Selasa, 28 November 2017

Pesan Tiket Kereta #JadiBisa Lebih Mudah, Cepat, dan Menyenangkan Tanpa Antre Lagi


Hallo, para petualang!

Suka jalan-jalan atau bepergian juga donk? Reservasi atau pemesanan tiket menjadi hal penting untuk kita yang sering bepergian. Saat ini kita disuguhkan berbagai pilihan untuk melakukan pemesanan tiket, yaitu secara online dan juga offline.

Bagi yang masih suka melakukan pemesanan tiket secara offline itu sah-sah saja. Tapi kadang kala kita terbentur oleh padatnya jadwal kegiatan dan sedikitnya waktu luang untuk mengantre. Oleh karena itu, saya sarankan mulai bersahabatlah dengan pemesanan online untuk mengefektifkan waktu dan energi tentunya.

Sejak 2013, waktu zamannya harus bolak balik Bandung – Pekanbaru karena Long Distance Marriage (LDM), saya adalah pelanggan setia aplikasi Traveloka, hampir semua fitur dalam aplikasinya sudah saya coba. 

"Kisah cinta LDM #JadiBisa lebih mudah gara-gara aplikasi ini #tsaah. Dan kesannya tetap sama: simple, praktis, tidak ribet, dan lebih murah."

Semenjak pindah ke Kota Malang dan terbebas dari LDM, saya dan suami lebih sering menggunakan moda transportasi kereta api untuk bepergian, baik itu untuk berlibur, mudik, maupun urusan pekerjaan. Sudah bukan rahasia lagi, kalau dulu kita harus mengantri di stasiun untuk membeli tiket beberapa hari sebelumnya. Akan tetapi, saat ini kita tidak perlu melakukannya lagi. Pemesanan bisa dilakukan di rumah, sambil dasteran, minum kopi, dan dengan santai klak klik handphone melalui aplikasi Traveloka.


source: web traveloka

Kisah Saya dan Traveloka


Cukup banyak pengalaman saya dan keluarga bersama Traveloka. Salah satu  pengalaman yang sulit dilupakan adalah ketika saya reservasi dan uang yang ditransfer tidak sesuai dengan angka unik yang diminta oleh aplikasi Traveloka. Akhirnya E-tiket tidak terbit-terbit. Tentu saja hal tersebut berhasil membuat saya panik, karena takut uang saya tidak kembali. Kemudian saya menghubungi customer service Traveloka melalui e-mail. Di luar dugaan saya mendapat respon yang tidak hanya baik tapi juga cepat. Sehingga saya bisa mendapat uang kembali tanpa potongan sama sekali yang ditransfer melalui rekening yang saya lampirkan melalui email tersebut, dan direkomendasikan untuk melakukan pemesanan ulang.

Pengalaman ini sih yang membuat saya susah beranjak dari aplikasi yang satu ini. Trusted  dan membuat saya sebagai customer merasa aman melakukan transaksi online.

Bagi saya dan keluarga, Traveloka bukan hanya wujud dari perkembangan teknologi, tapi tentang bagaimana teknologi memberikan kemudahan dalam keseharian.

Kenapa harus pake Traveloka?


Kenapa saya lebih suka menggunakan aplikasi ini? Literally, TRAVELOKA punya beberapa keunggulan yang sangat memudahkan kita sebagai penggunanya

Partner resmi KAI

Traveloka merupakan salah satu penyedia jasa penjualan tiket resmi yang berpartner resmi dengan PT Kereta Api Indonesia. Jadi kita tidak perlu khawatir penipuan, tiket tidak valid, atau nomor kursi ganda. Karena jaringannya langsung terkoneksi dengan PT KAI. Sehingga jumlah kursi tersedia, jadwal keberangkatan, rute perjalanan, sama persis dengan data yang dikeluarkan oleh PT KAI.

Passanger QuickPick

Nah, fitur passanger quickpick ini yang menurut saya sangat memudahkan kita sebagai passanger yang seringkali bepergian. Kita bisa menggunakan data yang sudah kita input sebelumnya untuk melakukan pemesanan tiket pada jadwal berikutnya. Jadi, untuk saya yang hampir sebulan sekali (sampai tiga kali) harus memesan tiket untuk urusan bisnis bersama suami, rasanya sangat dimudahkan, karena kita tidak lagi harus nyontek Nomor KTP lagi saat melakukan pemesanan tiket.

Bisa pilih kursi

Kemudahan lainnya adalah saat pemilihan kursi. Secara visual kita bisa mengklik nomor kursi sesuai dengan posisi yang kita inginkan. Tentu saja selama nomor kursi tersebut masih tersedia. Kan lucu juga kalau kita pergi berdua, lalu tidak bisa memilih tiba-tiba duduknya terpisah, hehe..

Last minute booking sampai 3 jam sebelum keberangkatan

Kebayang nggak kalau tiba-tiba kita harus berangkat ke suatu tempat secara mendadak. Sedangkan jarak antara rumah dan stasiun cukup jauh, ditambah harus mengantre saat reservasi tiket? Yah, saya pernah mengalami ini. Tiketnya untuk suami saya, rumah kami cukup jauh dari stasiun, sedangkan suami saya masih harus kuliah. Akhirnya fitur last minute booking ini penyelematnya. Saya bisa memesan tiket dari rumah, melakukan pembayaran, dan mengirimkan E-Tiket Kereta Api ke suami saya. As simple as that.
Semua #JadiBisa lebih mudah dan #JadiBisa lebih menyenangkan dengan Traveloka.

6 Langkah Mudah Memesan Tiket Melalui Traveloka


Nah, untuk temen-temen yang baru pertama kali menggunakan atau memesan tiket kereta api melalui Traveloka, saya share tutorial menggunakannya ya,gampang banget kok!

1. Masuk ke website traveloka atau unduh aplikasinya di playstore. 

Pembelian tiket melalui traveloka bisa dilakukan melalui websitenya atau aplikasi mobile. Duaduanya sama praktisnya kok. Kelebihan menggunakan aplikasi, kita bisa lebih cepat lagi mengaksesnya dan lebih cepat tahu kalau Traveloka mengeluarkan berbagai promo-promo menariknya. 

Selain itu, kita bisa menggunakan fitur Passanger QuickPick, jadi tidak usah ribet dengan memasukkan data berulang-ulang kali.

Step 1. Pilih tiket Kereta 

2. Pilih Tiket Kereta Api, lalu Pilih Rute dan Jadwal Keberangkatan.

Klik Pulang Pergi jika ingin membeli kereta untuk pulang dan pergi dengan rute yang sama.

Step. 2 Pilih Rute, Jadwal, dan Jumlah Penumpang

3. Pilih Kereta yang diinginkan.

Dan di aplikasi traveloka kita bisa mengurutkan pilihan berdasarkan harga, baik dari yang termurah maupun yang termahal. Selain itu, bisa juga memfilter pilihan berdasarkan jadwal, kelas kereta, maupun nama kereta.


4.Isi data penumpang dan Pilih Kursi

Untuk mengisi data penumpang kita hanya perlu menyiapkan Nomor KTP atau SIM, Paspor, Kartu identitas lainnya.
Step 4. Bisa langsung klik nama-nama yang ada jika sudah pernah pesan 
Pilih kursi yang masih tersedia

5. Lanjut ke Pembayaran, Pilih Metode Pembayaran dan Lakukan pembayaran sesuai pilihan.

Tips dari saya, pilih metode pembayaran yang paling memudahkan. kalau saya biasanya menggunakan fitur transfer menggunakan mbanking :)




6.Terbit deh E-Tiket

Nah, ini contoh e-tiket kereta api saya yang terbaru. Hitungan menit sudah bisa pesan tiket tanpa antri.
contoh e-tiket yang mudah untuk dishare


"Traveloka dulu, senang-senang kemudian."

Selasa, 21 November 2017

Beli Kulkas 400 Ribuan


bukan iklan, gambar diambil dari koleksi mbah google :)


Hallo.. 

Disclaimer first

Ada beberapa alasan temen-temen membuka link ini:
⇒Pertama, karena sebelumnya membaca artikel keajaiban rezeki di blogpost saya sebelumnya.
⇒Kedua, karena sedang mencari kulkas murah meriah
⇒Ketiga, karena nyasar atau penasaran aja, hehe..

Apapun alasannya, semoga nggak nyesel buka link nya ya, hehe..
Karena tulisan kali ini dibuat dengan antusiasme yang sangat tinggi. Sebuah blogpost yang akan memuat pengalaman pribadi saya, yang tidak hanya menyenangkan tapi juga menumbuhkan sisi spritual saya. Dan ini real, bukan HOAX :D

Theeeen i am so excited to share it to you:)


***

Is it must be written ?

Iya, karena sekali lagi, saya ingin move (myself) and you to another perspective about REZEKI.

***

Saya dan suami sejak menikah (kurang lebih tiga tahun) sudah pindah beberapa kali. Garis besarnya sejak 2015 sudah pindah tiga kali: Kabupaten Siak, Kabupaten Indragiri Hulu, dan Kota Malang. Kalau di-split lagi, selama di Siak, saya pindah rumah lebih dari tiga kali, bukan karena diusir ibu kontrakan, tapi karena drama persediaan rumah dinas di tempat kerja suami yang panjang kalau diceritakan, haha.. 
(dan pengalaman pindah-pindah ini membuat saya belajar banyaaaaaaaaaak banget) Skip!

Dari dua kali kepindahan saya tercatat sudah 2x membeli kulkas. Setiap pindah, lelang barang. Pelelangan terbesar, ketika pindah ke Kota Malang. Karena hampir nggak memungkinkan boyong AC, Mesin cuci, kulkas, dan segala-segala yang rentan serentan hati para perempuan #eh. Cari aman, lelang saja!

Sesampainya di Malang, tentu kalau emak-emak, berpendapat kalau kulkas adalah barang yang wajib. No reason untuk tidak memprioritaskannya, kan?

Biasanya ketika saya menyerahkan list barang yang jd prioritas, suami saya nggak pernah komplain. Tapi lucunya, sekarang dia pending untuk beli kulkas. Alasannya karena saya jarang masak. Alias masak kalau mood doank. Jadi nggak penting punya atau tidak punya kulkas. Selain itu, di tempat tinggal kami yang sekarang, dekat sekali dengan warung makanan, warung sayuran, abang sayur lewat sampai 5x dalam sehari, tukang ayam potong sampai ikan segar lewat setiap hari.

“Oke beli kulkas, tapi at least rutin masaknya. Gimana?” tawaran suami yang dilematis.

Dan saya tidak mau membuat perjanjian yang menjebak, haha..

Saya tidak panjang lebar menanggapi, hanya bilang, “Ya udah nanti lagi aja deh belinya..”

Selang dua bulan.. 

Saya mulai merasakan semakin perlu kulkas. Karena suka tiba-tiba ingin seblak ceker, cilok, sop iga sapi, bikin nugget, dan macam-macam deh. Akhirnya saya sampaikan ke suami. Dan suami kalah juga, nggak tega liat istrinya, akhirnya kami memutuskan untuk survei ke Hyperm*rt Malang. Karena kemaleman, akhirnya kami memutuskan membelinya keesokan harinya.

Ndilalah, sesampainya di rumah, ada broadcast sebuah event pelatihan yang kami butuhkan untuk bisnis yang sedang kami rintis. Harga pelatihannnya lumayan, dua kali harga kulkas yang kami survei semalam. Mamak dilema.

Setelah bolak balik mikir, akhirnya saya memutuskan untuk ikut pelatihan saja. Kulkasnya pending. Sambil merengek gitu dalam hati: “Ya Allah, tapi saya pengen kulkaaaas”
Hari ke hari dilalui, lupa tuh sama drama si kulkas.

Sampai sebulan kemudian, 

Sepulang kuliah suami excited sekali manggil-manggil saya. Kurang lebih begini dialognya:


Suami : mi, ada yang mau jual kulkas.
Saya   : berapa ?
Suami : 800.000
Saya   : second? Merek apa emangnya?
Suami : Baru, mereknya SH*RP.
Saya   : Murah banget. Penyok kali makanya dijual.
Suami : Temen dapet doorprize dari gerak jalan kampus minggu lalu. Dia bingung makenya gimana kalau di kos. Jadi ditawarin ke kita. Gimana?
Saya : bingung, karena budgetnya baru ada bulan depan.
Suami : iya juga ya. Oke deh nanti dibilangin dulu.


Ya, saya sih nggak terlalu menggebu-gebu, kalau udah rezeki kami, pasti itu kulkas kebeli.
Besoknya suami bilang kalau kita boleh bayar bulan depan, tapi kulkasnya bawa secepatnya, karena bikin kosannya sempit, haha..

Kami tentu saja senang, tanpa banyak menunda langsung membawanya. Dan tentu saja, segera menyiapkan transaksi di bulan berikutnya, hehe.. 

Belum berhenti di situ. Dua minggu kemudian, sang pelelang kulkas (yang tidak ingin disebutkan namanya), menghubungi suami.

He said, “Mas, saya ingin ikut pelatihan sampean. Tapi uangnya dipotong dari uang kulkas, boleh mas?”

Nah kan. Ini nih ajaibnya. Belum juga dibayar, ada aja berita bahagia lagi. Masyaallah,  rezeki Allah datang dari pintu yang tidak disangka-sangka. Karena kebaikan hatinya, kami beri diskon biaya pelatihannya.

Akhirnya, transaksi kejadian juga: Kami  serahkan tiket pelatihan & uang cash 400.000 untuk membayar kulkas seharga kurang lebih 1,7jt (Dan ternyata baru kami sadari kalau tipe dan motifnya sama persis dengan kulkas yang akan kami beli di Hyperm*rt tempo hari)
Begitulah cara Allah membahagiakan hamba-Nya. Entah kapan dan dengan cara yang tak terduga. Benar bahwasanya, kita akan meleleh cinta kepada-Nya ketika menyaksikan betapa cantiknya skenario Allah dalam mengatur urusan kita.

gambar diambil dari media campaign Rumah Zakat.
Jangan lupa zakatnya ya :)

Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzibaan
Nikmat mana lagi yang kau dustakan?









Sebuah kontemplasi: Keajaiban Rezeki



Dulu, zaman-zamannya anak sampai dewasa awal, saya mengartikan rezeki sebagai materi. Materi dalam arti hal yang berupa uang atau berupa barang. Tidak ada yang salah dengan itu, hanya saja ternyata belum sepenuhnya tepat.

Sekarang, seiring berjalannya waktu menua. Saya semakin paham kalau ternyata rezeki adalah sesuatu yang tidak selalu berwujud materi. Dimensi dengan level yang lebih tinggi dari sebuah prinsip kebendaan. Rezeki adalah segala hal yang kita terima untuk hidup, jalan untuk bertahan hidup, jalan kebahagiaan, jalan kesenangan, jalan menuju zona yang aman, signal-signal kasih sayang Tuhan di keseharian kita.

Dulu, ketika membaca buku-buku atau artikel tentang keajaiban rezeki, rasanya percaya tidak percaya. Apa iya? Logika kemanusiaan saya sibuk mempertanyakan. Logika terbatas yang tidak sebanding dengan logika matematis Tuhan.

Sekarang, saya sadar kalau tidak semua hal bisa dihitung jumlah keluar masuknya rezeki dengan hitungan matematis. Karena nyatanya, semakin rinci menghitung, semakin tidak balance hitungannya. Hitungan matematis cenderung menunjukkan inbalance (tidak seimbang) antara yang masuk dengan yang tidak. Ketika rezeki disejajarkan dengan hitungan CASH, pasti balance (sama) atau kurang (minus), kalaupun surplus, tidak seberapa. Iya kan?

Sedang kalau kita hitung REZEKI dalam arti sebenarnya (misal, bernafas bebas tanpa tabung oksigen, kesehatan, keluarga yang harmonis, kendaraan gak pernah rusak, dapat kado dari teman, ditraktir bos/teman, mendapat promosi jabatan, dapat voucher diskon, dll) pasti kesimpulannya adalah: yang kita terima selalu lebih besar dari yang kita keluarkan.

Ah, tapi saya perlunya uang. Emangnya bisa beli barang pake syukur?

Hati-hati, ketika kalimat itu bersarang di kepala, artinya sudah merendahkan kuasa Tuhan, lho.

Yuk, kita sama-sama renungkan dua case ini:

Si A punya uang untuk membeli sebuah kulkas merek X. Si A pergi ke toko elektronik, membayar, dan akhirnya memiliki kulkas merek X tersebut.

Lalu 

Si B tidak punya uang untuk membeli sebuah kulkas merek X. Si B berusaha menabung. Si B terus berusaha memenuhi target tabungannya. Selain berusaha, si B melibatkan DOA. Dan tanpa disangka-sangka, si B bertemu dengan temannya alias si C yang mendapat doorprize kulkas dari gerak jalan santai. Si C tidak menggunakan kulkasnya, karena tidak butuh. Akhirnya melelang ke si B, dengan harga sangat murah. Si B berhasil memiliki kulkas merek X meski tabungannya jauh dari target hitungan matematis di toko elektronik.
Dari kedua ilustrasi tersebut, saya ingin berbagi tentang betapa ajaibnya mekanisme rezeki sampai di tangan kita. Si A dan si B menargetkan kulkas yang sama. Tentu saja harganya pun sama. Kalau rezeki selalu didefinisikan dengan uang, tentu si B masih harus menunggu dalam waktu yang lama sampai tabungannya mencukupi. Iya kan? Nyatanya dua duanya bisa mendapat kulkas yang sama, dengan nominal harga yang berbeda. Tapi memang, jalan si B agak lebih panjang dari si A.

Emang ada ya yang begitu? Banyak! Saya saksi hidup dari bagaimana ilustrasi itu terjadi pada saya. lengkap saya ceritakan di artikel saya yang berjudul: Beli Kulkas dengan 400 ribu aja!

Semakin yakin bahwa rezeki lebih dari sekedar level CASH. Pada dasarnya selalu ada transaksi, tapi tidak semua transaksi melibatkan tangan kita langsung, seringkali yang bertransaksi membayar segala keinginan kita adalah DIA – The Invisible hand, Tuhan Semesta Alam.


Rezeki itu ajaib, rezeki itu lebih hebat dari sekedar currency.