Tampilkan postingan dengan label patah hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label patah hati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Oktober 2012

Kembali Hilang


: Kamu


Seutas tali yang tak temali harus meregang kemudian putus. 
Menyulut asa menjadi lebur tak mewujud. 
Mencipta pekat di langit sendu, badai di senja yang melaut.

Tertegun mematung menatap sebongkah siksa tak dinyana. 
Memahat kalimat-kalimat sesal tak tergapai nalar.
Kisah kita, kisah sebuah cita tak bernama, telah melingkar pengingkaran di ceruk mata.

Kisah yang memaksa cinta terhempas hilang. 
Memaksa cinta menggenang sedih.
Meneguk secangkir patahnya cita menghantar kehilangan.
 
(Telaga ceruk mata, 29 Oktober 2012)

Senin, 22 Oktober 2012

Secarik kerelaan


Begitu sederhananya kau datang, mungkin sesederhana itu juga kau akan pergi, Sayang.
Di sisi duniamu, aku terus menerka. Mengimajinasi citra rasa di lakumu.

Sayang, mungkin aku telah banyak menerima. Kini saatnya aku memberi. Tapi jika sebelum itu terjadi akan ada sebuah kepergian, aku relakan. Demi tulus dan sederhana yang tak mampu lagi kau jaga. 
Aku terima, sayang.
Mungkin telah salah aku menerka. Mungkin telah lupa aku menerima. Mungkin terlalu menyiksa laku yang kubuat.

Sayang, demi apapun yang kau rasa. Aku sungguh sayang kamu. 

Semoga kau masih sempat melawat  rindu yang tak pernah usai di rumahku, rumahmu kala itu.

(Pijakan asa, 15 Mei 2012)

Minggu, 21 Oktober 2012

Sekisah luka

: Satu September 2012

Cerita yang kini berjudul kenangan. Telah selesai kubaca dari helai demi helai yang kau tulis. Begitu lugu kau berbalik dan pergi. Dan begitu takzim luka tertunduk di sukmaku. 
Terlampau cepat kau melangkah. Hingga tak mampu ku mengejarmu, meski telah terengah.

~

Aku menggapai-gapai atas kehilangan. Serupa mawar membusuk yang berharap rona merah dan utuh kelopak indahnya. Hanya tersisa serpihan luka.  

~

Patah.

(jejak-jejak cinta yang bernama usai, 1 September 2012)

Kamis, 18 Oktober 2012

bukan karena kamu

...
dan ketika aku telah benar-benar menyesali pertemuan kita hari ini.
Percayalah, ini bukan karena kamu.
Tapi karena ketiadakmampuanku untuk membedakan siapa kamu
dan siapa orang yang benar-benar menginginkanku.

01 Oktober 2012

Tentang rindu

Di luar masih gelap.
Dingin pagi ini berbeda. Dinginnya luar biasa menyiksa. Mantel berlapis seolah hanya hiasan penutup badan saja.
Nasi yang kumasak pagi ini begitu tanak, setanak rindu ini.

Sayang,
Taman tempat kita saling melempar tawa dan cerita sekarang sudah tidak kotor lagi. Sudah aku bersihkan.

Sayang,
Rupa, wangi, dan bahasamu selalu aku bawa. aku juga menyimpannya di setiap sudut kamar. Aku mengenangnya di setiap malam. aku menyapa semua tentang kita di dinding jelaga yang sepi. Kita begitu ceria kala sama-sama mengkhayal menjadi raja dan ratu yang sama-sama hebat. Kita begitu polos dan lugu memandang mimpi.

Ada kamu di gelas-gelas yang telah lebih dulu kau kecup. Ada cermin yang malu-malu saat kau tatap sembari sesekali mengusap wajah rupawanmu. Ada kamu, di sini. Rindu memanggil-manggil di setiap pagi.

Kamu, rindu, kita, mimpi, jembatan, semuanya memeluk sesak jiwaku. Aku begitu menunggu. Aku begitu merindu.

Jejak di sebuah kepergian


 Masih rajin kusambangi taman yang dulu sering kita kunjungi bersama. Serupa sesak  tak berkesudahan mengisi jeda ingatanku dengan masa yang kujalani saat ini. Apakah sejauh itu perbedaan kita ? hingga benar-benar telah hilang ruang pertemuan kita. Ruang yang susah payah kita tata bersama.
...
Dulu. Guci-guci, hiasan dan lukisan yang kusenangi begitu rapi kau simpan, begitu apaik kau jaga.
Dimanakah kamu sekarang, sayang?
Pertanyaan yang tak jua terjawab. Bahkan remah roti sisa kita sekarangn hanya sibuk menatap tarian-tarian semut yang membawa anak cucunya. Masih saja belum bisa menyerah, aku tetap termenung menunggumu kembali, menata ruang romansa kita.
...
Tidaklah mudah menerima bahwa tiada lagi kamu memiliki mimpi-mimpi yang dulu selalu kita agungkan. Sesak itu masih terasa. Bahkan semakin dalam.
Tapi akan selalu kucoba untuk kuat, tegar menanti luka tak bergeming kembali.
Biarkan saja, aku sedang tak mampu berlari menghindari, kepergianmu yang nyaris membunuh setiap detikku. Ah, masih saja kusimpan rapi harapan itu, sayang.
...
Perahu kita telah berhasil menepi. Tapi bukan di pantai tujuan yang kita tentukan sayang.
Bukan di tempat yang sudah kita rencanakan untuk berbulan madu. Melainkan di pantai yang kelak menjadi saksi kita telah menyerah.
Kita telah saling membelakangi menuju belahan bumi yang tak sama.
...
Kekasih, ingin sekali aku berbalik dan menahan kepergianmu. Tapi tak cukup kuat aku mendengar kemungkinanmu mengabaikan bahkan menolak untuk menaiki perahu kita untuk melanjutkan perjalanan.
Sayang, sangat ingin kembali bersamamu, tapi entahlah terlalu takut rasanya.
Terlalu takut.