Tampilkan postingan dengan label bolang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bolang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2017

My FREAK My ADVENTURE Part. I : Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) Riau

Iya, kamu nggak salah baca, this is My Freak My Adventure.
Karena memang sungguh sangat freaky cerita perjalanan yang bakal diceritakan di jurnal ini
Cekidot eaa kakaaks :D

**

Rencananya...

Saya, suami, dan teman-teman suami berencana camping di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) di daerah Seberida, Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Nggak lain dan nggak bukan, dalam rangka refreshing. 

sumber foto header: wisatanegerimelayu.blogspot.com


Lokasi TNBT tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami, dua jam perjalanan saja jika ditempuh menggunakan mobil dengan kecepatan rata-rata 80-90 km/jam. 

Berhubung belum pernah ada yang pergi camping ke lokasi tersebut, kami memutuskan untuk survei lokasi seminggu sebelum hari H. Perjalanan menuju Seberida tidak ada masalah. Bermodal pengetahuan surveyor dan internet, sampailah di persimpangan jalan. Kami memutuskan berbelok setelah melihat plang besar bertuliskan TNBT bla bla bla (saya nggak hafal tulisannya, hehe.. 
Yang jelas dari plang tersebut, kami mendapat informasi kalau TNBT berjarak 12KM dari jalan raya.

Jalannya berupa tanah merah, agak lembek, karena memang akhir-akhir ini hampir setiap hari Riau diguyur hujan. Dua kilometer pertama mobil yang kami naiki masih bisa dikatakan baik-baik saja. Tapi semakin ke atas kondisi jalan semakin tidak bersahabat. Mobil Inova yang kami naiki soak. Jalan bukan hanya bertanah merah yang lembek, tapi konturnya semakin tidak beraturan, banyak sekali lubang-lubang. Awalnya para laskar surveyor masih memaksa optimis, tapi setelah terjebak di jalan yang tidak lagi mungkin dilewati, mau tidak mau harus mundur teratur. Mengalah pada kondisi jalan T.T

Saya, suami, Pak Fifan, dan Pak Tepu memutuskan turun, untuk menghindari resiko mobil terbalik. Sedangkan Pak Adit stay di balik kemudi, berusaha keras memundurkan mobil perlahan. Selain curam, licin juga jalannya. 

Mobil terpaksa diajak mundur T.T
dug dug serrrr

Kami berhenti di sebuah warung milik warga. Ada beberapa ibu-ibu yang sedang berkumpul. Ya, minimal dapat informasi tentang track ke puncak, meskipun tidak berhasil survei sampai sana, batin kami. Obrolan kesana kemari pun berlangung epic, ditemani kopi hitam, dan cuaca yang mendung. 
Ibu-ibu di sana menegaskan kalau tidak mungkin bisa ke puncak jika menggunakan mobil semodel Inova yang kami bawa. Bisa dikatakan, perlu kendaraan yang sangar, tahan banting, nggak gampang baper kali ya, haha.. 

Selain informasi tentang kendaraan yang compatible, kondisi puncak, kondisi track, harga sewa ojek (100.000 PP), cerita hantu, dan lain-lain yang tidak bisa diceritakan disini, kami pun mendapat nomor kontak Ibu Sri. Alhamdulillah... Meskipun gagal survei, silaturahmi bisa tetap terjalin #eeaaa

Gagal survei ini akhirnya membawa kami ke sate yang cukup melegenda di daerah Belilas Riau: Sate Pak Dono

Para lelaki memesan sate kambing plus kuah gulai, saya sendiri memesan sate ayam. Satenya enak. Bumbunya tidak seperti sate kebanyakan, hanya menggunakan kecap, rempah, dan irisan bawang merah. Recomended!

Di Warung Sate Pak Dono inilah kami melanjutkan imajinasi pendakian menuju TNBT. Rencana demi rencana digagas, dari rencana absurd semodel mendorong teman ke jurang ketika kelelahan, sampai rencana yang bisa diterima: menggelundungkan teman yang kelelahan dan merepotkan, hahaha....

Mostly, rencananya gak ada. Becanda doank! Maklum, masih belum bisa menerima kenyataan karena hanya bisa menempuh 2KM dari 10KM 
Hellllooooooooooowwww!!!!! 
#LOL

Seminggu kemudian ...

Persiapan demi persiapan dilakukan menjelang keberangkatan. Semua disiapkan sesimple mungkin, karena kami semua memutuskan untuk tidak menyewa ojek, tapi akan hiking sejauh 12 KM. 

Saya si pemalas olahraga, mulai memikirkan untuk stretching, jangan sampai rempong pas pendakian. Hari jumat suami mendadak dinas luar, alhasil saya was was tidak jadi pergi. Tapi suami memastikan jadi pergi. Melalui telepon suami mengkoordinasikan menu perbekalan apa yang harus dibawa. Berhubung seluruh personel menunjuk secara sepihak seksi konsumsi: saya. Wajar sih, karena hanya saya personel yang berstatus IRT, yang dianggap capable urusan begituan, padahal mah NGGAK! 

Ransel, pakaian, action cam, power bank, sleeping bag, mie instan, mie gelas, roti,  sosis siap santap semua sudah ready. Packing selesai. Semua sudah well-prepared. 

Saya pulang dari kampus siang hari, membawa ayam ungkeb  (yang diungkeb sama mama asuh di kantin kampus), membawa tenda pinjeman temen dosen, exiceted sekali. Langsung berganti pakaian kaos, celana gunung, sandal gunung, sampai kacamata plus topi sudah siap. 

Let me say, "I am READY, mameeeen!"

And Theeeeen, 

tulisannya berlanjut ke My FREAK My ADVENTURE Part. 2 ya ya yaaa~ 

percaya deh, perjalanan yang seru itu ternyata perjalanan yang entah direncanakan oleh siapa, tapi kita yang harus mengeksekusinya, haha... 











Senin, 29 Agustus 2016

Mengejar Sunrise Bromo

Untuk para pendaki, mungkin judul tulisan ini bakal jadi bahan tertawaan. Kenapa? karena sekarang akses menuju puncak Pananjakan dan Bromo sudah bisa ditempuh tanpa mendaki. Sudah bisa menggunakan Hard Top via Malang, dan kota-kota sekitarnya. Kalau tidak, kita bisa menempuhnya dengan ojek juga kuda.

Tapi untuk saya dan teman-teman (Pia dan Mas Dani), ini adalah pengalaman berharga. Karena kami mencapai puncak Pananjakan dengan jalan kaki. Yeay!!



**
Naik gunung adalah salah satu obsesi saya. Tapi berhubung izin orang tua tak pernah turun, selalu gagal untuk bisa memenuhi obsesi ini. sampai pada bulan Juli di Tahun 2011. Di  bulan itu saya melepas berhasil menyelesaikan skripsi dan lengser dari satu jabatan di sebuah organisasi. Menuju Bromo semacam selebrasi untuk dua hal tersebut.

Setelah tiga hari di Malang (baca: ke Malang, kembali Pulang), kami ditemani Mas Dani menuju Bromo. Mas Dani yang notabene orang asli Probolinggo pun baru pertama kali ke sana. Kesimpulannya tiga anak manusia: saya, Pionk, dan Mas Dani sama-sama buta track! Haha

Dari Malang kami menaiki bus menuju Probolinggo. Waktu itu kami naik bus AC. Kami nggak tahu harga tiket bus berapa, karena si ade-ade ini dibayarin masnya. Rejeki mojang sholeha #eh. Semoga Mas Dani nggak nagih, haha..
Bus yang siap dinaiki di Terminal Probolinggo

kami sudah di dalam bus, cekrek!

Seperti biasa, kami bermodal artikel blogger. Di sebuah blog dituliskan, kami harus berjalan ke arah kiri terminal Probolinggo, agar bisa menemukan spot pemberhentian mobil jenis colt menuju desa terdekat Bromo. Dengan gaya petualang, Pionk menunjukkan arah. Dan ternyata jarak antara terminal Probolinggo dengan spot pemberhentian mobil-mobil colt itu hanya beberapa meter saja, hahahaha.. Gayamu yooonk yooonk!

So, kalau kamu mau ke Bromo dengan rute dari Terminal Probolinggo, silahkan belok kiri, dan akan ditemukan sekumpulan mobil jenis colt (red. Oplet) beserta sopirnya. Nggak jauh. Deket banget.

Oplet-oplet yang berjejer di depan warung-warung kecil itu hanya akan berangkat menuju desa terdekat Bromo, yakni Desa Cemoro Lawang, apabila satu mobil sudah penuh. Kalau hanya 1-2 orang, tidak akan mereka angkut. Jam keberangkatan random, berangkat kalau mobil penuh. Hanya saja, kalau malam mereka tidak beroperasi, kata salah satu sopir.
Karena kami adalah tiga penumpang pertama (di jam itu), kami harus menunggu calon penumpang lainnya. Sambil menunggu, kami transit cemal cemil di warung terdekat. Pionk sempat charge HP nya di warung itu.

Satu dua berdatangan, termasuk bule-bule dengan ransel besar. Mobil penuh, cuussss menuju Cemoro Lawang.

Pionk di dalem oplet

**
Jalan menuju Desa Cemoro Lawang dari Terminal Probolinggo berkelok-kelok dan kecil. Kami yang menumpangi oplet saat hari menggelap cukup ketar ketir. Karena si pak sopir mengemudi dengan kecepatan tinggi sambil menelepon. Seolah punya nyawa tambahan. Pengalaman seru deh pokoknya. Mungkin kalau ditanya, Pionk punya semacam ‘permintaan terakhir’ waktu itu, haha..
Mas Dani memanfaatkan momen di dalam oplet untuk mengobrol dengan kernetnya. Mencari info penginapan. Dari kernet itu, akhirnya kami mendapatkan penginapan.

**
Penginapan berbentuk rumah dengan 3 kamar. 1 kamar di bawah dan 2 kamar di atas. Fasilitas lengkap, mulai dari tempat tidur, kursi di ruang tamu, TV, kulkas, dan AC alami yang dinginnya sampe ke tulang. Oiya, harga penginapan kalau tidak salah 250rb.

Kami memilih kamar bawah. Suasana malam di sekitar penginapan sepi sekali. Tapi berhubung banyak penginapan, kita tidak akan sulit menemukan makanan. Pedagang keliling aktif membunyikan pentongan ajaibnya untuk mengundang pembeli. Kami pun beruntung sempat menikmati bakso panas di tengah-tengah dinginnya malam #tsaah.

Sebelum menuju kamar masing-masing untuk istirahat, kami menyepakati mulai mendaki jam 02.00 pagi. Membawa barang seperlunya dan persiapan mental sebanyak-banyaknya haha..

**
Jam 02.00 teng kami sudah siap dengan kupluk, jaket tebal, syal, sepatu, dan ransel bawaan. 

ready to climb hihiw

Keluar dari rumah, kami terhenyak merasakan hawa yang begitu dingin. Bandung pun tak pernah sedingin waktu itu rasa-rasanya. Disambung dengan decak kagum ketika melihat bintang gemintang di hamparan langit yang hitam pekat. Allah, masih terekam betapa indahnya suasana pagi itu.

nahan takut, pose dulu

Berjalan langkah demi langkah menuju Bromo. Perkiraan kami bisa sampai tepat saat matahari muncul. Tak habis-habis hati memuji keindahan suasana malam itu.

Di perjalanan, lolongan anjing terdengar saling bersahutan. Saya dan pionk beberapa kali saling berpegangan tangan, takut dikejar anjing, haha.. dan suasana semakin mencekam ketika melewati sebuah pos kosong, terpampang sebuah papan pemberitahuan agar berhati-hati karena banyak berkeliaran rampok juga hewan buas. (((MALING DAN HARIMAU JUGA TEMAN SEGENG SINGA)))

Mas Dani sibuk meyakinkan kalau kami dalam kondisi aman. Meskipun saya yakin, kala itu, dia pun ketakutan, hahaha... (peace Mas ^^v )

Jarak demi jarak berhasil kami taklukan, sebelum mendaki kita akan melewati dataran. Kami berpapasan dengan ojek kuda yang awalnya menawarkan jasanya. Tapi kami menolak. Kami ingin mendaki pake kaki sendiri! hehe..  Akhirnya kami dan ojek kuda menjadi teman seperjalanan, kami baru berpisah sesampainya di track pendakian.

pionk with the horse, kudanya males foto yonk :D


Ketika medan sudah berubah menjadi lereng-lereng, kami mulai gugup. Karena banyak ranting pepohonan yang runtuh ke arah lereng untuk pendaki. Karena waktu kami ke sana, Bromo sempat aktif. Belakangan kami bisa melihat masih ada abu-abu vulkanik di ranting pohon.

Setelah di pendakian, kami menemui banyak turis asing. Ada juga pendaki domestik seperti kami. Semakin atas semakin ramai. Ternyata bukan hanya kami bertiga yang berjalan menyusuri lereng yang gelap. Dakian cukup curam untuk pemula seperti kami. Dan kondisi gelap cukup memacu adrenalin (maklum newbie unyu-unyu).

Sampai di Pananjakan pertama, di sana ada pedagang minuman yang stand by. Pionk mengaku kelelahan. Kami pun beristirahat disitu. Karena waktu tersisa cukup banyak sebelum matahari terbit. Kami memesan minuman hangat juga berbincang-bincang dengan mbak-mbak pedagang.



Pionk menanyakan seberapa lama lagi kami bisa sampai puncak. Dan konyolnya dia pun seolah menanyakan: haruskah kita sampai puncak??

Saya dan mas dani tidak bisa memaksa. Mau lanjut ayo, tidak pun tidak apa-apa. Karena kondisi pionk waktu itu sangat ‘mengenaskan’ hhahahahaha..

Jawaban si mbak pedagang sontak membuat kami tergelak, saya tidak bisa menahan tawa, begini jawabnya: “disini juga nanti kelihatan matahari terbit. Tapi tidak sebagus di puncak Pananjakan. Dan biasanya ORANG-ORANG TUA yang melihat matahari terbit dari sini” *ORANG TUA DI BOLD DIUNDERLINE hahahahhahaha

Jawaban yang melecut gengsi seorang Pionk. Kami pun melanjutkan pendakian sampai puncak. Lanjut ke kekonyolan kedua.

Pionk kembali menunjukkan kelelehan. Dan kami tidak lagi bisa memaksa. Tapi sebetulnya saya juga sudah merasa lelah sih. (maappp ya pionk, kamunya jadi kambing hitam, :P)

Kelelahan datang bersama ojek yang mengatakan puncak masih sangat jauh dan kami nggak akan keburu sampai puncak sebelum matahari terbit jika mengandalkan jalan kaki. Kami yang terobsesi dengan Sunrise Bromo, tentu saja panik. Dan akhirnya memutuskan menggunakan ojek.

You know WHAT?! Palingan kurang dari 5 menit kami sudah sampai puncak Penanjakan. Ternyata sudah dekat dengan sekali. Ah! Menyebalkan, ojek gombal gambul. Ngakak lah kami kalau bahas itu. Tapi yasudahlah, rejeki mamang ojek kali ya berhasil ngangkut mojang kumal #eh.

kami di Gerbang Penanjakan

**
Di puncak ramaaaiii sekali pemburu matahari terbit. Beberapa dari mereka terlihat bukan kali pertama menyaksikan sunrise di Bromo. Terdengar beberapa orang menyebut mahari sebagai Jago Raksasa. Kami melepas lelah sambil berfoto dan menanti sunrise. Indah sekali alam sekitar Gunung Bromo. Perlahan lahan matahari terbit. Dan semua orang di pananjakan waktu itu berteriak kala matahari mulai menyapa pagi - memecah kegelapan.

hamparan awan yang keren banget


para pemburu mentari

Benar apa kata para pendaki itu, melewati lereng-lereng gunung menuju puncak membuat kita belajar menaklukan diri sendiri. Pendakian bisa membuat kita bijak untuk tidak mudah menyepelekan sebuah perjalanan.

Finally i can see it: the sun!

latar favoritt, best angle.

sedi, tugunya banyak coretan T.T

Kami belajar banyak, kami pendaki ala-ala yang berhasil dibius indahnya perjalanan, asiknya mengejar matahari!

**
Selanjutnya kami berburu spot-spot terkenal sesuai petunjuk mamang ojek. Kami berfoto di hamparan pasir luas berlatar belakang gunung-gunung, bukit teletubbies, juga pasir berbisik.
Sssttt.... Kami bertanya-tanya apa istimewanya Pasir berbisik yang ditunjukkan mamang ojek, ternyata dinamakan pasir berbisik karena pada spot tersebut dilakukan shooting film Pasir Berbisik. Tempat shooting titik ! haha..

Pionk dan kembarannya, haha

Celebrate celebrate!

eksotisnya alam!


bersama mamang ojek

**
Sampai jumpa di pendakian selanjutnya, kawan!