Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Mei 2015

Lukisan kehidupan

Seorang anak berceloteh pada ibunya yang sedang melukis, "Bunda, aku suka lukisan bunda. Warna dan bentuknya indah. Aku bisa nggak ya ngelukis bagus seperti bunda?"
 ** 
Serupa celotehan anak kecil itu, kita seringkali mengagumi lukisan [kehidupan] orang lain. Gradasi warna indah, proporsi bentuk yang dibuat apik, indah sempurna. Ada yang sebatas melihat, ada juga yang sangat mengagumi dan ingin memilki, juga ada yang serius memikirkan perjalanan tangan hebat sang pelukis sampai mewujud menjadi karya yang memesona. Ya, banyak dari kita yang mengagumi sebuah lukisan tapi lupa ada yang lebih layak dikagumi: perjalanan panjang sang pelukis yang sempat salah menggoreskan bentuk, menuangkan warna, gagal mengeksekusi ide kreatif di kepalanya. entah sudah berapa kanvas yang [terpaksa] harus dibuang karena kegagalannya. panjang, bahkan sangat panjang. tidak ada kata 'simsalabim' kala membuatnya. 
 ** 
Ketika setiap kita adalah pelukis. Bisa jadi kita telah menjadi hebat atau menyedihkan. Pelukis hebat senang sampai lupa segalanya - memperbaiki kesalahan warna dan bentuk lukisannya. Menemukan warna juga gradasi baru. sejak awal ia telah tahu apa yang harus ia lukis. Tidak peduli nanti akan dinilai indah atau tidak oleh yang melihat. Ia juga mengagumi lukisan orang lain, tapi tidak menjadikan konsep lukisannya berubah mengikuti lukisan yang ia kagumi. 

Sekali lagi, ia tahu apa yang harus ia lukis, warna apa yang ingin ia torehkan, gradasi apa yang ingin ia ciptakan. Pelukis lain, yang menyedihkan. Ia sibuk sekali mengamati, mengagumi,mengikuti. Ia tidak tahu akan melukis apa. Sibuk mengutuk diri ketika lukisannya berbeda dengan lukisan yang ia sukai. Sibuk mengganti lukisan ketika tidak ada yang menyukai lukisannya. Ia hanya tahu: lukisan yang indah adalah yang ia kagumi. Ia lupa mengagumi lukisannya sendiri. 
 ** 
Sang bunda tersenyum dan menjawab, "kamu bisa membuat lukisan yang lebih indah di mata bunda. Nanti, kamu akan temukan bentuk yang lebih bagus juga lebih indah warnanya. Mulailah melukis, mulailah cintai lukisanmu, nak." 

Bumi lancang kuning, 10 Mei 2014.

Kamis, 13 Februari 2014

Ah, dasar manusia!

Adakah hidupku lebih sulit dibanding hidup orang lain? Atau sebaliknya?
atau...
Adakah hidup mereka lebih indah dibanding hidupku? Atau mungkin sebaliknya?
atau...
Kehidupan siapa yang lebih layak untuk diinginkan?

*
Sederet perbandingan kehidupan seringkali hadir tanpa diundang dalam keseharian kita. Pertanyaan yang seolah membenarkan bahwa kehidupan seseorang lebih mudah dari orang lainnya. Kehidupan satu lebih membahagiakan dibanding dengan kehidupan lainnya. Hingga sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kehidupan seseorang adalah kehidupan impian setiap orang.
Ilustrasi yang tidak seharusnya terjadi, tapi seringkali tercatat di alam bawah sadar seseorang, bahkan sampai menjadi sebuah keyakinan.

*
Jika sudah diyakini bahwa kita layak membandingkan tingkat kemudahan, kesulitan, dan kebahagiaan antara satu kehidupan dengan kehidupan lainnya. Lalu bagaimana dengan keyakinan kita bahwa Tuhan itu Maha Adil?
Dan bagaimana dengan sebuah keyakinan bahwa satu-satunya yang perlu disyukuri adalah kehidupan itu sendiri.

Ah, dasar manusia!

*
Berhentilah tergiur dengan sketsa euphoria semata. Sungguh, kehidupan tidak hanya tentang mengejar dan mendapatkan candu-candu yang semarak mengundang gelak tawa dan pesta. Cintailah kenyataan bahwa satu-satunya yang layak ditinggikan adalah kenyataan dalam senja dan mimpi di setiap pagi yang kita miliki; bukan atap langit ataupun taman bumi milik orang lain.

*

...rasanya tak pantas mencederai kesempurnaan hidup kita dengan keinginan memiliki hidup orang lain. Nyatanya, tak ada hidup yang lebih sulit ataupun lebih mudah. Tuhan tak sebercanda itu memasangkan sebuah takdir atas sebuah kehidupan."


- Bandung, 13 Februari 2014.

Jumat, 19 Oktober 2012

cecoret kehidupan #2


...
Kekasihku bilang, kita ini hanyalah pelayan-pelayan Tuhan.

**
Aku tak terlalu mengerti apa maksudnya. 

**
Seketika tawa menghampiri. Seringkali tanpa direncanakan kita bisa seharian menyungging senyum karena dibuat senang oleh manusia lain di sekitar kita. Itu adalah episode yang dinantikan, yang tidak ingin dienyahkan. Ayunan langkah terasa ringan, mengapung ke langit tanpa rasa takut. Hingar bingar ceria membuat dunia seakan luas tak berjeda. Membuat waktu terasa cepat terlalui. Sebuah episode yang akrab kita panggil, bahagia.

**
Tetiba siang bisa berubah menjadi pekat berisi duka tak terbantahkan . Sembab kerap kali tak lagi mampu disembunyikan. Benci sekali sendiri, sepi, dan enggan berimajinasi. Setiap detik yang dilalui bermilmil lebih jauh, lebih lama, lebih membosankan dan memuakkan. Tercipta lubang yang membuat meringis, meski abstrak, tapi benar-benar sakitnya tak terbahasakan. Membunuh rasa sakit, hanya akan menyisakan ruang hampa. Ia punya banyak nama dengan makna yang sama, memuakkan. Ia seringkali disebut sedih. Kita tak pernah ingin memanggilnya, tapi kedatangannya, tak terhindarkan.

**
Parade tawa dan sedih, mewujud rangkaian cerita yang beryakyak. Kompilasi warna bahagia dan duka mengisi ruang-ruang hari tanpa batas. Apakah kita hanyalah reseptor pasif? Atau aktor tanpa otoritas?  Bukan. Kita memang reseptor tapi bukan yang tak memiliki kemampuan untuk memilih. Kita memang aktor, tapi bukan aktor bayaran yang dungu yang tak bisa menentukan peran.
Hidup ternyata hanya tentang diri sendiri. Sesekali saja bersama diri yang lain. Yang kedatangan dan kepergiannya tak pernah terduga. Akan seberapa lama kita memainkan episode hidup, akan bagaimana kita berperan, lagi-lagi tentang diri sendiri yang harus dengan takzim menentukan.
Lalu? Tuhan?
Entahlah, Tuhan hanya meminta kita terus menerus bermain peran sebaik-baiknya. Tuhan menyediakan banyak pilihan episode dan ruang untuk kita pilih. Pilihan yang bisa kita pilih, tanpa mampu melampaui pilihan-Nya. 

**
Kita adalah pelayan. Kita bisa memilih. Tapi memilih memiliki definisi berbeda dengan menentukan.
Ya, kita hanyalah pelayan Tuhan. Tuhan yang menggenggam pilihan-pilihan pelayan di seluruh muka bumi. 

**
Entahlah, tapi aku begitu setuju dengan apa yang kekasihku bilang.

(Sebuah kontemplasi senja di perjalanan menemui Tuhan, 19 Oktober 2012)

Kamis, 18 Oktober 2012

Tarian pena tentang dia


Ini tentang catatan manusia kecil yang ingin benar-benar hidup dalam kehidupannya.
**
Ia kerapkali ingin bertemu Tuhan yang katanya mampu mengubah bencana jadi bahagia, sukma menjadi tak bernyawa, atau  mewujudkan hal mustahil lainnya.  Bukan untuk membuktikan atau meminta Tuhan beratraksi di hadapannya. Ia hanya iangin dipeluk-Nya. Ia hanya ingin benar-benar dipeluk kasih sayang yang tidak pernah berkhianat dan tak sedikitpun memiliki romansa luka.
**
Ia yang kadang bingung harus mamilih jalan mana, arah mana, dan tempat mana yang akan memberinya sinar tak berkesudahan.
Ia lemah? Tidak. Ia tidak pernah mau dikatakan lemah meski beribu-ribu patah telah ia saksikan sendiri kala bercermin. Tak pernah sekalipun ia bersedia untuk merengkuh kalah apalagi menyerah. Meski dinyana dia telah menghujam kakinya di atas pijakan tajam berduri sekalipun.
Sesekali, tidak, seringkali bahkan. Dia tidak mampu manahan arus deras air mata murka, air mata sesal, kesal, bahkan air mata cinta penuh romansa. Dia benar-benar sering sekali menangis, bahkan sampai tersedu sedan.  
**
Hidup yang ia cari entah apa. Entah kehidupan yang bagaimana. Selama ini, hidup yang ia saksikan terlampau konyol untuk dibanggakan, terlampau konyol! Dia tak selalu tahu bagaimana cara terbijaksana menertawakan hidupnya. Kadang ia hanya lepas terbahak tanpa tahu bagian mana yang benar-benar lucu. Tidak jarang, ia tertawa ketika ia hampir terbunuh. Ya, sejak kecil ia diajarkan tertawa menertawakan apapun yang ia saksikan. Katanya, tertawa lebih membanggakan dan membahagiakan daripada ditertawakan. Haha..!
**
Heii. Satu lagi.
Ia begitu sering tertawa. Bahkan dalam tangisnya. Ia ingin hidup, benar-benar hidup, tak konyol lagi, tak konyol lagi.
Tapi dia tahu apa tentang hidup? Pada kenyataannya, dia tidak tidak tahu apa-apa.
Tidak ada yang dia tahu selalin kekonyolan-kekonyolan yang kian busuk di tong sampah kehidupan.
**
Terlalu banyak cita-cita membuat hidupnya kian konyol. Cita-cita yang akrab dia sebut mimpi. Begitu banyak mimpi yang ia rangkai di sela-sela nafasnya. Mimpi yang penuh angka targt dan deadline busuk.
Satu mimpi terkonyolnya adalah dia ingin menjadi Guru Besar katanya, haha.
Mimpi konyol lainnya itu katanya ia ingin menikah, berkebaya di akad nikah, mengalami kehamilan, memiliki bocah-bocah lucu hasil kolaborasi genetik dengan suaminya. Bagaimana bisa! Tahu tentang semua itupun tidak!
**
Dia terlalu berani bermimpi, sedang yang bisa dia lakukan hanya tertawa, menertawakan kekonyolan hidup dan kehidupan yang begitu sinis dan kian sinis, padanya. 


(Pijakan jelaga tak bernama, 2 September 2012)




cecoret kehidupan #1

hidup. sebuah kata yang tak akan ada habisnya untuk dipuja, dicintai, dibenci, dipertanyakan, bahkan dihujat. setiap detiknya menuntut kontemplasi mendalam. 
bukan hanya tentang bagaimana melangkah dan kemana langkah harus diayun. semua tentang hidup adalah tentang semuanya.

**

jejak-jejak tak berkesudahan mencipta sejarah di muka bumi. menorehkan cerita yang tak pernah sama. 

**

lagi-lagi tentang hidup yang bukan perkara eksakta. hidup yang bukan juga sekedar sastra. 



: 19 Oktober 2012