Tampilkan postingan dengan label suami istri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suami istri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Agustus 2016

Pasal - Pasal Rayuan Perempuan

Hallo, mak :D

meskipun udah suami istri, menikah sudah bertahun-tahun kadang ada aja ya kesulitan komunikasi sama pasangan. Semisal lagi pengen sesuatu, tapi bingung pas minta duitnya; pengen pergi kemana gitu tapi bingung minta izinnya; atau bingung gimana ngobrolnya pas lagi ada kegundahan keresahan melanda jiwa #tsaaaah :D

Sayangnya faktor dominan kecanggungan ini  ada di kita para perempuan ini lho. hayo ngaku! :p
Karena nyatanya penyakit perempuan seantero negeri rata-rata sama: gampang baper tapi susah ngomong, ujung-ujungnya nyanyi: 
...karena wanita ingin dimengerti ~

He to the loooo, Helloooo!! 
ya iya kali suami kita keturunan Mama L*ren atau Kijokob*do yang ahli cenayang nebak-nebak pikiran kita para wanita ketje #eh.

Stop BAPER! Markibrol – mari kita ngobrol !

"Udah aku ajak ngobrol kok, tapi suamiku cuek."
"Ah males ngobrol, paling suamiku nanggepinnya sama ceramah."
"Duh udah dicoba ngobrol tapi tetep aja komunikasinya searah."


sumber foto: google.com/image

Stop BERALASAN ! Markibiri – mari kita perbaiki diri :D

Naaaah, waktu ngobrol (red. komunikasi) sama si dia
udah merhatiin pasal-pasal ini belum, mak?

Pasal Pemilihan Waktu 

Firstly, utama, dan pertama jangan abaikan pemilihan waktu. Timing menentukan segalanya. Kenali kondisi fisik dan psikologis suami sebelum ajakan mengobrol dimulai. Apalagi kalau obrolan bersifat sangat serius, sensitif, dan perlu diskusi panjang.

Hindari ngajak ngobrol hal-hal serius saat dia baru pulang kerja. Siapapun lelakinya, kalo pulang kerja inginnya disambut dengan kehangatan senyum istri, salim, nyiapin minum, kayak di iklan-iklan teh itu lho :D

Setiap orang beda-beda ya, misal untuk suami yang kerjanya malam sampai pagi, kita bisa pilih waktu siang-sore hari. Untuk suami yang kerjanya eight to five alias pagi sampe sore, kita bisa pilih waktu setelah makan malam sambil santai-santai nonton TV.

Nah ini penting, pilih waktu saat suami sudah dalam keadaan kenyang. Karena kalau suami masih laper dan kita ajak ngobrol yang berat-berat, kemungkinan besar berakhir dengan SUAMI KELAPERAN, ISTRI KEBAPERAN, ups!

Secara psikologis, siapapun termasuk lelaki, kebutuhan mendasarnya dulu yang perlu dipenuhi, kan?! 

Biarkan suami rileks dulu, menikmati hidup sejenak, sebelum kita serang dengan proposal pembelian tas atau sepatu baru di online shop haha.. 

Pasal Intonasi

Intonasi bisa diartikan nada bicara ya, naik turunya suara kita mau nggak mau harus lebih diatur ketika ingin melakukan obrolan serius (termasuk merayu :D ). Suara khas cempreng emak-emak yang kita punya sejak orok, mohon untuk agak dihalus-halusin dikit ya, haha..

Tidak jarang suara bernada tinggi istri mengundang respon yang tidak diinginkan dari suami. Ingat mak, suami kita itu raja, udah dari sononya egonya itu tak tertandingi, saatnya sang ratu menaklukannya dengan intonasi bukan dengan adu ego lagi :)

Usahakan nada bicara kita santun, tidak teriak-teriak, tidak menghakimi, jelas, tegas, dan persuasif (jangan mau kalah sama tukang obat di pasar minggu :D )

Pasal Gesture / Blocking

Nah posisi tubuh saat ngobrol ini juga jangan dianggap sepele lho, mak. 
Usahakan posisinya senyaman mungkin, kalau bisa samping-sampingan ngobrolnya tapi kitanya agak nyerong ke arah suami (kebayang nggak sih? Harus! wkwk ), 
gak usah keliatan tegang, sesekali tunjukkin gerak manja (kan udah halal :p), dan terlihat antusias ketika bercerita. 

Sampaikan lewat gerak tubuh kalo apa yang kita sampein ke suami ini penting banget untuk khalayak perumahtanggaan, sekalipun yang kita minta hanyalah tambahan budget untuk beli kuota internet hahaha #emakLebay!

Susunan kalimat


Beuhh! pake susun-susun segala. Eh iya donk, bukan UUD ’45 aja yang perlu pembukaan, komunikasi suami istri juga kudu pake pembukaan. Inget, kalo mau masuk rumah orang, ketok pintu dulu jangan nyelonong masuk ! *hubungannya apppaaahh??!!

Minimal apa yang kita omongin itu tersusun dari poin-poin ini ya mak:
  • Minta waktu untuk ngobrol, jangan ujug-ujug
  •  Poin utama
  • Kenapa poin utama harus disetujui suami
  • Apa ruginya kalo nggak disetujui
  • nanya pendapat suami, jangan langsung nembak dengan pertanyaan boleh apa nggak.
Bingung ya? 
Ah, kalo udah dipraktekin mah nggak. Apalagi kalo udah kebiasa. Suami ketagihan ngasih bonus uang belanja, lho!

Pasal para pemeran pendukung

Film bisa jadi lebih asik karena ada pemeran pendukung. Kalo dalam obrolan, apalagi obrolan serius, pemeran pendukungnya apaan emang? Parfum, suhu, warna baju, riasan wajah, dan bebas polusi.
Kitanya usahakan wangi, ngobrol di tempat yang nyaman nggak overheat atau terlalu dingin, riasan wajah oke, dan nggak berisik atau polusi udara mengganggu.

Kalo perlu siapin makanan kesukaan suami sebelum mulai obrolan #jurusandalan!
Dan pemeran pendukung yang ngalahin pemeran utama: DOA.

Berdoalah sebelum kita para emak-emak ngajakin ngobrol suami, merayu suami, atau minta uang belanja tambahan. *salam!

**

Hmmm, untuk yang tambah bingung setelah baca artikelnya, niii deh aku kasih ilustrasi, biar bisa bayangin apa yang aku maksud dari awal tulisan ini berdiri haha..

Misal gini, aku mau ngasih tahu kalo aku pengen ikutan arisan. Otomatis si arisan ini perlu budget donk? Nah, belum tentu suami ngizinin kan? Tapi kita merasa perlu ikut arisan. Gimana tuh ngomongnya?

Opsi 1:
“Sayang aku ikut arisan ya, malu kalo nggak ikutan.”
Opsi 2:
“Pah, mama harus ikut arisan. Kalo perlu duit kan gampang, itung-itung nabung.
Atau
Opsi 3:
“sayang, ada yang mau aku omongin, tapi nanti deh nunggu kamu ilang capeknya.” (sambil senyam senyum ala ala )

Ada dua kmungkinan respon suami, mengiyakan saat itu juga, atau dia beneran nyuruh kita nunggu.
Nah kalo keliatan udah ready, baru kita lanjut lagi.

“gini sayang, tadi kan ada Bu Mawar dateng kesini. Terus ngajakin aku arisan gitu. Aku kan nggak kepikiran ya ikut-ikutan arisan gitu, ngabisin uang. Tapiiii tadi aku dijelasin gitu keuntungan-keuntungan ikut arisan. Katanya bisa diatur kita menangnya kapan, jadi itung-itung nabung untuk keperluan mendadak dan silaturahmi sama orang-orang komplek juga kan ya. Gimana menurut kamu?”

**
Opsi mana yang lebih ngenakin kalo kita ada di posisi suami? You choose!

(Pssstt.. Kalo aku sih Opsi 3)


**

In my humble opinion, tipe lelaki itu beda-beda. Karakter mereka beda-beda, punya keunikan sendiri-sendiri. Tapi percaya deh, semua lelaki itu punya kebutuhan untuk dinomorsatukan, dilayani, dimintai pendapat, dan diposisikan sebagai kepala. Jadi, mari jadi ratu yang bisa membuat si raja memenuhi segala keinginannya  #gubrak! hahahaha..

sumber foto: www.papasemar.com







Senin, 10 Februari 2014

Secarik Surat Cinta

Hai sayang, assalamu’alaikuum...

Hmm...
Sayang, terima kasih banyak sudah membawa cerita cinta kita sampai ke pernikahan. Tanpa keseriusan dan keberanian kamu sebagai lelaki yang mengaku cinta sama aku, tak mungkin ada pernikahan ini, tak mungkin ada akad nikah yang kita lewati tadi.

Aku – resmi jadi istri kamu sekarang. Istri sayang, bukan lagi pacar, kekasih, apalagi sekedar gebetan.
Aku perempuan yang mulai dari sekarang adalah makmum kamu tidak hanya ketika shalat, tapi ketika menjalani keseluruhan hidupnya. Perempuan yang menjadi tanggungjawab kamu tidak hanya di dunia, tapi juga kelak di akhirat. Perempuan yang sejatinya adalah pelayan kehidupanmu.

Perempuan yang menggadaikan seluruh dirinya untuk menjalani kehidupannya sama kamu. Perempuan yang akan selalu berusaha menjadi kepulangan ternyaman dan terindah. Perempuan yang akan selalu berusaha menjadi penenang kala kamu resah, penyelamat syahwatmu, ratu tersantun di ruang tamu, pembantu terbaik di dapur, dan pel*cur terliar ketika di kamar.
Perempuan yang insyaallah akan menjadi ibu untuk keturunanmu, menjadi madrasah pertama bagi mereka. Perempuan yang akan selalu berusaha tampil baik, cantik, dan menarik di hadapan kamu sayang.
Perempuan yang patuh dan taat dalam perintahmu, selama perintahmu itu tak melanggar syari’at Agama Allah. Perempuan yang mengerahkan seluruh kemampuannya untuk dapat menjadi istri yang shaliha.  Ya, itulah aku sekarang sayang.
Dengan penuh keyakinan aku memilih jalan ini, menjalani sisa hidupku untuk mendampingimu. Memilihmu untuk menjadi pemimpin jiwa di kehidupan ini.

Kamu – Suamiku sekarang. Ya, nama yang akan pertamakali kuingat kala aku berada jauh dari rumah. Seseorang yang menjadi imamku. Seseorang yang mulai hari ini menafkahi lahir dan batinku. Lelaki yang akan kulihat berlelah-lelah membela kebahagiaan keluarganya. Orang yang pertamakali akan kuhubungi ketika kutemui masa-masa senang dan sulit.

Orang yang pertamakali aku minta perlindungannya ketika aku merasa tidak aman. Orang terhebat dan terkuat. Lelaki yang tak sungkan merawatku ketika aku sakit. Lelaki yang akan kulihat sebagai sosok yang tak pernah berhenti menjaga dan menyayangi aku dan anak-anaknya kelak.
Lelaki yang insyaallah menjadi ayah dari anak-anak yang kulahirkan. Lelaki yang akan menjadi panutan bagi kami para makmumnya. Lelaki berani yang tak pernah mundur membela kebahagiaan anak dan istrinya. Lelaki setia penyayang keluarga. Lelaki yang akan menentukan surga atau neraka bagi keluarganya.
 Lelaki yang tak segan memarahiku kala ku langgar perintah agama Allah. Lelaki yang tak akan bisa tidur nyenyak sebelum tuntas tanggungjawabnya.
Lelaki yang berani menukar kesenangan pribadinya dengan tanggungjawab mulia di hadapan Allah. Kamu sayang, lelaki yang tidak hanya menyayangi, tapi juga yang akan menjamin kehidupan dunia dan akhirat keluarga kita.

Sayang, sudah cukup lama kita saling kenal. Banyak tema sudah kita bicarakan dan diskusikan. Tapi, sadarilah sayang, 
aku dan kamu hanyalah manusia biasa. Manusia yang sudah pasti miliki kekurangan dibalik segala kelebihan yang Allah anugerahkan. Terimalah aku dengan segala keterbatasanku, pun aku akan selalu belajar untuk tidak enggan menerima segala kekurangan kamu – suamiku.

Tentang cinta, kita sudah sering bahasakan. Sudah hampir selalu kita ungkapkan satusama lain. ya, kita memulai semuanya dengan cinta. Dan kita sama-sama akan menjalaninya dengan penuh cinta. Tentang pertengkaran, kita pun tak kalah hebat. Kita sudah ahli bertengkar. Saling membenturkan ego masing-masing. Tidak jarang aku yang terlalu egois. Pun kamu pernah menjadi sosok yang tak mau kalah. Tapi kita kembali untuk cinta itu.

Tentang mimpi, banyak mimpi-mimpi besar yang kita punya. Baik sebelum maupun setelah kita bersama. Sayang, aku ingin menjadi katalisator untuk mimpi-mimpi itu. Dengan penuh keyakinan aku berdoa dan melakukan sesuatu yang kubisa untuk mewujudkan setiap mimpi kita. Aku melakukan semua itu, karena kamu pun nampak melakukan hal yang sama. Keluarga kecil yang ceria-bahagia, backpacking keliling Indonesia, mengasuh anak-anak, punya yayasan pendidikan, lembaga beasiswa, bisnis, sekolah ke luar negeri, liburan keliling dunia, makan di restoran rilakuma di Jepang,  menaikhajikan orang tua kita, umroh bareng, dan banyaak lagi... kamu membuatku tidak segan mengungkapkan semua mimpi-mimpi itu. Thanks for that, honey. I know that you have been trying so hard to be comforted at this way.. hehe..  (Peluklah mimpi-mimpi kami dengan pengabulan terbaik ya allah.. amiin ya jabbaaru ya rahmaan rahiim...)

Tentang kita, ya. Tentang kita benar-benar dimulai sejak penghulu menyatakan kita SAH jadi suami dan istri. Sayang, jadikan aku yang tercantik yaa. Jangan ada wanita yang lebih cantik dari aku lho. Tetap  manjakan aku seperti saat kita pacaran dulu, itu akan jadi pupuk kekuatan cinta kitaa.. Jangan buat aku terlalu sering cemburu. Kalau aku udah lulus terus kita hidup bareng, nanti kita lanjut pacaran episode 3 yaa..
Aku sayang kamu dengan seluruh jiwaku. Dan aku tahu kalo kamu juga pasti sayang sama aku kaaaan?
Hehe...

Selamat menempuh hidup baru sayang ya. Mari kita buat catatan sejarah terindah.