Jumat, 26 Agustus 2016

Jejak di Tanah Minang : Jam gadang, Puncak Lawang, sampai Danau Maninjau

Hello, ada yang niat piknik ke sumatera barat? Ke Padang? Atau kemana?


Through this journal, saya mau cerita pengalaman berangkat ke Sumatera Barat di bulan Agustus Tahun 2014 lalu. Udah lama sih, tapi baru ada strong will untuk nulis ini,haha.. maapp yak!

Perjalanan ke Sumbar mendadak kami tempuh karena sedih harus berlebaran di Kebun Sawit tanpa sanak saudara. Semodel pelarian anak rantau, hihi..

waktu itu kami baru beberapa bulan menikah, penganten baru gitu ceritanya. Saya yang masih bolak-balik Bandung-Riau, memilih berlebaran di Riau nemenin suami. Kami tidak bisa mudik karena alasan cuti yang terbatas (karena sudah habis untuk acara nikahan). Dan dramatisnya, waktu itu saya masih dihantui drama ujian tesis, yang jadwalnya maju mundur mengerikan, :D

tapii semua terlalui dengan keren, Allah emang gitu, baik banget sama saya. makanya saya bisa nulis cerita ini. semoga aja menginspirasi untuk jadi manten baru, diburu jadwal tesis, lebaran di rantau, #eh #nyumpahin ini namanya haha..


**
Seperti biasa, perjalanan ini juga modal nekad. Kenekadan pertama, kami melakukan perjalanan dengan motor tanpa plat nomor. Karena waktu itu plat nomor motor suami belum keluar. kenekadan kedua, tanpa kenalan.

Tujuan utama perjalanan adalah Danau Maninjau. Efek baca novel apa ya lupa judulnya. Saya bujuk suami untuk ngetrip kesana. Suami nanya, “kuat pake motor? Karena kalo pake angkutan umum pasti macet dan lama”, dengan tegas saya jawab: i am setroooooooooong beibiiii.

Sekitar satu jam setelah shalat ied kami meluncur ke Pekanbaru. Waktu tempuh sekitar 1 jam. Kami jalan-jalan ngemall dulu disana. Lalu keesokan harinya, H+1 lebaran, kami meluncur menuju Sumbar.

Saya dan suami sama sekali tidak tahu rute pasti menuju Sumbar. Modal kami adalah kemampuan membaca plang-plang arah jalan, akses internet, niat baik, doa dan harapan, hihiw!

**
Jalanan macet, karena ternyata banyak yang mudik ke arah Sumbar di H+1. Untungnya kami pake motor, jadi bisa nyalip sana sini. Di jalan sempat kehujanan, karena manten baru kali ya, berasa lagi shooting pilem india aja gitu, :D

Baju kering di badan, karena nggak mau wasting-time cuman untuk berhenti-berhenti. Kecuali udah deras banget, baru deh kami transit di warung atau tempat teduh terdekat.

salah satu moment transit, makan!


Perhentian pertama: Kelok Sembilan

Dua tahun lalu mungkin beda ya kondisinya sama sekarang. Waktu itu banyak pengendara berhenti, padahal jelas ada plang berisi tulisan: dilarang berhenti. Kami memilih untuk ikut-ikutan berhenti, haha..

Kelok sembilan ini mungkin salah satu megaproyek di Sumatera, jalan berkelok-kelok cantik banget. Meskipun waktu itu masih ada pembangunan di beberapa sisi jalan.

Di sisi-sisi jalan ada para penjual makanan ringan dan minuman. Kami memilih santap cemilan dan kopi hangat. Enaaaaak!

kelok sembilan, one of view.

kelok sembilan sang mega proyek

dia, bahagia :)

Lanjut perjalanan, sambil menikmati pemandangan berkelok-kelok. Setelah Kelok Sembilan dilewati, pemandangan berubah jadi hutan-hutan. Setelah itu ada keramaian lagi, hutan lagi, keramaian lagi. Ada banyak tebing menjulang sepanjang perjalanan. Eksotis, tapi sedikit ngeri juga kalau ngebayangin itu tebing runtuh. Amit-amit yak!

Lalu sampailah kami di sebuah titik keramaian yang rame nya itu nggak ketulungan. Jalanan crowded banget. Kami penasaran, ini ada apa?!

Akhirnya kami memutuskan mendekati seorang tukang parkir, “Ada apa ini bang kok ramai sekali?”, “inda ado apa-apa.” Jawabnya. “Lha kok ramai?” tanya kami masih penasaran. “Jam Gadang memang ramai kalau libur.”

Jengjengjeeeng...!!!!!

Perhentian kedua: Jam Gadang


ternyata kami sudah sampai Bukit Tinggi. Tempat salah satu situs bersejarah, Jam Gadang. Kami memutuskan memarkir kendaraan. Dan tadaaaa... untuk pertamakalinya bisa menyaksikan Jam Gadang dari dekat, bukan di Atlas jaman SD lagi, hehe..

asiknya petualangan adalah saat kita menemukan tanpa memaksa dan berencana. Ah, bahagia!
see, kita sampe sini liat Jam Gadang juga!

suasana Magrib di sekitaran Jam Gadang
 **

Setelah puas foto-foto, kami lanjut mencari penginapan. Percaya atau tidak, semua penginapan dengan range harga maksimal 500Rb, FULL! Sisa hotel berbintang-bintang.

Waktu itu memang sudah sore menjelang magrib. Karena sudah lumayan kelelahan, Kami memilih transit istirahat dan makan mie ayam. Sambil cari-cari info penginapan.

Abang mie ayam menyajikan dan merespon pesanan, kental sekali dialeknya bukan orang Minang. Betul prediksi saya, si abangnya keturunan USA (Urang Sunda Asli). Yeay!! Ketemu sodara #apasih! Ngarep ditolongin, hehe..

Tapi benar kata para ustadz, berharap itu harus sama Allah jangan sama mamang mie ayam. Mamang mie ayam merekomendasikan hotel yang sudah kami cek semua sebelumnya. USA tinggal USA. Wkwk

Setelah shalat magrib dan bla bla bla, kami masih penasaran keliling Bukit Tinggi. Tidak berubah, yang tersisa memang kamar-kamar mahal. Kami merasa rugi kalau harus menginap dengan range di atas 500RB, karena esok kami akan lanjut perjalanan. Dan nggak butuh-butuh amat kamar yang gede sama mewah :D Padahal emang dasarnya penghematan keleuus, wakwaw!

**
Nekad lagi aja deh, lanjut Danau Maninjau. Kami memutuskan reservasi online salah satu hotel di sekitaran Danau Maninjau, dengan memilih fitur bayar di tempat.

Tanya sana sini, liat plang, kami lanjut perjalanan. Banyak orang yang mewanti-wanti kalau ke sana hati-hati karena gelap. Termasuk mamang mie ayam USA tadi. Kami jadi dugdugser juga. Seolah akan memasuki rumah hantu.

Dan ternyata benar, jalanan termasuk sepi. Gelap. Penerangan masih terbatas. Yaa maju mundur kena donks. Alaah paling nyasar, gitu batin kami waktu itu.

Tapi kami menemukan keseruan saat kami menemukan sekumpulan pengendara motor lain yang nampak sedang touring. Sayangnya mereka berbeda arah. Sampai pada satu pertigaan, kami mendadak berhenti, karena si kelompok sepeda motor itu ke arah yang sangat gelap. Kami curiga itu bukan arah ke Maninjau. Akhirnya kami memutuskan balik arah. Sebelum balik arah, tetiba ada yang menyapa dari arah kanan, kakek-kakek tua!
Hiiiiyyyhh.. merinding.

Suami mendadak sulit memundurkan motor, si kakek terus ngomong pake bahasa yang entah bahasa apa,


Saya berusaha mengendalikan pikiran biar nggak panik.
Berbisik ke suami: “yammi turun dulu ya, langsung puter balik motornya, tapi jangan ninggalin lho!
Suami mengangguk cepat. 
Dan akhirnya kami meluncur sambil menganggukan kepala ke arah si kakek yang entah dia ngomong apa dan ngapain tiba-tiba muncul di tengah kegelapan sendirian. Haha.. horor!

**

Danau Maninjau


Setelah kejadian si kakek, kami fokus cari penginapan yang sudah kami reservasi. Jalanan berkelok-kelok. Di petunjuk sebuah blog, kami sudah sampai danau maninjau kalau sudah melewati Kelok 44. Suami bertanya, sudah lewat kelok 44 nya belum sih? Dengan rasa takut karena emang gelap sekali waktu itu, saya jawab: udah lebih dari 44 kali. Mungkin di blog itu salah tulis, harusnya kelok ratusan~lebiih!!
Ngakak lah kami di motor, mengalahkan ketakutan masing-masing.

**
Dan ketemu juga itu kelok 44. Tempatnya berkelok, keloknya curam dan pendek-pendek. Harus atur kecepatan, jangan sampe lost. Di setiap kelok ada plang bertuliskan kelok ke berapa. Mulai dari kelok 44, 43, sampai ke kelok 1.
Nah kalo udah liat tulisan kelok 1, sampailah kita di sekitaran Danau Maninjau.

**
Kami sampai di sana sekitar pukul 21.30. penginapan yang kami reservasi nampaknya sudah bangkrut atau fiktik, karena nggak ada batang hidungnya sama sekali, haha..
Kami dapat penginapan yang murah, asalnya 700rb, kami tawar jadi 300Rb aja donks. Suamiku emang hebring deuh...
300Rb dengan fasilitas bath-tub, air panas, teras kamar, sarapan pagi, kasur yang nyaman, daaaaaan view langsung ke danau maninjau. Resto hotel tepat ada di atas perairan danau. Bahagia. Lelah terbayar!

ini dia front space hotelnya

sarapan keindahan :)


**
Esoknya kami lanjut menuju Puncak Lawang. Biasanya kita bisa foto seolah di atas awan. Tapi waktu kami datang awannya masih jauh di atas, jadi nggk bs ambil angel di atas awan.

Sepanjang jalan, pemandangan hijau membentang. Rumah-rumah tradisional Minang masih banyak berdiri indah. Sawah luas. Sejuk udara yang keluar masuk tubuh. Ah, surga!

Rumah Gadang cantik, kan?


one of view dari Puncak Lawang

our selfie!

Oleh-oleh Nyasar!

Pulangnya kami nyarasar-nyasar. Tapi nyasar membawa berkah. berkat nyasar jadi sampe ke tempat wisata: Janjang Seribu & Goa Jepang!
tapi kami tidak singgah lama-lama, karena harus segera pulang :)


Goa yang kami temukan saat nyasar hihi..

Janjang Saribu 


Refreshed! Bahagia. Dan merasa perjalanan nekad kali itu sangat Worth It!

**
Yuk nyoba ngetrip ke Sumbar. siap-siap jaket. Siap-siap jatuh cinta sama alamnya :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar