Tampilkan postingan dengan label jodoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jodoh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 April 2016

KUSEBUT IA: CINTA TANPA PENJELASAN


Sudah beberapa malam tidak bisa tidur nyenyak. Kepala terasa lebih crowded dari biasanya. Sayangnya ini bukan tentang pekerjaan kantor yang belum dan mungkin tidak akan pernah ada selesainya. Ini tentang hal lain, yang lebih rumit dan berhasil membuat jantung kembang kempis tak beraturan.
**
Entah apa yang direncanakan langit padaku yang sudah lupa bagaimana caranya membuka hati. Sejak gagal menjalani hubungan dengan Reno, rasanya hati ini kebal dari rasa tertarik apalagi naksir-naksiran. Tak perlu diingatkan lagi tentang usia, aku sepenuhnya sadar usiaku tidak muda lagi. Apalagi jika dibandingkan dengan anak kelas 2 SMP yang sekarang aku ajar setiap hari. Pertanyaan rekan kerja, teman sebaya, bahkan tetangga sudah tidak mempan membuatku depresi. Ya pertanyaan kapan menikah atau sekedar sudah punya calon belum.
Reno dan sebuket sakit hati yang ia bawa tempo hari membuatku resisten dari hasrat memenuhi keinginan para kepo-ers itu. Keinginan untuk menikah pun nyaris tenggelam bersama bangkai-bangkai serangga yang usianya hanya 24 jam itu. Tenggelam berkali-kali, nyaris tak bisa kembali.
**
Sudah hampir tiga tahun aku mengadu nasib menjadi pengajar di sekolah milik salah satu perusahaan perkebunan di Sumatera.  Bukan tempat yang popular apalagi favorit. Kalau bukan karena nominal gaji dan fasilitas yang layak, tidak akan ada yang mau bekerja dan menghabiskan kesehariannya di tengah kebun sawit yang luasnya berhektar-hektar. Jalan raya saja bisa ditempuh setelah melalui perjalanan 20 menit. Jalan bukan menggunakan trotoar atau semen, seluruh jalan di dalam perkebunan terbuat dari pasir dan batu. Untuk yang pertamakali menempuh medan jalan pasir batu ini akan merasa seperti naik bemo atau bajay yang sudah uzur, membuat bergetar sekujur badan, dan pegal linu setelahnya. Tapi bagiku – dan siapapun, yang sudah terbiasa ini bukan hal istimewa lagi.
Mimpi menyekolahkan adik dan membantu orang tua, dan sepotong hati yang tak kembali, yang membuatku sampai dan bertahan disini. Terbiasa membuat banyak alasan untuk tetap tertawa, sesekali menertawakan diri sendiri.
Sudah hampir tiga tahun juga rasa sakit itu tenggelam, selama itu juga pintu hati ini tak pernah bisa terbuka lagi. Ya, satu nama dengan sakit hati yang dalam. Entah apa yang membuatnya terlalu dalam.
**
Hampir setiap malam kala pekerjaan harian sudah rampung, aku mengakses internet, sekedar untuk mengupdate status FB– yang sebenarnya tidak terlalu penting, mengomentari status teman, mengupload foto di instagram, dan mengintip akun-akun orang lain. Hiburan yang kadang berujung penderitaan. Mulai dari menertawakan status-status alay; me-like foto-foto bayi teman, pernikahan teman, dan momen yang membahagiakan; mengutuk status rasis  yang orang-orang posting. Hampir selalu diakhiri dengan keluh kesah terselubung, mereka udah punya bayi aja gue nya masih terdampar di tengah kebun. Destinasi selanjutnya tidak lain tidak bukan adalah exit dari semua aplikasi – tidur – bangun – melakukan rutinitas.

Tapi malam itu berbeda. Ada pesan pribadi di massanger FB yang membuatku cukup kaget.

“Apa kabar?”

Kalimat biasa, hanya apa kabar. Pertanyaan lumrah yang diberikan oleh seseorang kepada orang lainnya yang sudah lama tidak ditemui, bukan? Kaget bukan pesannya, tapi pengirimnya.

Alhamdulillah baik. Kak Rai gmn kbrnya?

Rai adalah senior di kampus dulu. Bukan sembarang senior, dia idola. Banyak wanita yang mengaku fansnya. Aktifis yang tidak hanya ganteng, tapi juga kharismatik. IPK yang cumlaude saat dia lulus membuat para fansnya semakin meleleh. Aku mengenalnya hanya sekilas. Karena aku bukan aktifis sekaliber dia. Kenal dia pun karena kami pernah satu kelompok ketika jurusan mengirimkan delegasi untuk lomba karya tulis ilmiah  tingkat universitas. Ya, kami menang Juara 2 waktu itu. Itu sebabnya aku punya foto bareng dia, ketika wakil rektor menyerahkan hadiah. Foto pertama dan terakhir. Foto berjas almamater berwajah lusuh. Bukan foto alay apalagi mesra sambil melet-melet. Foto yang sampai sekarang aku simpan. Betul, aku salah satu fansnya, kala itu. 

Pertanyaan apa kabar berlanjut menjadi obrolan santai yang seru, setiap hari. Aku lupa sensasi iri ketika melihat foto-foto pernikahan atau bayi teman-teman. Aku tidak lagi manyun merengut sebelum tidur. Percakapan berlanjut melalui BBM. Bukan hanya malam hari, pagi dan siang hari pun kami rajin mengobrol. Sekedar menanyakan sudah makan atau belum, saling mengomentari status BBM, dan menutup malam dengan kalimat selamat tidur. Ya, rutinitas yang lebih menyenangkan.
**
Rai tidak banyak berubah. Ia tetap sang idola. Dia melanjutkan pendidikan sembari menjadi asisten dosen di kampus kami dulu. Entah apa yang membuatnya mengirimkanku pesan apa kabar dan berlanjut dengan komunikasi yang lebih intens. Dia belum punya istri, entah tentang pacar. Enggan aku menanyakannya. Mungkin lebih tepatnya, aku belum siap dengan jawaban terburuk semisal ‘ya, aku sudah punya pacar’. Aku melarang diri berharap terlalu dalam pada Rai. Tapi aku pun rajin memupuk rasa ini. Sesekali merasa ingin memperjelas kedekatan. Tapi lagi lagi takut dengan kenyataan yang mungkin tidak akan sesuai harapan. Dan tetap aku rajin memupuk rasa. Memberikan perhatian, menerjemahkan perhatiannya.

Sampai pada malam itu, percakapan aneh di BBM.

Aku sekarang rajin berdoa
Emang dulu nggk?
Yang sekarang doanya beda
Apaan emang kak? #kepogila
Itu rahasia.
Ih nyebelin. Ngasih tau setengah-setengah.
Mending jangan sekalian. T.T
Kakak takut kamu semaput kalau tahu.
Hahaha.. will never lah kak. I’m ready to keep standing. :D
Belum waktunya. Kakak ngajar dulu ya. Sampai jumpa, dek.
Yee. Nyebelin maksimal ah.

Kalimat-kalimat Rai berhasil membuatku GR.  Aku tak bisa mengontrol translator di otak yang menyatakan bahwa Rai menyayangiku. Padahal logikaku jelas-jelas berteriak kalau tidak ada pernyataan selugas itu dalam kalimat Rai. Alhasil setiap malam aku dikuasai rasa penasaran. Rasa penasaran yang diperparah dengan Rai yang tidak menghubungiku selama tiga hari terakhir.

Selamat pagi kak.
Udah siang ni, selamat lunch kak Rai.

Itu sepotong kalimat BBM tak berbalas. Berulang aku kirim. Di ujung kiri kalimat hanya ada huruf D dilingkari warna biru, belum jua berubah jadi R. Ya, artinya pesan belum dibaca oleh penerima pesan di seberang sana. Entah apa alasannya. Kalau HP nya hilang, bukankah dia bisa mengakses internet lalu menghubungiku via FB? Tanpa sadar, aku telah tumbuh menjadi gadis posesif. Aku kehilangan rutinitas. Produktifitas kerja pun turut terancam. Khawatir, cemas, dan curiga bercampur satu. Semua tentang Rai. Bisa jadi aku beri judul drama setiap malam ini dengan Rais insomnia.

Insomnia yang mendorong jari jemari untuk stalking akun FB kak Rai. Dari FB nya aku menemukan banyak cerita yang belum aku tahu tentang kak Rai. Ternyata ibunya meninggal beberapa bulan lalu, adiknya kuliah di Malaysia, ia juga mengajar anak kurang mampu, dan ada akun perempuan yang sering sekali muncul komentarnya di postingan kak Rai. Informasi terakhir membuat rasa yang aneh, ya namanya cemburu. Eh tapi bukankah aku dan kak Rai hanya teman, kenapa harus cemburu?   

Tangan otomatis mengklik akun perempuan itu, semakin porak poranda rasanya karena tanpa diperintah otak menyatakan perempuan ini sangat cantik, islami, dan melihat profilnya dia melanjutkan S2 di kampus ternama. Telak aku kalah pamor. Dan yang lebih menyempurnakan kekacauan hati malam itu, banyak juga kutemui postingan kak Rai di beranda wanita ini. Sound system di otakku sibuk komat kamit : Oke fix, aku harus mundur. Aku harus membuat batasan. Kak Rai bukan kelasku. Kak Rai tak mungkin menyukaiku apalagi sayang. Bye maksimal Kak Rai.
Komat kamit yang useless, karena nyatanya Kak Rai memang tidak ada kabar sudah berhari-hari, mencipta jarak lebih dulu. Membuat batasan lebih awal.

**
Genap seminggu sejak peristiwa stalking malam itu. Usahaku membunuh harapan dan menutup kembali pintu hati sedikit berhasil. Hanya sedikit, nyatanya sampai hari ini masih saja berharap ada pesan meskipun sesederhana apa kabar dari Rai.

Cinta, serumit itu kah rupamu dalam hidupku?
Harus dengan bahasa apa ku menerjemahkannya.Nyatanya, aku tak bisa untuk merindu.

Kalimat yang kutulis di kertas buram, sembari mengawasi muridku ulangan harian. Coretan melas yang menunjukkan betapa lebaynya seorang guru. 

Tanpa sepenuhnya disadari, aku memotret tulisan itu, mengedit dengan gaya vintage, dan mempostingnya di BBM. Tersadar setelah sampai di rumah, notifikasi bbm lebih banyak dari biasanya. Sebagian besar mengomentari foto profil yang kupajang, foto tulisan-tulisan curhat. Puitis tapi memalukan. Aku tidak terbiasa mengumbar hal semellow ini di sosial media. Otomotis hal ini mengundang teman-teman meledek habis-habisan. Ada yang hanya mengirimkan emoticon melet alias menjulurkan lidah yang berarti mengejek, ada yang mengirimkan kata ‘ciye ciyee’, ada yang membalas dengan puisi dengan nada yang juga meledek, sampai ada yang menanggapi dengan serius- mengirimkan pesan motivasi beraura Mario Teguh.

Aku pun turut menertawakan diri sendiri. Senyam senyum malu ketika mengetik bbm balasan untuk mereka. Chit-chat yang membuat badan terjebak bak menempel di atas tempat tidur berjamjam menggunakan seragam ngajar. Sampai teman serumah [dinas] memanggil-manggil dari luar, mengingatkan jadwal piket memasak.

HP kugeletakkan seenaknya, merespon panggilan sembari mengganti baju. Terburu-buru menuju dapur dan memasak.
**
Sekembalinya ke kamar, seperti biasa HP adalah benda pertama yang disentuh. Entah sejak kapan kebiasaan ini ada, era digital katanya, hal pertama dan utama bukan lagi sembako tapi gadget dan signal.

Aplikasi bbm yang pertama dibuka. Scrol atas bawah dengan cepat digerakkan jempol tangan kanan. Obrolan seru ledek meledek masih berlanjut. Dan terputus oleh panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Tidak berniat menjawab, alasannya simple: malas berhubungan dengan perusahaan asuransi yang sudah sering gonta-ganti nomor HP. Niat mengabaikan terkalahkan oleh rasa terganggu, berulang kali nomor tersebut menghubungi. Akhirnya aku mengalah, mengangkat teleponnya.

Hallo.
Hallo dek. Sedang sibuk?

Suara yang sama sekali tidak asing. Kak Rai. Aku langsung berusaha menguasai diri, komat kamit dalam hati: santai, jangan keliatan seneng, biasa-biasa saja. Dan berhasil untuk sekedar pura-pura biasa.

Eh kak Rai. Iya ni, aku lagi nyiapin materi untuk ngajar besok. Kenapa kak?
Sekarang saya ada di depan rumah.
Ah becandanya jangan kebangetan kak. Nggak mungkin lah.
Sekarang saya sedang berusaha mewujudkan do’a saya.
Kak Rai apa maksudnya? Jangan ngebuat aku bingung deh.
Aku hanya ingin minta doa agar usahaku lancar. Sekarang aku sedang di rumahmu dek.

Aku pun keluar kamar dengan buru-buru karena mendengar Rai yang meyakinkan bahwa dia ada di rumah [dinas]. Bodoh saja aku sudah percaya, dia tidak disana. Mana mungkin dia bisa tiba-tiba ada di dalam kebun. Apalagi malam hari begini. Rasa kesal membuat aku langsung menutup teleponnya. 
Dengan cepat mengetik SMS,

“jangan suka main-main sama perasaan perempuan. Saya bukan mainan.”
Rasanya ingin marah, menangis, dan teriak sekencang-kencangnya. Merasa sangat dipermainkan. Sudah berhari-hari tidak ada kabar. Sekalinya ditelepon hanya untuk dipermainkan seperti ini, siapa yang tak geram- pikirku.

Sepersekian detik dari terkirimnya SMS, ada telepon dari ibu. Aku tidak langsung mengangkat teleponnya, karena takut ketahuan ibu kalau aku sedang sedih kesal atau apalah namanya. Berusaha menguasai diri, bahkan terpikir untuk mengabaikannya. Tapi ibu pun tidak seperti biasanya, dering telepon tak juga berhenti, mendesak minta diangkat. Terpaksa segera diangkat sembari berusaha setenang mungkin.

Assalamu’alaikum Bu.
Kok lama sekali diangkatnya, nduk?
Maaf bu, ini tadi sedang di luar. Ada apa ibu tumben teleponnya tidak sabaran begitu?
Ini, nak Rai datang ke rumah. sekarang lagi ngobrol sama ayah dan ibu. Kamu kenal dengan nak Rai?
Iya, kenal.

Terbata-bata menjawab, percaya tak percaya dengan kalimat yang baru saja ibu katakan. Apa maksud semuanya.

Nduk? Nduk?

Ibu memanggil-manggil di ujung sana, mungkin karena aku nyaris tak bersuara, - karena shock masih tak percaya.

Oh iya bu, iya aku kenal. Ada apa Kak Rai kesitu bu? Ada masalah apa tho?
Katanya nak Rai mendapat beasiswa ke Amerika. Mau berangkat enam bulan lagi.
Terus apa hubungannya sama ibu tho?
Ibu belum selesai ceritane nduk. Ya mbok didengerin dulu sampai selesai.
Nggih, monggo. Maaf bu.
Nak Rai datang kesini ingin meminta izin ibu sama bapak.
Lha kenapa minta izinnya sama ibu bapak tho?
Ibu belom selesai nduk.

Suara ibu meninggi, geram tidak suka kalimatnya dipotong oleh anaknya yang dikuasai penasaran.

Iya aku heran soale bu, monggo. Maaf.
Kamu udah ndak sabaran ae. Iku Nak Rai kesini melamar kamu jadi istrinya dan minta izin untuk membawamu ikut ke opo ke Amerika nemenin sekolah di sana. Ibu ndak bisa memutuskan, kalau kamu setuju yo kami setuju ae. Gimana?
Opo bu? Maksudnya kak Rai melamarku gitu toh bu?
Iya nduk. Ibu harus jawab apa ini.
Menurut ibu bagaimana?
Ibu bapak terserah kamu nduk. Tapi perasaan ibu mengatakan kalau nak Rai ini anaknya baik. Tapi kan kamu lebih kenal daripada ibu bapak

Sejenak aku menatap langit. Tak percaya. Apa maksud Tuhan atas semua ini. Sembari terbata-bata, menahan tangis. Aku berusaha menjawab.
"I i iya bu. Laila mau terima. Insyaallah Laila bersedia. Asal ibu dan bapak merestui.
**
Teman serumahku, Irma dan Yani sudah mematung di depan pintu. Dari tadi menyaksikan keanehan temannya: mulai dari keluar kamar mendadak, komat kamit sambil mengetik SMS, dan berwajah geram serupa Hulk yang siap berubah warna. Sampai menonton adegan dramatis loncat loncat sembari bilang ‘alhamdulillah’ seusai menutup telepon ibu.

Aku berusaha menguasai diri. Ketika mereka bertanya aku kenapa. aku hanya menjawab, 
“aku menang undian chiki ball. Besok kalian aku traktir.”

Teman-teman semakin nyinyir, bingung dengan kelakuanku.
Setibanya di kamar, otomatis aku melakukan adegan salah tingkah. Berbaring di tempat tidur sembari senyam senyum. Adegan yang kemudian terpotong oleh notifikasi BBM - dari Rai,
“doa itu adalah semoga adek ikhlas untuk mendampingi hidup kak Rai sampai maut menjemput. Terima kasih sudah membuatnya terwujud.”
**
Sajak kertas buram kurevisi. Kali ini di atas sebuah kertas lipat berwarna pink.

Begitu cantik rupa cinta,
Kala kau menyapa.

Aku bahagia, melebihi bahagianya gadis cilik yang diberi permen gratis. Tak bisa selesai bahagia, bermalam-malam. Ah, cinta. Sepotong hati kini purnama.


- yulinurmalasari (2015)







Jumat, 18 Juli 2014

#LDR - an ? Siapa takut? Saya!!

Cerita tentang LDR yang lumayan ngobrak ngabrik ketenangan jiwa. Banyak pelajaran yang bisa diambil lho. Kyaknya, hehe...

Jadi begini. Tulisan ringan kali ini mau ngomongin tentang kisa saya dengan suami bergenre #LDR alias Long Distance Relationship. Fiuh!

Saya dan suami ketemuan di forum rapat salah satu organisasi jurusan tingkat nasional gitu. Jadi peserta forumnya biasanya universitas lintas provinsi, lintas pulau, lintas jiwa juga, ciyeee.....

Episode pertama, kami temen biasa. Profesional aja gitu ya. But #FYI dia panitia yang jemput saya dan kakak tingkat di Terminal Kota Malang. Tahun 2008 kejadiannya.

Episode kedua, si suami PDKT pas kami sama-sama jadi steering committee untuk acara di Jember. Tahun 2010 kejadiannya. Jadi kemana ajjeee mas selama 2 tahun baru PDKT-an ?? Hehehe...

Episode ketiga, kami jadian via telepon. Tahun 2010 kejadiannya, tepatnya di bulan #Oktober. Kami resmi #LDR-an. Ehm! Pasang status "in a relationship with" gitu di facebook. Masa masa alay gitu deh ya. Hihi..
*banyak fans kecewa kala itu hahahaha..

Episode keempat, putus via telepon di bulan Desember 2010. It means kami jadian dan kami putus via telepon tok! Cuman 3 bln dah itu status "in a relationship with" dipajang. #FYI waktu itu saya minta putus gara-gara dia nggk telepon saya seharian di hari saya akan seminar proposal skripsi. Niat bercanda minta putus untuk gretak sambel doank, eh dianya malah setuju putus. Jlebbbb nya emejiiiinggg gan/sist! Wkwkwk
*fans yang kecewa ngetawain kyaknya. Duh. Pedih.

Episode kelima, kami berteman. Meski masih ada perasaan #ngarep #malesbalikan #salingmodus. Di tahun 2011 dia ke Bandung menghadiri acara LPJ-an saya. Profesional reason ceritanya. Dan di tahun yang sama saya ke Malang (lagi) untuk liburan ke Bromo juga wktu itu. Yaa... banyak modus lah. Hehe.. episode ini seru. Kami akhirnya larut dalam pertemanan yang juga sebagian besar dijalani #LDR. Dia partner diskusi dan becanda yang super duper seru. Nyambung lah ya kalo kata orang-orang mah. Hihiiww..
Di episode ini juga ada pengakuan kalau dia nggk punya pacar setelah putus di bulan desember lalu. Wow!!! Katanya sih gara-gara nggk minat pacaran. Tapi sampai sekarang masih agak nggk percaya jg hahahhaha... sorry honey :*
Kalau saya? Ya menyeleksi beberapa lah dan gagal. Haha...
Intinya temenan lah gitu. Best friend hehe..

Episode keenam, dia sms saya kalau dia udah kerja dan ganti nomor. Ya sms-an chitchat gitu deh. Si saya lagi galau putus cinta. Dia datang di waktu yang tepat gitu deh. Wkwk...
Lucunya. #Oktober dia bilang mau serius sama saya. Nggk mau pacaran nggl jelas. agak trauma sih karena harus #LDR an lagi. Riau - Bandung. Beda pulau. Hmfhh... akhirnya memutuskan untuk "istikharah" lah. Nyebelinnya dia tdk melakukan hal yang sama. Shalat sunah yang diamalkan di Riau sana malahan shalat hajat. "Udah yakin" katanya. Ah, tersanjung 8 lah rasanya. Wkwkwk.

Tapi saya tetap harus istikharah, karena laki-laki jangan dulu dipercaya kalo belom akad nikah. Entah beneran religius atau kapok digombalin. Haha..
Alhamdulillah, hati rasanya yakin dan mantap. Akhirnya saya said Yes! LDR-an lagi mameeeeeeeeen. Argh!

Episode keenam ini cukup unik. Januari dia ke bandung. Kami menghadiri pernikahan teman. Di acara itu orang tuanya juga hadir. Dan menanyakan keseriusan saya. Aneh ya? Kok perempuan yang ditanya serius apa nggk, haha...but no problem. Intinya, saya yang masih semester 2 untuk studi S2 cukup shock. Nggk kepikiran nikah sebelum lulus mammmmm. Tapi etapiii No reason to ignore the good will of the question.
And then, #LDR an lagi.

Agustus 2013 pas lebaran dia dan keluarga datang melamar. Jarang ketemu, tiba-tiba lamaran. Dan setelah itu? #LDR an lagi.

Pertemuan selanjutnya: kami menikah di bulan Januari 2014.

Alhamdulillah episode keenam ini ditutup dengan pernikahan. Unbelievable. But awesome feelings!!!

Selamat datang episode ketujuh.

Episode ketujuh, saya yang masih harus menyelesaikan Tesis harus kembali ke Kota Kembang 2 minggu setelah pernikahan. Episode dengan #LDR paling bikin jlebbbb! Rasanya beda. Kangennya pooollll. Pedihnya aduh. Lebay ya? Hehe...

Pelajaran pertama: jangan #LDRan kalau nggk kuat. Haha..

Ya.. gitu deh. Segitu dulu ya.
To be continue....... :)

Salam #LDR.



Senin, 10 Februari 2014

Secarik Surat Cinta

Hai sayang, assalamu’alaikuum...

Hmm...
Sayang, terima kasih banyak sudah membawa cerita cinta kita sampai ke pernikahan. Tanpa keseriusan dan keberanian kamu sebagai lelaki yang mengaku cinta sama aku, tak mungkin ada pernikahan ini, tak mungkin ada akad nikah yang kita lewati tadi.

Aku – resmi jadi istri kamu sekarang. Istri sayang, bukan lagi pacar, kekasih, apalagi sekedar gebetan.
Aku perempuan yang mulai dari sekarang adalah makmum kamu tidak hanya ketika shalat, tapi ketika menjalani keseluruhan hidupnya. Perempuan yang menjadi tanggungjawab kamu tidak hanya di dunia, tapi juga kelak di akhirat. Perempuan yang sejatinya adalah pelayan kehidupanmu.

Perempuan yang menggadaikan seluruh dirinya untuk menjalani kehidupannya sama kamu. Perempuan yang akan selalu berusaha menjadi kepulangan ternyaman dan terindah. Perempuan yang akan selalu berusaha menjadi penenang kala kamu resah, penyelamat syahwatmu, ratu tersantun di ruang tamu, pembantu terbaik di dapur, dan pel*cur terliar ketika di kamar.
Perempuan yang insyaallah akan menjadi ibu untuk keturunanmu, menjadi madrasah pertama bagi mereka. Perempuan yang akan selalu berusaha tampil baik, cantik, dan menarik di hadapan kamu sayang.
Perempuan yang patuh dan taat dalam perintahmu, selama perintahmu itu tak melanggar syari’at Agama Allah. Perempuan yang mengerahkan seluruh kemampuannya untuk dapat menjadi istri yang shaliha.  Ya, itulah aku sekarang sayang.
Dengan penuh keyakinan aku memilih jalan ini, menjalani sisa hidupku untuk mendampingimu. Memilihmu untuk menjadi pemimpin jiwa di kehidupan ini.

Kamu – Suamiku sekarang. Ya, nama yang akan pertamakali kuingat kala aku berada jauh dari rumah. Seseorang yang menjadi imamku. Seseorang yang mulai hari ini menafkahi lahir dan batinku. Lelaki yang akan kulihat berlelah-lelah membela kebahagiaan keluarganya. Orang yang pertamakali akan kuhubungi ketika kutemui masa-masa senang dan sulit.

Orang yang pertamakali aku minta perlindungannya ketika aku merasa tidak aman. Orang terhebat dan terkuat. Lelaki yang tak sungkan merawatku ketika aku sakit. Lelaki yang akan kulihat sebagai sosok yang tak pernah berhenti menjaga dan menyayangi aku dan anak-anaknya kelak.
Lelaki yang insyaallah menjadi ayah dari anak-anak yang kulahirkan. Lelaki yang akan menjadi panutan bagi kami para makmumnya. Lelaki berani yang tak pernah mundur membela kebahagiaan anak dan istrinya. Lelaki setia penyayang keluarga. Lelaki yang akan menentukan surga atau neraka bagi keluarganya.
 Lelaki yang tak segan memarahiku kala ku langgar perintah agama Allah. Lelaki yang tak akan bisa tidur nyenyak sebelum tuntas tanggungjawabnya.
Lelaki yang berani menukar kesenangan pribadinya dengan tanggungjawab mulia di hadapan Allah. Kamu sayang, lelaki yang tidak hanya menyayangi, tapi juga yang akan menjamin kehidupan dunia dan akhirat keluarga kita.

Sayang, sudah cukup lama kita saling kenal. Banyak tema sudah kita bicarakan dan diskusikan. Tapi, sadarilah sayang, 
aku dan kamu hanyalah manusia biasa. Manusia yang sudah pasti miliki kekurangan dibalik segala kelebihan yang Allah anugerahkan. Terimalah aku dengan segala keterbatasanku, pun aku akan selalu belajar untuk tidak enggan menerima segala kekurangan kamu – suamiku.

Tentang cinta, kita sudah sering bahasakan. Sudah hampir selalu kita ungkapkan satusama lain. ya, kita memulai semuanya dengan cinta. Dan kita sama-sama akan menjalaninya dengan penuh cinta. Tentang pertengkaran, kita pun tak kalah hebat. Kita sudah ahli bertengkar. Saling membenturkan ego masing-masing. Tidak jarang aku yang terlalu egois. Pun kamu pernah menjadi sosok yang tak mau kalah. Tapi kita kembali untuk cinta itu.

Tentang mimpi, banyak mimpi-mimpi besar yang kita punya. Baik sebelum maupun setelah kita bersama. Sayang, aku ingin menjadi katalisator untuk mimpi-mimpi itu. Dengan penuh keyakinan aku berdoa dan melakukan sesuatu yang kubisa untuk mewujudkan setiap mimpi kita. Aku melakukan semua itu, karena kamu pun nampak melakukan hal yang sama. Keluarga kecil yang ceria-bahagia, backpacking keliling Indonesia, mengasuh anak-anak, punya yayasan pendidikan, lembaga beasiswa, bisnis, sekolah ke luar negeri, liburan keliling dunia, makan di restoran rilakuma di Jepang,  menaikhajikan orang tua kita, umroh bareng, dan banyaak lagi... kamu membuatku tidak segan mengungkapkan semua mimpi-mimpi itu. Thanks for that, honey. I know that you have been trying so hard to be comforted at this way.. hehe..  (Peluklah mimpi-mimpi kami dengan pengabulan terbaik ya allah.. amiin ya jabbaaru ya rahmaan rahiim...)

Tentang kita, ya. Tentang kita benar-benar dimulai sejak penghulu menyatakan kita SAH jadi suami dan istri. Sayang, jadikan aku yang tercantik yaa. Jangan ada wanita yang lebih cantik dari aku lho. Tetap  manjakan aku seperti saat kita pacaran dulu, itu akan jadi pupuk kekuatan cinta kitaa.. Jangan buat aku terlalu sering cemburu. Kalau aku udah lulus terus kita hidup bareng, nanti kita lanjut pacaran episode 3 yaa..
Aku sayang kamu dengan seluruh jiwaku. Dan aku tahu kalo kamu juga pasti sayang sama aku kaaaan?
Hehe...

Selamat menempuh hidup baru sayang ya. Mari kita buat catatan sejarah terindah.




Menikah dan Pernikahan

Pernikahan. Sebuah kata yang sangat tidak asing di masyarakat kita. Tak perlulah rasanya kita membahas definisi pernikahan menurut KBBI, UU Pernikahan, atau landasar teoritik lainnya, karena yang ingin aku bahas adalah tentang sebuah persepsi pribadi. Persepsi yang bisa juga kusebut sebuah refleksi pengantin baru, hehe...

**

Di tulisanku beberapa hari lalu aku menuliskan campur aduknya perasaan setelah berstatus sebagai istri. Mungkin tulisan yang judulnya "to be a good wife" itu serada aneh, ya memang begitulah adanya.. :))
Pernikahan yang hari ini berusia satu bulan lima hari menggiringku pada sebuah perenungan tentang pernikahan. dan betapa ingin aku berbagi. jeng jeng jeng jeeeeng... semoga ada sedikit manfaat di tulisan ini. yuk cekidot!

**

#0 Awalnya aku takut menikah....

Ya, sebelumnya aku termasuk perempuan yang begitu takut menikah karena fenomena perceraian. Perceraian orang tua dan beberapa saudara-saudaraku memberikan gambaran kelam tentang pernikahan. Diperkuat lagi dengan banyak kasus perceraian yang dipublikasikan di tv-tv nasional kita.
'Ketika pacaran seolah takkan pernah putus, ketika menikah mengapa sebegitu mudah memutuskan bercerai?' kurang lebih itu pertanyaan yang seringkali muncul. Di infotainment banyak artis yang mengungkap statement cliche, semisal: "kami sudah tidak ada kecocokan lagi"; "terdapat perbedaan prinsip" dan bla bla bla. ungkapan-ungkapan pembenaran. 

Ketakutan inilah  yang mendorongku untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang pernikahan. jujur saja, aku tertarik dengan tema 'pernikahan' sejak usia 21 tahun. referensi agama, psikologi pernikahan, referensi sosial, dan banyak lagi campur aduk di otakku, ada yang melemahkan juga menguatkan ketakutan yang kurasakan. dulu aku sering sok tahu menganalisis bahwa penyebab perceraian itu bisa jadi gara-gara: laki-laki dan wanita memang kurang mampu menampilkan diri yang apa adanya, jadi pas nikah ya shock satu sama lain, menolak untuk mengerti, apalagi menerima. Selain itu bisa juga gara-gara perjodohan, atau mungkin gara-gara ada cinta pelarian di salah satu pihak, dan banyak analisis lain yang kebanyakan ‘ngawur’ hehe.. maklum modal sok tahu thok.

Tapi ada satu hal yang menjadi sebuah keyakinan, setidaknya sampai aku memutuskan untuk berani menikah. Satu hal itu adalah kegagalan rumah tangga akan terjadi ketika tidak ada pemimpin yang baik. Aku sudah memandang pernikahan bak sebuah organisasi yang akan kacau ketika pimpinannya tidak tahu arah, tidak mengerti SOP berorganisasi, mudah goyah, mudah patah. Lebih parah lagi ketika pemimpin dihadapkan pada anggota yang jauh lebih kuat. Ya, mungkin itu analisis yang paling aku anggap benar. Keyakinan ini yang akhirnya mempengaruhi caraku mencari pasangan hidup.
#1 Pasangan Hidup
Pasangan hidup, seringkali disebut istri dan suami. Ini adalah point pertama yang super duper penting dalam sebuah pernikahan. Dalam Islam, mempelai pria & wanita juga diposisikan sebagai rukun nikah, atau sesuatu yang membatalkan pernikahan kalau tidak dipenuhi. Ya iyalaaah.. kalo nggk ada salah satu ya gimana ceritanye? *LOL*
Ada beberapa kriteria yang aku tetapkan. Bukan dalam rangka ‘sok-pilih-pilih’. Aku hanya melakukan tindakan preventif alias pencegahan terhadap potensi kekisruhan rumah tangga. Kriterianya: laki-laki normal, berjiwa kepemimpinan, bertanggung jawab, dan tidak merokok. Nggk aneh-aneh kan? Ya, selebihnya kalo boleh aku ingin laki-laki yang humoris, ngobrolnya nyambung, ganteng juga gak apa-apa. Masalah kaya miskin aku bukan tipe yang tergiur dengan itu, karena dolar bisa kita cari bareng-bareng setelah nikah. Percaya atau nggk, kriteria ini sudah aku tetapkan sedari SMA kelas 2, long long time ago bukan?!
Kriteria ini yang secara tidak sadar mengarahkan sikapku pada setiap laki-laki yang ‘mendekati’. Alhamdulillah, sepanjang sejarah aku tidak pernah punya pacar yang merokok, meskipun sebagian besar mantanku yang yaaa berjiwa keanggotaan bukaan kepemimpinan, haha.. #jokes!
Pencarian panjang akhirnya dijawab Allah dengan pertemuan jodoh dengan teman baikku. I married my best friend, gitulah kira-kira. Segala puji bagi Allah, yang memberiku pasangan hidup yang lebih dari ekspektasiku. Suamiku memenuhi kriteria yang aku tetapkan: laki-laki normal, berjiwa kepemimpinan, bertanggung jawab, dan tidak merokok. Plus bonusnya banyaaaaaak.. 
Kenapa harus ada kriteria? Jelas harus! Karena pasangan hidup adalah partner kita melewati apapun yang terjadi dalam hidup kita, seumur hidup! Bukan seminggu, sebulan, setahun, atau sewindu thok. Seumur hidup! 
we are married for life.

#2 Niat – fix ur will!
Niat menikah akan melemahkan atau menguatkan pernikahan itu sendiri. Kalau niat menikah untuk memenuhi tuntutan sosial, maka pernikahan akan dipelihara selama sosial menuntut begitu. Hambar mungkin rasanya. Ketika niat menikah gara-gara takut kehilangan pacar yang cantik/gantengnya minta ampun, maka pernikahan akan menjadi sebuah keposesifan belaka. Ketika niat menikah adalah karena terlanjur tua, maka penghargaan terhadap pernikahan itu pun menjadi sangat sepele. Dan niat-niat lain.

Banyak pasangan yang menikah dengan niat membangun romantisme tiada berujung. Kalau sudah menikah kan enak, mesra-mesraan jadi halal, manggil umi-abi, suap-suapan, sun tangan pas suami kerja, dan adegan-adegan manis lainnya. Setelah menikah, ternyata tidak semua adegan semanis itu bukan? Jawabanku: iya. Ketika niat kita tidak tepat, maka hanya akan ada frustrasi ketika harus menjalani adegan-adegan pernikahan yang di luar ekspektasi. Muncullah pertanyaan-pertanyaan semisal: kok dia beda ya? Kok suamiku nggk romantis ya? Eh kok dia nggk nyuapin aku lagi sih? Ooooh come on, it’s reality. Banyak agenda penting lainnya dalam pernikahan ini guys.

Bukan sentimentil apalagi dilarang membayangkan yang indah-indah tentang pernikahan. Yang ingin aku bagi disini adalah kesadaran akan kompleksitas kehidupan pernikahan. Banyak yang akhirnya lemah karena hanya terfokus pada indah-indahnya. Shock ketika suami gajinya minus, menyesal ketika ternyata suaminya tidak seromantis yang diharapkan.

Pernikahan itu indah. Indah bukan kepalang. Aku pun merasakannya. Banyak yang bilang, menikahlah biar banyak rejeki. Itu jelas haditsnya. Ada lagi yang bilang, menikah itu menyatukan dua sumber rejeki lho. Nambah keluarga. Nambah yang merhatiin. Setuju!

Tapi satu hal yang jarang disebut-sebut, ketika menikah kita pun akan menghadapi pertambahan masalah. Yang asalnya kita bisa fokus ke masalah kita saja, setelah menikah masalah hidup pun jadi double lho. Tanggung jawab jadi double pula. Nah, jangan jadi takut gitu donk. Ini aku ungkapkan bukan buat nakut-nakutin nikah. Kerangka berpikir yang realistis sudah harus dikedepankan. Niat yang kurang tangguh, akan melahirkan pasangan-pasangan lemah kala menghadapi realita ini. So, niatkan bahwa menikah itu adalah proses belajar yang panjang untuk meningkatkan kualitas diri. Menikah adalah romantisme yang juga dibalut oleh keunikan masalahnya tersendiri. Jadi, harus kuat dulu niatnya ya....
Dan bagi muslim niat terbaik menikah adalah ibadah. Apapun yang dihadapi jadi bernilai ibadah. Enaknya jadi ibadah, nggk enaknya juga jalan ibadah. Semoga kita benar-benar memasuki pernikahan dengan niat terbaik ini ya guys, amiin.

#3 Kampanye Menikah Muda!
Ini refleksi terakhir di tulisan kali ini. Asli guys, sangat direkomendasikan menikah muda. Aku nggk akan terlalu membahas bahaya pacaran, de el el. Kalian juga udah pada ahli tentang ini.
Terlepas dari itu, alasan kenapa harus menikah muda adalah biar kita bisa cepat memulai. Lebih cepat dimulai berumah tangga, lebih cepat pula kita belajar. Lebih cepat belajar, lebih cepat juga berhasilnya toh?
Kalimat di atas memang sangat kampanye, hehe..

Tapi let me explain about the reason.
Usiaku cenderung tidak muda lagi saat memutuskan menikah. Beberapa bulan lagi menginjak 26 tahun. Ya udah well-done untuk menikah lah ya... (kyak steak aja, pake well done segala, haha..) Dari aspek kepribadian, aku sudah cukup ‘terbentuk’. Aku sudah menjadi seseorang yang menentukan arah, berprinsip, berpandangan kokoh terhadap berbagai hal, dan hal-hal lain yang sudah “terbentuk”. Jadi ibarat adonan kue, seusiaku ini sudah jadi kue yang bentuknya jelas (misal: bulet, persegi, oval). Berbeda dengan usia yang 20 tahun misalnya, kecenderungannya masih fleksibel dan mudah untuk diarahkan.

Nah, udah tahu belum arahnya kemana? Hehe..

Kalau dalam pernikahan, laki-laki dan perempuannya itu sudah ‘terbentuk’ dua-duanya. Posisinya laki-laki harus menjadi sosok yang memimpin. Namun bagaimana kalau si istri sudah ‘terbentuk’ sebagai sosok yang tidak suka dipimpin? Ini yang banyak terjadi akhir-akhir ini. Perempuan menjadi sama dominannya dengan laki-laki dalam rumah tangga, tidak jarang bahkan lebih dominan dari suaminya. Banyak istri yang dengan mudah menyatakan “saya biasa begini” atau “saya bisa melakukan semuanya sendiri”  dan lainnya. Semoga kita diselamatkan dari kaum perempuan yang ‘terbentuk’ seperti itu. Amiin.
Meskipun tidak jarang, semakin matang, perempuan tumbuh menjadi makhluk yang paling bijaksana. Sekali lagi, ini adalah analisis subjektifku dalam rangka pencegahan saja. Karena aku juga termasuk orang yang sepakat, bahwa kadang usia hanyalah masalah angka. Kedewasaan dan pemaknaan hidup seringkali tidak berkorelasi positif dengan angka usia.
Tapi, yaa kalau memang sudah siap, kenapa ditunda?
Aku pun menyesal mengapa tidak dari dulu menyatakan siap. Karena learning by doing selalu lebih menyenangkan dan lebih bermakna dibanding learning by reading or listening only.


***
Semoga bermanfaat. Maaf kalau banyak yang ngaco. Maklum masih penganten baru, hihihi...