Rabu, 24 Agustus 2016

Pelatihan Applied Approach pertama saya :)

Bulan lalu diberi kesempatan untuk mengikuti acara Pelatihan Applied Approach, biasa disingkat Pelatihan AA.

Pelatihan ini hukumnya wajib diikuti oleh para dosen muda, baik di lingkungan perguruan tinggi negeri atau pun swasta. Tujuannya adalah membekali para dosen muda yang baru terjun ke dunia mengajar profesional (bukan lagi sebagai asdos hehe..).

Durasi pelatihan beragam disesuaikan dengan kondisi penyelenggara, katanya bisa sampe 12 hari nonstop. Pelatihan AA yang saya ikuti tidak selama itu, hanya berlangsung 3 hari. Tapi jadwalnya memang padat, dari Pkl. 08.00 s.d 21.00.  Kegiatan diselenggarakan oleh STIE Indragiri yang berlokasi di ibu kota kabupaten Inhu – Rengat. Peserta Pelatihan AA berasal dari 8 kampus di kabupaten Inhu juga 2 kampus dari kabupaten sebelah (Indragiri Hilir).

Rangkaian acara adalah pelatihan oleh para pakar di bidangnya. Bahasan meliputi pembelajaran, penelitian, penilaian, dan hal lain terkait dunia keseharian dosen di perguruan tinggi. Acara ini ditutup dengan penugasan. Jadi kalo tugasnya nggak dikerjain, peserta nggak akan dapet sertifikat. Sertifikatnya berpoin besar lho. Makanya saya termasuk yang ngerjain tugasnya, haha.. #modus!

Peserta dari STAI NF & STKIP Insan Madani


**
Hmmm... setelah sekian lama (2 tahunan) nggak ikutan forum ilmiah atau akademik di luar kampus, rasanya membahagiakan bisa masuk kelas lagi, belajar lagi, dipertemukan lagi dengan orang-orang keren!
Siapa aja tuh orang-orang keren itu? Here are the stories...

**

Prof Ellizar Jalius, M.Pd.


Professor perempuan yang meskipun sudah sepuh tapi terlihat sekali jiwanya jauh lebih muda dari usianya. Dengan santai beliau memperkenalkan dirinya juga bercerita tentang perjalanan kariernya hingga menjadi guru besar.

Dari ceritanya kami para peserta jadi tahu bahwa dia punya nickname yang unik, sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama lengkapnya. Beliau dikenal dengan panggilan ‘Non’. Panggilan masa kecil yang terbawa sampai beliau jadi guru besar, hehe.. so, dia bilang kalau mencari saya di UNP (Univ. Negeri Padang) jangan pake nama Ellizar, tapi gunakan sebutan ‘Non’. Nice.

Setelah itu dia bercerita tentang perjalanan karir akademiknya, yang ternyata dimulai setelah memiliki empat (atau tiga yaa, lupaaa haha ) anak. Beliau mulai menempuh sarjana muda selepas lulus SMA, tetapi berhenti setelah dua tahun kuliah, dan concerns penuh pada pengasuhan anak-anaknya. Sampai setelah lebihd ari 5  tahun pernikahan barulah beliau melanjutkan sarjana mudanya. Setelah bertahun-tahun lamanya beliau masih terus terpikir untuk melanjutkan sekolah ke pascasarjana. Tapi berulang kali suaminya menahannya.

Semua peserta dibuat tertawa dengan banyolannya ketika bercerita tentang bagaimana suaminya menahan atau seakan meragukan kemampuannya untuk sekolah lagi. Begini kurang lebih intisari dialognya:

Non    :“Pah, sudah dibuka pendaftaran pascasarjana itu?”
Suami : “mau apa?”
Non    : “mau daftar lah.”
Suami : lai talok?” – (red. Bahasa Minang yang artinya kurang lebih: emangnya kamu bisa.)
kata lai talok diulang sampai berkali-kali dalam kurun waktu sekian tahun. Tapi semakin diragukan semakin tinggi saja semangat beliau untuk melanjutkan kuliah, ujarnya.

Sampai akhirnya beliau mendaftar sendiri, dan menunjukkan prestasi yang cukup bisa dibanggakan. Lulus tepat waktu. Dengan nilai A berderet di transkrip nilainya.

Begitu pun dengan S3 nya, beliau berhasil mematahkan keraguan orang-orang di sekitarnya. Hingga sampai suatu saat suaminya mengakui kemampuannya dan mengungkapkan bahwa ia bukan tidak percaya pada kemampuan istrinya, tetapi khawatir istrinya tersebut tidak bisa bertahan dan keteteran.
Singkatnya, beliau lulus S3 di usia sepuh (lebih dari 60 tahun), hanya dalam beberapa bulan berhasil menjadi guru besar di UNP. Beliau produktif melakukan penelitian. Beliau pun berpesan untuk tidak terlalu berorientasi pada kejar tayang mengajar, tapi jadilah dosen yang ‘benar’ dan fokus melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara optimal.

Dari beliau, semangat untuk mengejar mimpi kembali timbul (setelah sempat tenggelam, haha..!) . ada bukti bahwa usia tak lagi jadi kendala selama kita mengupayakan apa yang kita impikan. Dalam profesi dosen, tidak lain dan tidak bukan menjadi Guru Besar adalah titik capaian tertinggi, bukan? Guru besar adalah posisi kemapanan ilmu, meskipun pada kenyataannya para guru besar itu semakin tua nampak semakin haus ilmu.

**

Prof. Syahrul

Beliau adalah salah satu guru besar bahasa di UNP. Pelatihan pada sesi beliau dimulai dengan ice breaking joget-joget penguin, dan di pertengahan sesi pun beliau kerap kali mem-boost mood para peserta dengan ice breaking.

Beliau berbicara bahwa bahasa adalah kekayaan. Indonesia cukup menantang dalam penggunaan bahasa, karena terdapat banyak kelompok etnis dengan bahasa berbeda. Melalui dialek bahasa kita menjadi mudah tahu asal tinggal seseorang. dan tidak jarang dialek tersebut menyalahi pengucapan bahasa indonesia yang baik dan benar, ujarnya. Kami menyimak dan sesekali tertawa saat beliau menceritakan pengalaman-pengalamannya mengoreksi bahasa para mahasiswanya yang berasal dari suku Batak, Minang, dll. :D

Sesi beliau mengulas tentang Penelitian Tindakan di dunia perguruan tinggi, how to conduct its research, dan penulisan bahan ajar.

Penuturannya sederhana, mudah dimengerti, dan bisa membuat nyaman. Lebih dari 4 jam bersama beliau, saya belajar how to be a well integrated person. Bravo!

**

Prof. Syafrani.

Di awal sesi beliau mewanti-wanti peserta untuk memaklumi dialek bahasanya yang ‘melayu banget’, karena memang beliau orang Melayu asli katanya. Beliau adalah salah satu mantan rektor di Univ. Lancang kuning Riau.

Pada sesi beliau, peserta dibuat enak tertawa. Penuturannya santai, dan yang beliau bahas adalah keseharian aktifitas yang terjadi di dunia kampus swasta menengah ke bawah. Ada kesan penuturan beliau sangat empatik. Beliau ada di tempat yang sama dengan kami para peserta yang notabene mengajar di kampus swasta kecil di kota kecil juga. Kampus dengan input yang tidak sebagus di perkotaan.

Dari penuturan beliau, kami merasa sangat terwakili, dan merasa tidak sendirian, #tsaaaah!

Beliau mengungkapkan banyak sekali pengalamannya selama menjadi dosen. Dalam sesinya beliau juga mendorong untuk masyarakat Riau bangkit untuk memperbaiki dan percaya diri ketika menghadapi persaingan di kelas Nasional. Terlihat sekali kepedulian dan keprihatinannya pada kondisi pendidikan di provinsi ini.

Banyolan yang melekat dari beliau, sekaligus sindirian untuk sekelompok suku yang masih terbiasa dengan aktifitas memancing:

“Orang yang hobi memancing itu nggak akan bisa maju-maju.” (pause)
Semua peserta ngangguk-ngangguk, mengiyakan ucapannya, mengamini maknanya.
Tapi semua buyar menjadi gelak tawa, saat beliau melanjutkan.
“Orang yang hobi memancing itu nggak akan bisa maju-maju. Kalo sampe maju, terceburlah ia ke sungai” hahaha...!!
Materi yang beliau sampaikan terkait penilaian yang komprehensif, yang tidak terpaku pada nilai ujian saja. Melainkan penilaian alternatif yang juga mempertimbangkan aspek lain semisal keaktifan, attitude, kelengkapan tugas, ketepatan waktu, dan lainnya sesuai dengan tuntutan mata kuliah tertentu.

Sesuatu yang sudah kita tahu sebenarnya, tapi kadang kami para dosen memang perlu dikuatkan dengan penyampaian-penyampaian seperti ini.

**

Dr. Elfis

Juga seorang akademisi asal Riau. Beliau adalah pemateri termuda dibanding tiga pemateri lainnya. Beliau berdinas di Univ. Islam Riau.  

Dua statement beliau yang cukup membuat kening merengut kepala mengangguk:
·         Mahasiswa adalah makhluk defisit selama rata-rata 4 tahun. Untuk S1 bisa jadi lebih dari 4 tahun. Masa setelah lulus kuliah, masih akan jadi pengangguran dan defisit juga?
Mahasiswa harus dipaksa untuk berpikir enterpreneur, salah satu ujung tombaknya ada di tangan dosen. Jadilah bank ide untuk mereka.
Oke, bapak ibu dosen muda, mari kita upayakan sekecil apapun upaya itu untuk menginspirasi para mahasiswa agar bisa jadi makhluk produktif dan tangguh. #uhuk!

**

Udah segitu dulu ya. Salam harmoni di dunia pendidikan ibu pertiwi!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar