Jumat, 26 Agustus 2016

Jejak di Tanah Minang : Jam gadang, Puncak Lawang, sampai Danau Maninjau

Hello, ada yang niat piknik ke sumatera barat? Ke Padang? Atau kemana?


Through this journal, saya mau cerita pengalaman berangkat ke Sumatera Barat di bulan Agustus Tahun 2014 lalu. Udah lama sih, tapi baru ada strong will untuk nulis ini,haha.. maapp yak!

Perjalanan ke Sumbar mendadak kami tempuh karena sedih harus berlebaran di Kebun Sawit tanpa sanak saudara. Semodel pelarian anak rantau, hihi..

waktu itu kami baru beberapa bulan menikah, penganten baru gitu ceritanya. Saya yang masih bolak-balik Bandung-Riau, memilih berlebaran di Riau nemenin suami. Kami tidak bisa mudik karena alasan cuti yang terbatas (karena sudah habis untuk acara nikahan). Dan dramatisnya, waktu itu saya masih dihantui drama ujian tesis, yang jadwalnya maju mundur mengerikan, :D

tapii semua terlalui dengan keren, Allah emang gitu, baik banget sama saya. makanya saya bisa nulis cerita ini. semoga aja menginspirasi untuk jadi manten baru, diburu jadwal tesis, lebaran di rantau, #eh #nyumpahin ini namanya haha..


**
Seperti biasa, perjalanan ini juga modal nekad. Kenekadan pertama, kami melakukan perjalanan dengan motor tanpa plat nomor. Karena waktu itu plat nomor motor suami belum keluar. kenekadan kedua, tanpa kenalan.

Tujuan utama perjalanan adalah Danau Maninjau. Efek baca novel apa ya lupa judulnya. Saya bujuk suami untuk ngetrip kesana. Suami nanya, “kuat pake motor? Karena kalo pake angkutan umum pasti macet dan lama”, dengan tegas saya jawab: i am setroooooooooong beibiiii.

Sekitar satu jam setelah shalat ied kami meluncur ke Pekanbaru. Waktu tempuh sekitar 1 jam. Kami jalan-jalan ngemall dulu disana. Lalu keesokan harinya, H+1 lebaran, kami meluncur menuju Sumbar.

Saya dan suami sama sekali tidak tahu rute pasti menuju Sumbar. Modal kami adalah kemampuan membaca plang-plang arah jalan, akses internet, niat baik, doa dan harapan, hihiw!

**
Jalanan macet, karena ternyata banyak yang mudik ke arah Sumbar di H+1. Untungnya kami pake motor, jadi bisa nyalip sana sini. Di jalan sempat kehujanan, karena manten baru kali ya, berasa lagi shooting pilem india aja gitu, :D

Baju kering di badan, karena nggak mau wasting-time cuman untuk berhenti-berhenti. Kecuali udah deras banget, baru deh kami transit di warung atau tempat teduh terdekat.

salah satu moment transit, makan!


Perhentian pertama: Kelok Sembilan

Dua tahun lalu mungkin beda ya kondisinya sama sekarang. Waktu itu banyak pengendara berhenti, padahal jelas ada plang berisi tulisan: dilarang berhenti. Kami memilih untuk ikut-ikutan berhenti, haha..

Kelok sembilan ini mungkin salah satu megaproyek di Sumatera, jalan berkelok-kelok cantik banget. Meskipun waktu itu masih ada pembangunan di beberapa sisi jalan.

Di sisi-sisi jalan ada para penjual makanan ringan dan minuman. Kami memilih santap cemilan dan kopi hangat. Enaaaaak!

kelok sembilan, one of view.

kelok sembilan sang mega proyek

dia, bahagia :)

Lanjut perjalanan, sambil menikmati pemandangan berkelok-kelok. Setelah Kelok Sembilan dilewati, pemandangan berubah jadi hutan-hutan. Setelah itu ada keramaian lagi, hutan lagi, keramaian lagi. Ada banyak tebing menjulang sepanjang perjalanan. Eksotis, tapi sedikit ngeri juga kalau ngebayangin itu tebing runtuh. Amit-amit yak!

Lalu sampailah kami di sebuah titik keramaian yang rame nya itu nggak ketulungan. Jalanan crowded banget. Kami penasaran, ini ada apa?!

Akhirnya kami memutuskan mendekati seorang tukang parkir, “Ada apa ini bang kok ramai sekali?”, “inda ado apa-apa.” Jawabnya. “Lha kok ramai?” tanya kami masih penasaran. “Jam Gadang memang ramai kalau libur.”

Jengjengjeeeng...!!!!!

Perhentian kedua: Jam Gadang


ternyata kami sudah sampai Bukit Tinggi. Tempat salah satu situs bersejarah, Jam Gadang. Kami memutuskan memarkir kendaraan. Dan tadaaaa... untuk pertamakalinya bisa menyaksikan Jam Gadang dari dekat, bukan di Atlas jaman SD lagi, hehe..

asiknya petualangan adalah saat kita menemukan tanpa memaksa dan berencana. Ah, bahagia!
see, kita sampe sini liat Jam Gadang juga!

suasana Magrib di sekitaran Jam Gadang
 **

Setelah puas foto-foto, kami lanjut mencari penginapan. Percaya atau tidak, semua penginapan dengan range harga maksimal 500Rb, FULL! Sisa hotel berbintang-bintang.

Waktu itu memang sudah sore menjelang magrib. Karena sudah lumayan kelelahan, Kami memilih transit istirahat dan makan mie ayam. Sambil cari-cari info penginapan.

Abang mie ayam menyajikan dan merespon pesanan, kental sekali dialeknya bukan orang Minang. Betul prediksi saya, si abangnya keturunan USA (Urang Sunda Asli). Yeay!! Ketemu sodara #apasih! Ngarep ditolongin, hehe..

Tapi benar kata para ustadz, berharap itu harus sama Allah jangan sama mamang mie ayam. Mamang mie ayam merekomendasikan hotel yang sudah kami cek semua sebelumnya. USA tinggal USA. Wkwk

Setelah shalat magrib dan bla bla bla, kami masih penasaran keliling Bukit Tinggi. Tidak berubah, yang tersisa memang kamar-kamar mahal. Kami merasa rugi kalau harus menginap dengan range di atas 500RB, karena esok kami akan lanjut perjalanan. Dan nggak butuh-butuh amat kamar yang gede sama mewah :D Padahal emang dasarnya penghematan keleuus, wakwaw!

**
Nekad lagi aja deh, lanjut Danau Maninjau. Kami memutuskan reservasi online salah satu hotel di sekitaran Danau Maninjau, dengan memilih fitur bayar di tempat.

Tanya sana sini, liat plang, kami lanjut perjalanan. Banyak orang yang mewanti-wanti kalau ke sana hati-hati karena gelap. Termasuk mamang mie ayam USA tadi. Kami jadi dugdugser juga. Seolah akan memasuki rumah hantu.

Dan ternyata benar, jalanan termasuk sepi. Gelap. Penerangan masih terbatas. Yaa maju mundur kena donks. Alaah paling nyasar, gitu batin kami waktu itu.

Tapi kami menemukan keseruan saat kami menemukan sekumpulan pengendara motor lain yang nampak sedang touring. Sayangnya mereka berbeda arah. Sampai pada satu pertigaan, kami mendadak berhenti, karena si kelompok sepeda motor itu ke arah yang sangat gelap. Kami curiga itu bukan arah ke Maninjau. Akhirnya kami memutuskan balik arah. Sebelum balik arah, tetiba ada yang menyapa dari arah kanan, kakek-kakek tua!
Hiiiiyyyhh.. merinding.

Suami mendadak sulit memundurkan motor, si kakek terus ngomong pake bahasa yang entah bahasa apa,


Saya berusaha mengendalikan pikiran biar nggak panik.
Berbisik ke suami: “yammi turun dulu ya, langsung puter balik motornya, tapi jangan ninggalin lho!”
Suami mengangguk cepat. 
Dan akhirnya kami meluncur sambil menganggukan kepala ke arah si kakek yang entah dia ngomong apa dan ngapain tiba-tiba muncul di tengah kegelapan sendirian. Haha.. horor!

**

Danau Maninjau


Setelah kejadian si kakek, kami fokus cari penginapan yang sudah kami reservasi. Jalanan berkelok-kelok. Di petunjuk sebuah blog, kami sudah sampai danau maninjau kalau sudah melewati Kelok 44. Suami bertanya, sudah lewat kelok 44 nya belum sih? Dengan rasa takut karena emang gelap sekali waktu itu, saya jawab: udah lebih dari 44 kali. Mungkin di blog itu salah tulis, harusnya kelok ratusan~lebiih!!
Ngakak lah kami di motor, mengalahkan ketakutan masing-masing.

**
Dan ketemu juga itu kelok 44. Tempatnya berkelok, keloknya curam dan pendek-pendek. Harus atur kecepatan, jangan sampe lost. Di setiap kelok ada plang bertuliskan kelok ke berapa. Mulai dari kelok 44, 43, sampai ke kelok 1.
Nah kalo udah liat tulisan kelok 1, sampailah kita di sekitaran Danau Maninjau.

**
Kami sampai di sana sekitar pukul 21.30. penginapan yang kami reservasi nampaknya sudah bangkrut atau fiktik, karena nggak ada batang hidungnya sama sekali, haha..
Kami dapat penginapan yang murah, asalnya 700rb, kami tawar jadi 300Rb aja donks. Suamiku emang hebring deuh...
300Rb dengan fasilitas bath-tub, air panas, teras kamar, sarapan pagi, kasur yang nyaman, daaaaaan view langsung ke danau maninjau. Resto hotel tepat ada di atas perairan danau. Bahagia. Lelah terbayar!

ini dia front space hotelnya

sarapan keindahan :)


**
Esoknya kami lanjut menuju Puncak Lawang. Biasanya kita bisa foto seolah di atas awan. Tapi waktu kami datang awannya masih jauh di atas, jadi nggk bs ambil angel di atas awan.

Sepanjang jalan, pemandangan hijau membentang. Rumah-rumah tradisional Minang masih banyak berdiri indah. Sawah luas. Sejuk udara yang keluar masuk tubuh. Ah, surga!

Rumah Gadang cantik, kan?


one of view dari Puncak Lawang

our selfie!

Oleh-oleh Nyasar!

Pulangnya kami nyarasar-nyasar. Tapi nyasar membawa berkah. berkat nyasar jadi sampe ke tempat wisata: Janjang Seribu & Goa Jepang!
tapi kami tidak singgah lama-lama, karena harus segera pulang :)


Goa yang kami temukan saat nyasar hihi..

Janjang Saribu 


Refreshed! Bahagia. Dan merasa perjalanan nekad kali itu sangat Worth It!

**
Yuk nyoba ngetrip ke Sumbar. siap-siap jaket. Siap-siap jatuh cinta sama alamnya :)


Kamis, 25 Agustus 2016

Mendadak jual batu akik di Danau Toba :D

Danau Toba, tempat melegenda di negeri Indonesia. Siapa yang tak tahu. Sejak kecil saya termasuk yang terobsesi ingin menginjakkan kaki di Danau Toba dan Pulau Samosir. Mungkin darah nenek moyang memanggil-manggil, hehe..

Iya, darah Batak mengalir di tubuh mungil ini. Pernah denger marga Napitu? Kalo pernah, alhamdulillah. Kalau belum, mari kita kenalan!

Napitu, sebuah marga yang saya dapat dari garis keturunan papah. Salah satu marga asli dari Batak Toba. Yes, batak itu banyak klannya, Batak Toba, Batak Karo, Batak Tapanuli, dan lain sebagainya. Maaappp nenek moyang saya nggak hafal :D

**
Salah satu destinasi yang selalu masuk resolusi tiap tahun, akhirnya bisa terealisasi di 15 Mei 2015. Yeay..!!

Menyempatkan nekad berangkat di sela-sela tanggal merah. Waktu itu saya nya sih free, tapi suami tidaks!

Hampir seluruh perjalanan memang bermodal nekad. Jenis kenekadan di perjalanan menuju Toba ini adalah mepetnya waktu dan budget. Saking udah suntuk sama rutinitas di kebun sawit. Duit pas-pasan dan waktu yang pepet-pepetan tidak mengurungkan kami untuk goooooow. 

Kami berangkat tanggal 15 Mei sore dan tanggal 17 Mei sudah harus sampai rumah lagi. Keren banget deh rasanya bisa traveling in a rush semodel begini. Maksa banget! Alasannya simple: kapan lagi kalau nggak sekarang, hihi..

**
Seminggu sebelum berangkat kami sibuk browsing sana sini, salah satunya jalur tempuh  dari Riau menuju Danau Toba. Dan hasil pencarian nyaris nihil. Mungkin karena orang-orang Riau yang ke Toba jarang share di blog :D

So, this one of the reason kenapa saya tulis cerita ini meskipun telat. Siapa tahu ada orang Riau yang mau ke Danau Toba. Hehe..

**

Kami berangkat dari kebun menuju terminal di Perawang sekitar jam 12 siang (salah satu pusat keramaian di Kabupaten Siak). Tragedi pertama, ternyata terminal perawang pindah!  Alhasil sejam lebih kami muter-muter nyari terminal baru yang nyempil di tengah-tengah tanah lapang yang belum terbangun. Daaaaaaan sesampainya di terminal kami senang. Tapi, ada tragedi kedua, motor kami dititip dimana? Haha..

But always there is an invisible hand, setelah kami muter-muter cari bus dengan rute menuju Toba tawar menawar dan bla bla bla akhirnya solusi ditawarkan oleh penunggu loket, “Dititip di kami aja honda nya bang!” dengan jaminan KTP nya kami bawa. Legaaaa...

[ intermezo ] Oiya, disini apapun merek sepeda motor kita, semuanya disebut HONDA :D

**
Bus yang akhirnya berjodoh dengan kami adalah bus PMH kelas ekonomi non-AC. Seriously, kami berangkat menuju toba tanpa bus AC. Karena memang bus ini satu-satunya bus yang rutenya berujung di Parapat. We have no choice!

Kami  adalah dua orang pertama yang masuk bis yang kosong melongpong. Dengan PD duduk di bagian paling depan. Bahagia, menghela nafas lega. Sebelum kebahagiaan itu selesai kami santap, kondektur menanyakan tiket. Lalu dengan dialek batak yang kental, dia meminta kami pindah ke kursi bagian belakang. What?!

Belakangan kami tahu kalau di tiket sudah tertera nomor kursi. Semua tertib mengikuti nomor di tiket masing-masing. Tragedi ketiga terjadi, ternyata depan kami perokok, di sisi belakang toilet (kelas ekonomi), dan di kanan kami perokok juga membawa dua ekor ayam. Yes, just imagine how hard to be us. Haha..

**

Kami berangkat Pkl. 17.30 dan menempuh perjalanan yang lebih lama dari biasanya, karena ada banyak perbaikan jalan dan jalan rusak di perbatasan Riau - Sumut. Kami baru sampai Parapat  pukul 11.00, setelah sebelumnya sempat transit paksa di Siantar. Total waktu tempuh 18 jam.

Bayangkan selama itu kami harus stay dengan asap rokok, bau ayam, dan bau toilet. Dibumbui perangai penumpang yang teriak teriak curhat karena macet. Kami berlaga lebay, berpegangan erat sepanjang jalan bak romeo dan juliet yang enggan dipisahkan, bukan karena romantis semata, tapi karena kami menahan diri untuk tidak mabuk bahkan pingsan. 
Ah, betapa mahal pengalaman ini, HAHA
Tidur pun tidak tenang, karena sebelum berangkat sudah banyak yang mewanti-wanti kalau sepanjang perjalanan rawan copet.

Sempat tertidur, ketika bangun ditanya oleh bapak-bapak di sebelah kanan kami, “mau kemana kilian?” dengan dialek Batak yang kental dan dramatis karena bangun tidur haha... karena panik dan kaget, suami menjawab “mau ke Batu Aji”, sontak si bapak merespon “dimana itu?!” semua bingung.
Gimana nggak bingung, karena yang suami maksud bukan Batu Aji, tapi AJIBATA. Hahaha...

So, kalo bangun tidur tenangin diri aja dulu, jangan kepancing pertanyaan, apalagi dengan nada ngebentak #eh maaappkan saya duhai nenek moyang :D

**
Sesampainya di Parapat kami menuju pelabuhan Ajibata. Nah, dari Ajibata ini lah kita bisa naik kapal melewati Danau Toba menuju Pulau Samosir. Ada tiga jenis kapal yang bisa dipilih: kapal turis eksklusif yang biayanya fantastis, kapal tumpangan biasa, dan kapal feri yang lebih besar bisa ngangkut kendaraan roda empat. Kami memilih kapal tumpangan biasa. Harganya murah, waktu itu hanya Rp. 6.000,-

semodel ini kapal yang kami tumpangi menuju dan dari Parapat - Ajibata


**
Decak kagum mulai muncul niii. Meeeen, danau toba asli besaaaaarrr banget. Kami menempuh 30 menitan untuk sampai ke Pulau Samosir. Ombaknya serupa lautan. Dan asli, luaass membentang. Semua perjuangan [ di bus ] seakan terbayar lunas! 6 ribu doank bisa nikmatin perjalanan melintasi danau, took for granted bakalan happy!

ini selayang pandang dari kapal

**

Sepanjang perjalanan kami memilih ke luar kapal. Karena masih norak pengen melototin sekeliling yang emang mempesona. Setelah selfie sukaesih, kami pun ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang juga nongkrong di luar. di luar kapal ada banyak jerigen yang saya pikir isinya itu minyak, ternyata bukan. Isinya tuak. Ya, tuak adalah minuman favorit di tanah batak, termasuk Toba.

Asik ngobrol sana sini, suami tiba-tiba menjurus membicarakan batu akik sama si pedagang aksesoris. Batu akik lagi hits banget waktu itu. Si abang pedagang nampak antusias ngobrolnya, si suami nampak seperti ahli batu akik dadakan. Saya asik nyimak. 

Tiba-tiba si abang pedagang menyampaikan keinginannya untuk membeli batu akik yang sedang dipakai oleh suami saya. Dengan PD suami menceritakan kalau si batu akik yang dipakai akan berubah warna mengikuti kondisi tubuh si pemakai. Itu yang membuat batu akik ini keren. Si abang pedagang nampak tersihir dan menawar dengan harga yang lumayan.

Berlaga nggak butuh duit, si suami menanggapi, “saya tanya istri saya dulu ya.”
Padahal apa hubungannya coba istri sama batu akik #gubrak!

Karena saya melihat sebentar lagi kapal menepi, dan saya tahu kalau batu akik itu masih ada potongannya di rumah, juga tahu modalnya berapa, saya acungi jempol sebagai tanda setuju.
Dengan kata lain, itu balik modal bangettt kalo kejual, haha..

Tadaaaa... batu akik dengan modal gosok doank kejual 300rb. Kami jadi punya budget tambahan buat main di Samosir, hihiw...!
**

Nah, sesampainya di Tomok. Kalian bisa mulai hunting rental motor dan penginapan. Selain Tomok ada juga Tuk-Tuk. Kalau mau ke Tuk-Tuk kita harus pake boats lagi. Kami nggak sempat ke sana, karena keterbatasan waktu tadi.

Di Tomok ramai banget. Di sana para wisatawan sudah bisa cari produk khas Toba mulai dari kain ulos sampai ukiran-ukiran. Di Tomok ada Museum Batak juga pertunjukkan tari Sigalegale. Makanan halal banyak di sana.

Kalau mau keliling Samosir, bisa pakai angkot bisa juga sewa motor, atau boats via danau. Hanya saja sewa motor agak sulit belakangan, konon katanya banyak kasus pencurian oleh si oknum penyewa. Kalau memutuskan pake angkot, siap-siap juga dibawa pak sopir ala fast and furious dengan soundtrack lagu batak :)
serunya pake angkot, memicu adrenalin, XD

Di samosir melalui pelabuhan Tomok ini, kita juga bisa ke Pantai Pasir Putih Parbaba, ada Hot Spring serupa pemandian air panas gitu, dan banyak lagi.

Seminggu deh di Samosir, bisa tuh kita kelilingi semuanya.

**
Kami tidak memilih menginap di hotel, tapi lanjut ke rumah papah. Selain wisata, kami pun menelusuri situs sejarah klan Napitu. Jalan-jalan ke Tugu Raja Napitu, silaturahmi ke sanak saudara di sana. Ah, senang karena disambut dengan sangat hangat.

Malam harinya kami nongkrong di Lapo Tuak milik sepupu papah. Semakin malam semakin ramai. Kami hanya nongkrong, dan nggak nyoba tuaknya, karena agama kami memang tidak membolehkannya :)

**
Toba di malam hari itu dingiiiiiiiiiiiiin syekalliiiiii! Pagi harinya segeeeeerrr banget!
Papah membuatkan kami sup udang yang dipancing langsung oleh tetangga dari Danau Toba. Enak! Dan harganya tergolong murah. 100ribu bisa dapet sebaskom besar. Kelenger deh kalo sampe kami makan semuanya.

Buka jendela udah Danau Toba aja pemandangannya, duh membahagiakan!

Indonesia Bagus beneran dah!

Sigalegale dan kami, cheers! :)

dia dan alat musik milik klan napitu 

suami, papah, dan saya 

captured at pantai parbaba yang mirip pantai banget

kami di kapal dari Tomok menuju Ajibata 

pagi-pagi, rumah batak :)

oleh oleh buat si bungsu

dia dan deretan rumah batak 

sunrise danau toba

Tugu Raja Napitu

**
Sayang banget deh cuman bisa sebentar di sana. Kami harus kembali pulang. Kami harus kembali hadapi kenyataan *lebay!

Kami pulang dengan menggunakan bus yang sama. Bedanya, kami memesan seat lebih dulu. Jadi kami bisa dapat kursi paling depan. Dari bis kami berasa menembus langit, hamparan awan dan air danau seperti enggan kami tinggalkan.

Terima kasih Tuhan, untuk hadiah Danau secantik Toba di bumi pertiwi ini.
**
P.S. 
Sssssttt....!! sedikit tips yang bisa dicoba sama kamu kamu  yang pengen ke daerah ini, terlebih niat pake kendaraan umum. Nggak usah dandan rapi-rapi ala anak mami. Tampillah segarang sesangar mungkin.
Terbukti lho, untuk perjalanan pulang suami saya sengaja gak cukuran dan pake celana sobek sobek. Sepanjang perjalanan pengamen nggak ada yang minta, malah ngangguk sopan, lewat gitu aja. Preman juga nggak ada yang nyamperin meskipun hanya untuk nyaloin pas di kapal menuju bus.   Salam Nekad! Kalau bukan kita yang nekad, siapa lagi? #eh :D










Rabu, 24 Agustus 2016

Pelatihan Applied Approach pertama saya :)

Bulan lalu diberi kesempatan untuk mengikuti acara Pelatihan Applied Approach, biasa disingkat Pelatihan AA.

Pelatihan ini hukumnya wajib diikuti oleh para dosen muda, baik di lingkungan perguruan tinggi negeri atau pun swasta. Tujuannya adalah membekali para dosen muda yang baru terjun ke dunia mengajar profesional (bukan lagi sebagai asdos hehe..).

Durasi pelatihan beragam disesuaikan dengan kondisi penyelenggara, katanya bisa sampe 12 hari nonstop. Pelatihan AA yang saya ikuti tidak selama itu, hanya berlangsung 3 hari. Tapi jadwalnya memang padat, dari Pkl. 08.00 s.d 21.00.  Kegiatan diselenggarakan oleh STIE Indragiri yang berlokasi di ibu kota kabupaten Inhu – Rengat. Peserta Pelatihan AA berasal dari 8 kampus di kabupaten Inhu juga 2 kampus dari kabupaten sebelah (Indragiri Hilir).

Rangkaian acara adalah pelatihan oleh para pakar di bidangnya. Bahasan meliputi pembelajaran, penelitian, penilaian, dan hal lain terkait dunia keseharian dosen di perguruan tinggi. Acara ini ditutup dengan penugasan. Jadi kalo tugasnya nggak dikerjain, peserta nggak akan dapet sertifikat. Sertifikatnya berpoin besar lho. Makanya saya termasuk yang ngerjain tugasnya, haha.. #modus!

Peserta dari STAI NF & STKIP Insan Madani


**
Hmmm... setelah sekian lama (2 tahunan) nggak ikutan forum ilmiah atau akademik di luar kampus, rasanya membahagiakan bisa masuk kelas lagi, belajar lagi, dipertemukan lagi dengan orang-orang keren!
Siapa aja tuh orang-orang keren itu? Here are the stories...

**

Prof Ellizar Jalius, M.Pd.


Professor perempuan yang meskipun sudah sepuh tapi terlihat sekali jiwanya jauh lebih muda dari usianya. Dengan santai beliau memperkenalkan dirinya juga bercerita tentang perjalanan kariernya hingga menjadi guru besar.

Dari ceritanya kami para peserta jadi tahu bahwa dia punya nickname yang unik, sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama lengkapnya. Beliau dikenal dengan panggilan ‘Non’. Panggilan masa kecil yang terbawa sampai beliau jadi guru besar, hehe.. so, dia bilang kalau mencari saya di UNP (Univ. Negeri Padang) jangan pake nama Ellizar, tapi gunakan sebutan ‘Non’. Nice.

Setelah itu dia bercerita tentang perjalanan karir akademiknya, yang ternyata dimulai setelah memiliki empat (atau tiga yaa, lupaaa haha ) anak. Beliau mulai menempuh sarjana muda selepas lulus SMA, tetapi berhenti setelah dua tahun kuliah, dan concerns penuh pada pengasuhan anak-anaknya. Sampai setelah lebihd ari 5  tahun pernikahan barulah beliau melanjutkan sarjana mudanya. Setelah bertahun-tahun lamanya beliau masih terus terpikir untuk melanjutkan sekolah ke pascasarjana. Tapi berulang kali suaminya menahannya.

Semua peserta dibuat tertawa dengan banyolannya ketika bercerita tentang bagaimana suaminya menahan atau seakan meragukan kemampuannya untuk sekolah lagi. Begini kurang lebih intisari dialognya:

Non    :“Pah, sudah dibuka pendaftaran pascasarjana itu?”
Suami : “mau apa?”
Non    : “mau daftar lah.”
Suami : “lai talok?” – (red. Bahasa Minang yang artinya kurang lebih: emangnya kamu bisa.)
kata lai talok diulang sampai berkali-kali dalam kurun waktu sekian tahun. Tapi semakin diragukan semakin tinggi saja semangat beliau untuk melanjutkan kuliah, ujarnya.

Sampai akhirnya beliau mendaftar sendiri, dan menunjukkan prestasi yang cukup bisa dibanggakan. Lulus tepat waktu. Dengan nilai A berderet di transkrip nilainya.

Begitu pun dengan S3 nya, beliau berhasil mematahkan keraguan orang-orang di sekitarnya. Hingga sampai suatu saat suaminya mengakui kemampuannya dan mengungkapkan bahwa ia bukan tidak percaya pada kemampuan istrinya, tetapi khawatir istrinya tersebut tidak bisa bertahan dan keteteran.
Singkatnya, beliau lulus S3 di usia sepuh (lebih dari 60 tahun), hanya dalam beberapa bulan berhasil menjadi guru besar di UNP. Beliau produktif melakukan penelitian. Beliau pun berpesan untuk tidak terlalu berorientasi pada kejar tayang mengajar, tapi jadilah dosen yang ‘benar’ dan fokus melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara optimal.

Dari beliau, semangat untuk mengejar mimpi kembali timbul (setelah sempat tenggelam, haha..!) . ada bukti bahwa usia tak lagi jadi kendala selama kita mengupayakan apa yang kita impikan. Dalam profesi dosen, tidak lain dan tidak bukan menjadi Guru Besar adalah titik capaian tertinggi, bukan? Guru besar adalah posisi kemapanan ilmu, meskipun pada kenyataannya para guru besar itu semakin tua nampak semakin haus ilmu.

**

Prof. Syahrul

Beliau adalah salah satu guru besar bahasa di UNP. Pelatihan pada sesi beliau dimulai dengan ice breaking joget-joget penguin, dan di pertengahan sesi pun beliau kerap kali mem-boost mood para peserta dengan ice breaking.

Beliau berbicara bahwa bahasa adalah kekayaan. Indonesia cukup menantang dalam penggunaan bahasa, karena terdapat banyak kelompok etnis dengan bahasa berbeda. Melalui dialek bahasa kita menjadi mudah tahu asal tinggal seseorang. dan tidak jarang dialek tersebut menyalahi pengucapan bahasa indonesia yang baik dan benar, ujarnya. Kami menyimak dan sesekali tertawa saat beliau menceritakan pengalaman-pengalamannya mengoreksi bahasa para mahasiswanya yang berasal dari suku Batak, Minang, dll. :D

Sesi beliau mengulas tentang Penelitian Tindakan di dunia perguruan tinggi, how to conduct its research, dan penulisan bahan ajar.

Penuturannya sederhana, mudah dimengerti, dan bisa membuat nyaman. Lebih dari 4 jam bersama beliau, saya belajar how to be a well integrated person. Bravo!

**

Prof. Syafrani.

Di awal sesi beliau mewanti-wanti peserta untuk memaklumi dialek bahasanya yang ‘melayu banget’, karena memang beliau orang Melayu asli katanya. Beliau adalah salah satu mantan rektor di Univ. Lancang kuning Riau.

Pada sesi beliau, peserta dibuat enak tertawa. Penuturannya santai, dan yang beliau bahas adalah keseharian aktifitas yang terjadi di dunia kampus swasta menengah ke bawah. Ada kesan penuturan beliau sangat empatik. Beliau ada di tempat yang sama dengan kami para peserta yang notabene mengajar di kampus swasta kecil di kota kecil juga. Kampus dengan input yang tidak sebagus di perkotaan.

Dari penuturan beliau, kami merasa sangat terwakili, dan merasa tidak sendirian, #tsaaaah!

Beliau mengungkapkan banyak sekali pengalamannya selama menjadi dosen. Dalam sesinya beliau juga mendorong untuk masyarakat Riau bangkit untuk memperbaiki dan percaya diri ketika menghadapi persaingan di kelas Nasional. Terlihat sekali kepedulian dan keprihatinannya pada kondisi pendidikan di provinsi ini.

Banyolan yang melekat dari beliau, sekaligus sindirian untuk sekelompok suku yang masih terbiasa dengan aktifitas memancing:

“Orang yang hobi memancing itu nggak akan bisa maju-maju.” (pause)
Semua peserta ngangguk-ngangguk, mengiyakan ucapannya, mengamini maknanya.
Tapi semua buyar menjadi gelak tawa, saat beliau melanjutkan.
“Orang yang hobi memancing itu nggak akan bisa maju-maju. Kalo sampe maju, terceburlah ia ke sungai” hahaha...!!
Materi yang beliau sampaikan terkait penilaian yang komprehensif, yang tidak terpaku pada nilai ujian saja. Melainkan penilaian alternatif yang juga mempertimbangkan aspek lain semisal keaktifan, attitude, kelengkapan tugas, ketepatan waktu, dan lainnya sesuai dengan tuntutan mata kuliah tertentu.

Sesuatu yang sudah kita tahu sebenarnya, tapi kadang kami para dosen memang perlu dikuatkan dengan penyampaian-penyampaian seperti ini.

**

Dr. Elfis

Juga seorang akademisi asal Riau. Beliau adalah pemateri termuda dibanding tiga pemateri lainnya. Beliau berdinas di Univ. Islam Riau.  

Dua statement beliau yang cukup membuat kening merengut kepala mengangguk:
·         Mahasiswa adalah makhluk defisit selama rata-rata 4 tahun. Untuk S1 bisa jadi lebih dari 4 tahun. Masa setelah lulus kuliah, masih akan jadi pengangguran dan defisit juga?
Mahasiswa harus dipaksa untuk berpikir enterpreneur, salah satu ujung tombaknya ada di tangan dosen. Jadilah bank ide untuk mereka.
Oke, bapak ibu dosen muda, mari kita upayakan sekecil apapun upaya itu untuk menginspirasi para mahasiswa agar bisa jadi makhluk produktif dan tangguh. #uhuk!

**

Udah segitu dulu ya. Salam harmoni di dunia pendidikan ibu pertiwi!