nggak sempat ke sana, karena keterbatasan waktu tadi.

Di Tomok ramai banget. Di sana para wisatawan sudah bisa cari produk khas Toba mulai dari kain ulos sampai ukiran-ukiran. Di Tomok ada Museum Batak juga pertunjukkan tari Sigalegale. Makanan halal banyak di sana.

Kalau mau keliling Samosir, bisa pakai angkot bisa juga sewa motor, atau boats via danau. Hanya saja sewa motor agak sulit belakangan, konon katanya banyak kasus pencurian oleh si oknum penyewa. Kalau memutuskan pake angkot, siap-siap juga dibawa pak sopir ala fast and furious dengan soundtrack lagu batak :)
serunya pake angkot, memicu adrenalin, XD

Di samosir melalui pelabuhan Tomok ini, kita juga bisa ke Pantai Pasir Putih Parbaba, ada Hot Spring serupa pemandian air panas gitu, dan banyak lagi.

Seminggu deh di Samosir, bisa tuh kita kelilingi semuanya.

**
Kami tidak memilih menginap di hotel, tapi lanjut ke rumah papah. Selain wisata, kami pun menelusuri situs sejarah klan Napitu. Jalan-jalan ke Tugu Raja Napitu, silaturahmi ke sanak saudara di sana. Ah, senang karena disambut dengan sangat hangat.

Malam harinya kami nongkrong di Lapo Tuak milik sepupu papah. Semakin malam semakin ramai. Kami hanya nongkrong, dan nggak nyoba tuaknya, karena agama kami memang tidak membolehkannya :)

**
Toba di malam hari itu dingiiiiiiiiiiiiin syekalliiiiii! Pagi harinya segeeeeerrr banget!
Papah membuatkan kami sup udang yang dipancing langsung oleh tetangga dari Danau Toba. Enak! Dan harganya tergolong murah. 100ribu bisa dapet sebaskom besar. Kelenger deh kalo sampe kami makan semuanya.

Buka jendela udah Danau Toba aja pemandangannya, duh membahagiakan!

Indonesia Bagus beneran dah!

Sigalegale dan kami, cheers! :)

dia dan alat musik milik klan napitu 

suami, papah, dan saya 

captured at pantai parbaba yang mirip pantai banget

kami di kapal dari Tomok menuju Ajibata 

pagi-pagi, rumah batak :)

oleh oleh buat si bungsu

dia dan deretan rumah batak 

sunrise danau toba

Tugu Raja Napitu

**
Sayang banget deh cuman bisa sebentar di sana. Kami harus kembali pulang. Kami harus kembali hadapi kenyataan *lebay!

Kami pulang dengan menggunakan bus yang sama. Bedanya, kami memesan seat lebih dulu. Jadi kami bisa dapat kursi paling depan. Dari bis kami berasa menembus langit, hamparan awan dan air danau seperti enggan kami tinggalkan.

Terima kasih Tuhan, untuk hadiah Danau secantik Toba di bumi pertiwi ini.
**
P.S. 
Sssssttt....!! sedikit tips yang bisa dicoba sama kamu kamu  yang pengen ke daerah ini, terlebih niat pake kendaraan umum. Nggak usah dandan rapi-rapi ala anak mami. Tampillah segarang sesangar mungkin.
Terbukti lho, untuk perjalanan pulang suami saya sengaja gak cukuran dan pake celana sobek sobek. Sepanjang perjalanan pengamen nggak ada yang minta, malah ngangguk sopan, lewat gitu aja. Preman juga nggak ada yang nyamperin meskipun hanya untuk nyaloin pas di kapal menuju bus.   Salam Nekad! Kalau bukan kita yang nekad, siapa lagi? #eh :D