Selasa, 21 November 2017

Beli Kulkas 400 Ribuan


bukan iklan, gambar diambil dari koleksi mbah google :)


Hallo.. 

Disclaimer first

Ada beberapa alasan temen-temen membuka link ini:
⇒Pertama, karena sebelumnya membaca artikel keajaiban rezeki di blogpost saya sebelumnya.
⇒Kedua, karena sedang mencari kulkas murah meriah
⇒Ketiga, karena nyasar atau penasaran aja, hehe..

Apapun alasannya, semoga nggak nyesel buka link nya ya, hehe..
Karena tulisan kali ini dibuat dengan antusiasme yang sangat tinggi. Sebuah blogpost yang akan memuat pengalaman pribadi saya, yang tidak hanya menyenangkan tapi juga menumbuhkan sisi spritual saya. Dan ini real, bukan HOAX :D

Theeeen i am so excited to share it to you:)


***

Is it must be written ?

Iya, karena sekali lagi, saya ingin move (myself) and you to another perspective about REZEKI.

***

Saya dan suami sejak menikah (kurang lebih tiga tahun) sudah pindah beberapa kali. Garis besarnya sejak 2015 sudah pindah tiga kali: Kabupaten Siak, Kabupaten Indragiri Hulu, dan Kota Malang. Kalau di-split lagi, selama di Siak, saya pindah rumah lebih dari tiga kali, bukan karena diusir ibu kontrakan, tapi karena drama persediaan rumah dinas di tempat kerja suami yang panjang kalau diceritakan, haha.. 
(dan pengalaman pindah-pindah ini membuat saya belajar banyaaaaaaaaaak banget) Skip!

Dari dua kali kepindahan saya tercatat sudah 2x membeli kulkas. Setiap pindah, lelang barang. Pelelangan terbesar, ketika pindah ke Kota Malang. Karena hampir nggak memungkinkan boyong AC, Mesin cuci, kulkas, dan segala-segala yang rentan serentan hati para perempuan #eh. Cari aman, lelang saja!

Sesampainya di Malang, tentu kalau emak-emak, berpendapat kalau kulkas adalah barang yang wajib. No reason untuk tidak memprioritaskannya, kan?

Biasanya ketika saya menyerahkan list barang yang jd prioritas, suami saya nggak pernah komplain. Tapi lucunya, sekarang dia pending untuk beli kulkas. Alasannya karena saya jarang masak. Alias masak kalau mood doank. Jadi nggak penting punya atau tidak punya kulkas. Selain itu, di tempat tinggal kami yang sekarang, dekat sekali dengan warung makanan, warung sayuran, abang sayur lewat sampai 5x dalam sehari, tukang ayam potong sampai ikan segar lewat setiap hari.

Oke beli kulkas, tapi at least rutin masaknya. Gimana?” tawaran suami yang dilematis.

Dan saya tidak mau membuat perjanjian yang menjebak, haha..

Saya tidak panjang lebar menanggapi, hanya bilang, “Ya udah nanti lagi aja deh belinya..

Selang dua bulan.. 

Saya mulai merasakan semakin perlu kulkas. Karena suka tiba-tiba ingin seblak ceker, cilok, sop iga sapi, bikin nugget, dan macam-macam deh. Akhirnya saya sampaikan ke suami. Dan suami kalah juga, nggak tega liat istrinya, akhirnya kami memutuskan untuk survei ke Hyperm*rt Malang. Karena kemaleman, akhirnya kami memutuskan membelinya keesokan harinya.

Ndilalah, sesampainya di rumah, ada broadcast sebuah event pelatihan yang kami butuhkan untuk bisnis yang sedang kami rintis. Harga pelatihannnya lumayan, dua kali harga kulkas yang kami survei semalam. Mamak dilema.

Setelah bolak balik mikir, akhirnya saya memutuskan untuk ikut pelatihan saja. Kulkasnya pending. Sambil merengek gitu dalam hati: “Ya Allah, tapi saya pengen kulkaaaas”
Hari ke hari dilalui, lupa tuh sama drama si kulkas.

Sampai sebulan kemudian, 

Sepulang kuliah suami excited sekali manggil-manggil saya. Kurang lebih begini dialognya:


Suami : mi, ada yang mau jual kulkas.
Saya   : berapa ?
Suami : 800.000
Saya   : second? Merek apa emangnya?
Suami : Baru, mereknya SH*RP.
Saya   : Murah banget. Penyok kali makanya dijual.
Suami : Temen dapet doorprize dari gerak jalan kampus minggu lalu. Dia bingung makenya gimana kalau di kos. Jadi ditawarin ke kita. Gimana?
Saya : bingung, karena budgetnya baru ada bulan depan.
Suami : iya juga ya. Oke deh nanti dibilangin dulu.


Ya, saya sih nggak terlalu menggebu-gebu, kalau udah rezeki kami, pasti itu kulkas kebeli.
Besoknya suami bilang kalau kita boleh bayar bulan depan, tapi kulkasnya bawa secepatnya, karena bikin kosannya sempit, haha..

Kami tentu saja senang, tanpa banyak menunda langsung membawanya. Dan tentu saja, segera menyiapkan transaksi di bulan berikutnya, hehe.. 

Belum berhenti di situ. Dua minggu kemudian, sang pelelang kulkas (yang tidak ingin disebutkan namanya), menghubungi suami.

He said, “Mas, saya ingin ikut pelatihan sampean. Tapi uangnya dipotong dari uang kulkas, boleh mas?”

Nah kan. Ini nih ajaibnya. Belum juga dibayar, ada aja berita bahagia lagi. Masyaallah,  rezeki Allah datang dari pintu yang tidak disangka-sangka. Karena kebaikan hatinya, kami beri diskon biaya pelatihannya.

Akhirnya, transaksi kejadian juga: Kami  serahkan tiket pelatihan & uang cash 400.000 untuk membayar kulkas seharga kurang lebih 1,7jt (Dan ternyata baru kami sadari kalau tipe dan motifnya sama persis dengan kulkas yang akan kami beli di Hyperm*rt tempo hari)
Begitulah cara Allah membahagiakan hamba-Nya. Entah kapan dan dengan cara yang tak terduga. Benar bahwasanya, kita akan meleleh cinta kepada-Nya ketika menyaksikan betapa cantiknya skenario Allah dalam mengatur urusan kita.

gambar diambil dari media campaign Rumah Zakat.
Jangan lupa zakatnya ya :)

Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzibaan
Nikmat mana lagi yang kau dustakan?









Sebuah kontemplasi: Keajaiban Rezeki



Dulu, zaman-zamannya anak sampai dewasa awal, saya mengartikan rezeki sebagai materi. Materi dalam arti hal yang berupa uang atau berupa barang. Tidak ada yang salah dengan itu, hanya saja ternyata belum sepenuhnya tepat.

Sekarang, seiring berjalannya waktu menua. Saya semakin paham kalau ternyata rezeki adalah sesuatu yang tidak selalu berwujud materi. Dimensi dengan level yang lebih tinggi dari sebuah prinsip kebendaan. Rezeki adalah segala hal yang kita terima untuk hidup, jalan untuk bertahan hidup, jalan kebahagiaan, jalan kesenangan, jalan menuju zona yang aman, signal-signal kasih sayang Tuhan di keseharian kita.

Dulu, ketika membaca buku-buku atau artikel tentang keajaiban rezeki, rasanya percaya tidak percaya. Apa iya? Logika kemanusiaan saya sibuk mempertanyakan. Logika terbatas yang tidak sebanding dengan logika matematis Tuhan.

Sekarang, saya sadar kalau tidak semua hal bisa dihitung jumlah keluar masuknya rezeki dengan hitungan matematis. Karena nyatanya, semakin rinci menghitung, semakin tidak balance hitungannya. Hitungan matematis cenderung menunjukkan inbalance (tidak seimbang) antara yang masuk dengan yang tidak. Ketika rezeki disejajarkan dengan hitungan CASH, pasti balance (sama) atau kurang (minus), kalaupun surplus, tidak seberapa. Iya kan?

Sedang kalau kita hitung REZEKI dalam arti sebenarnya (misal, bernafas bebas tanpa tabung oksigen, kesehatan, keluarga yang harmonis, kendaraan gak pernah rusak, dapat kado dari teman, ditraktir bos/teman, mendapat promosi jabatan, dapat voucher diskon, dll) pasti kesimpulannya adalah: yang kita terima selalu lebih besar dari yang kita keluarkan.

Ah, tapi saya perlunya uang. Emangnya bisa beli barang pake syukur?

Hati-hati, ketika kalimat itu bersarang di kepala, artinya sudah merendahkan kuasa Tuhan, lho.

Yuk, kita sama-sama renungkan dua case ini:

Si A punya uang untuk membeli sebuah kulkas merek X. Si A pergi ke toko elektronik, membayar, dan akhirnya memiliki kulkas merek X tersebut.

Lalu 

Si B tidak punya uang untuk membeli sebuah kulkas merek X. Si B berusaha menabung. Si B terus berusaha memenuhi target tabungannya. Selain berusaha, si B melibatkan DOA. Dan tanpa disangka-sangka, si B bertemu dengan temannya alias si C yang mendapat doorprize kulkas dari gerak jalan santai. Si C tidak menggunakan kulkasnya, karena tidak butuh. Akhirnya melelang ke si B, dengan harga sangat murah. Si B berhasil memiliki kulkas merek X meski tabungannya jauh dari target hitungan matematis di toko elektronik.
Dari kedua ilustrasi tersebut, saya ingin berbagi tentang betapa ajaibnya mekanisme rezeki sampai di tangan kita. Si A dan si B menargetkan kulkas yang sama. Tentu saja harganya pun sama. Kalau rezeki selalu didefinisikan dengan uang, tentu si B masih harus menunggu dalam waktu yang lama sampai tabungannya mencukupi. Iya kan? Nyatanya dua duanya bisa mendapat kulkas yang sama, dengan nominal harga yang berbeda. Tapi memang, jalan si B agak lebih panjang dari si A.

Emang ada ya yang begitu? Banyak! Saya saksi hidup dari bagaimana ilustrasi itu terjadi pada saya. lengkap saya ceritakan di artikel saya yang berjudul: Beli Kulkas dengan 400 ribu aja!

Semakin yakin bahwa rezeki lebih dari sekedar level CASH. Pada dasarnya selalu ada transaksi, tapi tidak semua transaksi melibatkan tangan kita langsung, seringkali yang bertransaksi membayar segala keinginan kita adalah DIA – The Invisible hand, Tuhan Semesta Alam.


Rezeki itu ajaib, rezeki itu lebih hebat dari sekedar currency.






Kamis, 16 November 2017

Belajar dari Rina Nose yang Lepas Jilbab

Beberapa hari terakhir jagat maya dihebohkan dengan kabar Rina Nose buka hijab. Menjadi trending di youtube, muncul jadi hot topic di beberapa akun lambe-lambe an dan infotainment di hampir semua stasiun televisi. Alhasil, orang yang tidak niat mencari berita tentang ini pun, terpaksa tahu.


sumber: tribunnews (dot) com

Tulisan saya ini dibuat bukan untuk mengomentari Rina Nose itu baik atau buruk, muslimah yang berdosa atau tidak berdosa (karena setiap muslim juga tahu kan ini dosa atau tidak), atau pun menerka-nerka alasan apakah dia benar berpindah agama, atheis, atau depresi berat. Itu bukan urusan kita. Kalau terlalu dalam mengurusi itu, jatohnya kita malah lebih berdosa.Watch out!!

Eh, berarti saya mendukung keputusan Rina Nose donk kalau gitu? Yaellah siapa sayaaaa mendukung atau tidak mendukung nggak akan mengubah keputusan si dia mbake...!! kenal aja nggak.

Literally, tujuan utama saya turut menyematkan topik ini sebagai bahan tulisan di blog saya ini  adalah: NGAJAK BELAJAR JADI MANUSIA YANG LEBIH BIJAK!

Yap, ngajakin belajar. Karena saya juga sedang belajar. So, yuk sama-sama belajar dari case ini.

Public Figure Factor

Pertama, harus kita sadari yang buka tutup hijab bukan hanya Rina Nose. Temen-temen, tetangga, bahkan keluarga kita juga mungkin banyak yang melakukannya. Bahkan diposting di sosial media. Tapi kenapa sih seheboh ini saat Rina Nose yang melakukanya (yang didahului oleh Marshanda, Trie Utami, dan lain-lain) ?

Jawabannya adalah karena Rina adalah public figure alias sosok yang dikenal oleh khalayak banyaaaaaak. Every single penduduk kecamatan knows her, apalagi yang hobi banget nongkrongin dangdut academy semisal mama saya, hehe.. Nah, ini yang jadi masalah zaman now. Masyarakat sekarang banyak yang memiliki keterikatan terlalu dalam dengan banyak selebriti atau figur-figur publik yang sering muncul di TV. Pada tahap akut, beberapa kalangan merasa memiliki dan berhak mengontrol kehidupan para public figure.  Seolah yang diidolakan tidak boleh salah dan harus selalu menjadi sosok ideal yang diharapkan.

We need to know, kita harus sadar betul, betul-betul sadar, yang kita lihat di media (tv, internet, youtube channel) itu hanya sepersekian (bagian sangat kecil) yang mereka tunjukkan. Selebihnya, sebagian besar kita tidak tahu apa-apa.

Jadi, please jangan terlalu mudah mengagumi. Karena itu akan menuntunmu untuk juga terlalu mudah membenci. Dan ini tidak baik, Mbake!

Jawaban keduanya menurut saya adalah saat ini banyak orang yang tidak sadar diri. Follower instagram yang berjuta-juta itu manusia yang bisa jadi sebagian besar adalah remaja atau manusia-manusia labil, fans-fans yang membesarkan si public fugure ini pun bukan satu dua ratus, sampai jutaan. Dan mereka secara signifikan sangat dipengaruhi oleh tindak tanduk sang idola.

Tapi, memprihatinkannya sekarang kita melihat banyak public figure yang seakan-akan tidak sadar bahwa sekecil apapun yang dilakukan dan setiap statement yang diungkapkan ke publik akan berdampak besar. Ketika itu kebaikan, maka kebaikannya akan berdampak sangat luas (lebih luas jika dibandingkan dengan kebaikan yang dilakukan oleh yang bukan public figure). Begitu pun sebaliknya, akan ada dampak sangat besar juga ketika para public figure ini melakukan satu kesalahan atau ungkapan-ungkapan yang dianggap kurang sesuai dengan norma.Nah, pengen banget ngomong sama orang-orang yang memang sudah dikenal publik. 

"Wahai orang yang populer bin terkenal, mau gak mau memang harus jaga sikap, jaga omongan, dan sebut saja harus punya citra yang baik. Karena apa? gerak gerikmu bukan hanya milikmu saja, jutaan pasang mata dan jutaan pandangan tertuju padamu. Bersikaplah dengan penuh tanggung jawab, pak/bu/mas/mbak/akang/teteh."

Satu lagi, buat kamu remaja pemuda pemudi yang niat banget pengen populer, beneran siap jadi populer? Resikonya banyak! You will such have no privacy. Mau nggak mau, pencitraan menjadi sesuatu yang wajib pada akhirnya.

People’s changing

Pelajaran kedua, adalah sejatinya manusia memang berubah. Dinamis dan terus menerus melakukan perubahan. Baik disadari atau tidak, bukan hanya Rina Nose, kita pun begitu, kan?

Hari ini bisa jadi suka sekali sama satu hal, besok tidak lagi. Kemarin tidak suka A, hari ini menjadi suka. Terus menerus begitu. Itu fitrahnya manusia yang dikaruniai akal dan hati nurani. Kita tidak bisa menghentikan kerja otak untuk menerima informasi, berpikir, beropini, berkeputusan, sampai bertindak. Begitu seterusnya.

Tapi, masalahnya sekarang banyak orang yang alergi terhadap perubahan yang terjadi di luar dirinya. Artinya kalau dirinya yang berubah, sah-sah saja. Tapi kalau orang lain yang berubah? Dikomentari sampai detil dan seolah menjadi komentator paling ahli sedunia. It is a big problem, mbake!

Mengingatkan itu baik, bahkan wajib. Kami yang muslim memang diajarkan untuk tidak hanya menegakkan kebaikan, tapi juga memerangi kejahatan. Nah, karena itu baik, sampaikan dengan cara yang baik. Saya pikir, siapapun sepakat kalau menguliti atau menelanjangi aib saudara dengan cara yang tidak baik bahkan dengan kata-kata kotor, jahat, membully, itu sangat tidak baik. Orang yang dihujat tidak menyadari kesalahannya, yang menghujat juga dosa. Iya nggak sih?

Meskipun, sekali lagi, kalau saya ditanya setuju atau tidak menanggapi muslimah yang tidak berjilbab atau lepas jilbab, jawabannya jelas tidak setuju. Karena saya muslim, meskipun belum sepenuhnya 'baik' tapi jelas aturan agamanya kalau jilbab itu wajib. Ada beberapa hal yang sudah mutlak aturannya, :)

Kita boleh jadi mengetahui satu hal, tapi tidak mengetahui lebih banyak hal lainnya. Makanya kita harus selalu belajar. Meskipun jika tentang "keyakinan", jangan salah belajar, karena jika sudah salah memilih guru, resikonya bukan hanya salah tapi juga tersesat. Na'udzubillah.

Sekian, obrolan di Jum'at pagi ini.
Semoga kita terus bisa memperbaiki diri dan belajar selalu lebih baik.

Your sister,


Uly.