Kamis, 15 November 2012

Raya



Heii Raya. Kau serupa pohon hijau yang tak pernah membebani bumi.
Kau serupa bintang yang tak pernah menyesakkan langit.
Kau serupa mentari yang tak jua membakar semesta.

Raya, betapa luhur maknamu di alam ku.

Raya.
Lihatlah mendungnya langit. Itu mendungku, Raya.
Mengantungi berjuta pilu dan pekat. Sebentar lagi perihnya tumpah ruah di bumi. Bumiku, Raya.
Tak kah kau rasa, betapa dalam telaga harapan akan secercah mentari. Mentarimu raya?
Membuncah menyeruak gema kerinduan tak tertahan di sini, hatiku, Raya.

Tak lekang, takkan pernah hilang, aku menanti pelukan langitmu atas bumiku. 



Bumiku, 15-11-2012


lagi-lagi cinta

Cinta. Entah sudah berapa kalimat di dunia yang berusaha mendefinisikan satu kata itu. Kata klasik yang masih saja terlihat menarik, sampai hari ini. 
Pun aku, sudah berkali-kali menuliskan tentang cinta.
Semalam tadi, aku kembali tertarik untuk berpendapat tentang cinta. 

Kenapa cinta? Bagaimana cinta? Siapa itu cinta? Untuk apa cinta? Bisakah kita gantikan cinta dengan tai kucing atau sampah busuk? Oh tidak, itu terlalu kasar. Bagaimana kalau dengan roti, anggur, atau sebuah apel? Tidak pas juga. 

Sampai pagi, tak kutemukan diksi yang pas. Sampai pagi, tak bisa lagi kurangkai kalimat manis atau melankolik. Metakognisi ku tak lagi sepandai dulu dalam merumuskan jawaban atas pertanyaan, “apa itu cinta?” 

Ah sudahlah, semenjak patah hati.  Bagiku cinta hanyalah hal abstrak yang tak pernah pasti. Ia bisa menjadi apapun, datang dan pergi kapanpun, tak jelas warnanya. Jadi, tak usahlah terlalu berpikir tentang cinta. Ia kadang semakin rumit jika terlalu dipikirkan. 

Mungkin, kita harus sudah mulai sederhana dalam berpikir tentang cinta. Agar tak kembali larut dalam lintasannya yang entah berujung dimana, kapan, dan dengan siapa.

#sebuah epilog, 15-11-2012

Sabtu, 10 November 2012

Tak perlu kau lakukan apa-apa lagi


Tak perlu kau menjadi sejarawan untuk mengingatkanku tentang cerita lalu yang begitu indah. Karena tanpa kau ingatkan pun, aku memang tak pernah lupa.

Tak perlu kau menjadi ilmuwan yang menyelidiki, apakah masih ada namamu di hatiku. Karena tanpa itupun, aku yakin, kau telah melihat betapa tak mungkin ku menghapusnya.

Tak usah kau menjadi pujangga untuk mengumandangkan kerinduan. Karena tanpa itu pun, aku telah tahu bahwa semua kalimatmu tak lebih dari sebuah karya sastra.

Tak perlu kau menjadi guru untuk meyakinkanku bahwa kau bisa mengajarkanku banyak hal. Karena tanpa itu pun aku telah banyak belajar darimu. Setidaknya tentang bagaimana merelakan sebuah kepergian, bersahabat dengan kehilangan, dan menyusun remah-remah kekuatan sendirian.

tak perlu lagi kau buktikan apapun. Tak usah kau tunjukkan apapun.

Jika sejarah cita dan cerita kita di masa lalu tak lantas membuat kita besar, haruskah aku menyetujui pengulangan?
Jika cinta itu telah hancur karena sebuah kesalahan yang begitu cantik terencana, haruskah aku turut memeluk kerinduan yang kau senandungkan?

Tidak. Jawabannya, tidak.

Ruangan di hati ini sudah begitu rapi kutata kembali. Memang masih ada lukisanmu disni, yang kunamai tokoh masa lalu. Ya, hanya masa lalu. Masa lalu yang tak ingin aku ulang  kisahnya.

Sesekali kuizinkan kau bertamu, tapi tak untuk tinggal. Pergilah, bawa kembali semua sajak-sajak indahmu, lagu-lagu cinta yang kau siapkan tak lagi ingin kudengar.

Pergilah. Tak perlu kau lakukan apa-apa lagi. Tak perlu kau sapa kembali.  


(Ruang keyakinan, 11 – 11 – 12)