Tampilkan postingan dengan label pemula. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemula. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Oktober 2016

Jurus Jitu IRT Pemula di Dapur :D


Happy Friday..!

selamat hari jumat.
kembali ke dapur. lho kok?

Yess, Jum'at is my work day off. 

ketika orang lain libur hari minggu, saya liburnya malah hari jumat (dan hari minggu).
so, dapurnya trang treng trong, berfungsi jadi laboratorium eksperimen masak di dua hari itu. Selebihnya, hanya trang treng tanpa trong hehe.. apasih!

seperti janji saya di artikel sebelumnya (baca: Harus ya bisa masak)
Let me share jurus jitu perbumbuan biar nggak panik pas masak.

seperti hidup, masak juga butuh proses. dan bisa masak pun perlu proses. 
hanya saja, emang kalau yang udah punya bakat masak, mau salah bumbu juga biasanya enak aja gitu masakannya. Beda sama yang total nggak ada bakat masak, mau bener bumbunya juga, tetep aja susah enak, haha..

saya? termasuk yang tidak berbakat dan juga pemalas. Tapiiii  saya termasuk yang meyakini, bakat itu akan kalah hanya dengan satu resep: HATI!
terbukti lho ini, kalo masaknya pake perasaan, itu masakan bisa enak aja gitu #tsaaaah 
tapi kalo kepaksa, terus unmood, kemungkinan besar itu makanan will taste such a disaster di mulut. 

eh  kok jadi kemana-mana ngemengnyaaa..

lanjut yaaa, nah saya punya jurus warisan leluhur alias mama saya yang nggak doyan-doyan amat nongkrong di dapur, tapi patut dicoba untuk kaum pemula, tadaaaaaaa~

 Jurus CBT (Cabe Bawang Tomat)

Saya sudah membuktikan dari tiga bumbu ini kita bisa membuat rupa-rupa menu. Cekidot!

*Sebelumnya, cabe disini bebas ya, bisa diartikan cabe merah, cabe ijo, cabe rawit, atau pun paprika. Bawang disini ada dua kategori bawang merah/bawang bombay dan bawang putih. Terakhir tomat, bisa tomat cherry, ataupun tomat gede segede alaihim gambreng. Semuanya sesuai selera dan sesuai stok ya buibuuuu #eh

1. Tumis-tumisan

Tumis itu kan sejenis masakan yang nggak pake air. karena kalo pake air namanya sayur #eh.. Tumis ini bisa tumis sayuran atau daging. Jadi dari tiga bumbu CBT bisa dibuat tumisan tersebut. 
gampang banget: 

  • iris-iris cabe nya, bawang nya, tomatnya.
  • panaskan minyak goreng (secukupnya, sedikit aja, jangan sampe kebanyakan)
  • lalu masukkan bawang merah, setelah harum masukkan bawang putih, lalu masukkan cabe. tomat terakhir. 
  • masukkan bahan utamanya: misal kangkung, kailan, atau bahkan ayam.
  • lalu masukkan tomat. 
  • beri garam dan gula (3:1) 
  • beri penyedap kalau biasa pake ya. kalau saya sih lagi berusaha jadi enema penyedap instan. karena dari kombinasi gula, garam, dan CBT juga sudah enak kok :D

2. Sambal 

Sambal? Duh ini tuh menu yang favorit di seluruh nusantara. apalagi yang dapet suami maniak sambal, wajib bin kudu bisa bikin sambel. 

Ssssssttt... FYI yaaa, laki itu nggak akan mau tahu itu sambel komposisinya apa, yang penting rasanya pedas harmonis di lidah! haha..
kecuali lakinya yang hobi kepoin dapur #eh

Nah, untuk pemula, cukup pake rumus (rumus doooooonk) ini:
Sambel = CBT + Gula + Garem + Penyedap (optional)
Kalau suka sambel terasi, tambahin aja terasi secukupnya (dikit aja, asal ada aroma, kalo kebanyakan nanti enek dan baunya itu bikin patah idung #eh)
kalau nggak suka terasi, murni CBT aja juga udah enak! 

ada beberapa opsi untuk kasus (((KASUS))) sambel ini:
  1. goreng dulu baru ulek
  2. bakar dulu baru ulek
  3. rebus dulu baru ulek 
  4. rebus dulu baru ulek lalu digoreng
  5. mentahan aja seadanya baru digoreng setelah diulek
  6. mentahan aja langsung lahap

3. Tim Ikan Asin

Ada yang suka ngetim? ngetim ikan asin peda misalnya?
Atau tim apaan gitu yaa, asal jangan tim sepak bola.

caranya:

  • iris-iris CBT
  • Panaskan minyak goreng dikit aja.
  • masukkan CBT bersamaan.
  • masukkan air sedikit
  • Masukkan ikan asin/peda nya
  • seasoning: Gula, garem, penyedap (optional)

DONE :)

4. Bumbu Kecap semur ala-ala

Panjang bener nama menuny. Ini dikarenakan saya nggak tahu ini menu masuk kategori semur atau apa, haha..

Bahan yang bisa diolah antara lain: ayam, daging sapi, telur, tahu, tempe, ati ampela.
Caranya:

  • Siapkan bahan tambahan: Serai, daun salam, dan lada bubuk
  • ulek (manual atau pake blender CBT + jahe 
  • Panaskan minyak goreng secukupnya
  • Tumis bumbu yang sudah halus + daun salam + serai
  • masukkan deh bahan utama (kalau saya biasanya itu ayam/daging/dll sudah direbus atau digoreng terlebih dahulu, biar empuk.)
  • masukkan air secukupnya
  • Nah, kalau air sudah mendidih, kecilkan api, masukkan kecap manis.
  • biarkan meresap. sesekali aduk, khawatir gosong. 
  • seasoning: gula, garem, lada bubuk, penyedap (optional)

DONE :)

5. Sayur berkuah

Kuah disini maksudnya menu berair kayak sayuran ya, hehe..
Bahan yang bisa diolah: bayam, kangkung, dan sejenisnya deh.


  • Caranya: 
  • CBT iris-iris. 
  • Siapkan minyak goreng secukupnya. 
  • Masukkan irisan CBT (kecuali tomat)
  • Setelah wangi, masukkan air.
  • Setelah mendidih, masukkan bahan utama
  • kalau sudah terlihat matang baru deh masukkan tomat

DONE :)

Gampang kan? Nah, eksperimen berikutnya kita bisa sesuaikan dengan taste masing-masing. Sungguh ya, semua berawal dari CBT haha..

Ini pengalaman pribadi saya ya, jadi kalau ada yang pengalamannya berbeda, jangan sungkan share yaa!
Jangan sampe fenomena IRT pemula yang panik di pojokan dapur semakin merajalela hihi..

Salam semangat eaaa kakaakks :p

**

Hasil belajar yang terdokumentasikan :) 


Bubur ayam

Tahu isi alias Gehu
Nugget ayam (abaikan kegosongannya wkwk)



seblak ala ala 
sop buntut :)

soto ayam pake telor :d

Sambal pete ikan serai 

Tumis Manisa Tempe





Rabu, 31 Agustus 2016

Jalan-jalan ilmiah : Shortcourse Riset Pemula

Tanggal 18-20 Agustus lalu saya dapet rezeki untuk berangkat ke Bandung. Sayangnya bukan untuk lanjut mudik ke kampung halaman (a.k.a. Tasikmalaya), tapi untuk menghadiri acara Seminar Bantuan Penelitian dan Publikasi Ilmiah yang diadakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kemenag.

Saya hadir sebagai salah satu nominator penerima bantuan dana penelitian. Jadi, dateng kesana bukan untuk piknik leha-leha, tapi untuk memperesentasikan proposal penelitian yang saya ajukan beberapa bulan sebelumnya. Sebenernya agak nggak PD sih dengan proposal yang saya buat, karena genre yang nggak masuk kategori Islamic Studies. Tapi ya dicoba aja, karena memang background keilmuan dan pendidikan saya berada di ranah pendidikan umum. Alhamdulillahnya lolos juga jadi nominasi, semoga jebol juga di tahap ini ya, mohon doa ya pemirsa yang budiman :D

**
Oke, lets begin the journey..
Saya berangkat Pkl. 04.00, yes, sebelum subuh kami berdua dengan teman dosen berangkat menuju Bandara SSQ II di Pekanbaru. Kok sesubuh itu berangkat? Gimana lagi, we have no choice karena jarak tempat tinggal kami dengan bandara lumayan jauh, jarak tempuh perlu waktu sekitar 3-4 jam. Selain itu jadwal penerbangan Pekanbaru – Bandung hanya 2 kali sehari, dan jadwal yang kami pilih itu sudah jadwal yang paling siang, haha..

Sesampainya di Bandung, kami disambut oleh keramahtamahan pegawai Hotel Travello siapa tau diendorse nginep gratis gitu, saya sebut brand hahaha.. koper temen saya dibawain sama si aa-aa ganteng (semoga suami saya nggak salah paham #apasih ). Setelah itu kami diarahkan untuk makan siang. Kami belum bisa melakukan check-in kamar. Alasannya karena panitia dari DIKTIS Kemenag belum sampe hotel. Hmfh!


Setelah makan siang, kami masih belum bisa check in. Dan baru di Pkl. 14.00 kami dipersilakan melakukan registrasi di meja panitia. Dan diarahkan untuk lanjut ke meeting room di lantai 2. Ya, kami masih belum bisa masuk kamar. Kelelahan, pasti. Karena untuk peserta yang berasal dari luar Bandung pasti sudah menempuh perjalanan panjang. Peserta dari Halmahera bahkan sudah lebih dari seharian di jalan. 

**

Ajaibnya, dalam kondisi lelah sekali, ruangan kembali berenergi karena di meeting room kami disajikan materi dari seorang profesor yang keren pake banget!
Yeay, belajar lagiiiiii....
Bye bye capek, bye bye lelah..

**
Materi yang dibawakan oleh profesor tersebut berat sebenernya, tapi kok sampenya enak aja gitu ya. Bicara riset seperti sedang minum teh hangat sama pisang goreng di perkebunan teh #eaaa

Prof. Fuada Jabali in action
Oyaa lupa ngenalin beliau. Beliau adalah Prof. Fuad Jabali, guru besar di UIN Jakarta. Beliau menempuh studi magister dan doktornya di luar negeri. So eye catchy, karena beliau memakai jaket casual + celana longgar + sepatu slip on. Belakangan setelah acara selesai menjelang magrib, terlihat beliau menggunakan backpack dari bahan kanvas, so casual. santai banget. Honestly, cukup langka sih profesor pake outfit model begini, hehe.. and i do like it. Nggak kaku, nggak gimana gitu yaa #apasiihmaksudmuyul??!

Dari dialek bicara, kita bisa langsung tahu, bahwa beliau keturunan sunda asli. Lokal punya, tapi mindsetnya udah global! Dan ternyata bener, beliau putra daerah Jawa Barat. Yeay sesama USA (Urang Sunda Asli) :D

**
Dari sekian banyak pemaparan beliau, berikut ini yang melekat di kepala saya. Hal-hal yang memang sangat harus kita renungkan.

  • ·  Indonesia sedang berupaya untuk menyuarakan Islam Nusantara. Kajian keislaman butuh referensi lain selain islam timur tengah. Faktanya, hal ini belum bisa dicapai, karena Indonesia baru terkenal sebagai negara dengan penduduk mayoritas islam. So what? Sudah sesignifikan apa kontribusi si mayoritas ini untuk kemajuan negeri? Sebagai muslim saya kesindir abis. saya udah ngapaiiin aja? #Jleebbb!
  •      Betul bahwa Indonesia  memiliki kekayaan luar biasa, ditambah dengan label penduduknya yang mayoritas islam, tapi kita masih perlu hal yang ‘menjelaskan’ kehebatan yang kita punya ini pada dunia. Bukan jadi 'jago kandang'. Salah satu upaya yang bisa ditempuh adalah melalui riset, riset, dan riset!   
  •        Sudah saatnya Indonesia dikenal sebagai mayoritas islam yang  berdaya GLOBAL! Tidak hanya sibuk mengelu-elukan satu golongan tertentu. Terbebas dari nafas fanatisme yang memblock imajinasi keilmuan.

·         Dalam sesi shortcourse yang beliau bawakan, kami didorong untuk bisa membuahkan riset yang tidak lokal, tidak subjektif, juga tidak terkenal, haha..      

Sontak banyak yang tersindir. Dan rasanya ingin pulang saja tidak ingin melanjutkan presentasi, HAHAHA...

Tapii saya memilih berani, berani belajar, dan berdoa semoga reviewer proposal saya adalah beliau. Lanjutan ceritanya ada di tulisan saya yang bertajuk bedah proposal riset, belajar lagi, belajar terus..