Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Januari 2017

Kopi Hitam Alea

Tuan, bagaimana kabarmu? 
Bisa jadi kau sedang tidak baik-baik saja. Tapi aku tahu kau masih sibuk merajut mimpimu, mimpi besarmu.

Beberapa malam terakhir kau berhasil membuatku kacau. Kau datang tiga malam berturut-turut, entah apa yang kau bicarakan, aku pun tak tahu pasti apa yang ingin kau sampaikan.
Kau datang dengan wajah lelah sekali. Namunt tetap kau bawa senyum manismu. Aku membalas senyum, tapi aku tak berani memberimu lebih, semisal memeluk atau entahlah. Aku ingat, kita tidak lagi saling memiliki.

Saat aku menata perasaan, kau seolah tak memberi jeda. Dua tanganmu sudah melingkar di tubuhku. Kau erat mendekap dan baru kali itu kalimatmu jelas terdengar, “aku rindu kamu” katamu.
Lagi-lagi aku terdiam. Tak bisa apa-apa. Aku sakit sekaligus bahagia mendengarnya.

Tiga malam yang membuatku enggan tidur. Aku tak ingin kau temui lagi. Mimpi di tiga malam yang membuatku bisa terjaga tanpa gelas demi gelas kopi hitam.

Jelagaku terus bertanya, apa arti semua mimpi di tiga malam ini. Kamu yang tengah merindu, atau aku yang masih tak mampu membenci?

**
“malam ini, Melbourne terasa lebih dingin dari biasanya. bagaimana dengan cuaca disana?”
              “tetap hangat, seperti saat kau tinggalkan dua tahun lalu”
“sudah dua tahun ya. Kamu sedang apa, Alea?”
              “sedang memikirkan sesuatu. Kamu sedang apa?”
“sedang minum kopi.”
              “kopi? Bukankah kau tak suka kopi.”
“hanya sedang rindu pada seseorang, yang tak bisa sehari pun tanpa kopi.”
              “Oh!”


Kau kembali di malam keempat, ketika aku hampir mampu menaklukan waktu. Kau kembali mengusir kantuk. Ah kau selalu saja membuatku terjaga dalam malam, tanpa gelas demi gelas kopi hitam yang tengah kau nikmati malam ini. 


sebuah sajak yuli nurmalasari
www.jurnal-uly.com
IG @uly_uli 



Selasa, 09 Agustus 2016

5 Hal yang wajib diobrolin sebelum NIKAH sama si dia !


sumber foto: vemale.com

Yeeiy, kita bahas nikah yuk! Banyak yang suka curhat tentang masalah yang satu ini lho. Jadii... Sebelum menikah banyak calon mempelai pria dan (terlebih lagi) wanita cenderung mengimajinasikan kehidupan rumah tangga itu serupa yang di sinetron-sinetron ntu tuuh.. yang indahnya kebangetan, tiap pagi bangun si istri dandan cantik udah pake ngeblow rambut segala, nyeduh kopi, bikinin sandwich, trus benerin dasi si papih sebelum ngantor. Ealaaah gambar pemandangan di tugas ngegambar masih kalah mainstream sama adegan ini kan? haha

In another case, ada yang udah ngebayangin kehidupan rumah tangga itu mengerikan, penuh dengan penderitaan. Istri dibentak karena si suami kecapean di tempat kerja, gelas yang isinya air putih dibanting, terus istrinya senggukan masuk kamar sambil meluk anaknya yang nanya, “Ayah marah-marah lagi ya, Ma?” langsung diiringi musik, jeng jeng jeeeeeeng!! 
Parno dah nggak jadi nikah nikah kalo bayangannya ala sinetron yang ini, hiks!

*please nggak usah sibuk nyariin judul dua adegan di atas ya #LOL.

Lha terus bagusnya ngebayangin yang kayak gimana donk?
Kalo aku sih nyaranin, gak usah ngebayangin dua titik ekstrem ala ala sinetron deh.
Kenapa? karena setiap kita membawa pribadi yang unik, pun dengan pasangan kita. Nggak akan ada kehidupan pernikahan yang sama persis perjalanan dan prosesnya, nggak akan ada, dijamin! Kalaupun ada, itu cuman di beberapa hal aja, dan itupun sifatnya sangat relatif.

Jumat, 08 April 2016

KUSEBUT IA: CINTA TANPA PENJELASAN


Sudah beberapa malam tidak bisa tidur nyenyak. Kepala terasa lebih crowded dari biasanya. Sayangnya ini bukan tentang pekerjaan kantor yang belum dan mungkin tidak akan pernah ada selesainya. Ini tentang hal lain, yang lebih rumit dan berhasil membuat jantung kembang kempis tak beraturan.
**
Entah apa yang direncanakan langit padaku yang sudah lupa bagaimana caranya membuka hati. Sejak gagal menjalani hubungan dengan Reno, rasanya hati ini kebal dari rasa tertarik apalagi naksir-naksiran. Tak perlu diingatkan lagi tentang usia, aku sepenuhnya sadar usiaku tidak muda lagi. Apalagi jika dibandingkan dengan anak kelas 2 SMP yang sekarang aku ajar setiap hari. Pertanyaan rekan kerja, teman sebaya, bahkan tetangga sudah tidak mempan membuatku depresi. Ya pertanyaan kapan menikah atau sekedar sudah punya calon belum.
Reno dan sebuket sakit hati yang ia bawa tempo hari membuatku resisten dari hasrat memenuhi keinginan para kepo-ers itu. Keinginan untuk menikah pun nyaris tenggelam bersama bangkai-bangkai serangga yang usianya hanya 24 jam itu. Tenggelam berkali-kali, nyaris tak bisa kembali.
**
Sudah hampir tiga tahun aku mengadu nasib menjadi pengajar di sekolah milik salah satu perusahaan perkebunan di Sumatera.  Bukan tempat yang popular apalagi favorit. Kalau bukan karena nominal gaji dan fasilitas yang layak, tidak akan ada yang mau bekerja dan menghabiskan kesehariannya di tengah kebun sawit yang luasnya berhektar-hektar. Jalan raya saja bisa ditempuh setelah melalui perjalanan 20 menit. Jalan bukan menggunakan trotoar atau semen, seluruh jalan di dalam perkebunan terbuat dari pasir dan batu. Untuk yang pertamakali menempuh medan jalan pasir batu ini akan merasa seperti naik bemo atau bajay yang sudah uzur, membuat bergetar sekujur badan, dan pegal linu setelahnya. Tapi bagiku – dan siapapun, yang sudah terbiasa ini bukan hal istimewa lagi.
Mimpi menyekolahkan adik dan membantu orang tua, dan sepotong hati yang tak kembali, yang membuatku sampai dan bertahan disini. Terbiasa membuat banyak alasan untuk tetap tertawa, sesekali menertawakan diri sendiri.
Sudah hampir tiga tahun juga rasa sakit itu tenggelam, selama itu juga pintu hati ini tak pernah bisa terbuka lagi. Ya, satu nama dengan sakit hati yang dalam. Entah apa yang membuatnya terlalu dalam.
**
Hampir setiap malam kala pekerjaan harian sudah rampung, aku mengakses internet, sekedar untuk mengupdate status FB– yang sebenarnya tidak terlalu penting, mengomentari status teman, mengupload foto di instagram, dan mengintip akun-akun orang lain. Hiburan yang kadang berujung penderitaan. Mulai dari menertawakan status-status alay; me-like foto-foto bayi teman, pernikahan teman, dan momen yang membahagiakan; mengutuk status rasis  yang orang-orang posting. Hampir selalu diakhiri dengan keluh kesah terselubung, mereka udah punya bayi aja gue nya masih terdampar di tengah kebun. Destinasi selanjutnya tidak lain tidak bukan adalah exit dari semua aplikasi – tidur – bangun – melakukan rutinitas.

Tapi malam itu berbeda. Ada pesan pribadi di massanger FB yang membuatku cukup kaget.

“Apa kabar?”

Kalimat biasa, hanya apa kabar. Pertanyaan lumrah yang diberikan oleh seseorang kepada orang lainnya yang sudah lama tidak ditemui, bukan? Kaget bukan pesannya, tapi pengirimnya.

Alhamdulillah baik. Kak Rai gmn kbrnya?

Rai adalah senior di kampus dulu. Bukan sembarang senior, dia idola. Banyak wanita yang mengaku fansnya. Aktifis yang tidak hanya ganteng, tapi juga kharismatik. IPK yang cumlaude saat dia lulus membuat para fansnya semakin meleleh. Aku mengenalnya hanya sekilas. Karena aku bukan aktifis sekaliber dia. Kenal dia pun karena kami pernah satu kelompok ketika jurusan mengirimkan delegasi untuk lomba karya tulis ilmiah  tingkat universitas. Ya, kami menang Juara 2 waktu itu. Itu sebabnya aku punya foto bareng dia, ketika wakil rektor menyerahkan hadiah. Foto pertama dan terakhir. Foto berjas almamater berwajah lusuh. Bukan foto alay apalagi mesra sambil melet-melet. Foto yang sampai sekarang aku simpan. Betul, aku salah satu fansnya, kala itu. 

Pertanyaan apa kabar berlanjut menjadi obrolan santai yang seru, setiap hari. Aku lupa sensasi iri ketika melihat foto-foto pernikahan atau bayi teman-teman. Aku tidak lagi manyun merengut sebelum tidur. Percakapan berlanjut melalui BBM. Bukan hanya malam hari, pagi dan siang hari pun kami rajin mengobrol. Sekedar menanyakan sudah makan atau belum, saling mengomentari status BBM, dan menutup malam dengan kalimat selamat tidur. Ya, rutinitas yang lebih menyenangkan.
**
Rai tidak banyak berubah. Ia tetap sang idola. Dia melanjutkan pendidikan sembari menjadi asisten dosen di kampus kami dulu. Entah apa yang membuatnya mengirimkanku pesan apa kabar dan berlanjut dengan komunikasi yang lebih intens. Dia belum punya istri, entah tentang pacar. Enggan aku menanyakannya. Mungkin lebih tepatnya, aku belum siap dengan jawaban terburuk semisal ‘ya, aku sudah punya pacar’. Aku melarang diri berharap terlalu dalam pada Rai. Tapi aku pun rajin memupuk rasa ini. Sesekali merasa ingin memperjelas kedekatan. Tapi lagi lagi takut dengan kenyataan yang mungkin tidak akan sesuai harapan. Dan tetap aku rajin memupuk rasa. Memberikan perhatian, menerjemahkan perhatiannya.

Sampai pada malam itu, percakapan aneh di BBM.

Aku sekarang rajin berdoa
Emang dulu nggk?
Yang sekarang doanya beda
Apaan emang kak? #kepogila
Itu rahasia.
Ih nyebelin. Ngasih tau setengah-setengah.
Mending jangan sekalian. T.T
Kakak takut kamu semaput kalau tahu.
Hahaha.. will never lah kak. I’m ready to keep standing. :D
Belum waktunya. Kakak ngajar dulu ya. Sampai jumpa, dek.
Yee. Nyebelin maksimal ah.

Kalimat-kalimat Rai berhasil membuatku GR.  Aku tak bisa mengontrol translator di otak yang menyatakan bahwa Rai menyayangiku. Padahal logikaku jelas-jelas berteriak kalau tidak ada pernyataan selugas itu dalam kalimat Rai. Alhasil setiap malam aku dikuasai rasa penasaran. Rasa penasaran yang diperparah dengan Rai yang tidak menghubungiku selama tiga hari terakhir.

Selamat pagi kak.
Udah siang ni, selamat lunch kak Rai.

Itu sepotong kalimat BBM tak berbalas. Berulang aku kirim. Di ujung kiri kalimat hanya ada huruf D dilingkari warna biru, belum jua berubah jadi R. Ya, artinya pesan belum dibaca oleh penerima pesan di seberang sana. Entah apa alasannya. Kalau HP nya hilang, bukankah dia bisa mengakses internet lalu menghubungiku via FB? Tanpa sadar, aku telah tumbuh menjadi gadis posesif. Aku kehilangan rutinitas. Produktifitas kerja pun turut terancam. Khawatir, cemas, dan curiga bercampur satu. Semua tentang Rai. Bisa jadi aku beri judul drama setiap malam ini dengan Rais insomnia.

Insomnia yang mendorong jari jemari untuk stalking akun FB kak Rai. Dari FB nya aku menemukan banyak cerita yang belum aku tahu tentang kak Rai. Ternyata ibunya meninggal beberapa bulan lalu, adiknya kuliah di Malaysia, ia juga mengajar anak kurang mampu, dan ada akun perempuan yang sering sekali muncul komentarnya di postingan kak Rai. Informasi terakhir membuat rasa yang aneh, ya namanya cemburu. Eh tapi bukankah aku dan kak Rai hanya teman, kenapa harus cemburu?   

Tangan otomatis mengklik akun perempuan itu, semakin porak poranda rasanya karena tanpa diperintah otak menyatakan perempuan ini sangat cantik, islami, dan melihat profilnya dia melanjutkan S2 di kampus ternama. Telak aku kalah pamor. Dan yang lebih menyempurnakan kekacauan hati malam itu, banyak juga kutemui postingan kak Rai di beranda wanita ini. Sound system di otakku sibuk komat kamit : Oke fix, aku harus mundur. Aku harus membuat batasan. Kak Rai bukan kelasku. Kak Rai tak mungkin menyukaiku apalagi sayang. Bye maksimal Kak Rai.
Komat kamit yang useless, karena nyatanya Kak Rai memang tidak ada kabar sudah berhari-hari, mencipta jarak lebih dulu. Membuat batasan lebih awal.

**
Genap seminggu sejak peristiwa stalking malam itu. Usahaku membunuh harapan dan menutup kembali pintu hati sedikit berhasil. Hanya sedikit, nyatanya sampai hari ini masih saja berharap ada pesan meskipun sesederhana apa kabar dari Rai.

Cinta, serumit itu kah rupamu dalam hidupku?
Harus dengan bahasa apa ku menerjemahkannya.Nyatanya, aku tak bisa untuk merindu.

Kalimat yang kutulis di kertas buram, sembari mengawasi muridku ulangan harian. Coretan melas yang menunjukkan betapa lebaynya seorang guru. 

Tanpa sepenuhnya disadari, aku memotret tulisan itu, mengedit dengan gaya vintage, dan mempostingnya di BBM. Tersadar setelah sampai di rumah, notifikasi bbm lebih banyak dari biasanya. Sebagian besar mengomentari foto profil yang kupajang, foto tulisan-tulisan curhat. Puitis tapi memalukan. Aku tidak terbiasa mengumbar hal semellow ini di sosial media. Otomotis hal ini mengundang teman-teman meledek habis-habisan. Ada yang hanya mengirimkan emoticon melet alias menjulurkan lidah yang berarti mengejek, ada yang mengirimkan kata ‘ciye ciyee’, ada yang membalas dengan puisi dengan nada yang juga meledek, sampai ada yang menanggapi dengan serius- mengirimkan pesan motivasi beraura Mario Teguh.

Aku pun turut menertawakan diri sendiri. Senyam senyum malu ketika mengetik bbm balasan untuk mereka. Chit-chat yang membuat badan terjebak bak menempel di atas tempat tidur berjamjam menggunakan seragam ngajar. Sampai teman serumah [dinas] memanggil-manggil dari luar, mengingatkan jadwal piket memasak.

HP kugeletakkan seenaknya, merespon panggilan sembari mengganti baju. Terburu-buru menuju dapur dan memasak.
**
Sekembalinya ke kamar, seperti biasa HP adalah benda pertama yang disentuh. Entah sejak kapan kebiasaan ini ada, era digital katanya, hal pertama dan utama bukan lagi sembako tapi gadget dan signal.

Aplikasi bbm yang pertama dibuka. Scrol atas bawah dengan cepat digerakkan jempol tangan kanan. Obrolan seru ledek meledek masih berlanjut. Dan terputus oleh panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Tidak berniat menjawab, alasannya simple: malas berhubungan dengan perusahaan asuransi yang sudah sering gonta-ganti nomor HP. Niat mengabaikan terkalahkan oleh rasa terganggu, berulang kali nomor tersebut menghubungi. Akhirnya aku mengalah, mengangkat teleponnya.

Hallo.
Hallo dek. Sedang sibuk?

Suara yang sama sekali tidak asing. Kak Rai. Aku langsung berusaha menguasai diri, komat kamit dalam hati: santai, jangan keliatan seneng, biasa-biasa saja. Dan berhasil untuk sekedar pura-pura biasa.

Eh kak Rai. Iya ni, aku lagi nyiapin materi untuk ngajar besok. Kenapa kak?
Sekarang saya ada di depan rumah.
Ah becandanya jangan kebangetan kak. Nggak mungkin lah.
Sekarang saya sedang berusaha mewujudkan do’a saya.
Kak Rai apa maksudnya? Jangan ngebuat aku bingung deh.
Aku hanya ingin minta doa agar usahaku lancar. Sekarang aku sedang di rumahmu dek.

Aku pun keluar kamar dengan buru-buru karena mendengar Rai yang meyakinkan bahwa dia ada di rumah [dinas]. Bodoh saja aku sudah percaya, dia tidak disana. Mana mungkin dia bisa tiba-tiba ada di dalam kebun. Apalagi malam hari begini. Rasa kesal membuat aku langsung menutup teleponnya. 
Dengan cepat mengetik SMS,

“jangan suka main-main sama perasaan perempuan. Saya bukan mainan.”
Rasanya ingin marah, menangis, dan teriak sekencang-kencangnya. Merasa sangat dipermainkan. Sudah berhari-hari tidak ada kabar. Sekalinya ditelepon hanya untuk dipermainkan seperti ini, siapa yang tak geram- pikirku.

Sepersekian detik dari terkirimnya SMS, ada telepon dari ibu. Aku tidak langsung mengangkat teleponnya, karena takut ketahuan ibu kalau aku sedang sedih kesal atau apalah namanya. Berusaha menguasai diri, bahkan terpikir untuk mengabaikannya. Tapi ibu pun tidak seperti biasanya, dering telepon tak juga berhenti, mendesak minta diangkat. Terpaksa segera diangkat sembari berusaha setenang mungkin.

Assalamu’alaikum Bu.
Kok lama sekali diangkatnya, nduk?
Maaf bu, ini tadi sedang di luar. Ada apa ibu tumben teleponnya tidak sabaran begitu?
Ini, nak Rai datang ke rumah. sekarang lagi ngobrol sama ayah dan ibu. Kamu kenal dengan nak Rai?
Iya, kenal.

Terbata-bata menjawab, percaya tak percaya dengan kalimat yang baru saja ibu katakan. Apa maksud semuanya.

Nduk? Nduk?

Ibu memanggil-manggil di ujung sana, mungkin karena aku nyaris tak bersuara, - karena shock masih tak percaya.

Oh iya bu, iya aku kenal. Ada apa Kak Rai kesitu bu? Ada masalah apa tho?
Katanya nak Rai mendapat beasiswa ke Amerika. Mau berangkat enam bulan lagi.
Terus apa hubungannya sama ibu tho?
Ibu belum selesai ceritane nduk. Ya mbok didengerin dulu sampai selesai.
Nggih, monggo. Maaf bu.
Nak Rai datang kesini ingin meminta izin ibu sama bapak.
Lha kenapa minta izinnya sama ibu bapak tho?
Ibu belom selesai nduk.

Suara ibu meninggi, geram tidak suka kalimatnya dipotong oleh anaknya yang dikuasai penasaran.

Iya aku heran soale bu, monggo. Maaf.
Kamu udah ndak sabaran ae. Iku Nak Rai kesini melamar kamu jadi istrinya dan minta izin untuk membawamu ikut ke opo ke Amerika nemenin sekolah di sana. Ibu ndak bisa memutuskan, kalau kamu setuju yo kami setuju ae. Gimana?
Opo bu? Maksudnya kak Rai melamarku gitu toh bu?
Iya nduk. Ibu harus jawab apa ini.
Menurut ibu bagaimana?
Ibu bapak terserah kamu nduk. Tapi perasaan ibu mengatakan kalau nak Rai ini anaknya baik. Tapi kan kamu lebih kenal daripada ibu bapak

Sejenak aku menatap langit. Tak percaya. Apa maksud Tuhan atas semua ini. Sembari terbata-bata, menahan tangis. Aku berusaha menjawab.
"I i iya bu. Laila mau terima. Insyaallah Laila bersedia. Asal ibu dan bapak merestui.
**
Teman serumahku, Irma dan Yani sudah mematung di depan pintu. Dari tadi menyaksikan keanehan temannya: mulai dari keluar kamar mendadak, komat kamit sambil mengetik SMS, dan berwajah geram serupa Hulk yang siap berubah warna. Sampai menonton adegan dramatis loncat loncat sembari bilang ‘alhamdulillah’ seusai menutup telepon ibu.

Aku berusaha menguasai diri. Ketika mereka bertanya aku kenapa. aku hanya menjawab, 
“aku menang undian chiki ball. Besok kalian aku traktir.”

Teman-teman semakin nyinyir, bingung dengan kelakuanku.
Setibanya di kamar, otomatis aku melakukan adegan salah tingkah. Berbaring di tempat tidur sembari senyam senyum. Adegan yang kemudian terpotong oleh notifikasi BBM - dari Rai,
“doa itu adalah semoga adek ikhlas untuk mendampingi hidup kak Rai sampai maut menjemput. Terima kasih sudah membuatnya terwujud.”
**
Sajak kertas buram kurevisi. Kali ini di atas sebuah kertas lipat berwarna pink.

Begitu cantik rupa cinta,
Kala kau menyapa.

Aku bahagia, melebihi bahagianya gadis cilik yang diberi permen gratis. Tak bisa selesai bahagia, bermalam-malam. Ah, cinta. Sepotong hati kini purnama.


- yulinurmalasari (2015)







Jumat, 18 Juli 2014

#LDR - an ? Siapa takut? Saya!!

Cerita tentang LDR yang lumayan ngobrak ngabrik ketenangan jiwa. Banyak pelajaran yang bisa diambil lho. Kyaknya, hehe...

Jadi begini. Tulisan ringan kali ini mau ngomongin tentang kisa saya dengan suami bergenre #LDR alias Long Distance Relationship. Fiuh!

Saya dan suami ketemuan di forum rapat salah satu organisasi jurusan tingkat nasional gitu. Jadi peserta forumnya biasanya universitas lintas provinsi, lintas pulau, lintas jiwa juga, ciyeee.....

Episode pertama, kami temen biasa. Profesional aja gitu ya. But #FYI dia panitia yang jemput saya dan kakak tingkat di Terminal Kota Malang. Tahun 2008 kejadiannya.

Episode kedua, si suami PDKT pas kami sama-sama jadi steering committee untuk acara di Jember. Tahun 2010 kejadiannya. Jadi kemana ajjeee mas selama 2 tahun baru PDKT-an ?? Hehehe...

Episode ketiga, kami jadian via telepon. Tahun 2010 kejadiannya, tepatnya di bulan #Oktober. Kami resmi #LDR-an. Ehm! Pasang status "in a relationship with" gitu di facebook. Masa masa alay gitu deh ya. Hihi..
*banyak fans kecewa kala itu hahahaha..

Episode keempat, putus via telepon di bulan Desember 2010. It means kami jadian dan kami putus via telepon tok! Cuman 3 bln dah itu status "in a relationship with" dipajang. #FYI waktu itu saya minta putus gara-gara dia nggk telepon saya seharian di hari saya akan seminar proposal skripsi. Niat bercanda minta putus untuk gretak sambel doank, eh dianya malah setuju putus. Jlebbbb nya emejiiiinggg gan/sist! Wkwkwk
*fans yang kecewa ngetawain kyaknya. Duh. Pedih.

Episode kelima, kami berteman. Meski masih ada perasaan #ngarep #malesbalikan #salingmodus. Di tahun 2011 dia ke Bandung menghadiri acara LPJ-an saya. Profesional reason ceritanya. Dan di tahun yang sama saya ke Malang (lagi) untuk liburan ke Bromo juga wktu itu. Yaa... banyak modus lah. Hehe.. episode ini seru. Kami akhirnya larut dalam pertemanan yang juga sebagian besar dijalani #LDR. Dia partner diskusi dan becanda yang super duper seru. Nyambung lah ya kalo kata orang-orang mah. Hihiiww..
Di episode ini juga ada pengakuan kalau dia nggk punya pacar setelah putus di bulan desember lalu. Wow!!! Katanya sih gara-gara nggk minat pacaran. Tapi sampai sekarang masih agak nggk percaya jg hahahhaha... sorry honey :*
Kalau saya? Ya menyeleksi beberapa lah dan gagal. Haha...
Intinya temenan lah gitu. Best friend hehe..

Episode keenam, dia sms saya kalau dia udah kerja dan ganti nomor. Ya sms-an chitchat gitu deh. Si saya lagi galau putus cinta. Dia datang di waktu yang tepat gitu deh. Wkwk...
Lucunya. #Oktober dia bilang mau serius sama saya. Nggk mau pacaran nggl jelas. agak trauma sih karena harus #LDR an lagi. Riau - Bandung. Beda pulau. Hmfhh... akhirnya memutuskan untuk "istikharah" lah. Nyebelinnya dia tdk melakukan hal yang sama. Shalat sunah yang diamalkan di Riau sana malahan shalat hajat. "Udah yakin" katanya. Ah, tersanjung 8 lah rasanya. Wkwkwk.

Tapi saya tetap harus istikharah, karena laki-laki jangan dulu dipercaya kalo belom akad nikah. Entah beneran religius atau kapok digombalin. Haha..
Alhamdulillah, hati rasanya yakin dan mantap. Akhirnya saya said Yes! LDR-an lagi mameeeeeeeeen. Argh!

Episode keenam ini cukup unik. Januari dia ke bandung. Kami menghadiri pernikahan teman. Di acara itu orang tuanya juga hadir. Dan menanyakan keseriusan saya. Aneh ya? Kok perempuan yang ditanya serius apa nggk, haha...but no problem. Intinya, saya yang masih semester 2 untuk studi S2 cukup shock. Nggk kepikiran nikah sebelum lulus mammmmm. Tapi etapiii No reason to ignore the good will of the question.
And then, #LDR an lagi.

Agustus 2013 pas lebaran dia dan keluarga datang melamar. Jarang ketemu, tiba-tiba lamaran. Dan setelah itu? #LDR an lagi.

Pertemuan selanjutnya: kami menikah di bulan Januari 2014.

Alhamdulillah episode keenam ini ditutup dengan pernikahan. Unbelievable. But awesome feelings!!!

Selamat datang episode ketujuh.

Episode ketujuh, saya yang masih harus menyelesaikan Tesis harus kembali ke Kota Kembang 2 minggu setelah pernikahan. Episode dengan #LDR paling bikin jlebbbb! Rasanya beda. Kangennya pooollll. Pedihnya aduh. Lebay ya? Hehe...

Pelajaran pertama: jangan #LDRan kalau nggk kuat. Haha..

Ya.. gitu deh. Segitu dulu ya.
To be continue....... :)

Salam #LDR.



Senin, 10 Februari 2014

KEYEUP IS MY GANK!

Pernah ngerasain susah move on? Yakin deh, hampir pasti, semua pernah ngerasainnya. Kalau disurvei, susah move on dari pacar itu pasti menduduki nomor wahid, juaraaa umum keknya.
But, see me! Sampe sekarang si aku masih sungguh sangat susah move on dari Keyeup – my gank. Hiks.. Heiii! I’m serious. Bukan susah move on dari mantan apalagi gebetan, tapi dari mereka semua. These are Keyeup. I miss them so badly.. T.T

kiri ke kanan: hasyonk, pionk, malcok, uly (Me), oozh, qisthi, anis. ^^





Ngomong-ngomong soal move-on, berkaitan erat dengan kehilangan, kepergian, disakiti, menyakiti, atau perpisahan. In my case, yang terakhir itu alasannya. Kami dipaksa berpisah. Dipisahkan oleh masa studi yang berakhir, mudik ke tempat masing-masing, menata masa depan masing-masing, nyari jodo masing-masing (untuk yang satu ini emang nggk boleh rebutan, hehe...), merelakan diri masing-masing untuk menjalani kehidupan baru sebagai orang dewasa. Sigh!

Sebelum lanjut cerita, i’ll put some notes: aku termasuk orang gengsian, tapi entahlah Keyeup ini bisa meruntuhkan kegengsian ini. Dan menggiringku untuk mempublikasikan tulisan bernada kerinduan mendalam kek gini. Tapi yaaa mereka di  somewhere out there bisa jadi merasakan perasaan yang lebih akut malahan, :p
**
Malem ini entah malem keberapakalinya ngerasain kangen akut sama mereka. Dan akhirnya daripada depresi, aku tulis aja semua memori yang mengikat di otak ini. Nggk semua denk, sebagian kecil aja tepatnya. Kalau semua memori tentang kami ditulis, nggk akan kuat jari jemari ini mengetiknya, huoooooo~
***
Keyeup! Nama yang absurd untuk gank perempuan di era modern  abad century ini. Ada yang tau artinya apa? Keyeup itu bahasa sundanya Yuyu, modelnya kek kepiting tapi body-nya agak minimalis gitu lah nyak, sukanya idup di selokan. Kek ginilah kurang lebih. Cekidot!
Singkatnya: masih belum jelas kenapa milih nama itu. Yang jelas ada beberapa laskar keyeup yang berfilosofi keyeup bisa nyembuhi berbagai penyakit akut, keyeup bisa disingkat key-up: kunci kenaikan, keyeup nggk mainstream, dan banyak lagi, dan semuanya NGARANG. Haha.. but we’re all enjoy those fake philosophy.. :D
**
Kami jadian #eh bareng-bareng maksudnya sudah hampir tujuh tahun, sejak 2007. Kalau cerita tentang sejarahnya, bakalan lama. Lagian, kurang suka ngomongin sejarah, hehe..
Banyak hal yang sudah dijalani, bersama. Dari kebersamaan yang sudah dilewati kami banyak menciptakan filosofi-filosofi hidup yang kadang fiktif belaka, kekonyolan yang luar biadab, saling menunjukkan kehebatan, saling menertawakan, traveling, backpacking, kerja kelompok juga sering, mengikuti mentoring (red. Kajian keagamaan), dan banyak lagi yang nggk bisa dibahasain. There’s a lot of memorable things...
**

Here they are..
#1 Anis

Dari anis, aku banyak belajar tentang bagaimana jadi perempuan yang baik-baik. Bisa dikatakan, anis ini adalah laskar keyeup yang paling waras jasmani dan rohani. Beberapa keyeup memanggilnya “mama anis” bukan karena dia tua, tapi karena sosoknya yang keibuan. Hal-hal positif hampir abis sama laskar keyeup yang satu ini.
*) Btw kenapa daritadi aku sebut ‘laskar’ ya? Ah biarin lah, masa iya nyebut ‘anggota atau peserta keyeup. Kurang greget lah. Biar aja lah biar serada gagah, laskar keyeup. Jangan pada protes lho ya!
Lanjut lagi. Tentang anis, arti kata ‘baik’ itu bukan formalitas. Anis banyak ngajarin kebaikan tanpa menggurui. Syukurlah masih terselip makhluk yang hati dan otaknya bercahaya di tengah-tengah kekacauan gank kami – Keyeup. Anis jarang keliatan panik, hampir nggk pernah ngerepotin orang, lembut tapi mandiri, kalo deket anis berasa ada di mesjid: tenang rasanya. I Heart u so, anis..
Lanjut ke..

#2 Lia – Hasyonk.

Lia yang hampir selalu dipanggil hasyonk ini keyeup yang paling ababil kali ya. #eh. Kenapa ababil? Karena dialah satu-satunya keyeup yang kalau suka sama sesuatu itu sumpah ya, kayak orang kecanduan. Dulu waktu kami S1, mahasiswa lho, tapi dia bisa kecanduan K-Pop. Dan parahnya dia menularkan candunya itu ke seluruh gank. Aku juga hampir aja kena, dan kena akhirnya. Tapi bisa segera bertobat. Selain itu, yang terbaru dia suka sama motif apalah itu kek bunga-bunga vintage. Sama juga kyak kecanduan. Hadeuuh.. tapi ya itulah dia. Dia juga termasuk keyeup yang paling lucuuu sedunia, Sule aja bisa kalah lucu sama laskar keyeup yang satu ini. Apalagi kalau udah berpose ala model, atau berperan jadi penyanyi dangdut. Nendang Gan! Hahaa.. Dan dari dia, aku belajar tentang bagaimana menikmati hidup, belajar enaknya jadi anak kecil, dan menyukai hal-hal yang nggk formal. Semoga kehidupanya selalu dilimpahkan segala candu yang baik-baik. Sebuket sayang untuk kamu, Shyonk.
Lalu..
#3 Mala
Mala ini sering dipanggil malcok di periode terakhir-terakhir, hhi.. laskar keyeup yang satu ini penggila warna ungu. Kadang aku mikir  kalau dia ini salah pilih warna kesukaan. Karena gara-gara suka ungu ini kali ya dia masih aja jomblo ampe sekarang. Bwhahahahaa... Piiiss Cok.. ^^)v 
Ganti warna gih. Bwehehehe..
Hmmm.. laskar satu ini nggk ada yang ngalahin keras kepalanya. Hadeuh, entahlah harus pake apa biar kepalanya agak lentur dikit aja. Tapi di balik kekeraskepalaannya, dia temen yang baik, berjiwa melayani. Bisa dikatakan, teman yang siaga. Kapanpun kita minta anter, pasti mau. Dan paling rajin traktir. Berarti loe paling tajir donk cok? Wah waah waaah, kok baru  nyadar gini ya. -__-
Satu lagi, dari laskar yang satu ini aku belajar berani nekad. Saking nekadnya dia berani memutuskan ikut jadi pejuang SM3T. Really proud of you! Hug.. puk puk!
Kemudian tentang...
#4 Oozh
Namanya outstanding ya? Itu nama panggungnya, nama aslinya Rosna. Nama aslinya emang kurang gimana gitu ya, haha..
Temen yang bisa ngebuat kita tampil seadanya, yang rela jadi pendengar setia meskipun ceritaku membosankan, yang bakalan jadi orang yang ngerasa sakit juga pas aku patah hati, yang nggk pernah bisa nolak keinginan atau pendapatku. Temen yang paling setia kawan. Oozh serupa baby sitter yang dikasih Tuhan secara gratis, nggk pernah komplain, jarang banget ngeluh. Inilah dia sosok yang banyak ngajarin aku tentang menjadi anak baik-baik, nurut sama orang tua, menjadi anak teladan, memberi pengabdian tanpa pamrih, dan kuat dalam pengorbanan. love you ozh!
dan tentang....
#5 Pionk

Hmmm... pionk itu kek profesor buat aku. Dia banyak ngajarin gimana ngejalanin idup yang bener. Usianya mngkn boleh jadi lebih muda, tapi dia tau gimana caranya idup yang seharusnya. Selama kenal, nggk pernah aku liat dia marah. Dari laskar yang satu ini aku belajar kesederhanaan, hidup yang bijak, setia kawan, sabar, ketulusan, dan kuat dalam kesendirian. Ah jadi pengen nangis aja deh, kenapa juga yaaa... ZzzZzzz...
Tapi jangan salah, dibalik hal-hal yang serius di atas, dia ini ahli konyol yang luar biasa. Loading lama untuk ngerti hal-hal absurd, banyak lah yang di luar pemikiran manusia normal tentang standar normanya, bwahahaha..
Miss you so much, yonk!

Sampe ke..

#6 Qisthi
Fiuh.. ini laskar keyeup yang alfabet inisialnya paling akhir. Qisthi.. seringkali kita manggil dia Qisya (Qisthi syarappp). Pernah denger tagline “be your self”? Nah, orang inilah yang sepanjang hidup aku paling bisa jadi diri sendiri, dimanapun kapanpun sama siapapun. Cuman dia yang fanatik suka warna orange, dari underwear #upz maap, sampai kerudung warna orange! Dan cuman dia yang nggk pernah berusaha pake topeng-topeng pencitraan. Dari kegilaan-kegilaan dia aku belajar tentang kerennya jadi diri sendiri. Terlepas dari itu, hidup yang dia jalani membuat laskar keyeup yang satu ini super duper kuat. Dan dia keknya termasuk laskar keyeup yang jarang banget ngeluh. Ah, entah dia nyadar apa nggk, aku punya kekaguman tersendiri sama dia. Ya, kagum uly sama qisti. (cocwiiiiiiiiiittt #ihiiiirr)

***
Basah deh matanya. Bukan sedih, tapi kangennya emang lagi akut. Mereka berenam lebih dari temen. Merekalah orang-orang pertama yang ingin kukabari apapun yang penting dalam hidupku setelah keluarga. Merekalah orang-orang yang tanpa diminta akan menyediakan diri untuk membasuh sepi. Sumpah, beruntung punya mereka. 
Nothing’s perfect, but all of them perfect my life.
Tentang move on, sama sekali nggk mau move on dari kalian.
Semoga kita bisa kumpul lagi, melakukan kedonoan-kedonoan baru yang lebih fresh dan outstanding. Mmmmmuuuaachhh..!!!


Sabtu, 08 Juni 2013

Si Aneh Rosna Pentiaratih Supendi


Sampai hari ini aku masih saja aneh dengan manusia bernama Rosna Pentiaratih Supendi. Pun masih belum bisa menghentikan rasa syukurku memiliki teman seaneh dia. Kata ‘aneh’ aku pakai untuk menggambarkan dia bukan karena dia aneh. Aku sebut dia aneh karena dia punya banyak hal yang aneh tanda kutip, hehe..

Dia biasa dipanggil Oozh. Dia pernah menceritakan alasan mengapa dia dipanggil dengan nama itu, tapi aku lupa. Ya, inilah aku, pelupa. Berbeda dengan dia, dia nyaris tak bisa lupa sesepele apapun cerita yang pernah aku sampaikan. Aku berteman dengannya sejak tahun 2007, kami sama-sama mahasiswa baru di sebuah universitas negeri di Bandung. Tapi mulai menyandang status ‘sahabat’ sekitar pertengahan tahun 2008.

Kami berdua memang begitu dekat seperti anak kembar, meskipun secara fisik jauh berbeda. Aku si imut nun mungil juga manis, sedang dia berperawakan besar dan nampak tidak imut sama sekali, hehe.. tapi dia ‘aneh’ dan aku mungkin lebih aneh.

Ke-‘aneh’ an itu dia tunjukkan ke siapapun dan dimanapun. Tapi aku tak mau terlalu membahas keanehannya yang dia tunjukkan ke orang lain.

Ini dia beberapa keanehannya yang aku tangkap selama kami berteman...

Keanehan pertamanya, dia itu serupa GPS berjalan. Dia mudah mengingat rute jalan, jalur angkot, dan alamat. Dan aku adalah si penyasar yang handal pula. Setelah ditinggal pergi, aku harus menelan pil pahit kembali menjadi penyasar yang handal itu, tanpa GPS berjalan lagi.

Keanehan kedua: dia punya sense of service yang tinggi. Aku yang bossy, merasa sangat nyaman dengan keanehan dia yang satu ini. waktu kuliah dulu, uang jajan dia jauh lebih besar dibanding uang jajanku. Tapi faktanya, terlihat jelas aku yang boss, dia yang karyawan, haha.. Next, aku akan ceritakan ilustrasi nyata yang seringkali terjadi. Aku memang sering terserang penyakit bokek, tapi hasrat untuk nongkrong atau hang-out gitulahyaa tak pernah pandang bulu. Ketika hasrat itu muncul, pasti yang pertamakali menjadi korban ajakanku adalah dia, si rosna yang aneh. Dan hampir 89% ajakanku tidak pernah dia tolak. Kami pergi nongkrong, kami makan di tempat kuliner yang kadang ya lumayan mahal, dia yang bayar (baca: ngutangin), dia jg yang nyatetin bill, dia juga yang berperan jadi pengasuh selama kegiatan nongkrong berlangsung. Menurutku itu aneh. Peribahasa ‘ yang punya duit yang berkuasa’, nggk berlaku dalam persahabatan kami, haha.. #fakta

Keanehan ketiga. dia lebih muda dari aku, dua tahun lebih muda, tapi harus aku akui dia jauh lebih dewasa. Dalam banyak hal, aku selalu mengandalkan pendapatnya. Penuh pencerahan dan tertata apik penuh empati. Aku sangat ingat, dulu ketika kami masih sama-sama ngekos, hampir setiap minggu aku update cerita tentang kehidupan asmara yang penuh konflik. Gaya diplomatisku untuk membela diri tanpa disadari dibuat mati kutu oleh pandangan-pandangannya yang tidak menggurui, bernuansa pengertian, dan kerap kali membuat sensasi #jlebb. Tapi sampai tulisan ini dibuat, aku tak pernah mengakui ini. Ego ‘orangtua’ ku selalu tak mau kalah.

Keanehan keempat  dia: tragedi putus cinta. Entah sudah berapa episode cerita yang mirip telenovela aku muntahkan di telinganya. Tapi aneh tapi nyata, dia masih saja jadi pendengar yang baik sampai hari ini. Aku jarang peduli waktu (baca: pagi, siang, malam), dia sedang apa dan dimana, aku tak segan-segan memuntahkan cerita-cerita ber-genre apapun padanya. Cerita lawak, pandangan sosial-politik, kajian ilmiah, pribadi, karir, asmara, dan banyak lagi dia lahap tanpa ekspresi ‘bosan’. Dia selalu membuatku merasa jadi pendongeng paling menarik dan memesona di hadapannya. Dan dia selalu piawai menjadi pendengar yang baik. 

Friends, it’s such an miracle for me. Loe emang aneh!

Keanehan kelima, dia mirip ibu-ibu. Pernah di suatu hari ceritanya aku mengalami patah hati yang super duper dahsyat. Orang yang pertama kali aku hubungi saat itu ya siapa lagi kalau bukan dia. Harus aku akui waktu itu ceritaku tersendat-sendat, tidak seperti biasanya. Aku bercerita via telepon, karena dia sudah kembali ke rumahnya di Bogor. Aku benar-benar sakit hati waktu itu dan pengen banget ketemu langsung sebenernya. Tapi jarak yang cukup jauh tidak memungkinkan kami bertemu. Aneh tapi nyata (lagi), cerita singkat yang terbata-bata aku sampaikan malah membuatnya menangis. Tangisan yang dia tahan, pecah dan terdengar juga di telepon. Dia pun turut tersakiti, dia pun turut merasa dikhianati, begitu katanya. Dia memang aneh. Dia bahkan bisa merasakan sakitku, seperti ibu-ibu yang sadar kalau anaknya sedang tidak baik-baik meski tanpa bercerita panjang lebar.

Sebenernya masih banyak keanehan lainnya yang dia punya, tapi belum memungkinkan untuk diceritakan sekarang. Kata ‘aneh’ yang bisa jadi adalah  kata absurd yang mewakili kekagumanku pada si sahabat yang satu ini. Aneh karena kebaikannya luar biasa. Aneh karena banyak hal extraordinary yang dia punya. Aku hanya tak habis pikir, kebaikan apa yang sebenarnya pernah aku lakukan di masa lalu, hingga Tuhan menghadiahkan teman seistimewa dia. Terlepas dari sifat kekanak-kanakannya yang kadang muncul, itu masih manusiawi, dia banyak menunjukkan arti ketulusan menyayangi teman. Darinya aku banyak belajar. Terimakasih banyak, tetaplah menjadi si ‘aneh’ itu.

Dan mungkin sama anehnya dengan ide tulisan ini. Penting nggk penting, ini penting dooonk. Mungkin akan aku bacakan dengan bangga dan bernada sedikit konyol pada anak cucu nanti. 

Selasa, 20 November 2012

Bisakah kau jelaskan?


Dalam kisah ini kita sangat pandai bermonolog. Aku menjadi sering bercerita dan bercengkrama dengan diriku sendiri. Mencoba melupakan sosok yang pernah ada dan mampu memberiku ketenangan. 
 --
Dari pagi ke pagi aku berjanji untuk berhenti mencari dan menunggu sosok engkau. Tapi janji itu tak pernah bisa aku tepati. Aku dan segelas kopi masih saja setia pada harapan akan kedatanganmu. 
kau dengan lenggang khasmu sembari tersenyum.
menanti kembali saling bercerita tentang mimpi-mimpi kita. 
 --
Begitu juga dengan kau. Di istanamu, kau pun mungkin tengah menggemakan monolog. Yang entah kalimat apa saja yang tengah kau untai. Entah kisah apa yang tengah kau urai.

Kini, kita telah sama-sama menjauh dari titik temu. aku berjalan mundur, dan kau berjalan maju setelah berbalik memunggungiku. aku masih setia menatapmu berjalan menjauh.
--
Tahukah kau?
 --
aku begitu kacau setelah kau memutuskan untuk pergi. Meja kerjaku berantakan tak pernah rapi. Pekerjaanku? Semakin banyak aku harus merevisi pekerjaanku. Entahlah, konsentrasi menjadi hal tersulit untukku. 
 --
Debu yang sudah terlalu tebal di atas tv pun tak pernah aku peduli. Aku tak lagi lahap menyantap sarapan, makan siang, dan makan malamku. Kantung mataku semakin gelap, kau lihat itu kan? aku tak lagi suka mematut-matut diri di depan cermin. Aku tak peduli. 
Nyatanya aku memang tak peduli hal lain, selain ingin kau bisa kembali.  
Tapi apakah kau masih peduli? Aku tak tahu pasti. 
Yang aku tahu, kau tidak ada di sini, kau bahkan tak membantuku membalut kesakitan ini.
--
Aku yang berusaha untuk terlihat kuat, setidaknya di matamu. Nyatanya hanya sosok yang terlalu rapuh untuk sekedar berjalan perlahan. Kau hebat, kau memang yang terhebat. Aku tak begitu. aku terlalu, ah entahlah ini perasaan apa. 
Cinta? Bukan, ini lebih dari sekedar itu. 
--
Mungkin kau marah, mungkin kau benci, mungkin kau kecewa atas aku yang kalah. Marah sajalah, bencilah, dan kecewalah. Dengan atau tanpa kemarahan, kebencian, dan kekecewaanmu padaku yang begitu lemah, aku tetaplah perempuan yang  tak bisa menghindar dari memuja, menanti dan merindukanmu. 
Marah sajalah, bencilah, dan kecewalah! Nyatanya aku memang terlalu lemah.
--
Jendela yang dibasahi embun setiap pagi, begitu berusaha empati terhadap tatapan kosongku. Ia kerapkali memaksaku bercerita. Entahlah, aku tak tahu caranya. Aku bingung, bagaimana aku harus menjelaskannya. 

Bisakah kau jelaskan aku harus bagaimana? wahai orang hebat yang kupuja.


 (monolog di penghujung gelap, November 2012)

Kamis, 15 November 2012

lagi-lagi cinta

Cinta. Entah sudah berapa kalimat di dunia yang berusaha mendefinisikan satu kata itu. Kata klasik yang masih saja terlihat menarik, sampai hari ini. 
Pun aku, sudah berkali-kali menuliskan tentang cinta.
Semalam tadi, aku kembali tertarik untuk berpendapat tentang cinta. 

Kenapa cinta? Bagaimana cinta? Siapa itu cinta? Untuk apa cinta? Bisakah kita gantikan cinta dengan tai kucing atau sampah busuk? Oh tidak, itu terlalu kasar. Bagaimana kalau dengan roti, anggur, atau sebuah apel? Tidak pas juga. 

Sampai pagi, tak kutemukan diksi yang pas. Sampai pagi, tak bisa lagi kurangkai kalimat manis atau melankolik. Metakognisi ku tak lagi sepandai dulu dalam merumuskan jawaban atas pertanyaan, “apa itu cinta?” 

Ah sudahlah, semenjak patah hati.  Bagiku cinta hanyalah hal abstrak yang tak pernah pasti. Ia bisa menjadi apapun, datang dan pergi kapanpun, tak jelas warnanya. Jadi, tak usahlah terlalu berpikir tentang cinta. Ia kadang semakin rumit jika terlalu dipikirkan. 

Mungkin, kita harus sudah mulai sederhana dalam berpikir tentang cinta. Agar tak kembali larut dalam lintasannya yang entah berujung dimana, kapan, dan dengan siapa.

#sebuah epilog, 15-11-2012