Tampilkan postingan dengan label my story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Februari 2017

Sabtu Bersama Bapak

Selamat hari Sabtu, dengan atau tanpa bapak di samping kita.
foto diunduh dari media.viva.co.id
Sudah sejak dua bulan lalu pengen nulis personal-journal tentang film Sabtu Bersama Bapak. 
Film ini sudah lama release di bioskop (bioskop kesayangan anda). Tapi waktu film ini tayang di bioskop, saya masih stay di tempat tinggal yang perlu waktu kurang lebih empat jam menuju bioskop dan itupun hanya bisa pergi di hari libur atau weekend. (intinya sih belom maksain nonton karena gak terlalu "pengen" nonton)


Sebenernya ini bukan review film ya. Seperti yang saya sebut di awal, ini lebih ke tulisan tentang pengalaman saya pribadi tentang film ini. Dan sebenernya lagi, Sabtu Bersama Bapak ini  release pertama dalam bentuk buku yang ditulis oleh Adhitya Mulya. Sayangnya saya belum baca, gak ada alasan apa-apa. emang belum aja. but it's on my list. 

**
Saya akhirnya ditakdirkan Allah untuk klik judul film ini di layar monitor pesawat Garu*a ketika menempuh perjalanan Pekanbaru-Jakarta. Ya, saya sebut itu takdir, kehendak Allah. Karena saya termasuk yang meyakini kalau gak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Selalu ada "alasan" di balik segala peristiwa #tsaah!

Awalnya saya yang sok tahu ini mikir kalau film ini bakal seperti drama kebanyakan. Ya gitu gitu aja, flat, sedih, dan sudahlah. Dasarnya saya sok tahu aja hehe... Akhirnya saya terbawa ke dalam arus perenungan yang cukup dalam, dihujani masa lalu dengan derasnya, mendadak mengasihani diri sendiri, merasa bangga dengan apa yang sudah saya lewati, dan merasa kalau saya tidak sendirian. 

In my opinion, film Sabtu Bersama Bapak adalah film yang menyembuhkan, memperkaya batin anak-anak yang mungkin tumbuh tanpa figur ayah, dan seolah mendampingi anak-anak yang tersesat dalam pencarian "diri".

Untuk pertamakalinya, saya nangis di pesawat cuman gara-gara nonton film. Beberapa pramugari yang lewat terlihat "bingung" dan mungkin ada yang menduga saya sama suami lagi berantem hahaha...

suami pun gak kalah bingung, 'lha istri gw kenapa ini, bisa bisa dia dituduh KDRT di pesawat,' hehe..

Saya nya juga bingung kenapa. Kok bisa sampe nangis? Padahal kan kalo di pesawat mana bisa kondusif nonton. pasti kepotong-potong sama pengumuman co-pilot tentang ketinggian lah, cuaca lah, turbulence lah, de el el. But it's really happened.

Mungkin karena  i feel the story. i was feeling lost. and i see the real "me" on the movie. Bener-bener undescribe feeling (dan tonton deh. mungkin kamu bakal paham apa yang aku maksud hehehe..)

postingan yang agak absurd ya. tapi dibalik keabsurd-annya. i wanna thank you, penulis juga the producer of Sabtu Bersama Bapak. Indonesia perlu banyak film yang membangun kekuatan jiwa. Ini mungkin serada lebay ya, tapi sayang sekali harus kita akui ini benar. 

Film ini menggambarkan banyak sekali yang harus kita perankan dalam hidup, dan semua peran itu membutuhkan totalitas. Menjadi ayah dengan menjadi bapak-bapak itu beda. Menjadi ibu dengan menjadi ibu-ibu itu tidak sama. Menjadi anak yang kuat dalam kenyamanan itu tidak mudah, menjadi tidak rapuh dalam penderitaan pun sulit. Dan sangat tertampar dengan salah satu ungkapan 'Ayah' dalam film ini, kurang lebih yang saya maknai sih begini: jangan pernah meminta orang lain untuk melengkapi kita. Satu-satunya orang yang bertanggung jawab untuk tumbuh lebih baik, lebih lengkap, ya diri kita sendiri.

Banyak orang (termasuk saya) yang seringkali menuntut orang lain untuk menjadi "seseorang" yang melengkapi kita, dan kita merasa bangga dengan keterbatasan yang sebenarnya masih bisa diperbaiki. Ketidaksempurnaan itu fitrah manusia, tapi manusia juga diberi fitrah untuk mampu memperbaiki diri, menyembuhkan diri sendiri. 

Kamu yang sudah nonton, punya pengalaman apa sama film ini? 
Yang belum nonton, nonton gih, siapa tahu kamu butuh 'ayah' juga :)

Jumat, 24 Februari 2017

My FREAK My ADVENTURE Part. 2 : Nyasar ke Pantai Painan Padang

Hallooo...
ketemu lagi di lanjutan cerita My FREAK My ADVENTURE :'D


di akhir tulisan bagian pertama ada kalimat:
"percaya deh, perjalanan yang seru itu ternyata perjalanan yang entah direncanakan oleh siapa, tapi kita yang harus mengeksekusinya"
iya kadang emang gitu kan? Apa yang kita rencanakan malah terealisasi dalam kehidupan si A. Tapi sebaliknya, si A pun punya rencana yang mungkin terealisasikan oleh si B, C, dll.

sebaik apapun rencana kita as a human, tetep aja Tuhan selalu punya rencana yang lebih baik. Dan Tuhan pasti lebih tahu siapa yang lebih layak mengeksekusi sebuah rencana, jadi ya bersyukur aja. Nikmati apapun yang ada di depan mata #tsaaaaah


**

Lanjut ke perjalanan camping TNBT. 
Setelah semua well-packed di dua ransel kami. Suami sibuk telepon temen-temennya, memastikan spot penjemputan, dan lain sebagainya. Salah satu telepon mengabarkan kalau dua anggota trip tidak bisa bergabung, karena harus lembur di kantor. Dan salah satu yang membatalkan adalah pemilik kendaraan yang akan kami pakai. Artinya, ada PR untuk mencari kendaraan alternatif.

Belum tuntas urusan kendaraan, HUJAN DERAS turun. Bukan kepalang dag dig dug. Hujan yang membuat salah satu anggota trip mengabarkan kalau tidak jadi ikut karena hujan. Tersisa empat anggota yang harap-harap cemas menanti hujan reda.

Hujan reda beberapa saat, kemudian turun lagi. Duh, rasanya gimana gitu ya, mengingat semua sudah masuk ransel dan dua ekor ayam sudah panggang-able di keresek.

Sampai jam dua siang, hujan tetap istiqamah. Kami pun pasrah, tidak mungkin memaksakan kehendak. Karena kalau memaksa pergi di jam 2, kami baru sampai lokasi jam 4 sore. dan diperkirakan waktu tempuh hiking 3 jam. Cuaca di sana pun (sumber: Ibu Sri penduduk lokal sekitar TNBT) mendung sekali. Bahkan Ibu Sri merekomendasikan untuk menunda perjalanan. Yasudahlah....


Gimana kalau kita pasang tenda depan rumah aja sambil manggang ayam? 
Gimana kalau kita pasang tenda di samping sekolah?
Gimana kalauu kita pasang tenda di taman?

Pertanyaan yang jawabannya hanya: KETAWA NGENES! 

Sampai saya dan suami sepakat: terserah deh kita pasang tenda dan panggang ayam dimana, pokoknya kita harus pergi! *senyum devil kompakan*

Tiba-tiba... suami ingat tawaran salah seorang temannya (a.k.a Pak Andre) yang mengajak suami ke Pantai Cerocok Padang. Iseng memfollow-up ajakan itu sebetulnya, karena besar kemungkinan Pak Andre tersebut tidak mengiyakan, karena Padang itu jauh dan beliau punya anak balita. Kami hanya punya waktu 24 jam + 15 jam saja sebelum hari Senin. Perjalanan ke Padang bisa ditempuh paling cepat 8 jam tanpa henti. Kalau berhenti-berhenti? bisa moloor itu estimasi waktu. 

So, bisa dikatakan untuk perjalanan PP saja bisa seharian. Nggak mungkin donk ambil cuti dadakan cuman gegara urusan ayam panggang sama tenda? haha.. 

There is a will, there is a way


Dimana ada kemauan pasti ada jalan, bukan?
Kalau ada kemauan, nggak ada jalan? Ya ayo kita BIKIN JALAN! #Maksa haha
Di luar dugaan....
Tanpa basa basi, Pak Andre mengiyakan 'follow-up' suami. 
Tanpa bongkar apa apa lagi, kami langsung berangkat angkut ransel, ayam sang tokoh utama, dan panggangan.

Pencarian Arang 

Kami memulai obrolan dengan tema: ayam mau dipanggang dimana?
Segitunya, karena kalau si ayam ini tidakk segera dipanggang terancam basi. T.T
Ketidaktersediaan arang membuat sepanjang perjalanan kami mencari arang di warung dan pasar yang ditemui di sepanjang lintas sumatera. dan hasilnya nihil..

Di perbatasan Riau-Padang, kami hanya mendapat batok kelapa yang belum kering-kering amat. Dan belakangan baru tahu kalau orang-orang lokal daerah tersebut emang terbiasa membakar sate (minang) tanpa arang, tapi pake batok kelapa gitu. Ooooh yayayyayaya~

Pasrah deh, arang juga gak ada. Next question: MANGGANGNYA DIMANA? 


Hari udah gelap banget, #eh malem ya namanya kalo udah gelap. 
Rencana bakar-bakar ayam di sebuah taman dengan manis sudah bisa dipastikan GAGAL haha.. Again and again...
Tapi si ayam akan mubazir kalau gak dipanggang malam itu juga. karena kondisinya agak basah pasca diungkeb kan sodara sodara sebangsa setanah air. 
Oke, selalu ingat, kalau Niat baik pasti ketemu jalan yang baik #tsaaah..

Tadaaaa.... Akhirnya kita manggang ayamnya di pinggir jalan Lintas Sumatera

......VICTORY. HISTORY......
bakar ayam di lintas sumatera. kapan lagiiiiiii :'D

Mendadak ngerasa keren kalau lagi ceritain part yang ini. Berasa banget deh antimainstreamnya, Haha..

Oke, selama manggang agak susah ya nyalain api dari batok kelapa yang belum totally dried gitu. Akhirnya si pak suami mengeluarkan sekeresek plastik. Lalu si minyak tanah agak lebay itu diguyur ke sekitaran batok kelapa. 

saya   : Pii, ngambil keresek itu dari mana?
suami : Dari tong sampah sekitaran tukang sate tadi. Tapi bukan sampah basah kok, aman.
saya    : ngomong dalem hati Huex! Gini amat ya takdir hahaha
Sudahlah akhirnya drama ayam panggang selesai. Pak suami sibuk manggang, Pak Fifan sibuk bikin kopi item, Pak Andre sibuk istirahat karena Padang masih jauh, haha.. Dan kami para weceu sibuk makan dan ngopi hehe..

Perjalanan lanjut sekitar jam 1 malem. Btw Dede Kyra - member balita  satusatunya ini setrooong banget udah bakat banget bolang. Nggak ada rewel-rewelnya, malah menikmati ayam panggang yang sejarahnya ..... ah sudahlah. semoga sistem imunnya kuat hehehe...


Salame Pagiiii Padang

Yeay. Bangun-bangun sudah disambut hawa segar dingin pegunungan. Transit shalat subuh di sebuah mesjid. Sebelum lanjut menikmati pemandangan alam yang aduhai. Kebun teh, air terjun, pesawahan, dan  of course LAUT.

CAMPING [?]

ngopi depan tenda :)

Masih inget kan kalau kami sama sekali gak edit alias bongkar lagi barang bawaan yang sebelumnya kami niatkan untuk ke Bukit Tiga Puluh. Oke, dampaknya baru terasa setelah sampai pantai.
Mau berenang pake celana gunung?
Tenda? 
de el el yang sama sekali gak compatible untuk 'mantai' haha

But trust me, kalau udah ikhlas go with the flow, piknik akan jadi ciaaaamiiiik dah.

Ini hasilnya jeng jeng jeeeeng ~


otw Pantai Painan

Add caption



snorkling di Pantai Painan, Carocok. Pake sandal gunung, baju gunung, haha..

Our Bolang :)


Freak adventure family :)
somehow life should be a lil bit FREAK for being Extraordinary ! 






Kamis, 09 Februari 2017

Jembatan Empati : berdamai dengan 'kenyinyiran'

Semenjak memutuskan pindah ke Pulau Jawa, which is tempat asal kami, seringkali ada pertanyaan dan tanggapan yang sebetulnya bernada (sorry to say) “sok tahu” . Hmfh..... zzzzzzz

Lalu kami berusaha membangun dan menapaki jembatan empati untuk mereka-mereka yang sok tahu tersebut, bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk kesejahteraan batin kami, hahay!


Ngomongin apaan sih? Ngomongin ini lho:

Tujuh Januari kami – saya dan suami, resmi pindah dari Riau ke Pulau Jawa lagi. We stay for a while di Malang, Jawa Timur. Untuk kami, kepindahan ini bukan hal yang terjadi begitu saja, bukan sesuatu yang harus dipertanyakan, apalagi jadi perdebatan, yaellah, pindah doank. 
Tapi..... ternyata respon orang mah beda-beda.

Yes, we quit that zone to move-  not to escaping life :) 

Respon terhadap adegan pindah yang menurut saya agak di luar dugaan. 
Well, sengaja saya dokumentasikan lewat tulisan di blog ini, as my personal journal. Mungkin suatu saat saya perlu flashback, atau mungkin ada orang lain yang juga ada di situasi yang sama. 
Niatnya, reinforce myself then share to others in a positive ways.
Tanggapan lucu yang serada mengusik, diantaranya:
  • Apalagi sih yang dicari? Kerjaan udah enak, karir udah sama-sama enak, malah resign. Orang lain malah susah cari kerjaan lho
  •  Ada masalah apa kok resign Pak Kepsek? Padahal istrinya udah enak dapet kampus yang dekat untuk ngajar.
  • Wah sayang ya padahal udah mapan disini, malah pindah.  
  •  Dan sejenisnya semacamnya macam macam.

Dan ketika kami pindah untuk take a breath in the moment, memenuhi hak jiwa untuk bertualang (baca: piknik-piknik alay haha), upload foto di berbagai tempat, upload by a positive caption, tanggapannya lebih aneh lagi, kebanyakan bilang: “jalan-jalan terus pak/bu”, atau  ada yang sampe berani sounding tentang uang pesangon. Pengen banget dengan gaya #agnezmo squarelling like.....
WHAAATTT???!!!
How could you be that rude, meeeeen...!!
You dont even know our plan. you dont even know us personally.
you just focusing on the picture without read the caption,
and you just care to your mind, not on what we do at all. Sigh!
Seingat saya, kami gak pernah sefulgar itu ngurusin hidup orang-orang di sekitar kami. Kecuali ya orangnya minta diurusin, hehe... Kami cukup menyimpan berbagai pandangan tentang apapun hanya untuk kami, gak pernah niat nyenggol-nyenggol hidup orang, kecuali kalo disenggol orang ya maaff kepaksa nyenggol balik, sedikit, hehe...
Saya yang piknik, kok bapak/ibu/mas/mbak yang mumet mikirin duit?
Saya yang jalan-jalan, kok bapak/ibu/mas/mbak yang capek?

Tapiiiii.....

Proses yang berlalu kurang lebih sebulan ini mengajari saya tentang Jembatan Empati yang saya jadikan headline tulisan ini.

Ooooooohh Ternyataaa..... 
"Oh, ternyata ada lho ya orang yang doyan banget ngurusin hidup orang lain. Yang tiba-tiba seolah peduli, padahal cuman kepo."
"Oh, ternyata bentuk-bentuk iri, dengki, di zaman sekarang itu beragam ya. Termasuk dengan cara ekstrem menilai baik-buruk, pantas-tidak pantas tentang keputusan orang lain yang ada hubungan kekerabatan pun nggak alias cuman kenal."
"Oh, ternyata hidup mereka itu sebegitu membosankan ya sampai apa-apa dinilai dengan uang."
"Oh, ternyata kebanyakan orang menyetarakan kebahagiaan dengan jabatan, besaran gaji, status pekerjaan, dan uang uang uang ya."
"Oh, ternyata selain berbeda mereka pun memaksakan nilai-nilai hidup yang sama ke orang lain ya."

Dan saya memilih untuk tidak memaksakan nilai-nilai hidup saya kepada siapapun. Lalu apakah semudah itu? mengingat saya disenggol duluan, hehe...

Jawabannya Tidak! Saya harus membangun jembatan empati yang begitu panjang. Menapaki selangkah demi selangkah perbedaan cara pandang. Diskusi sama suami. Terus berusaha maju untuk berempati pada mereka yang #kurangpiknik #eh #maap #nooffense

Because to be mature is not that easy

Sampai akhirnya tulisan ini diterbitkan di blog pribadi saya. Kami akhirnya semakin maju menapaki jembatan ini untuk berempati pada cara pandang yang jauuuuuh berbeda dengan kami.

Saya memang meninggalkan kemapanan (versi kalian), ninggalin mobil, status, gaji yang lumayan, tunjangan kesehatan yang almost unlimited, potensi bonus tahunan yang lumayan, dan bla bla bla yang ada di pikiran kalian. 

Alasannya? 

Bukan gak suka hidup mapan seperti itu, apalagi cuman buat cari gara-gara, tapi karena kami punya versi kemapanan sendiri. Which is not only about MONEY !
Sorry, my life has no price-tag!
Terima kasih banyak pada kalian semua yang merasa pernah memberikan reaksi-reaksi tak terduga, memberikan perhatian luar biasa, karena itu semua kami jadi lebih banyak belajar.

Kita sama-sama manusia, kita sama-sama hidup, tapi bagaimana kita menjalani kehidupan biarlah itu jadi hak prerogatif masing-masing. Berhentilah jadi manusia yang hobi mengusik apalagi memutuskan mana yang baik-buruk untuk orang lain, karena pada hakikatnya yang kita tahu tentang orang lain sungguh-sangat-sedikit.  Kenal diri sendiri aja belum tentu, kan?

Yuk, bangun jembatan empati, tapaki, nikmati, pelajari, sampai akhirnya mampu mengerti.

i wont give up on my own life. Wish "you" all do the same
Kita saling mendoakan kebaikan satu sama lain daripada nyinyir hehe...

Salam empati, gaeeeesss :*



Sabtu, 22 Oktober 2016

Kucing [?]

Beberapa minggu terakhir, ada kebiasaan baru yang tanpa sadar saya lakukan: mengumpulkan tulang belulang ayam atau rusuk sapi, membuka pintu dapur, then i feed two cats which wait for its moment.

Sampai di suatu malam, suami saya mengatakan, "wah, yammi berubah ya. sayang kucing sekarang"

Oke, well ini bukan cerita yang istimewa mungkin untuk siapapun yang membaca blog ini, hehe..
Tapi di balik tulisan paragraf pertama serupa ada pelajaran untuk saya, si apatis, si pragmatis, dan hanya peduli pada hal-hal yang menurut saya "penting" saja. 

Seringkali...

Ketika suami saya beramah tamah dengan kucing-kucing di warung makan lesehan, saya akan langsung meminta suami untuk menghentikan hal itu. Bagi saya, itu mengganggu.
suami saya yang respectful to his wife biasanya langsung menghentikan "elusan" di punggung kucing yang terkantuk-kantuk nyaman, kucing-kucing lalu tetap mengiba menatap wajah suami saya mengemis belaian, haha.. Meskipun dia tetep nyolong-nyolong ngelempar-lempar tulang ke si kucing. And i dont like that (at that time)! 

Another scene...

Di ruang dosen sering ada kucing meong-meong ketika kami makan. kucing memang ajaib, dari kejauhan aroma ikan, ayam, dan rendang tercium begitu saja. Reaksi saya? ngomel seperti emak-emak ngomelin anaknya. Mungkin dosen lain ngebatin gini: Duh kasian kamu, cing. hahaha...

Special case: malaikat kucing.


Ini terjadi di idul adha lalu, saya dan suami sambangi kerabat suami. Di rumahnya berkeliaran kucing berbijibiji. And you know what? Di ruang tamu bahkan dipajang foto kucing sekeluarga alias kucing semua emak bapak anak cucu, segede gaban. Bukan seperti rumah kebanyakan yang justru majang foto keluarga, hehe..  
Sampai akhirnya saya beranikan bertanya, "suka banget kucing ya, Pak?"
Pertanyaan yang mengundang jawaban berparagraf-paragraf. Singkatnya, yang suka kucing awalnya adalah si bapak. Tapi semakin kesini si ibu lebih cinta sama kucing dibanding dia. 
Yang menarik adalah statement tambahan dari si ibu:
awalnya saya gak suka sama kucing. sering ngusirin kucing. Tapi pas kucing-kucing itu nyambut saya sepulang dari pasar, keliatan seneng saya kasih makan, saya malah jd sayang mereka. 
Whattt??! Sayang?!

Konon katanya, si kucing-kucing itu kalau si ibu alias sang majikan lagi nonton tv ngerubunin badan si ibu, bermanja-manja, dan all the cats has a name! Sampai si ibu dengan cerah ceria menceritakan si anu manja, si anu cuek, si anu anarkis, si anu sensitif, si anu rakus kalo makan, si anu pencemburu.

Helloooooo mem, lagi ngomongin kucing apa ibu-ibu arisan??? But its REAL STORY i've ever heard.

Dan satu klimaks ceritanya: saya begini belum apa-apa bu, tetangga saya pernah nangis gak keluar rumah. matanya bengkak. pas kami ke rumahnya nanyain kenapa karena tumben gak keluar-keluar rumah, ternyata dia nangisin kucingnya yang mati. OMG! Sayaaah speechleesss pemirsa indosiaaarrr.

**

Lalu apa guna saya ceritakan ini semuaaaahhh?? Gak tahu! haha..

Begini...

Manusia hidup dengan rentetan kebutuhan. Banyak ahli juga teoritikus dalam bidang psikologi yang membuat teori tersendiri tentang kebutuhan. Dan saya gak akan bahas teori itu disini hehe..

Sederhananya, kebutuhan kita sebagai manusia diantaranya adalah butuh merasa dicintai dan dibutuhkan. 

Ketika melihat kucing mengeong, sibuk berlari dengan tatapan antusias, lalu lahap menyantap makanan yang kita berikan, ternyata rasanya nikmat. I am happy. saya merasa berguna. saya merasa diakui sebagai manusia #eaaaa.

Bahkan kucing bisa mengubah perasaan "acuh" menjadi "peduli". 

Bayangkan apabila rasa dicintai-mencintai, diakui-mengakui, memberi-terimaksih, saling-peduli itu sampai-tersampaikan dari dan oleh kita, kepada orang-orang yang membutuhkan, kepada orang-orang yang memang haus kasih sayang, haus bimbingan, ingin didengar, rindu kepulangan, mencari ketenangan, mengiba kekuatan.

Ah mungkin tatapan mereka akan lebih indah dari tatapan kucing-kucing itu.

Usahlah sombong wahai manusia,
nyatanya kucing kampung yang berlarian menghampiri saya dan tulang belulang yang tidak seberapa, lebih bisa mengajarkan tentang bagaimana 'membahagiakan' dan menunjukkan cinta juga rasa terima kasih.

Lets make friend, cings! :)

Jumat, 26 Agustus 2016

Jejak di Tanah Minang : Jam gadang, Puncak Lawang, sampai Danau Maninjau

Hello, ada yang niat piknik ke sumatera barat? Ke Padang? Atau kemana?


Through this journal, saya mau cerita pengalaman berangkat ke Sumatera Barat di bulan Agustus Tahun 2014 lalu. Udah lama sih, tapi baru ada strong will untuk nulis ini,haha.. maapp yak!

Perjalanan ke Sumbar mendadak kami tempuh karena sedih harus berlebaran di Kebun Sawit tanpa sanak saudara. Semodel pelarian anak rantau, hihi..

waktu itu kami baru beberapa bulan menikah, penganten baru gitu ceritanya. Saya yang masih bolak-balik Bandung-Riau, memilih berlebaran di Riau nemenin suami. Kami tidak bisa mudik karena alasan cuti yang terbatas (karena sudah habis untuk acara nikahan). Dan dramatisnya, waktu itu saya masih dihantui drama ujian tesis, yang jadwalnya maju mundur mengerikan, :D

tapii semua terlalui dengan keren, Allah emang gitu, baik banget sama saya. makanya saya bisa nulis cerita ini. semoga aja menginspirasi untuk jadi manten baru, diburu jadwal tesis, lebaran di rantau, #eh #nyumpahin ini namanya haha..


**
Seperti biasa, perjalanan ini juga modal nekad. Kenekadan pertama, kami melakukan perjalanan dengan motor tanpa plat nomor. Karena waktu itu plat nomor motor suami belum keluar. kenekadan kedua, tanpa kenalan.

Tujuan utama perjalanan adalah Danau Maninjau. Efek baca novel apa ya lupa judulnya. Saya bujuk suami untuk ngetrip kesana. Suami nanya, “kuat pake motor? Karena kalo pake angkutan umum pasti macet dan lama”, dengan tegas saya jawab: i am setroooooooooong beibiiii.

Sekitar satu jam setelah shalat ied kami meluncur ke Pekanbaru. Waktu tempuh sekitar 1 jam. Kami jalan-jalan ngemall dulu disana. Lalu keesokan harinya, H+1 lebaran, kami meluncur menuju Sumbar.

Saya dan suami sama sekali tidak tahu rute pasti menuju Sumbar. Modal kami adalah kemampuan membaca plang-plang arah jalan, akses internet, niat baik, doa dan harapan, hihiw!

**
Jalanan macet, karena ternyata banyak yang mudik ke arah Sumbar di H+1. Untungnya kami pake motor, jadi bisa nyalip sana sini. Di jalan sempat kehujanan, karena manten baru kali ya, berasa lagi shooting pilem india aja gitu, :D

Baju kering di badan, karena nggak mau wasting-time cuman untuk berhenti-berhenti. Kecuali udah deras banget, baru deh kami transit di warung atau tempat teduh terdekat.

salah satu moment transit, makan!


Perhentian pertama: Kelok Sembilan

Dua tahun lalu mungkin beda ya kondisinya sama sekarang. Waktu itu banyak pengendara berhenti, padahal jelas ada plang berisi tulisan: dilarang berhenti. Kami memilih untuk ikut-ikutan berhenti, haha..

Kelok sembilan ini mungkin salah satu megaproyek di Sumatera, jalan berkelok-kelok cantik banget. Meskipun waktu itu masih ada pembangunan di beberapa sisi jalan.

Di sisi-sisi jalan ada para penjual makanan ringan dan minuman. Kami memilih santap cemilan dan kopi hangat. Enaaaaak!

kelok sembilan, one of view.

kelok sembilan sang mega proyek

dia, bahagia :)

Lanjut perjalanan, sambil menikmati pemandangan berkelok-kelok. Setelah Kelok Sembilan dilewati, pemandangan berubah jadi hutan-hutan. Setelah itu ada keramaian lagi, hutan lagi, keramaian lagi. Ada banyak tebing menjulang sepanjang perjalanan. Eksotis, tapi sedikit ngeri juga kalau ngebayangin itu tebing runtuh. Amit-amit yak!

Lalu sampailah kami di sebuah titik keramaian yang rame nya itu nggak ketulungan. Jalanan crowded banget. Kami penasaran, ini ada apa?!

Akhirnya kami memutuskan mendekati seorang tukang parkir, “Ada apa ini bang kok ramai sekali?”, “inda ado apa-apa.” Jawabnya. “Lha kok ramai?” tanya kami masih penasaran. “Jam Gadang memang ramai kalau libur.”

Jengjengjeeeng...!!!!!

Perhentian kedua: Jam Gadang


ternyata kami sudah sampai Bukit Tinggi. Tempat salah satu situs bersejarah, Jam Gadang. Kami memutuskan memarkir kendaraan. Dan tadaaaa... untuk pertamakalinya bisa menyaksikan Jam Gadang dari dekat, bukan di Atlas jaman SD lagi, hehe..

asiknya petualangan adalah saat kita menemukan tanpa memaksa dan berencana. Ah, bahagia!
see, kita sampe sini liat Jam Gadang juga!

suasana Magrib di sekitaran Jam Gadang
 **

Setelah puas foto-foto, kami lanjut mencari penginapan. Percaya atau tidak, semua penginapan dengan range harga maksimal 500Rb, FULL! Sisa hotel berbintang-bintang.

Waktu itu memang sudah sore menjelang magrib. Karena sudah lumayan kelelahan, Kami memilih transit istirahat dan makan mie ayam. Sambil cari-cari info penginapan.

Abang mie ayam menyajikan dan merespon pesanan, kental sekali dialeknya bukan orang Minang. Betul prediksi saya, si abangnya keturunan USA (Urang Sunda Asli). Yeay!! Ketemu sodara #apasih! Ngarep ditolongin, hehe..

Tapi benar kata para ustadz, berharap itu harus sama Allah jangan sama mamang mie ayam. Mamang mie ayam merekomendasikan hotel yang sudah kami cek semua sebelumnya. USA tinggal USA. Wkwk

Setelah shalat magrib dan bla bla bla, kami masih penasaran keliling Bukit Tinggi. Tidak berubah, yang tersisa memang kamar-kamar mahal. Kami merasa rugi kalau harus menginap dengan range di atas 500RB, karena esok kami akan lanjut perjalanan. Dan nggak butuh-butuh amat kamar yang gede sama mewah :D Padahal emang dasarnya penghematan keleuus, wakwaw!

**
Nekad lagi aja deh, lanjut Danau Maninjau. Kami memutuskan reservasi online salah satu hotel di sekitaran Danau Maninjau, dengan memilih fitur bayar di tempat.

Tanya sana sini, liat plang, kami lanjut perjalanan. Banyak orang yang mewanti-wanti kalau ke sana hati-hati karena gelap. Termasuk mamang mie ayam USA tadi. Kami jadi dugdugser juga. Seolah akan memasuki rumah hantu.

Dan ternyata benar, jalanan termasuk sepi. Gelap. Penerangan masih terbatas. Yaa maju mundur kena donks. Alaah paling nyasar, gitu batin kami waktu itu.

Tapi kami menemukan keseruan saat kami menemukan sekumpulan pengendara motor lain yang nampak sedang touring. Sayangnya mereka berbeda arah. Sampai pada satu pertigaan, kami mendadak berhenti, karena si kelompok sepeda motor itu ke arah yang sangat gelap. Kami curiga itu bukan arah ke Maninjau. Akhirnya kami memutuskan balik arah. Sebelum balik arah, tetiba ada yang menyapa dari arah kanan, kakek-kakek tua!
Hiiiiyyyhh.. merinding.

Suami mendadak sulit memundurkan motor, si kakek terus ngomong pake bahasa yang entah bahasa apa,


Saya berusaha mengendalikan pikiran biar nggak panik.
Berbisik ke suami: “yammi turun dulu ya, langsung puter balik motornya, tapi jangan ninggalin lho!”
Suami mengangguk cepat. 
Dan akhirnya kami meluncur sambil menganggukan kepala ke arah si kakek yang entah dia ngomong apa dan ngapain tiba-tiba muncul di tengah kegelapan sendirian. Haha.. horor!

**

Danau Maninjau


Setelah kejadian si kakek, kami fokus cari penginapan yang sudah kami reservasi. Jalanan berkelok-kelok. Di petunjuk sebuah blog, kami sudah sampai danau maninjau kalau sudah melewati Kelok 44. Suami bertanya, sudah lewat kelok 44 nya belum sih? Dengan rasa takut karena emang gelap sekali waktu itu, saya jawab: udah lebih dari 44 kali. Mungkin di blog itu salah tulis, harusnya kelok ratusan~lebiih!!
Ngakak lah kami di motor, mengalahkan ketakutan masing-masing.

**
Dan ketemu juga itu kelok 44. Tempatnya berkelok, keloknya curam dan pendek-pendek. Harus atur kecepatan, jangan sampe lost. Di setiap kelok ada plang bertuliskan kelok ke berapa. Mulai dari kelok 44, 43, sampai ke kelok 1.
Nah kalo udah liat tulisan kelok 1, sampailah kita di sekitaran Danau Maninjau.

**
Kami sampai di sana sekitar pukul 21.30. penginapan yang kami reservasi nampaknya sudah bangkrut atau fiktik, karena nggak ada batang hidungnya sama sekali, haha..
Kami dapat penginapan yang murah, asalnya 700rb, kami tawar jadi 300Rb aja donks. Suamiku emang hebring deuh...
300Rb dengan fasilitas bath-tub, air panas, teras kamar, sarapan pagi, kasur yang nyaman, daaaaaan view langsung ke danau maninjau. Resto hotel tepat ada di atas perairan danau. Bahagia. Lelah terbayar!

ini dia front space hotelnya

sarapan keindahan :)


**
Esoknya kami lanjut menuju Puncak Lawang. Biasanya kita bisa foto seolah di atas awan. Tapi waktu kami datang awannya masih jauh di atas, jadi nggk bs ambil angel di atas awan.

Sepanjang jalan, pemandangan hijau membentang. Rumah-rumah tradisional Minang masih banyak berdiri indah. Sawah luas. Sejuk udara yang keluar masuk tubuh. Ah, surga!

Rumah Gadang cantik, kan?


one of view dari Puncak Lawang

our selfie!

Oleh-oleh Nyasar!

Pulangnya kami nyarasar-nyasar. Tapi nyasar membawa berkah. berkat nyasar jadi sampe ke tempat wisata: Janjang Seribu & Goa Jepang!
tapi kami tidak singgah lama-lama, karena harus segera pulang :)


Goa yang kami temukan saat nyasar hihi..

Janjang Saribu 


Refreshed! Bahagia. Dan merasa perjalanan nekad kali itu sangat Worth It!

**
Yuk nyoba ngetrip ke Sumbar. siap-siap jaket. Siap-siap jatuh cinta sama alamnya :)


Selasa, 20 November 2012

Bisakah kau jelaskan?


Dalam kisah ini kita sangat pandai bermonolog. Aku menjadi sering bercerita dan bercengkrama dengan diriku sendiri. Mencoba melupakan sosok yang pernah ada dan mampu memberiku ketenangan. 
 --
Dari pagi ke pagi aku berjanji untuk berhenti mencari dan menunggu sosok engkau. Tapi janji itu tak pernah bisa aku tepati. Aku dan segelas kopi masih saja setia pada harapan akan kedatanganmu. 
kau dengan lenggang khasmu sembari tersenyum.
menanti kembali saling bercerita tentang mimpi-mimpi kita. 
 --
Begitu juga dengan kau. Di istanamu, kau pun mungkin tengah menggemakan monolog. Yang entah kalimat apa saja yang tengah kau untai. Entah kisah apa yang tengah kau urai.

Kini, kita telah sama-sama menjauh dari titik temu. aku berjalan mundur, dan kau berjalan maju setelah berbalik memunggungiku. aku masih setia menatapmu berjalan menjauh.
--
Tahukah kau?
 --
aku begitu kacau setelah kau memutuskan untuk pergi. Meja kerjaku berantakan tak pernah rapi. Pekerjaanku? Semakin banyak aku harus merevisi pekerjaanku. Entahlah, konsentrasi menjadi hal tersulit untukku. 
 --
Debu yang sudah terlalu tebal di atas tv pun tak pernah aku peduli. Aku tak lagi lahap menyantap sarapan, makan siang, dan makan malamku. Kantung mataku semakin gelap, kau lihat itu kan? aku tak lagi suka mematut-matut diri di depan cermin. Aku tak peduli. 
Nyatanya aku memang tak peduli hal lain, selain ingin kau bisa kembali.  
Tapi apakah kau masih peduli? Aku tak tahu pasti. 
Yang aku tahu, kau tidak ada di sini, kau bahkan tak membantuku membalut kesakitan ini.
--
Aku yang berusaha untuk terlihat kuat, setidaknya di matamu. Nyatanya hanya sosok yang terlalu rapuh untuk sekedar berjalan perlahan. Kau hebat, kau memang yang terhebat. Aku tak begitu. aku terlalu, ah entahlah ini perasaan apa. 
Cinta? Bukan, ini lebih dari sekedar itu. 
--
Mungkin kau marah, mungkin kau benci, mungkin kau kecewa atas aku yang kalah. Marah sajalah, bencilah, dan kecewalah. Dengan atau tanpa kemarahan, kebencian, dan kekecewaanmu padaku yang begitu lemah, aku tetaplah perempuan yang  tak bisa menghindar dari memuja, menanti dan merindukanmu. 
Marah sajalah, bencilah, dan kecewalah! Nyatanya aku memang terlalu lemah.
--
Jendela yang dibasahi embun setiap pagi, begitu berusaha empati terhadap tatapan kosongku. Ia kerapkali memaksaku bercerita. Entahlah, aku tak tahu caranya. Aku bingung, bagaimana aku harus menjelaskannya. 

Bisakah kau jelaskan aku harus bagaimana? wahai orang hebat yang kupuja.


 (monolog di penghujung gelap, November 2012)