Salahkah ketika aku adalah hati berbalut rindu mewujud luka?
tiada daya memijak cahaya.
Menyerah dan mungkin hilang..
(Cecoret malam, teruntuk kamu)
Senin, 22 Oktober 2012
Hanya kita
Kita begitu dekat, menggenapkan
rindu di titik temu. Tapi tak seucap cinta pun kau sebut. Kau hanya terdiam
membilang bintang di persembunyiannya. Kita mendegupkan debar yang tak biasa,
tapi tetap setia pada ketidakberanian mengucap apapun.
~
Ah, kita memang pandai
berpura-pura. Pandang yang kau curi membuatku cekatan membilang jari jemari.
~
Sayang, akan sampai kapan kita menerka bahasa rasa
seperti ini?
(Sekotak cita cinta sepanjang jalan, 2012)
Minggu, 21 Oktober 2012
Sekisah luka
: Satu September 2012
Cerita yang kini berjudul kenangan. Telah selesai kubaca dari helai demi helai yang kau tulis. Begitu lugu kau berbalik dan pergi. Dan begitu takzim luka tertunduk di sukmaku.
Terlampau cepat kau melangkah. Hingga tak mampu ku mengejarmu, meski telah terengah.
~
Aku menggapai-gapai atas kehilangan. Serupa mawar membusuk yang berharap rona merah dan utuh kelopak indahnya. Hanya tersisa serpihan luka.
~
Patah.
(jejak-jejak cinta yang bernama usai, 1 September 2012)
Labels:
kenangan,
patah hati,
puisi,
sajak,
sastra
Langganan:
Postingan (Atom)