Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Maret 2023

[ Bukan ] TIPS & TRICK LOLOS BEASISWA : Find your big why !


Hello dear friend,

Gimana kabar kamu hari ini? 😊

Semoga dunia kamu lagi baik, ya :) 

Kayaknya ada macem-macem alasan pembaca yang sampai ke laman ini. Bisa jadi kamu adalah orang yang lagi prepare studi lanjut. Bisa juga karena galau banget sama pencarian beasiswa studi lanjut. Ada juga yang cuman iseng aja pengen baca, hehe.. 

Tapi apapun alasannya, I have to tell you a disclaimer: saya hanya akan share pengalaman saya dan pemakanaan saya atas pengalaman tersebut. 

Enjoy!

***

Kalau ngobrolin beasiswa, sebetulnya tahun 2022 itu kali pertama saya yang benar-benar berusaha mencari beasiswa. Ketika S1 dulu (2007) belum terlalu banyak info-info dan penyedia beasiswa. Pun ketika mendaftar S2 di 2011-an, formasi beasiswa terbatas. LPDP kalau tidak salah baru mulai buka itu 2012 gitu, itupun belum semasif sekarang. Artinya buat kamu yang nyari beasiswa studi lanjut di 2023, kalian punya akses informasi yang lebih cepat dan banyak. Hal ini memungkinkan peluang untuk dapet beasiswa pun lebih tinggi bagi yang bener-bener prepare ! 

Percuma juga kan peluangnya banyak kalau gak prepare, pelamar beasiswa yang berkompetisi sama kita tentu lebih banyak lagi. 

Hal pertama yang ingin saya share adalah tentang menjawab pertanyaan: Kenapa harus beasiswa?



Ini adalah pertanyaan yang perlu kita tanyain ke diri kita sebelum akhirnya take action ini itu. Penting untuk kasih kita fondasi tentang seberapa clear tujuan kita. 

Me, personally, cari beasiswa karena memang profesi saya sebagai dosen mengharuskan saya studi lanjut sampai S3. Akhirnya mencari beasiswa untuk membantu pembiayaan studi yang tidak murah. Tapi kan banyak yang tidak pakai beasiswa? Iya, dan itu gak apa-apa. Bahkan saya pribadi kalau semisal tidak dapat beasiswa di 2022, akan mensponsori diri sendiri karena S3 kayak udah fardu 'ain hehe.. 

Menurut saya, beasiswa itu It is worthwhile to achieve, karena..

Beasiswa bisa memperpanjang langkah. 

Kalau kita menggunakan uang sendiri, peluang memilih universitas lebih terbatas sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing. Tapi, kita bisa pilih universitas dimanapun dengan beasiswa, bukan? As long as kita memang memenuhi kualifikasinya. 

Beasiswa bikin kita lebih fokus sama perjalanan studi.

Apapun degreenya dan beasiswanya, awardee biasanya bisa lebih fokus ke perjalanan studi yang dijalani. Perjalanan studi ini gak selalu tentang hal-hal akademis, tapi juga hal-hal yang terjadi selama studi. Emangnya kalau gak dapet beasiswa gak bisa fokus studi? Agree to disagree ya, menurut saya akan lebih sulit karena kita akan berburu dengan SPP, beli ini beli itu harus bertarung dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari terutama yang sudah berkeluarga. Beasiswa bisa kasih kelonggaran di situ, sehingga bisa lebih fokus ke 'studi' nya. 

Beasiswa jadi salah satu jalan untuk bangun networking.

Lho kalo gak dapet beasiswa juga bisa lah build a network! Iya, saya setuju. Tapi biasanya penerima beasiswa punya relasi yang lebih banyak sejak awal. Kita bisa punya teman yang mungkin kuliah di univeristas lain, sejurusan atau pun enggak. Sedaerah ataupun enggak. Apalagi kalau kalian bisa jadi penerima beasiswa di negara-negara maju. It will broaden the chance to build a larger network. Ajang silaturahim nya lebih luas dan beragam deh, insyaallah..

Beasiswa itu kayak sistem "Pra-bayar."

Jadi kalau misal kita gak dapet beasiswa kita harus membayar SPP, biaya ini itu di setiap semesteran. Kalau beasiswa itu seperti pra bayar. Kita prepare berjuang 1 tahun untuk prepare beasiswa, setelahnya kita bisa fokus studi tanpa mikir keuangan lagi. Meskipun betul dalam proses pencairan dana tidak semudah yang kita inginkan hehe.. Tapi at least, semisal kita ngutang-ngutang pun, jelas bayarnya dari mana kan? hehe.. 


Empat hal yang mungkin cukup untuk jawab kenapa beasiswa itu perlu banget diperjuangkan untuk sponsorin studi lanjut kita. Kamu mungkin bisa dapet lebih banyak hal-hal terkait Your Big Why!

Apakah beasiswa itu pasti cukup untuk cover semua kebutuhan kita selama studi? Belum tentu. Ada ragam beasiswa, baik itu dari sisi persyaratan maupun fasilitas yang dikasih. Makanya prepare studi lanjut gak bisa dilakukan dalam waktu 1-2 bulan. Riset tentang beasiswa yang 'cocok' sama kebutuhan dan kemampuan kita aja perlu waktu. 

This is why kita perlu mulai dari menjawab kenapa kita perlu cari beasiswa. Kita harus kenal dulu sebetulnya apa sih yang kita mau cari? apa sih yang bener-bener kita butuhin? 

Pernah ada teman saya yang berangkat ke sebuah negara dengan beasiswa kampus di negara tersebut. Dia cerita hanya stay 3 bulan. Kenapa? karena ternyata beasiswa hanya cover SPP, living cost dan lain-lain harus bayar sendiri. 

Nah, kenapa ini bisa terjadi? Karena berawal dari kalimat 'yang penting dapet beasiswa' padahal gak semua beasiswa fit sama kita.

Yang penting dapet beasiswa. Please Don't Be!

Bagi yang berkeluarga, isu tunjangan keluarga juga jadi pertimbangan. Saya, misalnya, tidak mengirim aplikasi ke beasiswa-beasiswa yang tidak memberikan family allowance. Karena masih ada harapan membawa keluarga selama studi. 

Bagi yang minat studi lanjut ke luar negeri, isu tentang bahasa juga menjadi penting. 

Mengerti bahwa kuliah akan berlangsung menggunakan bahasa apa? Warga lokal pakai bahasa apa? 

Saya pernah ikut satu acara sharing dari penerima beasiswa di Jerman. Beliau merasa stress hingga akhirnya depresi karena isu bahasa. Dia mengaku bahasa inggris aja belum fluent lalu harus belajar bahasa jerman, dan ternyata warga lokal pakai bahasa jerman semua. Akhirnya, he took time to mentally-recovered dulu. Di sesi tersebut, beliau wanti-wanti banget kalau kita harus bener-bener paham tentang apa-apa yang harus kita persiapkan. Agar tidak mengalami shock berat. 

Hmm.. jadi sayang banget kan kalau apa-apa yang kita lakukan tidak berawal dari tujuan yang jelas dan kuat. Udah persiapan dan ngerti tujuan aja, masih mungkin untuk oleng. Karena sejatinya manusia hanya bisa berusaha juga kan ya. Tapi kalau gak persiapan dan kurang jelas tujuan, pasti akan lebih banyak potensi olengnya hehe... 

Jangan sampe udah capek-capek kejer beasiswa, tapi shock pas studi ternyata beasiswa gak cover gaya-hidup-sultan kamu. Jangan sampe udah jauh-jauh studi lanjut, bingung juga mau ngapain karena hanya ikut-ikutan teman, hiks! 

Jangan sampe udah dapet beasiswa malah gak mau pulang ke negara pemberi beasiswa #eh!

***

Alhamdulillah, bersyukur sekali saya berhasil dapet satu beasiswa yang menurut saya fit sekali dengan apa-apa yang saya butuhkan. Tahun 2022, saya berhasil menjadi penerima #BeasiswaPendidikanIndonesia.  Dikenal dengan istilah beasiswa #BPI yang merupakan perluasan dari LPDP  yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Bagaimana akhirnya saya dapet beasiswa itu akan saya ceritain di tulisan berikutnya ya.. 

Selamat merenung to find your big why :)

Salam hangat.














Sabtu, 03 September 2016

Pendidikan BAIK bagi Kaum Hawa

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan Pendidikan dan Perempuan. Masih rangkaian kampanye pemikiran pribadi tentang pentingnya pendidikan yang 'BAIK' bagi kaum hawa.

Ketika ada pertanyaan Pendidikan yang BAIK penting bagi perempuan?  
Oke, menurut saya, these are the main point kenapa perempuan harus BAIK pendidikannya: 
  • ·      Perempuan memiliki banyak kemuliaan yang wajib dijaga, khususnya bagi yang belum menikah. Pendidikan yang baik akan mendorong perempuan terus mengembangkan diri (bakat – minat), menjaga dari pergaulan yang tidak baik, memilih teman (komunitas), mengarahkan upaya diri ke hal-hal yang positif, memilih cara berpenampilan yang baik, menjaga kehormatan diri dan keluarga, serta memiliki mental yang kuat (tidak mudah galau dan frustrasi)
  • ·              Setelah menikah, perempuan akan mengalami transisi peran yang tidak mudah. Semisal, biasa bebas sendiri sekarang harus toleran dengan kondisi suami (plus keluarga besarnya), pergaulan yang lebih terbatas, aturan keuangan yang sudah mulai banyak posnya, apalagi kalau sudah punya anak artinya tanggung jawab menjadi ganda.


Bayangkan ketika transisi ini dihadapi dengan tidak bijaksana? Banyak yang menyesal menikah, parahnya ada yang sampai campaign jangan menikah muda, hehe..

Lebih parah lagi ada yang membesar-besarkan konflik rumah tangga, dan mudah menyerah pada perceraian. Bukan hal asing kan zaman sekarang orang bercerai?  Saya tidak bermaksud mendiskreditkan orang yang bercerai, karena bercerai bisa jadi pilihan yang terbaik bagi beberapa pasangan. Tapi sungguh disayangkan kalau perceraian itu disebabkan oleh pendidikan perempuan yang kurang BAIK, dan pendidikan pria yang sama kurang baiknya.

Kemandirian perempuan yang kelewat batas kadang menjadi faktor utama dari perceraian di usia muda. Ditambah lagi kepemimpinan laki-laki yang kurang baik akan mempertajam bilah ancaman perpisahan.

So, kembali lagi kan? Bukan masalah tinggi rendahnya, tetapi baik-tidaknya.

Tapi apabila pendidikan BAIK sudah dimiliki oleh perempuan, setinggi apapun latar belakang pendidikan yang ia miliki, dia akan menunjukkan kebaikannya dalam memaklumi kekurangan suami, merelakan diri mengikuti batasan, memandang konflik sebagai hal biasa yang harus diselesaikan dengan baik, marah tanpa berlarut-larut, berusaha sekuat tenaga mempertahankan komitmen sebagai tanggungjawab terhadap dirinya sendiri, berusaha keras melakukan perannya, dan tidak mudah menyalahkan keadaan atau orang lain.

Lalu pendidikan BAIK itu didapat dari mana?


Saya  menulis artikel yang serada #curcol ini bukan berarti saya sudah berpendidikan BAIK, tetapi saya dalam kondisi memperbaiki pendidikan saya terus menerus.

Nah, menurut saya pendidikan BAIK itu berawal dari RUMAH alias KELUARGA alias ORANG TUA.

Bagi yang muslim mungkin sudah tidak asing dengan kalimat: Perempuan  menjadi Madrasah pertama dan utama bagi generasi penerus. Madrasah disini artinya pelaku pendidikan bagi anak dalam keluarga, atau anak di sekitar lingkungan sosialnya.

Percaya deh, pendidikan baik itu tidak bisa ditanamkan secara instan dan hanya mengandalkan sekolah.  tetapi harus ditanamkan sejak dini, perlahan disiram dengan pembiasaan, dan dipanen ketika dewasa berupa kebiasaan serta karakter yang baik.

Sudah banyak kan cerita anak sampai orang dewasa yang sekolah tinggi masih buang sampah sembarangan?  Siswa/i yang  jenius yang tidak bisa toleran sama perbedaan? Remaja yang sekolah di tempat favorit tapi tidak memiliki kepedulian sosial? Mahasiswa pintar tapi tidak mampu menghargai orang lain? Belum lagi banyak orang berpendidikan tinggi yang takut menikah – takut dengan batasan setelah menikah?

Dan perempuan adalah pilar utama, pelaku utama, PEMERAN UTAMA dalam penyelenggaraan pendidikan yang baik untuk setiap generasi.

Apapun bidang minatnya, bidang pekerjaannya, skor IQ nya, besaran penghasilannya, gelar akademiknya, ketika berada di dalam rumah ia adalah IBU. Pun ketika tidak menikah, perempuan tetap IBU bagi peradaban, bagi generasi di sekitarnya.

photo taken from www.google.com

Pendidikan perempuan yang baik akan menjadi modal perbaikan generasi mendatang.
Anak-anak yang besar di bawah pengasuhan orang tua (khususnya ibu) dengan pendidikan baik akan tumbuh menjadi anak yang tidak haus kasih sayang, anak yang punya ‘tempat’ untuk bertanya, mengadu, bimbingan, dan pulang ketika lelah dengan kondisi zaman.

Perempuan dengan pendidikan yang baik akan berusaha sekeras mungkin untuk menjadi teladan bagi generasi penerusnya: mengajarkan menahan amarah, toleransi, kejujuran, buang sampah di tempatnya, taat pada peran sebagai hamba Tuhan, patuh pada peraturan, melakukan pekerjaan rumah dengan tanggung jawab, berpakaian rapi, mencintai kebersihan, menjadi diri sendiri, bersyukur, senang berbagi, mengakui kesalahan dan meminta maaf, terbuka pada perubahan, berhati-hati dalam berperilaku, menghormati perbedaan, dan banyak lagi...

Wah ideal sekali mbak, sulit donk.

Ya, tugas yang sulit hanya diberikan kepada orang yang berkemampuan tinggi bukan? Perempuan sudah ditakdirkan untuk mengemban tugas penting yang tidak mudah.
Tugas kita sebagai perempuan bukan untuk menjadi IDEAL apalagi sempurna, tetapi untuk terus menerus memperbaiki dan membagi ‘pendidikan’ yang BAIK.

Pendidikan tinggi gak perlu donk ya mbak?

Pendidikan baik selalu mengarahkan kita untuk terus belajar, salah satunya dengan menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Selama ada kesempatan, why not?!

Tapi ketika kesempatan belum kunjung datang, tempat belajar itu banyak..! kunjungi toko buku, perpustakaan, nonton berita, baca artikel-artikel yang positif, dan banyak ngobrol sama orang yang positif. Sssttt bukan gosip thok. :D




Perempuan dan Pendidikan

Pendidikan perempuan harus baik. Saya pake istilah ‘baik’ ya, bukan ‘tinggi’, karena kalau saya pake istilah pendidikan tinggi, orang bakal langsung mikir perempuan harus kuliah, harus sarjana, harus master, de el el embel-embel lainnya.

Ada panggilan dari dalam diri untuk share personal opinion saya disini tentang perempuan dan pendidikan yang kadang langsung serta merta diasosiasikan dengan SEKOLAH, padahal pendidikan itu pengertiannya tidak sesempit gedung dan kurikulum yang ada di sekolah.

Banyak pendapat, opini, pemikiran, pandangan yang nampaknya perlu diklarifikasi, semisal:
  • ·         Zaman sekarang perempuan harus sekolah tinggi, biar bisa dapet kerja enak, mapan finansial.
  • ·         Zaman sekarang perempuan harus mandiri, biar nggak bergantung sama laki-laki.
  • ·         Perempuan berhak bebas, kalo punya penghasilan tinggi.
  • ·         Sayang ya sekolah tinggi hanya jadi ibu rumah tangga, ujung-ujungnya ke dapur mah gak usah sekolah keleus.
  • ·         Ibu rumah tangga dipandang “pengangguran” dan tidak bernilai ekonomis dalam rumah tangga.
  • ·         De el el.. silahkan isi sendiri hehe..

Well.. semua pendapat di atas tidak sepenuhnya salah, tapi tidak sepenuhnya benar. Saya setuju kalau perempuan sebaiknya sekolah setinggi-tingginya, tapi bukan semata untuk penghasilan, apalagi melepaskan kebergantungan pada pria sepenuhnya.

Alangkah bijaksana ketika sekolah tinggi yang berujung perolehan gelar akademik justru bisa meningkatkan martabat perempuan itu sendiri. Kenapa saya bilang martabat? Karena perempuan bermartabat itu tidak pernah menggunakan satu sisi dirinya untuk melemahkan sisi dirinya yang lain.
Sisi pertama, perempuan memiliki kebutuhan aktualisasi diri, semisal: mengembangkan diri di dunia bisnis, memiliki jaringan sosial, memperoleh pendapatan, memiliki komunitas berbagi, bekerja di dunia pendidikan, bekerja di perusahaan sesuai bidang minatnya.

Sisi lainnya, perempuan memiliki fitrah sebagai makhluk yang wajib menjaga kemuliaanya, seperti: menjaga kehormatan, mematuhi etika pergaulan, menjadi istri yang taat sama suami, menjadi ibu yang memastikan anak-anaknya tumbuh berkembang dengan baik, taat pada aturan Tuhan.

Pendidikan tinggi bukan lisensi untuk melanggar sisi fitrah dari perempuan itu sendiri. Apalagi untuk muslimah, kita tidak diajarkan untuk melepaskan kebergantungan pada laki-laki (a.k.a ayah dan suami). Dan sama sekali tidak diaajarkan untuk menuhankan kebebasan.

Prihatin sekali kan ketika ada perempuan dengan pendidikan tinggi berperilaku bebas tak berbatas, merasa mandiri jadi tidak menghargai aturan sosial, merasa mapan menjadi mudah menentang aturan pernikahan, merasa mampu membayar mahal pengasuh akhirnya menyerahkan pengasuhan anak sepenuhnya pada pengasuh, dan melegalkan diri untuk tidak harus melayani keluarga dengan baik.

"Tapi ada kok mbak yang pendidikan rendah juga kelakukannya begitu."

Nah makanya saya bilang di awal, yang saya maksud adalah perempuan harus memiliki pendidikan yang BAIK, tinggi rendah bukan lagi jadi ukuran.

Ada beberapa perempuan yang tidak mengenyam pendidikan tinggi tapi memiliki pendidikan yang baik. Dia mampu menjadi istri dan ibu yang mengurus rumah tangga dengan baik, membantu mencari penghasilan tambahan tanpa terpaksa, dan memiliki rasa ingin belajar hal-hal baru. Wanita ini bukan sarjana apalagi master.

Ada juga [banyak] perempuan yang saya kenal berpendidikan tinggi, bahkan lulusan universitas ternama di negeri ini yang menunjukkan pendidikan tinggi nya berhasil meng-upgrade kebaikan diri. Meskipun memiliki pendidikan tinggi, tetap semangat belajar menjadi istri yang patuh pada suami, tidak congkak meskipun pendapatan di atas gaji suami, merawat anak-anaknya dengan baik, bahkan mampu berbagi dengan sesamanya.

Nah lho, pada akhirnya tinggi rendah menjadi kurang penting, karena yang jadi penting bagi perempuan adalah pendidikan yang BAIK. Pendidikan yang terus mendorong perempuan belajar mengembangkan potensinya tanpa mematikan fitrahnya, apapun statusnya – bekerja, ibu rumah tangga, maupun keduanya.

Lalu, apa pentingnya pendidikan yang BAIK itu? (Baca: Pendidikan BAIK bagi Kaum Hawa)


pict-source: google.com


- on my desk, 03-09-2016.





Rabu, 24 Agustus 2016

Pelatihan Applied Approach pertama saya :)

Bulan lalu diberi kesempatan untuk mengikuti acara Pelatihan Applied Approach, biasa disingkat Pelatihan AA.

Pelatihan ini hukumnya wajib diikuti oleh para dosen muda, baik di lingkungan perguruan tinggi negeri atau pun swasta. Tujuannya adalah membekali para dosen muda yang baru terjun ke dunia mengajar profesional (bukan lagi sebagai asdos hehe..).

Durasi pelatihan beragam disesuaikan dengan kondisi penyelenggara, katanya bisa sampe 12 hari nonstop. Pelatihan AA yang saya ikuti tidak selama itu, hanya berlangsung 3 hari. Tapi jadwalnya memang padat, dari Pkl. 08.00 s.d 21.00.  Kegiatan diselenggarakan oleh STIE Indragiri yang berlokasi di ibu kota kabupaten Inhu – Rengat. Peserta Pelatihan AA berasal dari 8 kampus di kabupaten Inhu juga 2 kampus dari kabupaten sebelah (Indragiri Hilir).

Rangkaian acara adalah pelatihan oleh para pakar di bidangnya. Bahasan meliputi pembelajaran, penelitian, penilaian, dan hal lain terkait dunia keseharian dosen di perguruan tinggi. Acara ini ditutup dengan penugasan. Jadi kalo tugasnya nggak dikerjain, peserta nggak akan dapet sertifikat. Sertifikatnya berpoin besar lho. Makanya saya termasuk yang ngerjain tugasnya, haha.. #modus!

Peserta dari STAI NF & STKIP Insan Madani


**
Hmmm... setelah sekian lama (2 tahunan) nggak ikutan forum ilmiah atau akademik di luar kampus, rasanya membahagiakan bisa masuk kelas lagi, belajar lagi, dipertemukan lagi dengan orang-orang keren!
Siapa aja tuh orang-orang keren itu? Here are the stories...

**

Prof Ellizar Jalius, M.Pd.


Professor perempuan yang meskipun sudah sepuh tapi terlihat sekali jiwanya jauh lebih muda dari usianya. Dengan santai beliau memperkenalkan dirinya juga bercerita tentang perjalanan kariernya hingga menjadi guru besar.

Dari ceritanya kami para peserta jadi tahu bahwa dia punya nickname yang unik, sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama lengkapnya. Beliau dikenal dengan panggilan ‘Non’. Panggilan masa kecil yang terbawa sampai beliau jadi guru besar, hehe.. so, dia bilang kalau mencari saya di UNP (Univ. Negeri Padang) jangan pake nama Ellizar, tapi gunakan sebutan ‘Non’. Nice.

Setelah itu dia bercerita tentang perjalanan karir akademiknya, yang ternyata dimulai setelah memiliki empat (atau tiga yaa, lupaaa haha ) anak. Beliau mulai menempuh sarjana muda selepas lulus SMA, tetapi berhenti setelah dua tahun kuliah, dan concerns penuh pada pengasuhan anak-anaknya. Sampai setelah lebihd ari 5  tahun pernikahan barulah beliau melanjutkan sarjana mudanya. Setelah bertahun-tahun lamanya beliau masih terus terpikir untuk melanjutkan sekolah ke pascasarjana. Tapi berulang kali suaminya menahannya.

Semua peserta dibuat tertawa dengan banyolannya ketika bercerita tentang bagaimana suaminya menahan atau seakan meragukan kemampuannya untuk sekolah lagi. Begini kurang lebih intisari dialognya:

Non    :“Pah, sudah dibuka pendaftaran pascasarjana itu?”
Suami : “mau apa?”
Non    : “mau daftar lah.”
Suami : “lai talok?” – (red. Bahasa Minang yang artinya kurang lebih: emangnya kamu bisa.)
kata lai talok diulang sampai berkali-kali dalam kurun waktu sekian tahun. Tapi semakin diragukan semakin tinggi saja semangat beliau untuk melanjutkan kuliah, ujarnya.

Sampai akhirnya beliau mendaftar sendiri, dan menunjukkan prestasi yang cukup bisa dibanggakan. Lulus tepat waktu. Dengan nilai A berderet di transkrip nilainya.

Begitu pun dengan S3 nya, beliau berhasil mematahkan keraguan orang-orang di sekitarnya. Hingga sampai suatu saat suaminya mengakui kemampuannya dan mengungkapkan bahwa ia bukan tidak percaya pada kemampuan istrinya, tetapi khawatir istrinya tersebut tidak bisa bertahan dan keteteran.
Singkatnya, beliau lulus S3 di usia sepuh (lebih dari 60 tahun), hanya dalam beberapa bulan berhasil menjadi guru besar di UNP. Beliau produktif melakukan penelitian. Beliau pun berpesan untuk tidak terlalu berorientasi pada kejar tayang mengajar, tapi jadilah dosen yang ‘benar’ dan fokus melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara optimal.

Dari beliau, semangat untuk mengejar mimpi kembali timbul (setelah sempat tenggelam, haha..!) . ada bukti bahwa usia tak lagi jadi kendala selama kita mengupayakan apa yang kita impikan. Dalam profesi dosen, tidak lain dan tidak bukan menjadi Guru Besar adalah titik capaian tertinggi, bukan? Guru besar adalah posisi kemapanan ilmu, meskipun pada kenyataannya para guru besar itu semakin tua nampak semakin haus ilmu.

**

Prof. Syahrul

Beliau adalah salah satu guru besar bahasa di UNP. Pelatihan pada sesi beliau dimulai dengan ice breaking joget-joget penguin, dan di pertengahan sesi pun beliau kerap kali mem-boost mood para peserta dengan ice breaking.

Beliau berbicara bahwa bahasa adalah kekayaan. Indonesia cukup menantang dalam penggunaan bahasa, karena terdapat banyak kelompok etnis dengan bahasa berbeda. Melalui dialek bahasa kita menjadi mudah tahu asal tinggal seseorang. dan tidak jarang dialek tersebut menyalahi pengucapan bahasa indonesia yang baik dan benar, ujarnya. Kami menyimak dan sesekali tertawa saat beliau menceritakan pengalaman-pengalamannya mengoreksi bahasa para mahasiswanya yang berasal dari suku Batak, Minang, dll. :D

Sesi beliau mengulas tentang Penelitian Tindakan di dunia perguruan tinggi, how to conduct its research, dan penulisan bahan ajar.

Penuturannya sederhana, mudah dimengerti, dan bisa membuat nyaman. Lebih dari 4 jam bersama beliau, saya belajar how to be a well integrated person. Bravo!

**

Prof. Syafrani.

Di awal sesi beliau mewanti-wanti peserta untuk memaklumi dialek bahasanya yang ‘melayu banget’, karena memang beliau orang Melayu asli katanya. Beliau adalah salah satu mantan rektor di Univ. Lancang kuning Riau.

Pada sesi beliau, peserta dibuat enak tertawa. Penuturannya santai, dan yang beliau bahas adalah keseharian aktifitas yang terjadi di dunia kampus swasta menengah ke bawah. Ada kesan penuturan beliau sangat empatik. Beliau ada di tempat yang sama dengan kami para peserta yang notabene mengajar di kampus swasta kecil di kota kecil juga. Kampus dengan input yang tidak sebagus di perkotaan.

Dari penuturan beliau, kami merasa sangat terwakili, dan merasa tidak sendirian, #tsaaaah!

Beliau mengungkapkan banyak sekali pengalamannya selama menjadi dosen. Dalam sesinya beliau juga mendorong untuk masyarakat Riau bangkit untuk memperbaiki dan percaya diri ketika menghadapi persaingan di kelas Nasional. Terlihat sekali kepedulian dan keprihatinannya pada kondisi pendidikan di provinsi ini.

Banyolan yang melekat dari beliau, sekaligus sindirian untuk sekelompok suku yang masih terbiasa dengan aktifitas memancing:

“Orang yang hobi memancing itu nggak akan bisa maju-maju.” (pause)
Semua peserta ngangguk-ngangguk, mengiyakan ucapannya, mengamini maknanya.
Tapi semua buyar menjadi gelak tawa, saat beliau melanjutkan.
“Orang yang hobi memancing itu nggak akan bisa maju-maju. Kalo sampe maju, terceburlah ia ke sungai” hahaha...!!
Materi yang beliau sampaikan terkait penilaian yang komprehensif, yang tidak terpaku pada nilai ujian saja. Melainkan penilaian alternatif yang juga mempertimbangkan aspek lain semisal keaktifan, attitude, kelengkapan tugas, ketepatan waktu, dan lainnya sesuai dengan tuntutan mata kuliah tertentu.

Sesuatu yang sudah kita tahu sebenarnya, tapi kadang kami para dosen memang perlu dikuatkan dengan penyampaian-penyampaian seperti ini.

**

Dr. Elfis

Juga seorang akademisi asal Riau. Beliau adalah pemateri termuda dibanding tiga pemateri lainnya. Beliau berdinas di Univ. Islam Riau.  

Dua statement beliau yang cukup membuat kening merengut kepala mengangguk:
·         Mahasiswa adalah makhluk defisit selama rata-rata 4 tahun. Untuk S1 bisa jadi lebih dari 4 tahun. Masa setelah lulus kuliah, masih akan jadi pengangguran dan defisit juga?
Mahasiswa harus dipaksa untuk berpikir enterpreneur, salah satu ujung tombaknya ada di tangan dosen. Jadilah bank ide untuk mereka.
Oke, bapak ibu dosen muda, mari kita upayakan sekecil apapun upaya itu untuk menginspirasi para mahasiswa agar bisa jadi makhluk produktif dan tangguh. #uhuk!

**

Udah segitu dulu ya. Salam harmoni di dunia pendidikan ibu pertiwi!


Kamis, 18 Agustus 2016

kala pendidikan kini begini

tulisan ini bakal serada serius ni. #pasangkacamataminus

Well, profesi saya mengharuskan saya berhubungan dengan manusia dalam konteks pendidikan. Pendidikan bukan barang sepele yang bisa kita sejajarkan dengan bidang lain yang lebih bersifat transaksional. Haram hukumnya ketika berbicara untung rugi di bidang ini. Aktifitas-aktifitas di dalam setting pendidikan tentu perlu perencanaan, pelaksanaan, dan penghayatan yang serius.

Jadi, sangat memprihatinkan kalau masih ada yang berpikir bahwa pendidikan hanya sebatas sekolah, mengajar, pengajar, dan siswa. 

**
ingat kasus mahasiswa yang membunuh dosennya di toilet sebuah kampus?
atau kasus  orang tua yang melaporkan guru ke polisi karena anaknya diingatkan untuk shalat dhuha?
ada lagi kasus pemukulan oleh orang tua siswa terhadap seorang guru?
dan atau pernah mendapati perlakukan 'tidak sopan' dari peserta didik?

kasus pelecehan terhadap kaum pendidik mudah sekali ter-blow-up di era digital sekarang ini.
bukan satu dua, tapi banyak guru dan atau dosen yang men-share artikel-artikel kasus tersebut di beranda sosial medianya.
percayalah, tindakan men-share tersebut dilatarbelakangi oleh keresahan, kesamaan rasa, dan ada pertanyaan di balik semua artikel itu: "ada apa dengan anak-anakku di zaman ini? seakan kami pendidik tidak lagi berwibawa di mata mereka"

** 
lantas apakah guru/dosen itu gila hormat? saya bisa pastikan jawabannya TIDAK.
kami tidak perlu penghormatan.
jauh di dasar hati kami sudah tertanam, bahwa apa-apa yang terjadi pada anak didik kami adalah wujud dari sukses atau gagalnya aktifitas pendidikan yang kami emban.

dan harus kami (para pendidik) akui bahwa kami masih belum berhasil. 

**
masih banyak anak didik yang berani berbicara kasar pada pendidiknya,
masih banyak anak didik yang semena-mena tidak menghormati pendidiknya,
tidak sedikit anak didik blas tidak tahu sopan santun saat menghubungi pendidiknya.

ditambah lagi para orang tua yang tidak mau tahu saat anak mereka harus melalui proses pendidikan yang dipilih oleh para pendidik. mudah mengecam. mudah menghakimi. terlalu banyak menuntut, hingga lupa untuk menjadi pendidik di rumah ketika anak-anaknya tidak berseragam sekolah.

**
anak-anakku, jadilah generasi  yang hormat pada siapapun guru mu. bukan karena guru mu lebih tua atau pun lebih pintar, tapi karena kesungguhan ia menghadirkan dirinya untuk menanamkan benih-benih bekal hidup di masa depanmu kelak. 

perlakukanlah dengan layak, siapapun gurumu. kamu boleh berpendapat ataupun berargumen, tapi lakukanlah dengan cara yang santun. sekali lagi, setidaknya lakukan karena kesungguhan ia menghadirkan dirinya untuk menanamkan benih-benih bekal hidup di masa depanmu kelak.