Berbicara tentang menjadi orang
tua, maka akan banyak unsur yang bisa kita kaji lebih dalam, mulai dari psikologi perkembangan, pergeseran peran; pendidikan anak; pendidikan di dalam keluarga; komunikasi;
pengelolaan emosi; dan banyaaaaaak hal penting lainnya.
Pada blogpost kali ini, saya
menuliskan banyak pelajaran yang saya dapat dari adik kelas saya semasa kuliah
S1 dulu. Beberapa kali keep in touch melalui media online (facebook & whatsapp).
Saling follow satu sama lain dan bisa dibilang mengikuti kehidupan satu sama
lain melalui sosial media.
![]() |
Zanith bersama Aka & Ara |
"Nama sosok hebat teman kita belajar kali ini adalah Lianita Zanith (saya biasa memanggilnya Zanith), seorang ibu dari anak yang spesial yang bisa kita panggil Aka, bocah luar biasa yang mengalami Down Syndrome (DS)."
Here we go...
Menjadi orang tua di usia muda
saja sudah cukup menantang, apalagi menjadi orang tua dari putra/i berkebutuhan
khusus, tentu memiliki tantangan yang lebih dari biasanya.
![]() |
zanith berbagi melalui FB nya tentang DS |
Menariknya (red. Kerennya) unggahan itu bukan bernada keluhan apalagi kemarahan pada ketetapan Tuhan, tetapi bentuk kesyukuran, kebahagiaan, dan spirit berbagi.
Saya merasakan, unggahan-unggahan berupa foto yang diberi caption informasi-informasi mengenai Down Syndrome ditujukan untuk menguatkan ibu-ibu lainnya yang mungkin bernasib sama dengannya.
Jika ia mengaku itu sebagai salah satu bentuk untuk menguatkan dirinya sendiri, tapi sebetulnya di saat yang sama ia telah menguatkan, mengedukasi para orang tua, dan bahkan mengajarkan bagaimana caranya menikmati takdir yang di luar dugaan dan harapan sebagai manusia.
Lalu apa sebenarnya Down Syndrome itu?
Banyak yang menyamaratakan down
syndrome dengan autisme, padahal sama sekali berbeda. Ada yang sampai hati
menyebutnya “anak idiot”, padahal tidak selalu begitu. Ada juga yang
menyebutnya anak kembar sedunia, karena anak-anak yang mengalami down syndrome
cenderung memiliki wajah yang sama. Tapi itu pun belum bisa menjelaskan secara
lengkap apa itu down syndrome.
Zanith menjabarkan secara
gamblang tentang down syndrome yang dialami oleh Aka, bisa temen-temen cek
melalui link ini: Apa itu Down syndrome
Dan saya pun menanyakan beberapa
hal tentang bagaimana caranya Zanith melewati masa-masa sulit saat beradaptasi
dengan kondisi spesial Aka, dan kehidupan parenting yang dijalaninya.
Temen-temen bisa cek obrolan
lengkapnya di link berikut: Ngobrol bareng Zanith
Obrolan yang membuat saya
speechless karena kagum akan ketenangan dan kekuatan yang dimiliki oleh Zanith.
Dan secara lugas Zanith menyampaikan ke saya, bahwa kuat atau tidak kuat itu
pilihan. ketika seseorang memilih untuk kuat, maka kuatlah ia. Jika memilih
untuk menyerah, maka terkadang yang harus menelan pil pahit kekalahan bukan
hanya kita sendiri, tetapi juga mungkin orang-orang terdekat yang kita cintai.
Dari Zanith, saya belajar bahwa untuk menjadi orang tua, kita perlu:
➦Konsep menjadi orang tua
she said:
“Saya ingin bukan menjadi ibu yg kebetulan (karena melahirkan Aka Ara), tapi saya ingin menjadi ibu betulan (untuk Aka Ara) mendampingi belajar mereka, mensyukuri segala kemampuan mereka, dan membuat mereka bahagia. Amin.”
Kata: Ibu kebetulan
Vs Ibu Betulan. See?
Tidak perlu berpanjang
lebar saya menjelaskan, it’s bring a plentiful inspiration to be a good parent.
➦Senantiasa berbaik sangka dan berpikir positif
"setiap kekurangan berpasangan dengan kelebihan"
Yap, pada
akhirnya pikiran kita akan sangat menentukan bagaimana sikap kita terhadap
apapun. Ketika sudah berpikir bahwa sesuatu itu pasti memiliki kebaikan, maka
kita tidak akan menunjukkan sikap-sikap yang merusak diri sendiri dan orang
lain. Positive mind always direct us one step closer to be happy person.
➦Miliki ilmu dan terus belajar
Sepakat dengan
Zanith, bahwa mengupgrade diri adalah suatu keharusan. Kelas seminar-seminar
parenting, kelas belajar yang related dengan kehidupan keluarga, memang sudah
seharusnya menjadi destinasi belajar para orang tua.
Karena semakin kesini,
zaman bukan semakin mudah untuk dilewati, tetapi semakin sulit dan menantang.
Orang-orang yang siap dan memiliki perbekalan banyak yang akan bisa bertahan
mengawal generasi-generasi selanjutnya.
So, keep
learning para emak se-Indonesia...! at least gunakan sosial media untuk
belajar, bukan untuk nyinyir apalagi curcol ya #ups.
➦Never ending “ikhtiar”
Ikhtiar
berarti upaya aktif dan masiv untuk mengatasi segala kesulitan dan
mengembangkan yang sudah ada. Ikhtiar sebagai orang tua bukan sebatas mencari
uang atau nafkah materil, banyak hal yang perlu diikhtiari, semisal: mengasah
diri untuk menjadi teladan bagi anak, mengatur cara bicara, mengendalikan emosi
agar anak mendapat contoh yang baik dalam pengelolaan emosi, mengontrol gaya
hidup, dan lain sebagainya.
Pada dasarnya,
tanggung jawab orang tua, memang tidak ada liburnya. Setiap tingkah polah, ucap
seucap, bahkan cara menatap dan menghela nafas, akan dipelajari dan dicontoh
oleh anak.
➦Libatkan orang-orang yang ahli di bidangnya kala diperlukan
Dalam
kesehariannya, Zanith kadang menemukan kesulitan yang tidak bisa ditangani
sendiri. Melibatkan para profesional menjadi pilihan terbaik untuk
berkonsultasi sampai memberikan treatmen-treatmen khusus. Untuk mengawal dan
mendampingi pengasuhan Aka,Zanith melibatkan beberapa ahli terkait tumbuh
kembang Aka, yaitu:
- Dokter Tumbuh Kembang, Dokter Jantung Anak, Dokter Endokrin.
- Persatuan Orang tua Anak Down Syndrome (POTADS)
- Psikolog, Terapis, Guru (Saat Aka sekolah dan terapi).
- Dosen jurusan Pendidikan Khusus Universitas Pendidikan Indonesia
- Keluarga
Menurut saya,
ini adalah contoh parenting yang sangat baik. Karena biar bagaimanapun,
terlebih untuk beberapa kekhususan, kita tidak mungkin menyelesaikan semuanya
sendirian. Para ahli atau pihak-pihak yang berpengalaman dan pengalamannya bisa
dipertanggungjawaban, sangat direkomendasikan untuk didatangi untuk dimintai
masukkan atau pandangannya.
➦Selalu libatkan Allah SWT – Tuhan semesta alam.
Jurus pamungkas, setelah
ikhtiar dan segalanya sudah dilakukan.
Terakhir, jangan pernah lepaskan sandaran kita pada Allah. Pasrah dan
senantiasa mengharap pendampingan dan pertolongan setiap saat. Karena setiap
orang tua memiliki harapan yang teramat banyak untuk anak-anaknya, tapi tetap
harus ingat bahwa anak-anak bukan sepenuhnya milik kita. Ada Allah yang jauh
lebih Maha Besar untuk menolongnya, bahkan ketika kita tidak bisa
mendampinginya lagi.
**
Obrolan saya dan Zanith tentang Aka selengkapnya di: Ngobrol Bareng Zanith
Terima kasih banyak Zanith, Salam manis untuk Aka dan Ara di rumah. Sehat dan bahagia selalu Zanith sekeluarga.
Untuk temen-temen yang tertarik
untuk upgrade tentang parenting, berdasarkan rekomendasi dari Zanith,
temen-temen bisa akses informasi atau ilmu tentang parenting di link:
atau FB CERIA Cerita Ibu dan Anak