Kamis, 25 Agustus 2016

Mendadak jual batu akik di Danau Toba :D

Danau Toba, tempat melegenda di negeri Indonesia. Siapa yang tak tahu. Sejak kecil saya termasuk yang terobsesi ingin menginjakkan kaki di Danau Toba dan Pulau Samosir. Mungkin darah nenek moyang memanggil-manggil, hehe..

Iya, darah Batak mengalir di tubuh mungil ini. Pernah denger marga Napitu? Kalo pernah, alhamdulillah. Kalau belum, mari kita kenalan!

Napitu, sebuah marga yang saya dapat dari garis keturunan papah. Salah satu marga asli dari Batak Toba. Yes, batak itu banyak klannya, Batak Toba, Batak Karo, Batak Tapanuli, dan lain sebagainya. Maaappp nenek moyang saya nggak hafal :D

**
Salah satu destinasi yang selalu masuk resolusi tiap tahun, akhirnya bisa terealisasi di 15 Mei 2015. Yeay..!!

Menyempatkan nekad berangkat di sela-sela tanggal merah. Waktu itu saya nya sih free, tapi suami tidaks!

Hampir seluruh perjalanan memang bermodal nekad. Jenis kenekadan di perjalanan menuju Toba ini adalah mepetnya waktu dan budget. Saking udah suntuk sama rutinitas di kebun sawit. Duit pas-pasan dan waktu yang pepet-pepetan tidak mengurungkan kami untuk goooooow. 

Kami berangkat tanggal 15 Mei sore dan tanggal 17 Mei sudah harus sampai rumah lagi. Keren banget deh rasanya bisa traveling in a rush semodel begini. Maksa banget! Alasannya simple: kapan lagi kalau nggak sekarang, hihi..

**
Seminggu sebelum berangkat kami sibuk browsing sana sini, salah satunya jalur tempuh  dari Riau menuju Danau Toba. Dan hasil pencarian nyaris nihil. Mungkin karena orang-orang Riau yang ke Toba jarang share di blog :D

So, this one of the reason kenapa saya tulis cerita ini meskipun telat. Siapa tahu ada orang Riau yang mau ke Danau Toba. Hehe..

**

Kami berangkat dari kebun menuju terminal di Perawang sekitar jam 12 siang (salah satu pusat keramaian di Kabupaten Siak). Tragedi pertama, ternyata terminal perawang pindah!  Alhasil sejam lebih kami muter-muter nyari terminal baru yang nyempil di tengah-tengah tanah lapang yang belum terbangun. Daaaaaaan sesampainya di terminal kami senang. Tapi, ada tragedi kedua, motor kami dititip dimana? Haha..

But always there is an invisible hand, setelah kami muter-muter cari bus dengan rute menuju Toba tawar menawar dan bla bla bla akhirnya solusi ditawarkan oleh penunggu loket, “Dititip di kami aja honda nya bang!” dengan jaminan KTP nya kami bawa. Legaaaa...

[ intermezo ] Oiya, disini apapun merek sepeda motor kita, semuanya disebut HONDA :D

**
Bus yang akhirnya berjodoh dengan kami adalah bus PMH kelas ekonomi non-AC. Seriously, kami berangkat menuju toba tanpa bus AC. Karena memang bus ini satu-satunya bus yang rutenya berujung di Parapat. We have no choice!

Kami  adalah dua orang pertama yang masuk bis yang kosong melongpong. Dengan PD duduk di bagian paling depan. Bahagia, menghela nafas lega. Sebelum kebahagiaan itu selesai kami santap, kondektur menanyakan tiket. Lalu dengan dialek batak yang kental, dia meminta kami pindah ke kursi bagian belakang. What?!

Belakangan kami tahu kalau di tiket sudah tertera nomor kursi. Semua tertib mengikuti nomor di tiket masing-masing. Tragedi ketiga terjadi, ternyata depan kami perokok, di sisi belakang toilet (kelas ekonomi), dan di kanan kami perokok juga membawa dua ekor ayam. Yes, just imagine how hard to be us. Haha..

**

Kami berangkat Pkl. 17.30 dan menempuh perjalanan yang lebih lama dari biasanya, karena ada banyak perbaikan jalan dan jalan rusak di perbatasan Riau - Sumut. Kami baru sampai Parapat  pukul 11.00, setelah sebelumnya sempat transit paksa di Siantar. Total waktu tempuh 18 jam.

Bayangkan selama itu kami harus stay dengan asap rokok, bau ayam, dan bau toilet. Dibumbui perangai penumpang yang teriak teriak curhat karena macet. Kami berlaga lebay, berpegangan erat sepanjang jalan bak romeo dan juliet yang enggan dipisahkan, bukan karena romantis semata, tapi karena kami menahan diri untuk tidak mabuk bahkan pingsan. 
Ah, betapa mahal pengalaman ini, HAHA
Tidur pun tidak tenang, karena sebelum berangkat sudah banyak yang mewanti-wanti kalau sepanjang perjalanan rawan copet.

Sempat tertidur, ketika bangun ditanya oleh bapak-bapak di sebelah kanan kami, “mau kemana kilian?” dengan dialek Batak yang kental dan dramatis karena bangun tidur haha... karena panik dan kaget, suami menjawab “mau ke Batu Aji”, sontak si bapak merespon “dimana itu?!” semua bingung.
Gimana nggak bingung, karena yang suami maksud bukan Batu Aji, tapi AJIBATA. Hahaha...

So, kalo bangun tidur tenangin diri aja dulu, jangan kepancing pertanyaan, apalagi dengan nada ngebentak #eh maaappkan saya duhai nenek moyang :D

**
Sesampainya di Parapat kami menuju pelabuhan Ajibata. Nah, dari Ajibata ini lah kita bisa naik kapal melewati Danau Toba menuju Pulau Samosir. Ada tiga jenis kapal yang bisa dipilih: kapal turis eksklusif yang biayanya fantastis, kapal tumpangan biasa, dan kapal feri yang lebih besar bisa ngangkut kendaraan roda empat. Kami memilih kapal tumpangan biasa. Harganya murah, waktu itu hanya Rp. 6.000,-

semodel ini kapal yang kami tumpangi menuju dan dari Parapat - Ajibata


**
Decak kagum mulai muncul niii. Meeeen, danau toba asli besaaaaarrr banget. Kami menempuh 30 menitan untuk sampai ke Pulau Samosir. Ombaknya serupa lautan. Dan asli, luaass membentang. Semua perjuangan [ di bus ] seakan terbayar lunas! 6 ribu doank bisa nikmatin perjalanan melintasi danau, took for granted bakalan happy!

ini selayang pandang dari kapal

**

Sepanjang perjalanan kami memilih ke luar kapal. Karena masih norak pengen melototin sekeliling yang emang mempesona. Setelah selfie sukaesih, kami pun ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang juga nongkrong di luar. di luar kapal ada banyak jerigen yang saya pikir isinya itu minyak, ternyata bukan. Isinya tuak. Ya, tuak adalah minuman favorit di tanah batak, termasuk Toba.

Asik ngobrol sana sini, suami tiba-tiba menjurus membicarakan batu akik sama si pedagang aksesoris. Batu akik lagi hits banget waktu itu. Si abang pedagang nampak antusias ngobrolnya, si suami nampak seperti ahli batu akik dadakan. Saya asik nyimak. 

Tiba-tiba si abang pedagang menyampaikan keinginannya untuk membeli batu akik yang sedang dipakai oleh suami saya. Dengan PD suami menceritakan kalau si batu akik yang dipakai akan berubah warna mengikuti kondisi tubuh si pemakai. Itu yang membuat batu akik ini keren. Si abang pedagang nampak tersihir dan menawar dengan harga yang lumayan.

Berlaga nggak butuh duit, si suami menanggapi, “saya tanya istri saya dulu ya.”
Padahal apa hubungannya coba istri sama batu akik #gubrak!

Karena saya melihat sebentar lagi kapal menepi, dan saya tahu kalau batu akik itu masih ada potongannya di rumah, juga tahu modalnya berapa, saya acungi jempol sebagai tanda setuju.
Dengan kata lain, itu balik modal bangettt kalo kejual, haha..

Tadaaaa... batu akik dengan modal gosok doank kejual 300rb. Kami jadi punya budget tambahan buat main di Samosir, hihiw...!
**

Nah, sesampainya di Tomok. Kalian bisa mulai hunting rental motor dan penginapan. Selain Tomok ada juga Tuk-Tuk. Kalau mau ke Tuk-Tuk kita harus pake boats lagi. Kami nggak sempat ke sana, karena keterbatasan waktu tadi.

Di Tomok ramai banget. Di sana para wisatawan sudah bisa cari produk khas Toba mulai dari kain ulos sampai ukiran-ukiran. Di Tomok ada Museum Batak juga pertunjukkan tari Sigalegale. Makanan halal banyak di sana.

Kalau mau keliling Samosir, bisa pakai angkot bisa juga sewa motor, atau boats via danau. Hanya saja sewa motor agak sulit belakangan, konon katanya banyak kasus pencurian oleh si oknum penyewa. Kalau memutuskan pake angkot, siap-siap juga dibawa pak sopir ala fast and furious dengan soundtrack lagu batak :)
serunya pake angkot, memicu adrenalin, XD

Di samosir melalui pelabuhan Tomok ini, kita juga bisa ke Pantai Pasir Putih Parbaba, ada Hot Spring serupa pemandian air panas gitu, dan banyak lagi.

Seminggu deh di Samosir, bisa tuh kita kelilingi semuanya.

**
Kami tidak memilih menginap di hotel, tapi lanjut ke rumah papah. Selain wisata, kami pun menelusuri situs sejarah klan Napitu. Jalan-jalan ke Tugu Raja Napitu, silaturahmi ke sanak saudara di sana. Ah, senang karena disambut dengan sangat hangat.

Malam harinya kami nongkrong di Lapo Tuak milik sepupu papah. Semakin malam semakin ramai. Kami hanya nongkrong, dan nggak nyoba tuaknya, karena agama kami memang tidak membolehkannya :)

**
Toba di malam hari itu dingiiiiiiiiiiiiin syekalliiiiii! Pagi harinya segeeeeerrr banget!
Papah membuatkan kami sup udang yang dipancing langsung oleh tetangga dari Danau Toba. Enak! Dan harganya tergolong murah. 100ribu bisa dapet sebaskom besar. Kelenger deh kalo sampe kami makan semuanya.

Buka jendela udah Danau Toba aja pemandangannya, duh membahagiakan!

Indonesia Bagus beneran dah!

Sigalegale dan kami, cheers! :)

dia dan alat musik milik klan napitu 

suami, papah, dan saya 

captured at pantai parbaba yang mirip pantai banget

kami di kapal dari Tomok menuju Ajibata 

pagi-pagi, rumah batak :)

oleh oleh buat si bungsu

dia dan deretan rumah batak 

sunrise danau toba

Tugu Raja Napitu

**
Sayang banget deh cuman bisa sebentar di sana. Kami harus kembali pulang. Kami harus kembali hadapi kenyataan *lebay!

Kami pulang dengan menggunakan bus yang sama. Bedanya, kami memesan seat lebih dulu. Jadi kami bisa dapat kursi paling depan. Dari bis kami berasa menembus langit, hamparan awan dan air danau seperti enggan kami tinggalkan.

Terima kasih Tuhan, untuk hadiah Danau secantik Toba di bumi pertiwi ini.
**
P.S. 
Sssssttt....!! sedikit tips yang bisa dicoba sama kamu kamu  yang pengen ke daerah ini, terlebih niat pake kendaraan umum. Nggak usah dandan rapi-rapi ala anak mami. Tampillah segarang sesangar mungkin.
Terbukti lho, untuk perjalanan pulang suami saya sengaja gak cukuran dan pake celana sobek sobek. Sepanjang perjalanan pengamen nggak ada yang minta, malah ngangguk sopan, lewat gitu aja. Preman juga nggak ada yang nyamperin meskipun hanya untuk nyaloin pas di kapal menuju bus.   Salam Nekad! Kalau bukan kita yang nekad, siapa lagi? #eh :D










Tidak ada komentar:

Posting Komentar