Sabtu, 08 Juni 2013

Si Aneh Rosna Pentiaratih Supendi


Sampai hari ini aku masih saja aneh dengan manusia bernama Rosna Pentiaratih Supendi. Pun masih belum bisa menghentikan rasa syukurku memiliki teman seaneh dia. Kata ‘aneh’ aku pakai untuk menggambarkan dia bukan karena dia aneh. Aku sebut dia aneh karena dia punya banyak hal yang aneh tanda kutip, hehe..

Dia biasa dipanggil Oozh. Dia pernah menceritakan alasan mengapa dia dipanggil dengan nama itu, tapi aku lupa. Ya, inilah aku, pelupa. Berbeda dengan dia, dia nyaris tak bisa lupa sesepele apapun cerita yang pernah aku sampaikan. Aku berteman dengannya sejak tahun 2007, kami sama-sama mahasiswa baru di sebuah universitas negeri di Bandung. Tapi mulai menyandang status ‘sahabat’ sekitar pertengahan tahun 2008.

Kami berdua memang begitu dekat seperti anak kembar, meskipun secara fisik jauh berbeda. Aku si imut nun mungil juga manis, sedang dia berperawakan besar dan nampak tidak imut sama sekali, hehe.. tapi dia ‘aneh’ dan aku mungkin lebih aneh.

Ke-‘aneh’ an itu dia tunjukkan ke siapapun dan dimanapun. Tapi aku tak mau terlalu membahas keanehannya yang dia tunjukkan ke orang lain.

Ini dia beberapa keanehannya yang aku tangkap selama kami berteman...

Keanehan pertamanya, dia itu serupa GPS berjalan. Dia mudah mengingat rute jalan, jalur angkot, dan alamat. Dan aku adalah si penyasar yang handal pula. Setelah ditinggal pergi, aku harus menelan pil pahit kembali menjadi penyasar yang handal itu, tanpa GPS berjalan lagi.

Keanehan kedua: dia punya sense of service yang tinggi. Aku yang bossy, merasa sangat nyaman dengan keanehan dia yang satu ini. waktu kuliah dulu, uang jajan dia jauh lebih besar dibanding uang jajanku. Tapi faktanya, terlihat jelas aku yang boss, dia yang karyawan, haha.. Next, aku akan ceritakan ilustrasi nyata yang seringkali terjadi. Aku memang sering terserang penyakit bokek, tapi hasrat untuk nongkrong atau hang-out gitulahyaa tak pernah pandang bulu. Ketika hasrat itu muncul, pasti yang pertamakali menjadi korban ajakanku adalah dia, si rosna yang aneh. Dan hampir 89% ajakanku tidak pernah dia tolak. Kami pergi nongkrong, kami makan di tempat kuliner yang kadang ya lumayan mahal, dia yang bayar (baca: ngutangin), dia jg yang nyatetin bill, dia juga yang berperan jadi pengasuh selama kegiatan nongkrong berlangsung. Menurutku itu aneh. Peribahasa ‘ yang punya duit yang berkuasa’, nggk berlaku dalam persahabatan kami, haha.. #fakta

Keanehan ketiga. dia lebih muda dari aku, dua tahun lebih muda, tapi harus aku akui dia jauh lebih dewasa. Dalam banyak hal, aku selalu mengandalkan pendapatnya. Penuh pencerahan dan tertata apik penuh empati. Aku sangat ingat, dulu ketika kami masih sama-sama ngekos, hampir setiap minggu aku update cerita tentang kehidupan asmara yang penuh konflik. Gaya diplomatisku untuk membela diri tanpa disadari dibuat mati kutu oleh pandangan-pandangannya yang tidak menggurui, bernuansa pengertian, dan kerap kali membuat sensasi #jlebb. Tapi sampai tulisan ini dibuat, aku tak pernah mengakui ini. Ego ‘orangtua’ ku selalu tak mau kalah.

Keanehan keempat  dia: tragedi putus cinta. Entah sudah berapa episode cerita yang mirip telenovela aku muntahkan di telinganya. Tapi aneh tapi nyata, dia masih saja jadi pendengar yang baik sampai hari ini. Aku jarang peduli waktu (baca: pagi, siang, malam), dia sedang apa dan dimana, aku tak segan-segan memuntahkan cerita-cerita ber-genre apapun padanya. Cerita lawak, pandangan sosial-politik, kajian ilmiah, pribadi, karir, asmara, dan banyak lagi dia lahap tanpa ekspresi ‘bosan’. Dia selalu membuatku merasa jadi pendongeng paling menarik dan memesona di hadapannya. Dan dia selalu piawai menjadi pendengar yang baik. 

Friends, it’s such an miracle for me. Loe emang aneh!

Keanehan kelima, dia mirip ibu-ibu. Pernah di suatu hari ceritanya aku mengalami patah hati yang super duper dahsyat. Orang yang pertama kali aku hubungi saat itu ya siapa lagi kalau bukan dia. Harus aku akui waktu itu ceritaku tersendat-sendat, tidak seperti biasanya. Aku bercerita via telepon, karena dia sudah kembali ke rumahnya di Bogor. Aku benar-benar sakit hati waktu itu dan pengen banget ketemu langsung sebenernya. Tapi jarak yang cukup jauh tidak memungkinkan kami bertemu. Aneh tapi nyata (lagi), cerita singkat yang terbata-bata aku sampaikan malah membuatnya menangis. Tangisan yang dia tahan, pecah dan terdengar juga di telepon. Dia pun turut tersakiti, dia pun turut merasa dikhianati, begitu katanya. Dia memang aneh. Dia bahkan bisa merasakan sakitku, seperti ibu-ibu yang sadar kalau anaknya sedang tidak baik-baik meski tanpa bercerita panjang lebar.

Sebenernya masih banyak keanehan lainnya yang dia punya, tapi belum memungkinkan untuk diceritakan sekarang. Kata ‘aneh’ yang bisa jadi adalah  kata absurd yang mewakili kekagumanku pada si sahabat yang satu ini. Aneh karena kebaikannya luar biasa. Aneh karena banyak hal extraordinary yang dia punya. Aku hanya tak habis pikir, kebaikan apa yang sebenarnya pernah aku lakukan di masa lalu, hingga Tuhan menghadiahkan teman seistimewa dia. Terlepas dari sifat kekanak-kanakannya yang kadang muncul, itu masih manusiawi, dia banyak menunjukkan arti ketulusan menyayangi teman. Darinya aku banyak belajar. Terimakasih banyak, tetaplah menjadi si ‘aneh’ itu.

Dan mungkin sama anehnya dengan ide tulisan ini. Penting nggk penting, ini penting dooonk. Mungkin akan aku bacakan dengan bangga dan bernada sedikit konyol pada anak cucu nanti. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar