Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 November 2012

Sendu Mengenang

menggenang luka yang dalam.
di palung kalbu yang serupa jernih.

tetiba teringat indah cengkrama di taman kota. 

kerlap kerlip lampu jalanan menyaksi.
di kala itu, bahagianya.

cinta oh cinta...

dirimu kini berganti nama.
menjadi kenangan serupa mawar tak berkelopak.
hanya tersisa duri, hindari jamah.


(puisi sendu di malam kelabu yang mengenang, Oktober 2012)


Senin, 29 Oktober 2012

sekotak kenangan indah

di sepanjang jalan purnawarman. di antara lampu-lampu temaram. di antara hiruk pikuk jalanan.
kau genggam tanganku erat. kau peluk harapan. kau basuh kasih sekisah.

aku begitu mengenang. aku begitu ingin terhenti dalam sebuah adegan. aku begitu memimpikan pengulangan dan kemudian tak lagi mengenang.

bila kau menjadi istriku nanti~
pahami aku saat menangis~
bila kau menjadi istriku nanti~

senada lirik yang kau senandungkan. lirik yang masih mendendang setia mengisi hari, mengungkap simpul-simpul senyum.

di sepanjang jalan purnawarman. aku begitu memimpikan pengulangan.

(Bandung, 29 Oktober 2012)



Senin, 22 Oktober 2012

Secarik kerelaan


Begitu sederhananya kau datang, mungkin sesederhana itu juga kau akan pergi, Sayang.
Di sisi duniamu, aku terus menerka. Mengimajinasi citra rasa di lakumu.

Sayang, mungkin aku telah banyak menerima. Kini saatnya aku memberi. Tapi jika sebelum itu terjadi akan ada sebuah kepergian, aku relakan. Demi tulus dan sederhana yang tak mampu lagi kau jaga. 
Aku terima, sayang.
Mungkin telah salah aku menerka. Mungkin telah lupa aku menerima. Mungkin terlalu menyiksa laku yang kubuat.

Sayang, demi apapun yang kau rasa. Aku sungguh sayang kamu. 

Semoga kau masih sempat melawat  rindu yang tak pernah usai di rumahku, rumahmu kala itu.

(Pijakan asa, 15 Mei 2012)

Minggu, 21 Oktober 2012

Sekisah luka

: Satu September 2012

Cerita yang kini berjudul kenangan. Telah selesai kubaca dari helai demi helai yang kau tulis. Begitu lugu kau berbalik dan pergi. Dan begitu takzim luka tertunduk di sukmaku. 
Terlampau cepat kau melangkah. Hingga tak mampu ku mengejarmu, meski telah terengah.

~

Aku menggapai-gapai atas kehilangan. Serupa mawar membusuk yang berharap rona merah dan utuh kelopak indahnya. Hanya tersisa serpihan luka.  

~

Patah.

(jejak-jejak cinta yang bernama usai, 1 September 2012)

Jumat, 19 Oktober 2012

cecoret kehidupan #2


...
Kekasihku bilang, kita ini hanyalah pelayan-pelayan Tuhan.

**
Aku tak terlalu mengerti apa maksudnya. 

**
Seketika tawa menghampiri. Seringkali tanpa direncanakan kita bisa seharian menyungging senyum karena dibuat senang oleh manusia lain di sekitar kita. Itu adalah episode yang dinantikan, yang tidak ingin dienyahkan. Ayunan langkah terasa ringan, mengapung ke langit tanpa rasa takut. Hingar bingar ceria membuat dunia seakan luas tak berjeda. Membuat waktu terasa cepat terlalui. Sebuah episode yang akrab kita panggil, bahagia.

**
Tetiba siang bisa berubah menjadi pekat berisi duka tak terbantahkan . Sembab kerap kali tak lagi mampu disembunyikan. Benci sekali sendiri, sepi, dan enggan berimajinasi. Setiap detik yang dilalui bermilmil lebih jauh, lebih lama, lebih membosankan dan memuakkan. Tercipta lubang yang membuat meringis, meski abstrak, tapi benar-benar sakitnya tak terbahasakan. Membunuh rasa sakit, hanya akan menyisakan ruang hampa. Ia punya banyak nama dengan makna yang sama, memuakkan. Ia seringkali disebut sedih. Kita tak pernah ingin memanggilnya, tapi kedatangannya, tak terhindarkan.

**
Parade tawa dan sedih, mewujud rangkaian cerita yang beryakyak. Kompilasi warna bahagia dan duka mengisi ruang-ruang hari tanpa batas. Apakah kita hanyalah reseptor pasif? Atau aktor tanpa otoritas?  Bukan. Kita memang reseptor tapi bukan yang tak memiliki kemampuan untuk memilih. Kita memang aktor, tapi bukan aktor bayaran yang dungu yang tak bisa menentukan peran.
Hidup ternyata hanya tentang diri sendiri. Sesekali saja bersama diri yang lain. Yang kedatangan dan kepergiannya tak pernah terduga. Akan seberapa lama kita memainkan episode hidup, akan bagaimana kita berperan, lagi-lagi tentang diri sendiri yang harus dengan takzim menentukan.
Lalu? Tuhan?
Entahlah, Tuhan hanya meminta kita terus menerus bermain peran sebaik-baiknya. Tuhan menyediakan banyak pilihan episode dan ruang untuk kita pilih. Pilihan yang bisa kita pilih, tanpa mampu melampaui pilihan-Nya. 

**
Kita adalah pelayan. Kita bisa memilih. Tapi memilih memiliki definisi berbeda dengan menentukan.
Ya, kita hanyalah pelayan Tuhan. Tuhan yang menggenggam pilihan-pilihan pelayan di seluruh muka bumi. 

**
Entahlah, tapi aku begitu setuju dengan apa yang kekasihku bilang.

(Sebuah kontemplasi senja di perjalanan menemui Tuhan, 19 Oktober 2012)

Kamis, 18 Oktober 2012

Tarian pena tentang dia


Ini tentang catatan manusia kecil yang ingin benar-benar hidup dalam kehidupannya.
**
Ia kerapkali ingin bertemu Tuhan yang katanya mampu mengubah bencana jadi bahagia, sukma menjadi tak bernyawa, atau  mewujudkan hal mustahil lainnya.  Bukan untuk membuktikan atau meminta Tuhan beratraksi di hadapannya. Ia hanya iangin dipeluk-Nya. Ia hanya ingin benar-benar dipeluk kasih sayang yang tidak pernah berkhianat dan tak sedikitpun memiliki romansa luka.
**
Ia yang kadang bingung harus mamilih jalan mana, arah mana, dan tempat mana yang akan memberinya sinar tak berkesudahan.
Ia lemah? Tidak. Ia tidak pernah mau dikatakan lemah meski beribu-ribu patah telah ia saksikan sendiri kala bercermin. Tak pernah sekalipun ia bersedia untuk merengkuh kalah apalagi menyerah. Meski dinyana dia telah menghujam kakinya di atas pijakan tajam berduri sekalipun.
Sesekali, tidak, seringkali bahkan. Dia tidak mampu manahan arus deras air mata murka, air mata sesal, kesal, bahkan air mata cinta penuh romansa. Dia benar-benar sering sekali menangis, bahkan sampai tersedu sedan.  
**
Hidup yang ia cari entah apa. Entah kehidupan yang bagaimana. Selama ini, hidup yang ia saksikan terlampau konyol untuk dibanggakan, terlampau konyol! Dia tak selalu tahu bagaimana cara terbijaksana menertawakan hidupnya. Kadang ia hanya lepas terbahak tanpa tahu bagian mana yang benar-benar lucu. Tidak jarang, ia tertawa ketika ia hampir terbunuh. Ya, sejak kecil ia diajarkan tertawa menertawakan apapun yang ia saksikan. Katanya, tertawa lebih membanggakan dan membahagiakan daripada ditertawakan. Haha..!
**
Heii. Satu lagi.
Ia begitu sering tertawa. Bahkan dalam tangisnya. Ia ingin hidup, benar-benar hidup, tak konyol lagi, tak konyol lagi.
Tapi dia tahu apa tentang hidup? Pada kenyataannya, dia tidak tidak tahu apa-apa.
Tidak ada yang dia tahu selalin kekonyolan-kekonyolan yang kian busuk di tong sampah kehidupan.
**
Terlalu banyak cita-cita membuat hidupnya kian konyol. Cita-cita yang akrab dia sebut mimpi. Begitu banyak mimpi yang ia rangkai di sela-sela nafasnya. Mimpi yang penuh angka targt dan deadline busuk.
Satu mimpi terkonyolnya adalah dia ingin menjadi Guru Besar katanya, haha.
Mimpi konyol lainnya itu katanya ia ingin menikah, berkebaya di akad nikah, mengalami kehamilan, memiliki bocah-bocah lucu hasil kolaborasi genetik dengan suaminya. Bagaimana bisa! Tahu tentang semua itupun tidak!
**
Dia terlalu berani bermimpi, sedang yang bisa dia lakukan hanya tertawa, menertawakan kekonyolan hidup dan kehidupan yang begitu sinis dan kian sinis, padanya. 


(Pijakan jelaga tak bernama, 2 September 2012)




Tentang rindu

Di luar masih gelap.
Dingin pagi ini berbeda. Dinginnya luar biasa menyiksa. Mantel berlapis seolah hanya hiasan penutup badan saja.
Nasi yang kumasak pagi ini begitu tanak, setanak rindu ini.

Sayang,
Taman tempat kita saling melempar tawa dan cerita sekarang sudah tidak kotor lagi. Sudah aku bersihkan.

Sayang,
Rupa, wangi, dan bahasamu selalu aku bawa. aku juga menyimpannya di setiap sudut kamar. Aku mengenangnya di setiap malam. aku menyapa semua tentang kita di dinding jelaga yang sepi. Kita begitu ceria kala sama-sama mengkhayal menjadi raja dan ratu yang sama-sama hebat. Kita begitu polos dan lugu memandang mimpi.

Ada kamu di gelas-gelas yang telah lebih dulu kau kecup. Ada cermin yang malu-malu saat kau tatap sembari sesekali mengusap wajah rupawanmu. Ada kamu, di sini. Rindu memanggil-manggil di setiap pagi.

Kamu, rindu, kita, mimpi, jembatan, semuanya memeluk sesak jiwaku. Aku begitu menunggu. Aku begitu merindu.