Senin, 12 September 2016

Sajak Hujan di Awal September

Carut marut sepekan yang membuat perempuan ini hampir gila.

**
dia, yang masih meninggalkan genangan kenangan.

pagi ini, lagi lagi secangkir kepahitan masa lalu dan harapan yang menggantung harus kuseruput dalam diam.
sejenak menatap jelaga yang tak ayal menghantam luka yang selalu aku coba sembuhkan.
serupa telaga merah pekat yang tak mengering, dia terus menjelma menjadi sosok yang tetap tinggal di tepi ujung pandangan.
ah, kapan semesta kan merelakan kisah ini mengalir saja tanpa bekas.

**
dia, yang terus menerus menaburkan garam di atas hamparan darah segar yang mengalir karena kebencian akan takdir. Kenapa dia tak jua mengerti dan memohonkan ampun!

dia bersalah, Tuhan.

kuadukan segala perih ini padamu hampir di setiap malam, bukan?

bodohnya aku hanya mampu berteriak dan menggemakan amarah di mimpi, 
ah, betapa sulitnya keluar dari lingkaran memuakkan ini.

**
dia, yang entah apa yang dia lakukan. penuh sia-sia dan memupuk rasa bersalah di pelupuk senja yang aku punya. aku telah dan tengah meminta maaf. tapi benarkah, dia telah memaafkan?
sungguh aku telah terjebak dalam permainan yang tak menyenangkan. 

**
kamu, malaikat gagah yang tetiba datang dalam sepi. tubuhmu hangat menghangatkan. tatapanmu membuat gemuruh jiwa mereda. aku teduh dalam menatapmu. aku merasa sembuh. 

sesekali sakit demi sakit itu terasa lagi. dan kamu datang serupa pahlawan menenangkan dengan sebuah pelukan. 

kau tak membungkam mulutku kala aku hilang kendali berteriak di penjuru lamunan, kamu kokoh berdiri di hadapan sembari tersenyum dan tak bosan membisikkan - kamu akan baik-baik saja bersamaku, perempuanku!

Tuhan, apa lagi ini?! teganya kau hadirkan perempuan sepertiku dalam kehidupan lelaki sebaik  kamu. 

jiwaku memberontak tak tega melihatmu, lelaki. Luka ini takkan pernah sembuh!
dengan penuh yakin kau sampaikan, "kau tak perlu sembuh, karena aku tak pernah melihatmu sakit. kau hanya terluka. dan takkan kubiarkan luka itu bertambah. aku tak akan membuat luka itu terus menganga kesakitan. aku akan membuatmu hilang ingatan tentang masa lalu apapun di kedalaman luka-luka yang kau punya, perempuanku!

Aku bisa apa ketika aku kini serupa perempuan yang sibuk menimbun lubang-lubang luka dengan kebahagiaan yang sejak awal kamu janjikan. 

Ternyata ada kamu yang tidak seperti dia, dia, dan dia yang sesekali datang bersama genangan kenangan yang memilukan. 

Kamu, terima kasih banyak!
Kamu benar, aku akan baik-baik saja, selama kamu ada. Tetaplah di situ, jangan pernah menjelma menjadi mereka yang menyakiti.


- Teras Kenangan, 13 September 2016


Jumat, 09 September 2016

Rindu kamu, dik!

Dik, sedang apa? 

tadi malam kamu datang di mimpi kakak. entah karena sudah terlalu rindu kakak padamu, atau karena kamu sedang memanggil-manggil entah siapa untuk memeluk sepimu di sana. 

dik, tadi malam kamu datang dengan penuh senyum, seakan senang kita bisa kembali bertemu. kita mengobrol di balkon, kamu bilang kamu lapar. lalu kakak buatkan makanan untukmu. kamu bilang kamu lelah menempuh perjalanan jauh. kamu terlihat penurut sekali, langsung membersikan seisi rumah kakak. 

kamu menjelaskan banyak hal. kamu bilang kamu ingin berubah lebih baik. kamu ingin menuruti semua yang kakak minta. senyummu, manis sekali dik. semanis harapan dan doa kakak untukmu. 

di sofa balkon, kakak memarahi kamu seperti biasa. kakak begitu lihai menunjukkan betapa cerewetnya kakak. begitu panik menunjukkan kepedulian kakak padamu. malam tadi kamu tidak marah atau melengos seperti biasanya, kamu malah menunjukkan simpul senyum. kamu terlihat mengamini semua kalimat yang kakak sampaikan. 

Sebangun tidur, ada sesak di dada. Ternyata hanya mimpi. 
Dik, mungkin kita saling merindu. Dan terus berusaha untuk melawan perasaan yang terus tumbuh meronta menuntut temu. Tapi kita telah pandai saling membunuh rindu dengan menenggelamkan jiwa pada dunia kita masing-masing. 

Dik, jaga diri baik-baik, dimanapun kamu berada dan apapun yang kamu lakukan. 
Kakak pun disini akan menjaga diri baik-baik. Dan tak pernah lelah mendoakan kebaikanmu, dik. 

Atas nama cinta yang mungkin tak pernah genap tunai padamu, dik. Kakak sungguh berharap segala kebaikan menyelimuti hidupmu dan akhiratmu, kelak.

- the day, 10-09-2016

Rabu, 07 September 2016

Ketika Jenuh Kerja Melanda, Lakukan 1+7 Hal ini deh!

Dunia kerja memang tidak sepenuhnya menyenangkan, apalagi di tanggal tua. Tapi kita tetap punya tuntutan untuk hidup normal di dunia realita, menghasilkan uang untuk membiayai (gaya) hidup. Uang memang bukan segalanya, tapi masalahnya gak mungkin juga kita menjalani hidup tanpa menghasilkan uang sama sekali. Mau nggak mau, sekalipun jenuh melanda, ya kudu kerja gaessss :/

So, biar nggak terlalu depresi, sebisa mungkin kita harus punya siasat ketika si jenuh datang melanda.

Siasat pertama dan utama, bersyukurlah - karena kita masih punya kerjaan di tengah banyaknya pengangguran di alam semesta, :D Trust me, dengan bersyukur, nikmat kita akan bertambah alias kerjaan semakin numpuk, haha.. *joking!  Live for peace sodara sodaraaaa... 

Di luar siasat utama dan pertama, yang nampak konyol tapi bener lho itu, ada hal-hal yang biasa saya lakukan ketika jenuh melanda,  mungkin bisa dicoba juga buat kamu yang sedang mengalami itu yang namanya j-e-n-u-h-! :)

1. Nonton Film 

pict-source: hercampus.com
Nonton film termasuk list aktifitas yang efektif untuk menghilangkan stress atau jenuh. Nonton tidak selalu harus pergi ke bioskop, bisa juga dilakukan di rumah lewat video streaming atau DVD. Pilihlah film dengan genre favorit. Seperti saya, justru tidak terhibur kalau menonton film komedi. Stres atau jenuh hilang malahan kalau saya tonton film drama, haha.. 

Dengan menonton film, biasanya tanpa sadar kita akan masuk ke alur cerita. Fokus menjadi orang ketiga para pemeran utama. Dan kadang cerita film atau kutipan dialog dalam film seolah bisa membuat kita jadi semangat menjalani hari-hari. 

Nonton film bisa juga makin me-refresh otak kalau nontonnya ditemani cemilan kesukaan dan ditemani dia~dia~dia #uhuk!

2. Belanja

Psychiatric is more expensive than shopping! 
Tagline ini sering dijumpai di outlet perbelanjaan. We get money to live, not live for money. Kita mencari uang untuk membiayai hidup, dan bukan hidup untuk uang, bukan? 

Para penganut mazhab belanja adalah liburan biasanya bisa berkurang jenuh atau stressnya ya dengan berbelanja. 

Awalnya windows shoping (a.k.a liat-liat doank) sampai akhirnya kebayang-bayang item tertentu, belanja juga akhirnya. hehe..

Aktifitas belanja ini sah-sah saja dijadikan pelarian sementara dari jenuhnya pekerjaan, tapi cek juga alokasi dana ya. Jangan sampai ketika belanja stress hilang, sepulang belanja stress kepala jadi pening mikirin tagihan haha..

3. Piknik


Untuk kalangan tertentu, piknik atau travelling ke tempat-tempat yang menyenangkan seperti pantai, gunung, atau destinasi wisata tertentu, efektif sekali untuk menghilangkan jenuh. Sepengalaman saya, meskipun harus pergi piknik ala ala gembel, mengunjungi tempat baru selalu bisa membuat refreshed. 

Tapi aktifitas piknik ke tempat jauh memang nggak bisa dijadikan solusi, karena kita butuh alokasi waktu dan dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu, bisa dicoba piknik ke tempat-tempat terdekat saja, serupa taman komplek, taman kota, atau wisata alam terdekat.

Sangat dianjurkan untuk sejenak menjauhi gadget ketika piknik. Menyatulah dengan alam, biar kembali waras  ketika mulai lagi berhadapan dengan dunia kerja :)

4. Menulis 

In the journal, I am at ease (Anais Nin)
Quotes dari Anais Nin di atas sama sekali nggak salah untuk orang-orang yang terbiasa dengan pena dan buku untuk menulis diari. Ada sekumpulan manusia yang merasa tenang ketika mencurahkan semua isi kepala dan hatinya ke dalam setbuah tulisan. Zaman sekarang, fungsi pena dan kertas mungkin sudah bisa digantikan oleh aplikasi microsoft word yah. Lebih simple, lebih mudah diakses dibanding harus bawa-bawa buku kemana-mana.

Alternatif lain, kita bisa nulis blog melalui aktifitas blogging. Blogging bisa bikin efek seneng dua kali menurut saya. Pertama, kita senang karena isi kepala sudah tercurahkan. Kedua, kita akan senang karena tulisan kita bisa diakses online kapanpun kita mau *selama ada signal.


Meskipun tidak bisa dipungkiri, menulis di atas buku itu rasanya beda, lebih healing healing gitu, hehe.. Coba deh. Saya sudah membuktikan kalo nulis ini bisa banget ngurangin jenuh kerja.

5. Baca Buku Favorit


Baca buku memang terkesan serius. Ada beberapa yang malah tambah jenuh kalau dengar kata buku, haha..
Tapiiiii jangan salah, saat ini banyak sekali buku-buku yang membuat otak kita seperti bertualang ke sebuah belahan bumi lain. Dan bukankah petualangan selalu bisa menghilangkan jenuh, kawan?

Genre buku yang mungkin bisa dicoba untuk dibaca kala jenuh melanda, di antaranya: novel, buku petualangan, buku detektif, komik,, atau buku tulisan para traveler.

6. Hubungi teman lama

Hasil gambar untuk orang menelepon
pict-source: curahanhati.com
Teman lama ya, bukan teman dekat lama, haha..
Biasanya kita punya sahabat terlupakan ketika SD, SMP, dan SMA,yang hanya kita sapa sesekali via sosmed saja. Nah,coba deh sesekali lakukan kunjungan langsung atau telepon. Tanpa sadar kita akan terbawa ke suatu masa lalu yang  sangat menghibur ketika dibahas. 

Dan perasaan senang itu, bisa banget bikin kita refreshed seseger laptop setelah tombol F5 nya dipencet! haha 

7. Do your hobbies!

Nah, ini penting banget. Jangan sampai pekerjaan membuat kita tenggelam dalam rutinitas yang mengkerdilkan zona 'rasa'. Melulu pekerjaan, melulu lembur, melulu kejar target, bisa bikin kita lupa bahwa 'hidup' kita juga punya hak untuk bahagia. Ceileh..!

Syukur-syukur hobi bisa jadi pekerjaan, lha kalau nggak? So, takes time to do your hobbies!

Hobi nyanyi? pergilah ke karaoke, teriak-teriak ala diva sepuasnya!
Hobi menggambar? Menggambarlah, lukiskan keindahan rasa di atas kanvas!
Hobi bersepeda? Angkat sepeda, kayuh dan nikmati oksigen di luar sana. 
Hobi olahraga? Lakukan sampai keringat puas berlarian di tubuhmu. (meskipun kalau olahraga kayaknya kewajiban setiap umat, haha *ngumpet di lemari! )

Apapun hobi kita, jangan pernah meninggalkannya sepenuhnya. Hobi ini kadang yang membuat kita menjadi 'utuh'.