Kamis, 11 Agustus 2016

Surga yang tak dirindukan

surga. aku tak tau banyak tentang surga. yang aku tau, surga adalah tempat yang indahnya tiada cela, tempat disematkannya tujuan akhir, sebuah kepulangan yang dirindukan, dan tempat yang tidak miliki pengkhianatan sedetik dan sedikit pun. 
surga kerap kali dijadikan analogi sebuah harapan juga kebahagiaan. 
punya keluarga kecil bahagia harta berlimpah, surga..
punya suami tampan, kaya, juga soleh, surga..
punya sahabat setia di mana-mana, surgaa..

akhirnya surga tak lagi sebuah istilah milik kitab suci, surga milik segala hal indah dan manis.
surga adalah yang diimpikan manusia tanpa harus menunggu mati lagi. 
manusia memang luar biasa kuasa menyematkan makna.


**

pun dengan aku yang punya surga impian: pendidikan tinggi, keluarga utuh, dan karir yang cemerlang.

surga yang aku pikir mudah diraih hanya dengan bekerja keras, sholat lima waktu, dan kesungguhan doa

nyatanya Tuhan mungkin tak rela istilahnya dikecilkan menjadi hal-hal duniawi semata. 
sampai akhirnya aku tahu, surga tidak bisa menjadi istilah sesepele kita mendapat dollar, pernikahan megah, juga pekerjaan bonafide.

surga adalah pengabdian,
surga adalah istana keikhlasan,
surga adalah pelabuhan penerimaan terbaik pada takdir Tuhan.

**
Pernah di suatu sore, aku disibukkan oleh lamunan panjang akan melanjutkan studi ke sebuah negeri asing. Lamunan yang membuatku sangat bersemangat belajar bahasa asing, mempelajari budaya luar negeri, juga terus merancang strategi agar secepat mungkin bisa sampai ke bagian bumi yang belum pernah aku pijak sebelumnya, Amerika. Ya, negara yang sering dijuluki Negeri Paman Sam. 

aku tidak lupa betapa bersemangatnya dan gilanya aku akan impian besar itu.
"sebuah surga di negeri asing," imajiku berbisik sangat pelan.

**
Pendidikan tinggi pun pernah menjadi bagian dari istilah surga dalam hidupku. aku pernah salah kaprah, mensejajarkan pendidikan dengan gelar. Pernah serampangan mengartikan pendidikan baik adalah rentetan gelar yang mengundang decak kagum banyak orang. Keren, begitu kata mereka, juga aku, kala melihat sesosok nama lengkap dengan gelar berjejer di belakangnya.  

surga yang dikejar dengan mati-matian mengikuti pendidikan tinggi hingga pascasarjana. Dua tahun aku tempuh, setelah empat tahun melelahkan mengejar gelar Sarjana. Sekarang, di belakang namaku tersemat gelar master pendidikan. Bukan satu dua orang, puluhan bahkan ratusan orang berpendapat aku adalah salah satu orang keren itu. 

Apakah aku tengah menikmati surga? aku tidak yakin. 

**

menjadi dosen, selugas itu surgaku yang lainnya. Ya, sejalan dengan surga gelar yang pada akhirnya berujung kehampaan, aku begitu ingin berlabuh di sebuah pekerjaan yang orang sebut sebagai pendidik di pendidikan tinggi. pendidik para mahasiswa, sebuah profesi yang aku anggap bisa membuatku terbang setinggi-tingginya. sebuah surga yang tidak memisahkan aku dari kumpulan buku-buku ilmiah, dari riset yang menyenangkan, dari kegiatan menulis, juga dari diskusi-diskusi yang membuatku semakin dan semakin cerdas. 

aku terus berdoa sungguh-sungguh, Tuhan aku ingin jadi dosen. ya, selugas itu doaku.

hingga di suatu pagi, aku menerima kabar, NIDN ku sudah keluar. NIDN sebutan pendek untuk Nomor Induk Dosen Nasional, artinya aku sudah resmi menapaki salah satu surga yang aku impikan.

Lantas apakah kali ini impian itu benar adanya sebuah surga? Ah, maaf aku masih belum yakin juga.

tempatku menulis ini, adalah surga. banyak orang baik disini. banyak orang pintar disini. tapi aku merasa terasing dan sepi. 

surga tak sesepele sebuah deretan angka dan status belaka, nyatanya begitu! 
tapi percayalah, untuk semua ini, aku haturkan banyak terima kasih dan puja puji syukur pada Tuhan semesta alam sebab setiap takdir pasti punya alasan. Dan Tuhan mungkin lagi-lagi sedang mengajarkanku arti surga yang sebenarnya.

**
Surga yang kutulis terakhir, adalah surga yang membuat aku tak menyesal menyematkannya di daftar deretan surga impian. ya, pernikahan. sebuah surga dunia yang membuat aku semakin mengenal cinta, kasih sayang, tanggung jawab, dan khusyu memeluk ketaatan kepada-Nya. 

Surga yang mengenalkanku hakikat bahagia. Surga yang hanya aku yang rasakan. Surga tanpa gelar, tanpa nominal, tanpa panggung saling mengalahkan, sebuah surga yang harus terus menerus dibangun dan indah dengan sendirinya. sebuah surga yang ada dalam jiwa dua hati yang kini saling bersandar, bergantung, menguatkan, mengingatkan, menggenggam, juga terbang tinggi bersama. 

**

pada akhirnya, kita akan menghujat diri sendiri karena telah merindukan surga-surga yang belum tentu baik untuk kita. surgaku, surgamu, dan surganya ternyata tidak bergantung pada apa-apa selain pada segumpal daging di dalam raga, bernama hati. yang ketika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh jiwanya. pun sebaliknya. 

aku tak lagi ingin bertanya tentang surga, dirindukan atau tidak surgaku di dunia, aku tak lagi peduli. 
aku memilih berhenti untuk sok-tau, biarlah surga itu milik Tuhan saja. mengembalikannya tetap hanya menjadi sebuah istilah dalam kitab suci dengan keluhuran maknanya. 

 “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar.” (at-Taubah: 72)


2 komentar:

  1. sesungguhnya allah maha tahu yang terbaik buat kita...

    sesuatu yang tak disukai oleh kita, justru itulah yang mungkin terbaik untuk kita menurut Allah..

    yang kita sukai dan kita damba.. mungkin itu justru yng menjerumuskan ke dlm ketidak baikkan..

    ----
    eeelahhhhh.... mlah kaya orang sok alim gini eikeh.... ngok..ngok... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. that's the point. jadi hidup adalah ibadah ketika apapun yang dilakukan ujung-ujungnya "gimana Allah aja." sambil terus mengupayakan yang terbaik. hakshiks.. *mellow dah ah :'D

      Hapus