Jumat, 14 Oktober 2016

Brokenhome [?]

Happy friday :D

Jumat ini, saya tidak share masalah dapur ya, karena libur masak, suami dinas luar seminguan, jadi nggak masak selain ceplok telor sama nugget hehe..

So, this friday mau share salah satu tulisan saya tentang fenomena Brokenhome, sebuah kajian penting untuk para orang tua atau calon orang tua. 

As we know, keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak merupakan organisasi terkecil dalam kehidupan bermasyarakat. Pada hakikatnya keluarga merupakan wadah pertama dan utama yang fundamental bagi perkembangan dan pertumbuhan anak.

Di dalam keluarga, anak akan mendapatkan pendidikan pertama mengenai berbagai tatanan kehidupan yang ada di masyarakat. Keluarga yang mengenalkan anak akan norma agama, etika sopan santun, norma bermasyarakat, dan norma-norma tidak tertulis lainnya yang diharapkan dapat menjadi landasan kepribadian anak dalam menghadapi lingkungan. Selain itu, keluarga merupakan lingkungan pertama untuk bersosialisasi, mengenal diri sendiri, serta sebagai motivator eksternal terbesar yang akan selalu dibutuhkan oleh anak dalam menjalani kehidupan. Mengingat betapa pentingnya peran keluarga untuk anak, maka atmosphere keluarga sangat menentukan kepribadian, perilaku, konsep diri, motivasi berprestasi, serta pandangan hidup anak tersebut. Maka, akan sangat fatal akibatnya apabila keluarga tidak lagi mampu berfungsi sebagaimana mestinya.

Membahas mengenai keberfungsian keluarga, hal ini pasti berkaitan dengan peran dari anggota keluarga itu sendiri terutama peran orang tua. Dewasa ini, banyak ditemui keluarga yang mengalami pergeseran peran. Pergeseran peran ini kemudian dapat mengakibatkan disfungsional keluarga yang kemudian sangat berpotensi melahirkan banyak permasalahan, salah satunya adalah fenomena anak yang broken home. Kata broken home sering dilabelkan pada anak yang menjadi korban perceraian anaknya. Sebenarnya anak yang broken home bukan hanya anak yang berasal dari orang tua yang bercerai, tetapi juga anak yang berasal dari keluarga yang tidak utuh atau tidak harmonis. Terdapat banyak faktor yang melatarbelakangi anak yang broken home, antara lain percekcokan atau pertengkaran orang tua, perceraian, kesibukan orang tua, dan keadaan ekonomi.

Anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari keluarganya (orang tuanya). Cekcok atau pertengkaran  antara ayah dan ibu seringkali membawa dampak buruk pada anak. Anak yang seharusnya mendapat kasih sayang dan pendidikan harus mengalami masa yang kritis untuk menjadi terbiasa dengan pertengkaran ayah dan ibunya. Pada usia balita, anak-anak yang kurang mendapat kasih sayang dan perhatian orang tuanya seringkali pemurung, labil dan tidak percaya diri. Ketika menjelang usia remaja kadang-kadang mereka mengambil jalan pintas, minggat dari rumah dan menjadi anak jalanan bahkan melakukan hal-hal yang menyimpang. Ketenangan yang ia rindukan berubah menjadi suram. Lebih jauh lagi, keluarga tidak lagi menjadi sebuah tempat yang dirindukan melainkan menjad tempat yang yang tidak diinginkan bahkan tempat yang wajib untuk dihindari.

pict-illustration by bintang(dot)com

Perceraian memberikan konsekuensi yang tidak ringan. Selain menjadikan seorang istri menjadi janda dan suami menjadi duda, lebih jauh lagi hal tersebut berpengaruh sekali terhadap kondisi psikologis anak. Belum lagi ketika anak diharuskan mengambil keputusan harus memilih tinggal bersama siapa: ayah atau ibu? Hal tersebut bukanlah hal yang sepele bagi seorang anak. Anak akan mengalami kebingungan, kelabilan secara emosional dan memiliki kecenderungan untuk menyalahkan orang tua atau bahkan menyalahkan dirinya sendiri.

Lalu, apa saja yang bisa diakibatkan dari fenomena brokenhome ini?

Setidaknya ada tiga permasalahan anak yang bisa terjadi ketika keluarga hilang keberfungsiannya,

1. Psychological disorder (Gangguan Psikologis)

Tidak dapat dipungkiri bahwa anak broken home akan mengalami gangguan secara psikologis. Meskipun kebutuhan fisiologi terpenuhi dengan baik, anak tidak akan berkembang dengan baik ketikan kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi. Anak broken home memiliki kecenderungan agresif, introvert, menolak untuk berkomitmen, labil, tempramen, emosional, sensitif, apatis, dan lain-lain

2.  Academic problem (masalah akademik)

Faktor motivasi eksternal terbesar untuk anak adalah keluarga. Dan ketika keluarga mengalami disfungsional maka anak broken home akan cenderung menjadi pemalas dan memiliki motivasi berprestasi yang rendah.

3. Behavioral problem (perilaku menyimpang)

Anak broken home adalah anak yang memang kurang perhatian. Akibatnya anak memiliki self esteem dan self confident rendah, konsep dirinya pun negatif. Begitu di luar (rumah), anak semacam over kompensasi, mencari pengakuan dan penghargaan diri dari lingkungan sekitarnya, sehingga anak broken home memiliki kecenderungan untuk melakukan perilaku-perilaku menyimpang seperti bullying, memberontak, bersikap apatis terhadap lingkungan, bersikap destruktif  terhadap diri dan lingkungannya, misalnya dengan mulai merokok, minum minuman keras, judi, free sex (seks bebas). Mereka melakukan penyimpangan-penyimpangan tersebut tanpa pernah tahu apa yang baik dan yang buruk. Persis seperti seorang anak yang menangis dan butuh pelukan ibunya, tapi dia tidak mendapatkannya, oleh karena itu anak broken home akan berterimakasih kepada siapapun yang mau memeluknya, dan kadang wujud si ibu itu adalah ‘narkoba’ dan ’seks bebas’.

Lalu apakah setiap anak brokenhome akan berujung bermasalah? Tentu saja tidak. 

Tidak semua anak brokenhome mengalami kegagalan, tidak sedikit bukti bahwa dibalik kekosongan keberfungsian keluarga, justru mereka tumbuh lebih kuat dan sukses.

Dan bagaimana cara mencegah kegagalan bagi yang sudah terlanjur mengalami masalah? Lanjut diskusi di artikel selanjutnya ya, biar nggak engap hehe..


2 komentar:

  1. saya punya temen broken home. cara dia memandang hidup itu emang kelihatan beda dari anak2 dengan keluarga normal. lebih suram dan terkesan menarik diri. kasihan sebenarnya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak itu yang disayangkan. banyak temen-temen yang berasal dari keluarga broken malah merelakan diri untuk kalah, mencari pembenaran untuk menyalahkan orang tua, padahal hidup yang lebih baik masih menjadi hak siapapun, termasuk anak brokenhome...

      makasih kunjungannya mbak Nisa, salam kenal...

      Hapus