Rabu, 31 Agustus 2016

Jalan-jalan ilmiah : Shortcourse Riset Pemula

Tanggal 18-20 Agustus lalu saya dapet rezeki untuk berangkat ke Bandung. Sayangnya bukan untuk lanjut mudik ke kampung halaman (a.k.a. Tasikmalaya), tapi untuk menghadiri acara Seminar Bantuan Penelitian dan Publikasi Ilmiah yang diadakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kemenag.

Saya hadir sebagai salah satu nominator penerima bantuan dana penelitian. Jadi, dateng kesana bukan untuk piknik leha-leha, tapi untuk memperesentasikan proposal penelitian yang saya ajukan beberapa bulan sebelumnya. Sebenernya agak nggak PD sih dengan proposal yang saya buat, karena genre yang nggak masuk kategori Islamic Studies. Tapi ya dicoba aja, karena memang background keilmuan dan pendidikan saya berada di ranah pendidikan umum. Alhamdulillahnya lolos juga jadi nominasi, semoga jebol juga di tahap ini ya, mohon doa ya pemirsa yang budiman :D

**
Oke, lets begin the journey..
Saya berangkat Pkl. 04.00, yes, sebelum subuh kami berdua dengan teman dosen berangkat menuju Bandara SSQ II di Pekanbaru. Kok sesubuh itu berangkat? Gimana lagi, we have no choice karena jarak tempat tinggal kami dengan bandara lumayan jauh, jarak tempuh perlu waktu sekitar 3-4 jam. Selain itu jadwal penerbangan Pekanbaru – Bandung hanya 2 kali sehari, dan jadwal yang kami pilih itu sudah jadwal yang paling siang, haha..

Sesampainya di Bandung, kami disambut oleh keramahtamahan pegawai Hotel Travello siapa tau diendorse nginep gratis gitu, saya sebut brand hahaha.. koper temen saya dibawain sama si aa-aa ganteng (semoga suami saya nggak salah paham #apasih ). Setelah itu kami diarahkan untuk makan siang. Kami belum bisa melakukan check-in kamar. Alasannya karena panitia dari DIKTIS Kemenag belum sampe hotel. Hmfh!


Setelah makan siang, kami masih belum bisa check in. Dan baru di Pkl. 14.00 kami dipersilakan melakukan registrasi di meja panitia. Dan diarahkan untuk lanjut ke meeting room di lantai 2. Ya, kami masih belum bisa masuk kamar. Kelelahan, pasti. Karena untuk peserta yang berasal dari luar Bandung pasti sudah menempuh perjalanan panjang. Peserta dari Halmahera bahkan sudah lebih dari seharian di jalan. 

**

Ajaibnya, dalam kondisi lelah sekali, ruangan kembali berenergi karena di meeting room kami disajikan materi dari seorang profesor yang keren pake banget!
Yeay, belajar lagiiiiii....
Bye bye capek, bye bye lelah..

**
Materi yang dibawakan oleh profesor tersebut berat sebenernya, tapi kok sampenya enak aja gitu ya. Bicara riset seperti sedang minum teh hangat sama pisang goreng di perkebunan teh #eaaa

Prof. Fuada Jabali in action
Oyaa lupa ngenalin beliau. Beliau adalah Prof. Fuad Jabali, guru besar di UIN Jakarta. Beliau menempuh studi magister dan doktornya di luar negeri. So eye catchy, karena beliau memakai jaket casual + celana longgar + sepatu slip on. Belakangan setelah acara selesai menjelang magrib, terlihat beliau menggunakan backpack dari bahan kanvas, so casual. santai banget. Honestly, cukup langka sih profesor pake outfit model begini, hehe.. and i do like it. Nggak kaku, nggak gimana gitu yaa #apasiihmaksudmuyul??!

Dari dialek bicara, kita bisa langsung tahu, bahwa beliau keturunan sunda asli. Lokal punya, tapi mindsetnya udah global! Dan ternyata bener, beliau putra daerah Jawa Barat. Yeay sesama USA (Urang Sunda Asli) :D

**
Dari sekian banyak pemaparan beliau, berikut ini yang melekat di kepala saya. Hal-hal yang memang sangat harus kita renungkan.

  • ·  Indonesia sedang berupaya untuk menyuarakan Islam Nusantara. Kajian keislaman butuh referensi lain selain islam timur tengah. Faktanya, hal ini belum bisa dicapai, karena Indonesia baru terkenal sebagai negara dengan penduduk mayoritas islam. So what? Sudah sesignifikan apa kontribusi si mayoritas ini untuk kemajuan negeri? Sebagai muslim saya kesindir abis. saya udah ngapaiiin aja? #Jleebbb!
  •      Betul bahwa Indonesia  memiliki kekayaan luar biasa, ditambah dengan label penduduknya yang mayoritas islam, tapi kita masih perlu hal yang ‘menjelaskan’ kehebatan yang kita punya ini pada dunia. Bukan jadi 'jago kandang'. Salah satu upaya yang bisa ditempuh adalah melalui riset, riset, dan riset!   
  •        Sudah saatnya Indonesia dikenal sebagai mayoritas islam yang  berdaya GLOBAL! Tidak hanya sibuk mengelu-elukan satu golongan tertentu. Terbebas dari nafas fanatisme yang memblock imajinasi keilmuan.

·         Dalam sesi shortcourse yang beliau bawakan, kami didorong untuk bisa membuahkan riset yang tidak lokal, tidak subjektif, juga tidak terkenal, haha..      

Sontak banyak yang tersindir. Dan rasanya ingin pulang saja tidak ingin melanjutkan presentasi, HAHAHA...

Tapii saya memilih berani, berani belajar, dan berdoa semoga reviewer proposal saya adalah beliau. Lanjutan ceritanya ada di tulisan saya yang bertajuk bedah proposal riset, belajar lagi, belajar terus..




2 komentar: